
...Happy Reading ...
.....................
Flash back.
"Di sini enak ya, dingin dan sepi," ujar Diandra yang memang menyukai suasana alam dan tidak terlalu suka bergaul.
"Iya, kalau kita punya rumah di tempat kayak gini pasti tenang banget ya. Kalau malam sunyi, gak ada suara motor kenalpot racing yang suka bikin kaget," jawab Diana.
Dari semua kekesalan mereka tinggal di kampung, hanya motor kenalpot racing yang membuat Diana naik darah.
Bagaiman tidak, kalau para anak muda kampung selalu sengaja memainkan gas motor di saat malam hari, hingga membuat Diana sulit tidur, atau bahkan kegiatannya menonton televisi bersama Bunda terganggu.
Berbeda dengan Diandra yang memiliki kepribadian introfert dari kecil. Diana, malah sebaliknya, dia memiliki kepribadian extrofert, yang senang bergaul dan bersosialisasi dengan orang.
Namun, Diana sangat tidak suka jika kegiatannya terganggu, dan itu terjadi saat wabah knalpot racing melanda kampung tempat mereka tinggal.
Diandra tersenyum sambil melihat adik kembarnya, kini mereka berdua sedang duduk di tepi sungai, setelah melakukan kegiatan selama seharian.
"Kamu pasti gak akan betah kalau tinggal di tempat seperti ini," bantah Diandra, meragukan perkataan Diana.
"Asalkan sama kamu, aku mau tinggal di tempat seperti ini," jawab Diana lagi sambil tersenyum cerah, melihat Diandra penuh binar bahagia.
"Baiklah, kalau nanti kita sudah besar aku akan membuat rumah di tempat seperti ini, buat kita bedua," janji Diandra.
Kedua anak yang baru saja menginjak kelas enam sekolah dasar itu tersenyum lebar, hingga menampilkan semua deretan gigi mereka, kemudian berpelukan, sambil melihat pemandangan air sungai yang tampak jernih.
Flash back off.
Diandra membuka matanya dia sama sekali tidak menyangka kalau Diana malah memilih tempat impiannya waktu kecil, sebagai tempat pelariannya.
"Pantas saja selama ini orang-orang yang aku sewa untuk mencari kamu, tidak pernah menemukan kamu, Ana. Ternyata kamu sudah berubah banyak selama lebih dari tiga tahun ini," gumam Diandra lagi.
Mengenang masa saat kisah cinta belum datang di antara keduanya adalah sesuatu yang membahagiakan. Saat itu pikiran keduanya sama-sama masih bersih, tanpa ada niat saling meninggalkan apalagi mencari orang lain sebagai kekasih hati.
Namun, ternyata kehidupan akan selalu berubah begitu juga dengan hati manusia. Seiring waktu yang terus mendewasakan keduanya, hingga rasa tertarik pada lawan jenis dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan dengan laki-laki, membuat hubungan keduanya terasa tidak sedekat dulu.
Apalagi saat hubungan Diana ternyata ditentang oleh Eros, itu semua membuat Diandra berada di tengah-tengah. Dirinya dipaksa untuk memilih untuk memihak salah satu di antara ayah dan saudara kembarnya sendiri.
Lama terdiam di balkon akhirnya Diandra bangkit, dia berjalan ke dalam kamar lalu mencari ponselnya. Diandra menghubungi orang yang dia sewa untuk mencari Diana agar menyusulnya ke tempat ini.
__ADS_1
Diandra juga menyuruh orang itu untuk menyelidiki tentang perempuan yang bernama Rani itu.
"Aku yakin kalau itu adalah kamu, Ana. Hatiku tidak pernah salah, dan perasaanku tidak pernah berbohong," gumam Diandra, setelah dia memutuskan sambungan teleponnya.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, sampai aku bisa membuktikan kalau kamu adalah adikku," imbuh Diandra lagi penuh tekad di dalam hati.
.
.
Sedangkan di ruang kerja, Gio dan Randi sedang menerima laporan dari anak buah yang tadi ditugaskan untuk mengikuti Rani.
Mereka bertiga duduk di sofa, dengan wajah yang tampak serius.
"Jadi dia pindah ke sini dua tahun lalu?" tanya Gio memastikan, apa yang dilaporkan oleh anak buahnya beberapa saat lalu.
"Lalu apa benar, dia adalah keponakan dari Bi Minah? Saya ingat kalau Bi Minah tidak mempunyai saudara?" tanya Gio lagi.
"Bi Minah bilang sama warga kalau dia adalah keponakan Pak Aan dari kakaknya yang sudah meninggal. Makanya dia membawanya ke kampung ini," jelas anak buah itu.
Gio dan Randi tampak mengangguk-anggukkan kepala, mendengar penjelasan dari anak buahnya itu.
"Apa lagi informasi yang kamu dapatkan dari warga?" tanya Randi, mengambil alih.
"Dia belum menikah?" tanya Gio mengernyit bingung, dia langsung menegakkan tubuhnya.
Pasalnya yang dia tahu Diana pergi dari rumah dalam keadaan hamil bersama dengan kekasihnya yang bernama Hery. Selama ini dia mengira kalau Diana sudah menikah dan mempunyai anak yang mungkin usianya dua tahun lebih.
"Setau saya belum, Pak."
"Kalau anak? Apa dia sudah mempunyai anak?" tanya Gio lagi.
Randi dan anak buah Gio tampak terkejut saat mendengar pertanyaan dari bos mereka itu. Sepertinya masa lalu Gio yang kelam, membuat mereka salah paham.
"Sepertinya belum, Pak," jawab anak buah Gio ragu.
"Nikah aja belum, mana bisa punya anak," ujar Randi menimpali.
Namun, satu detik kemudian wajahnya berubah terkejut dengan mata yang melebar, menatap Gio penuh curiga.
"Jangan bilang dia adalah salah satu wanita yang pernah tidur dengan kamu, dan lupa memakai pengaman? Akh, pantas saja aku sepertinya pernah bertemu dengannya!" cerocos Randi, memberikan tuduhan pada Gio.
__ADS_1
Dia sama sekali belum ingat kalau perempuan itu sangat mirip dengan Diandra.
"Astaga, apa aku melewatkan salah satu wanita, sampai kamu sudah mempunyai anak dari salah satunya?" sambung Randi lagi, mendesah kesal.
Randi merasa gagal, menjaga kehormatan Gio. Dia juga membayangkan bagaimana harus menjelaskan semua itu kepada seluruh keluarga Pornomo dan seluruh pemegang saham.
Membayangkannya saja sudah sangat melelahkan, apa lagi kalau sampai itu benar-benar terjadi, astaga dia bisa mati berdiri. Belum lagi Diandra sebagai istri sahnya Gio.
Oh, rasanya kali ini dia ingin mengumpat dan memukul Gio sampai babak belur, karena ceroboh dalam melakukan hubungan intim dengan para wanita itu.
"Kamu gak ingat sama Diandra, gimana kalau sampai dia tau? Astaga! Gak bisa apa kamu bikin aku tenang sehari saja?!" kesal Randi, akhirnya tidak bisa menahan mulutnya sendiri.
Gio memutar bola matanya jengah, melihat wajah berlebihan asisten dan anak buahnya. Pikiran mereka benar-benar harus dicuci menggunkan pemutih, agar bisa kembali bersih.
Dia tidak sebodoh itu, sampai tidak bisa menjaga benihnya yang sangat berharga dari para wanita malam seperti mereka. Dia tidak pernah menanam benih di perempuan mana pun sampai saat ini.
Target rahim yang dia jadikan tempat bercocok tanam hanyalah milik Diandra. Akan tetapi, sampai sekarang dia belum mendapat kesempatan untuk memulainya. Jadi ... bersabar sajalah.
"Dia bukan anakku," desah Gio.
"Beneran? Bukan anak kamu?" Randi langsung tersenyum sumringah.
Wajahnya yang sejak tadi bagaikan cucian baju yang sudah direndam selama dua hari, begitu kusut dan tidak enak dilihat apalagi dicium, seketika langsung berubah cerah bagaikan lampu seratus wat.
"Hm." Gio hanya bergumam sebagai jawaban.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah!" Randi seketika ingat dengan Tuhannya.
"Ck!" Gio berdecak malas, melihat Randi yang sangat berlebihan.
Setelah perdebatan tidak jelas dan kekhawatiran berlebihan dari Randi, mereka kembali berbicara serius, mencari rencana pemecahan masalah ini.
.
.
Siang hari Diandra tampak ke luar dari kamarnya, dia mencari keberadaan Gio.
....................
Karya bagus dari temen aku nih, mampir ya😊
__ADS_1