
...Happy Reading ...
......................
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu itu kerabat jauh Pak Gio?" Begitu Randi masuk ke ruangannya, Mely langsung menghampiri Diandra.
"Aku kira itu tidak penting, jadi aku tidak bilang," jawab Diandra santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal di dalam hati, dia tersenyum puas, melihat wajah panik wanita bikini itu.
"Itu sangat penting tau! Kamu siapanya Pak Gio? Pasti kamu dekat sama Pak Gio, ya?" tanya Mely begitu semangat.
"Oh iya, maafkan perkataan aku tadi, ya. Aku tidak bermaksud seperti itu, beneran deh," sambung Mely lagi, dengan wajah panik, walau dia berusaha menutupinya dan bersikap setenang mungkin.
"Aku cukup dekat dengan Pak Gio. Tapi, gak deket banget juga sih," jawab Diandra memberikan jawaban mengambang, agar Mely semakin tertarik padanya.
Jangan lupakan juga ekspresi polos dan suci yang terus dimainkan oleh Diandra, seolah dia memang seorang perempuan muda yang tidak tahu apa-apa.
"Kalau masalah tadi, gak usah dipikirkan. Aku sudah memaafkannya kok, hehe. Bukannya biasa, ya kalau anak baru dapat syok terapi seperti itu?" ujar Diandra semakin melambangkan perasaan Meli.
"Wah, kami baik banget sih, Dian. Jangan sampai Pak Giovano tau, ya. Soal kejadian tadi." Mely menatap Diandra penuh binar kepalsuan. Diandra bahkan sudah bisa melihatnya dengan kasat mata.
"Kalau begitu, kamu bisa dong kasih tau aku, apa yang Pak Gio suka dan tidak suka," ujar Mely, sambil mendekati Diandra.
Nah kan, baru saja Diandra memaafkan, wanita bikini itu sudah meminta lebih. Diandra berdecak dalam hati saat mendengar ucapan Mely.
Perempuan dengan jabatan kepala sekretaris itu, berubah menjadi sangat ramah dan murah senyum pada Diandra, setelah mendengar perkataan Randi tadi, sungguh sangat berbeda dengan sifat aslinya yang judes dan galak itu.
Dasar permpuan bermuka dua! Bisa-bisanya dia bersikap seperti ini, setelah dia menghinaku habis-habisan, batin Diandra menatap kesal perempuan di depannya.
Ternyata wanita bikini ini mudah dibohongi juga, hanya dengan kata kerabat, dia langsung bertekuk lutut di hadapanku. Diandra bergumam di dalam hati, tersenyum samar saat melihat Mely telah mengalah di depannya.
"Bisa, apa yang ingin, Mba, tau tentang Pak Gio, bisa, Mba, tanyakan pada saya. Kebetulan saya juga cukup dekat dengan Ma–" Diandra menghentikan perkataannya saat mulutnya hampir saja keceplosan, memanggil Mama Hana.
"Tante Hana juga," sambung Diandra, semakin memancing rasa senang Mely.
Ish, hampir saja, batin Diandra kesal pada lidahnya sendiri.
"Wah, bagus kalau gitu. Nanti siang, aku traktir makan siang bareng, gimana?" tawar Mely.
__ADS_1
"Boleh," angguk Diandra cepat.
Waktu makan siang pun datang, Diandra sudah bersiap-siap untuk makan siang bersama Mely, saat Randi tiba-tiba mengajaknya masuk ke dalam ruangan kerja Gio.
Diandra menghela napas, kemudian berjalan mengikuti Randi ke dalam ruangan suaminya itu.
"Maaf ya, Mba Mely, ternyata siang ini kita gak bisa makan bareng," ujar Diandra dengan wajah penuh sesal, saat dia melewati meja kerja Mely.
"Iya, gak apa-apa, kamu masuk saja sana, takutnya ada yang penting yang harus dibicarakan sama Pak Gio," ujar Mely, menjadi begitu baik pada Diandra.
"Iya, Mba," angguk Diandra cepat.
Padahal di dalam hati Diandra tersenyum senang, karena bisa menghindari makan siang bersama Mely.
Kedatangan Randi untuk mengajaknya masuk ke ruangan Gio, adalah rencana Diandra yang ingin menghindari ajakan dari Mely.
Makan siang bersama wanita bikini? Tidak ada di dalam rencana sama sekali, apa lagi untuk memberi informasi tentang suaminya. Tidak sama sekali. Diandra tidak akan pernah sudi untuk melakukannya.
Dia datang ke kantor Gio hanya untuk mencari tau tentang rumor, sekaligus mengawasi Sintia dan Eric. Bukan untuk menjadi teman perempuan bikini yang mau menjelma menjadi pelakor itu.
Diandra pun masuk ke dalam ruangan Gio, yang disambut oleh pelukan hangat suaminya.
Randi yng melihat semua itu, memutar bola matanya. Rasanya dia ingin segera kabur dari tempat penuh kebucinan tingkat tinggi yang membuat mata dan pikirannya ternoda.
"Aku pamit ke luar," ujar Randi tanpa canggung.
"Oh, kamu masih ada di sana? Ya sudah, sana ke luar ... belikan kami berdua makan siang," ujar Gio enteng.
"Astaga, orang setampan ini masa tidak terlihat sama sekali?" ujar lirih Randi, menatap tidak percaya pada Gio.
"Kalau aku melihat kamu tampan, itu tandanya aku sudah tidak normal," jawab Gio.
"Ck!" Randi berdecak, kemudian berbalik dan ke luar dari ruangan itu, meninggalkan Gio dan Diandra yang terkekeh menertawakannya.
'Dasar bos tidak punya hati, masa bermesraan di depan laki-laki yang masih suci sepertiku, bikin mata dan pikiranku ternoda saja, batin Randi penuh drama. Padahal sebagai seorang laki-laki dewasa, tentu saja adegan itu sudah banyak dia lihat, di dalam video atau secara langsung. Bahkan mungkin yang lebih pun sudah pernah.
.
.
__ADS_1
"Baru sehari aku ada di kantor, tuh perempuan bikini udah kasih liat sifat aslinya sama aku. Ck! Dasar wanita murahan!" ujar Diandra sambil menggosok rambutnya yang masih basah menggunakan handuk.
Ya, saat ini Diandra baru selesai mandi. Hari pertama bekerja Gio bisa mendengar sendiri betapa liciknya Mely selama ini, di belakangnya.
Ditambah Diandra juga bisa melihat sendiri bagaimana usaha Mely untuk mendekati suaminya. Dia juga mendapatkan teman baru, yang tak lain adalah Tia, dan Nina, karyawan yang dulu pernah satu lift dengan Diandra.
"Aku bener-bener gak nyangka kalau Mely ternyata berbuat seperti itu di belakangku." Gio yang sedang mengganti baju tampak ikut menimpali perkataan Diandra.
"Makanya, gak usah sok percaya sama wanita seperti Mely itu, hanya karena disuguhi pakaian minim, seperti bikini begitu. Mending kalau bentuk tubuhnya bagus, lah itu mah, udah kayak triplek ... tipis begitu masih aja mau dipamerkan," cibir Diandra, sepertinya wanita itu sedang mengeluarkan semua rasa kesal dan cemburunya pada wanita itu.
"Eh, jangan suka mengejek orang gitu, sayang," ujar Gio, sambil berjalan mendekati Diandra.
"Lah, kan yang aku bilang memang kenyataan, kalau kamu gak suka yang tinggal gak usah didenger, suìsah amat," judes Diandra menatap tajam wajah suaminya.
"Iya, sayang. Tapi, kalau di tempat umum jangan sampe ngomong begitu, ya." Gio mengambil handuk dia tangan Diandra kemudian mengambil alih untuk mengeringkan rambut istrinya.
"Aku juga tau tempat. Mana mungkin aku berani bicara seperti itu di luar kamar," malas Diandra memilih untuk beralih mengambil hairdrayer untuk mengeringkan rambutnya.
"Iya, aku tau, istriku ini kan paling cantik dan pintar di dunia," ujar Gio.
"Gak usah gombal, udah sana aku mau keringin pake ini," ujar Diandra mengambil handuk di tangan Gio kemudian beralih mengeringkan rambut menggunakan hairdrayer.
"Sini, biar aku saja yang membantu mengeringkan rambut kamu, sayang," ujar Gio sambil mengambil hairdrayer di tangan Diandra.
Diandra akhirnya menghembuskan napas panjang, dia akhirnya membiarkan Gio membantu mengeringkan rambutnya yang basah. Bekerja di kantor Gio cukup membuat hidupnya kembali bersemangat. Diandra yang memang tidak bisa diam, merasa lebih suka bekerja daripada harus terus berdiam diri di rumah, atau menghabiskan uang dengan berbelanja bersama mertua dan para iparnya.
"Lalu, apa lagi rencana kamu untuk besok, sayang?" tanya Gio, menatap istrinya dari pantesan kaca di depan.
"Aku masih akan memantau Mely, tapi apa boleh aku juga mengawasi divisi HRD, ada seseorang yang juga aku curigai di sana," ujar Diandra, sedikit ragu.
"Boleh saja, coba nanti saja aku tanyakan pada Randi, biar nanti dia yang mencari tahu lebih dulu," ujar Gio santai.
Diandra tersenyum, dia tidak menyangka akan mendapat dukungan semudah itu dari suaminya.
"Terima kasih," ujar Diandra menatap haru suaminya.
"Apa pun untukmu, sayang," jawab Gio.
......................
__ADS_1