Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Cemburu


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Hai, Aa' ganteng, boleh kenalan gak?" terlihat tiga orang perempuan muda pengunjung bandara mendatangi Gio yang sedang menunggu Diandra ke toilet.


Saat ini Gio sedang duduk di salah satu kursi tunggu bandara, tidak jauh dari letak toilet perempuan.


"Aa', ganteng banget sih, mau jalan bareng gak sama kita?" tanya salah satu dari mereka.


Diandra yang sedang berjalan menghampiri Gio, menatap tajam Gio dan para perempuan yang sedang menggoda suaminya.


Sialan, dasar perempuan murahan, baru aja ditinggal sebentar udah godain suami orang aja! geram Diandra di dalam hati.


Kedua tangannya tampak mengepal keras, menahan rasa geram di dalam dada.


"Ekhm-ekhm." Diandra berdiri tepat di belakang para perempuan yang sedang mengerubungi suaminya.


Gio yang sedang bingung menghadapi para perempuan itu terkejut akan kedatangan istrinya.


Astaga, apa lagi ini? batin Gio.


Dia sudah biasa melihat wajah marah Diandra, yang sudah siap mengeluarkan kata-kata pedasnya.


Randi yang juga baru datang setelah mengerjakan sesutu, terkejut dengan apa yang ada di depannya kini.


Kedua laki-laki itu sudah bersiap untuk menghadapi kemarahan Diandra.


Namun, keduanya kini melebarkan matanya saat melihat Diandra yang malah tersenyum manis, sambil menyelipkan rambut di telinganya.


Gayanya yang anggun, tentu saja jauh berbeda dengan banyak perempuan di sana.


Gio mengedipkan matanya pelan, menatap terkejut Diandra yang berjalan menghampirinya.


Kenapa melihat Diandra tersenyum begitu lebih menyeramkan, dibandingkan dengan wajahnya yang galak? batin Gio.


"Sayang, ini siapa ... kok pada deketin kamu sih?" tanya Diandra, sambil bergelayut manja di tangan Gio.


Nada suaranya terdengar halus dan mendayu, membuat Gio dan Randi yang mendengarnya sudah ketar-ketir, menahan godaan nyata di depan mata.


Namun, tanpa ada yang tau, salah satu jari Diandra, mencubit tangan Gio, dengan kekuatan penuh.


"M–mereka bukan siapa-siapa, sayang," jawab Gio sambil mengelus punggung tangan Diandra.


"Kamu yakin? Bukannya mereka berusaha menggoda kamu?" tanya Diandra, menatap sinis satu per satu wajah para perempuan itu.


"Enggak kok, sayang. Tadi mereka cuma ngomong sama Randi. Iya kan, Ran?" Gio mengedipkan salah satu matanya, untuk memberi isyarat pada asistennya.


"Ah iya, benar ... mereka lagi ngomong sama aku kok, hehe." Randi sigap langsung membela bosnya itu.


"Ayo, lebih baik kita ngobrol di sana aja," sambung Randi lagi sambil berdiri dan menggiring para perempuan itu ke tempat yang lumayan jauh dari Gio dan Diandra.


"Tuh, kamu lihat sendiri kan, mereka itu lagi ngomong sama Randi bukan sama aku," ujar Gio, sambil melihat Randi yang mulai menjauh dari keduanya.


Diandra yang melihat para perempuan itu sudah menjauh, mencubit Gio lebih kencang lalu melepaskan tangannya dengan sekali sentak.

__ADS_1


"Arrggh!" Gio menggeram, menahan rasa sakit di tangannya.


Kali ini dia tidak berpura-pura, cubitan yang dilakukan oleh Diandra tidak main-main, dia bahkan merasakan panas di kulitnya akibat ulah istrinya itu.


"Sakit, sayang," melas Gio.


"Rasain! Itu memang pantas diterima sama playboy cap kodok kayak kamu," ujar Diandra sambil berdiri kemudian melangkah meninggalkan suaminya.


"Eh, sayang, tunggu!" Gio langsung menyusul Diandra.


"Sayang, aku beneran gak ngapa-ngapain sama mereka, beneran," ujar Gio merayu Diandra yang terlihat merajuk.


"Terserah! Kamu mau ngapa-ngapain juga aku gak peduli!" Diandra terus berjalan tanpa memerdulikan Gio.


Sampai di parkiran Diandra langsung masuk ke mobil milik Gio, dengan wajah yang masih saja cemberut.


Tanpa Diandra tau, Gio tersenyum samar melihat istrinya yang sedang merajuk karena melihat dirinya digoda oleh perempuan lain.


Gio ikut masuk dan duduk di samping Diandra, sedangkan Randi yang menyusul pasangan itu, langsung duduk di kursi kemudi.


Dia mulai menyalakan mobil dan melajukannya ke luar dari area bandara.


Setelah memastikan mobil berjalan dan semua pintu terkunci, Gio terkekeh kecil melihat Diandra.


Tentu saja semua itu semakin membuat Diandra kesal, perempuan itu memalingkan wajahnya, menatap ke luar jendela demi menghindari tatapan suaminya.


Namun, tangan Gio menarik pundaknya perlahan hingga akhirnya tubuh keduanya mendekat.


"Lepas ih, ngapain sih?" Diandra menggerakkan pundaknya untuk melepas tangan Gio.


"Ssshh, tenang dulu," ujar Gio, sambil mengelus halus rambut bagian belakang istrinya.


"Lepas, aku gak mau di sentuh sama laki-laki kayak kamu," ujar Diandra, sambil menekan tubuh Gio menggunakan tangannya, agar pelukannya terurai.


Namun, sekeras apa pun Diandra berusaha, Gio tidak juga melepaskannya.


"Kenapa marah, hem?" Gio bertanya, dengan nada yang halus.


"Gimana gak marah, kalau aku liat suami aku dikerubungin banyak cewek kayak gitu!" jawab Diandra dengan ritme suara yang sangat cepat.


Namun, saat dia sadar apa yang dikatakannya, Diandra langsung menutup rapat mulutnya sambil menyalahkan dirinya sendiri.


Ya ampun, apa yang aku katakan barusan? Dasar mulut ember, nagapain kamu pake ngomong duluan sebelum berfikir! batin Diandra, memalingkan wajahnya sambil menutup matanya rapat.


Gio terkekeh kecil, mendengar pengakuan spontan dari istrinnya.


"Kamu cemburu, sayang?" tanya Gio.


"E–enggak, siapa juga yang cemburu," jawab Diandra, gelagapan.


Randi yang melihat tingkah suami istri di belakangnya tersenyum senang, melihat cukup banyak kemajuan di dalam pernikahan Gio dan Diandra.


"Kalau gak cemburu, kenapa harus marah?" tanya Gio lagi.


Diandra terdiam, matanya bergerak gelisah mencari alasan yang tepat untuk menutupi perasaannya.

__ADS_1


"A–aku gak suka aja sama laki-laki brengsek kayak kamu! Udah punya istri tapi, masih aja godain cewek lain," jawab Diandra.


"Iya-iya, aku percaya kalau kamu cemburu." Gio malah menggoda Diandra.


"Aku gak ceburu!" Diandra melepaskan pelukan Gio, sambil menatap kesal suaminya.


"Iya, cemburu." Gio membalas tatapan Diandra.


"Enggak!"


"Cemburu!"


"Enggak!"


"Cemburu!


"Enggak!"


"Cemburu!"


"Enggak!"


"Enggak!" Gio membalik perkataannya.


"Cemburu!" Diandra pun refleks mengikuti perkataan Gio sebelumnya.


"Tuh kan kamu ngaku, ahahaha!" Gio tertawa puas saat Diandra terkena jebakan perkataannya.


"Gak bisa gitu dong, itu kan karena kamu curang," bantah Diandra tidak terima.


"Tapi, akhirnya kamu ngaku kalau cemburu sama aku, hahaha!" Gio masih saja tertawa.


"Terserah! Dasar gak mau ngalah!" decak Diandra sambil kembali memalingkan wajahnya.


"Ya, kamu memang cemburu sama aku. Ah, senangnya ada yang cemburuin," ujar santai Gio.


Diandra berdecak kesal mendengar perkataan Gio yang terasa benar di dalam hati. Walaupun, bibirnya terus menolak kenyataan itu.


Gak sia-sia, aku bertahan melayani para perempuan itu, kalau akhirnya bisa melihat Diandra cemburu kayak gini, batin Gio.


Biarkan saja dulu Diandra marah, biar nanti aku cari cara untuk membuatnya memaafkan aku. Gio bergumam dalam hati.


Kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa mengendalikan perasaanku di depan laki-laki ini? batin Diandra merasa kesal pada dirinya sendiri.


Dadanya terasa sesak dengan mata yang memanas, hingga hampir saja air yang berkumpul di pelupuk tumpah tidak tertahan.


Entah apa yang terjadi padanya dan hatinya saat ini, Diandra juga tidak tau. Akan tetapi, satu yang mungkin dia mengerti, kalau hatinya sangat terasa sakit ketika melihat Gio berada di antara perempuan lain.


*I*ni pasangan perasaan berantem mulu, udah kayak anjing sama kucing aja, decak Randi, melihat dua orang bosnya yang terus saja beradu mulut sepanjang jalan.


......................


Hati adalah sesuatu yang sulit untuk dipahami, bukan hanya untuk orang lain, kadang untuk hati kita sendiri.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2