Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Membuat bubur


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Beberapa saat kemudian bubur buatan Gio sudah matang, kini laki-laki itu sedang bersiap untuk menghidangkannya.


"Selamat pagi!" Tiba-tiba ada suara orang lain dari arah pintu masuk.


"Bau apa ini? Kenapa wangi sekali, sampai tercium ke luar?" ujar laki-laki itu yang tidak lain adalah Romi.


Gio semakin dibuat kesal dengan kedatangan satu orang lain lagi ke dalam rumah istrinya.


"Mau apa kamu datang ke sini, pagi-pagi begini?" tanya Gio, sambil menaruh mangkuk di depannya.


"Wah, bubur! Kebetulan sekali, aku belum sempat sarapan." Bukannya manjawab, Romi malah lebih tertarik dengan semua perlengkapan bubur di depannya.


"Heh! Kamu sudah punya istri, ngapain juga malah numpang sarapan di rumah ini, hah?!" sentak Gio, tidak terima bila Romi ikut makan masakan miliknya.


"Wah aku gak nyangka kalau Pak Gio bisa memasak. Ck, benar-benar laki-laki idaman. Pantas saja, kamu selalu dipuja para kaum hawa," cerocos Romi.


"Berisik! Sana pergi, minta sarapan sama istri kamu sendiri!" usir Gio.


"Aku terus saja disuruh ke sini sama istriku, karena dia khawatir pada Diandra. Dia bahkan tidak memberiku jatah sarapan di rumah," jawab Romi dengan pandangan mata masih terpaku pada berbagai macam bumbu pelengkap bubur.


Gio hanya melirik sekilas wajah penuh minat Romi dan Randi. Kedua laki-laki yang merupakan seorang asisten itu kini sedang berdiri tepat di depan Gio.


"Apa sudah matang? Beri aku satu mangkuk." Randi berucap, seakan sedang memesan makanan di restoran.


Gio, semakin kesal melihat tingkah dua laku-laki di depannya. Walaupun begitu tangannya sibuk menyiapkan bubur untuk sang istri.


"Aku juga!" imbuh Romi.


Gio tak merespon, dia bersikap acuh pada dua orang laki-laki yang dianggapnya menjadi pengacau itu.


"Nggomong-ngomong, keadaan Diandra gimana?" tanya Romi, begitu mengingat saudara dan juga bosnya itu.


"Sudah lebih baik, tadi aku sudah membawa dokter untuk memeriksanya. Dokter bilang, asam lambung Diandra naik, mungkin karena tidak makan dengan teratur dan terlalu stres," jelas Randi, menggantikan Gio.


"Oh, syukurlah! Aku lihat memang belakangan ini Diandra seperti banyak pikiran. Tapi, aku juga gak tau kenapa?" ujar Romi, mengingat beberapa hari sebelumnya.


Gio yang sudah siap dengan bubur di atas nampan pun langsung membawanya, membuat dua orang asisten itu, sadar akan apa yang sedang mereka tunggu.


Secepat mungkin keduanya menoleh pada tempat Gio menyiapkan bubur. Akan tetapi, mereka berdua tidak menemukan satu mangkuk bubur pun di sana.


"Lah, bubur miliku mana?" tanya Randi, melihat Gio yang sudah melangkah ke luar dari area dapur.

__ADS_1


"Kalian buat saja sendiri!" jawab enteng Gio, sambil meneruskan langkahnya.


"Ck, dasar bos tega!" decak Randi.


Sebenarnya, masih ada bubur dan semua perlengkapannya di sana, hanya saja kedua laki-laki itu tidak bisa meraciknya sendiri.


"Ah, bagaimana ini, aku lapar sekali?" desah Romi, melihat semua bumbu pelengkap dan toping bubur yang masih banyak.


"Kamu bisa meraciknya?" tanya Randi, menatap Romi sekilas.


"Enggak," geleng Romi.


"Astaga, kenapa tai kita tidak melihat Gio saat meraciknya?" ujar Randi, merasa kesal pada dirinya sendiri.


Selagi kedua asisten itu kebingungan untuk sarapan. Gio malah tersenyum sendiri dengan nampan berisi satu mangkuk bubur buatannya, untuk sang istri.


"Semoga saja, Diandra suka dengan masakanku," ujar Gio, sambil berjalan menuju kamarnya.


Gio mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum membukanya. Begitu masuk, dia melihat Diandra yang tampak sedang berbaring miring.


Gio tersenyum lalu menghampiri ranjang tempat Diandra berbaring.


"Kita sarapan dulu, ya. Biar kamu bisa minum obatnya," ujar Gio, sambil menyimpan nampan di atas nakas.


"Ayo, aku bantu duduk," sambung Gio lagi, sambil menyiapkan bantal untuk Diandra bersandar.


Diandra mengangguk samar, dia merasakan ada hangat yang menjalar di dalam dada, melihat perhatian yang diberikan oleh suaminya.


Gio membantu Diandra untuk duduk, kemudian mengambil gelas berisi air hangat.


"Minum dulu," ujar Gio sambil menyodorkan gelas ke depan bibir istrinya.


Setelah itu, kemudian Gio mengambil mangkuk berisi bubur, lalu mulai menyuapi Diandra.


"Karena dokter menyarankan untuk makan yang lunak, jadi sekarang makan bubur dulu ya," ujar Gio, sambil meniup bubur yang masih terasa panas di dalam sendok.


Diandra terdiam, dia hanya menatap wajah sang suami yang sedang sibuk melayaninya, entah mengapa matanya terasa memanas, dengan detak jantung yang bertalu, mendapati perlakuan lembut laki-laki yang tidak lain adalah suaminya sendiri.


Sesekali, Gio tampak tersenyum, saat mata keduanya terlihat bertabrakan, dengan sedikit salah tingkah dan canggung yang tiba-tiba terasa.


"Buka mulutnya, sepertinya buburnya udah hangat. Aaaa," ujar Gio, sambil mendekatkan sendok berisi bubur pada mulut istrinya.


Diandra menerima suapan pertama dari suaminya dengan perasaan canggung bercampur malu di dalam hatinya.


Ya, baru kali ini dia terlihat lemah di depan orang lain, apa lagi dilayani dan diperlakukan selembut ini.

__ADS_1


Sedari kecil Diandra memang termasuk anak yang memiliki kekebalan tubuh yang cukup kuat. Dia jarang sekali sakit, bahkan hanya untuk pilek, yang biasanya banyak diderita oleh anak-anak.


Berbeda sekali dengan Ana yang memang tidak sekuat Diandra, dia sering sakit hingga perhatian orang tuanya tersita banyak untuk saudara kembarnya itu.


Begitupun saat dia berhubungan dengan Eric, laki-laki itu tidak pernah memperlkukannya spesial, mereka hanya terikat oleh status pacaran, tanpa ada perlakuan lembut ataupun perhatian berlebih.


Sikap keduanya masih sama saja seperti seorang teman. Bahkan cenderung canggung saat hanya berdua.


Hanya beberapa suap, Diandra sudah menolak suapan dari Gio.


"Kenapa, tidak enak ya?" tanya Gio.


"Bukan begitu, aku hanya merasa sudah kenyang," jawab Diandra.


Gio mengangguk, dia kemudian menaruh kembali mangkuk berisi bubur itu di atas nakas, lalu mengambil air lagi.


"Kamu, sudah makan?" tanya Diandra, dia tahu kalau sejak kemarin malam Gio terus bersamanya, sampai tidak sempat mengisi perutnya.


Gio langsung menatap wajah Diandra, dia terkejut dengan perhatian yang diberikan sang istri padanya.


"Aku belum lapar," jawab Gio.


"Sekarang kamu minum obatnya dulu," sambung Gio lagi, sambil menyiapkan obat untuk Diandra.


Setelah membantu Diandra minum obat, Gio kembali mengukur panas tubuh istrinya, menggunakan punggung tangannya.


"Aku terkadang iri," lirih Diandra, sambil menatap lurus ke depan.


Gio terkejut mendengar perkataan yang diucapkan oleh istrinya, dia baru sadar kalau mata Diandra sudah berkaca-kaca.


"Aku kadang merasa iri sama orang yang sedang sakit." Diandra mangulang kembali perkataannya.


Gio menaikkan salah satu alisnya tajam, menatap Diandra penuh tanya.


Diandra yang sadar dengan arti dari tatapan suaminya hanya tersenyum tipis.


"Kenapa sebagian orang, cenderung lebih memperhatikan orang yang sedang sakit, dibandingkan denganorang yang sehat? Apa orang yang sehat tidak berhak untuk diperatikan?" tanya Diandra.


......................


Ada yang bisa jawab pertanyaan Diandra?


Jangan lupa like dan komen๐Ÿ™๐Ÿฅฐ


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...

__ADS_1


__ADS_2