Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.24 Pulang


__ADS_3

...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Gio akhirnya memutuskan untuk membawa Dian berjalan-jalan dulu di sekitar pantai, itu semua ia lakukan karena sejak tadi Dian tak menjawab pertanyaannya.


Dian mengedarkan pandangannya saat merasakan mobil yang ia tumpangi berhenti.


"Pantai?" guamamnya, dengan mata melihat laut lepas di samping kiri mobil.


"Sepertinya kamu butuh sedikit hiburan, jadi bagaimana kalau kita duduk dulu di sini?" ujar Gio sebelum keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Dian.


Dian mengedarkan pandangannya, dia menghirup udara pantai yang masih terasa sedikit sejuk, lalu membunagnya perlahan.


Berjalan menjauh sedikit dari mobil, lalu duduk di antara bebatuan pemecah ombak yang disusun sedemikian rupa, agar terlihat indah.


Gio memilih memesan kelapa muda untuk mereka berdua, kepada salah satu penjual yang ada di sana.


"Kelapa," ujar Gio sambil menyodorkan kelapa muda itu kepada Dian, dia sendiri ikut duduk di samping Dian.


Dian menatap sekilas wajah pria yang selalu tersenyum untuknya itu sekilas, lalu menerim kelapa muda itu.


"Terima kasih." Dian meminum sedikit air kelapa yang terasa begitu menyegarkan tenggorokannya, kemudian menaruhnya lagi di samping.


Gio mengangguk sambil tersenyum, saat melihat Dian mau menerima pemberiannya.


"Kamu suka laut?" tanya Gio, membuka pembicaraan.


"Ya, aku suka dengan lautan juga suasana pantai. Semua yang terdengar dan terlihat selalu bisa membuatku mendapatkan ketenangan dan semangat baru," jawab Dian.


Gio mengangguk-anggukkan kepalanya, hatinya sudah cukup senang, saat mendengar Dian berbicara panjang tanpa nada sarkasnya.


"Itu juga yang memutuskan kamu untuk bekerja di Lembayung Hotel?" tanya Gio lagi.


Dian mengangkat kedua bahunya. "Mungkin? ... itu salah satunya."


Gio menatap wajah Dian yang sedang memandang lurus ke depan. "Salah satu? Berarti kamu masih memiliki alasan lain lagi?"


Dian mengangkat kedua bahunya lagi, tanpa menjawab apa pun dari pertanyaan Gio.


"Dulu, aku lebih menyukai wanita dari pada pantai ... aku mrasa mereka lebih menarik dan menyenangkan--" Gio mnejeda kalimatnya,lalu menatap Dian yang kini sedang menatapnya kembali dengan wajah tidak suka.


"Ya, aku tau, semua lelaki memang seperti itu. Hanya mementingkan ksenangannya, tanpa mau melihat perasaan orang yang menyayanginya, brengsek dan tidak memiliki hati," ujar Dian diiringi senyum miris di wajahnya.


Gio memperhatikan wajah Dian yang kini berubah mengeras. "Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Aku yakin kamu tidak akan menerima bila ada seseorang yang bilang begitu pada Ares ataupun ayahmu."

__ADS_1


Dian menyunggingkan salah satu ujung bibirnya dengan helaan napas kasar, sebelum menjawab pertanyaan Gio.


"Mungkin iya, mungkin juga tidak," jawab Dian ambigu.


Gio menaikan sala satu alisnya, mendengar jawaban dari Dian.


'Apa yang membuatnya sampai berfikir seprti itu? Apa mungki ada kejadian menyakitkan yang dia lewati di masa lalunya?' gumam hati Gio.


"Tapi, sepertinya sekarang aku lebih suka pantai, dan itu semua karena kamu,"


Menjelang siang hari, Gio mengantarkan diam untuk pulang ke rumahnya. Dian mengernyitkan kening, saat rumahnya terlihat ramai, oleh beberpaa orang yang tidak ia kenal.


"Ini beneran rumah kamu?" tanya Gio, begitu memarkir mobilnya di halaman.


"Iya, ini rumahku," jawab Dian.


"Emang bisanya ramai seperti ini? Kamu tinggal sama siapa aja?" tanya Gio, yang masih penasaran dengan keramiaan itu.


"Enggak, aku hanya tinggal berdua dengan Ares," jawab Dian langsung.


"Kok ini ramai banget?"


"Aku juga gak tau ini kenapa," jawab Dian yang hendak membuka pintu.


Dari dalam rumah, Yaya terlihat keluar dengan langkah cepat, menghampiri Dian dan Gio yang masih berdiri di samping mobil.


"Teh Dian," sapanya, saat sudah sampai di depan majikannya itu.


"Yaya, sebenarnya ini ada apa? Kenapa rumah jadi ramai begini?" tanya Dian.


"Itu, Teh ... Ares pulang," jawab Yaya yang masih saja terlihat gugup.


"Ares pulang ke sini?" tanya Dian lagi memastikan.


"Iya, Teh," angguk Yaya.


"Lalu ini siapa? Apa ini teman-temannya Ares?" tanya Dian lagi, dengan kening berkerut, tidak yakin akan perkataannya sendiri.


Bukan tanpa sebab dia ragu, itu semua terjadi karena orang-orang yang ia lihat memiliki usia jauh berbeda dengan Ares. Sebagian banyak orang di sana adalah lelaki dewasa yang berpakaian rapi.


"Sebaiknya Teh Dian sama AA' masuk saja dulu," jawab Yaya, tanpa menjelaskan apa pun.


Dian semakin bingung, melihat raut wajah Yaya yang ketakutan, dia langsung melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Gio dan Yaya di belakangnya.

__ADS_1


Mata Dian melebar saat melihat Eros dan Lisna sudha ada di dalam, mereka berdua sedang berbincang dengan beberapa orang pria berbaju rapih.


Melihat kedatangan Dian, Lisna langsung mengajak anak perempuannya masuk ke dalam kamar, tanpa memberi kesempatan Dian untuk berbicara.


"Ada apa ini, Bun? Kenapa rumahku ramai begini?" tanya Dian.


"Maafkan Bunda, Nak. Bunda tidak memiliki cara lain untuk melerai perdebatan antara kamu dan Ayah kamu, selain menyetujui keinginannya," jawab Lisna ambigu.


Dia membawa Dian untuk duduk di sisi ranjang, dengan tangan saling menggenggam. Nada bicara yang sendu dan mata yang dipenuhi penyesalan, membuat Dian mengernyit dalam.


"Ada apa, Bun? Kenapa, Bunda, bilang begitu? Apa lagi yang Ayah mau dariku?" tanya Dian.


Perasaannya kini sudah mulai tidak enak dengan jantung yang bertalu, berbagai pertanyaan pun berputar di dalam kepalanya, membuatnya terasa pening secara tiba-tiba.


"Bunda mohon untuk kali ini, jangan tolak keinginan Ayahmu, atau menghilang lagi dari keluarga kita, Nak. Sudah cukup Diana yang pergi dari keluarga kita ... Bunda lebih baik mati, jika harus kehilangan anak bunda yang lain lagi," ujar Lisna dengan air mata yang berderai mengiringi setiap perkataannya.


"Bunda, jangan pernah bilang begitu. Aku tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan, Bunda. Maafkan aku, Bunda," ujar Dian sambil menghapus air mata di pipi wanita paruh baya itu.


"Bunda mohon, untuk kali ini tolong kabulkan permintaan ayahmu. Bunda yakin, untuk kali ini dia sudah memikirkan semuanya baik-baik. Dia hanya mau memastikan kebahagiaan kamu, Nak."


Lisna masih memohon kepada Dian. Untuk satu kali ini saja dia ingin memiliki andil dalam mempertahankan keluarganya yang sudah hampir hancur. Dia tak pernah membayangkan kalau akibat smua ini, suami dan anaknya akan kembali bertengkar hebat.


"Tapi, Bun--,"


"Bunda mohon, Dian. Untuk kali ini saja," mohon LIsna lagi.


Dian terdiam beberapa saat, mata antara ibu dan anak itu tertaut dalam, berusaha saling menyelami perasaan masing-masing.


Lama berfikir dan menimbang, akhirnya Dian menganggukkan kepalanya. Walau hatinya masih ragu, atas keputusan yang sekarang ini dia ambil.


"Terima kasih, Nak," ujar Lisna, menghambur pada pelukan Dian, dengan tangis yaang sudah pecah.


Dian mengelus punggung Lisna, dengan pikiran yang bahkan beum menemukan titik terang dengan apa yang baru saja ia setujui.


Lisna mengurai pelukannya saat sudah merasa cukup tenang dan menguasai hati dan perasaannya.


"Bisa, Bunda, jelaskan ... apa yang diinginkan oleh Ayah?" tanya Dian lagi.


"Ayah ... Ayah, ingin kamu menikah."


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Like dan komen dong, biar aku lebih semangat up-nya 🤭

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2