Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Hasil tes DNA


__ADS_3

...Happy Reading...


.................


Hari ini adalah waktunya Diandra untuk mengambil tes DNA di rumah sakit, dia pergi bersama Gio, sedangkan Randi harus pergi ke Jakarta sore hari kemarin, karena ada urusan mendesak di kantor pusat.


Gio menolak untuk mengajak Rani, dia tidak ingin ada wanita lain di mobilnya, jika dirinya yang sedang menyetir.


"Aku hanya ingin menjadi supir untuk istriku, bukan untuk wanita lain, walaupun itu saudara kamu sendiri, sayang." Itulah jawaban Gio saat Diandra meminta untuk mengajak Rani bersama mereka.


"Kalau dia mau ikut, suruh saja bersama para anak buahku," ujar Gio lagi, yang langsung membuat Diandra berhenti meminta.


Sepertinya, suaminya itu memang tidak suka jika harus ada orang lain di mobil mereka. Akan tetapi, dia juga tidak mungkin membiarkan Ana untuk duduk bersama para pengawal Gio.


Akhirnya Diandra memutuskan untuk tidak mengajak Rani. Toh, semua ini hanya sebagai bentuk prosedur kelengkapan saja. Padahal tanpa harus melakukan tes DNA pun, Diandra sudah yakin kalau Rani adalah Ana.


Mereka masuk ke dalam ruang dokter yang merupakan salah satu kenalan dari Randi, mereka membuka amplop hasil yang diberikan oleh dokter tersebut lalu saling melihat.


Beberapa saat kemudian Gio dan Diandra tampak ke luar beriringan.


"Mau makan dulu gak?" tanya Gio, setelah keduanya sudah berada di parkiran.


"Boleh," jawab Diandra.


"Mau makna apa?" tanya Gio, sambil membuka pintu mobil untuk istrinya.


"Apa aja deh," jawab Diandra.


Gio menutup pintu lalu berjalan memutar untuk sampai di kursi kemudi.


"Gimana kalau nasi liwet, mumpung kita lagi di Bandung," saran Gio.


"Aku lagi malas makan nasi," jawab Diandra.


"Kalau gitu, gimana kalau mi kocok?" Gio kembali memberi saran.


"Aku gak suka jeroan," jawab Diandra.


"Kalau gitu, gimana kalau bakso aja?" untuk yang ketiga kalinya Gio memberi saran.


"Kayaknya aku gak selera deh," jawab Diandra lagi, yang langsung membuat Gio menghela napas.


Katanya tadi terserah, tapi sekarang ditawarin apa-apa gak mau, batin Gio.


"Terus, kamu maunya apa, sayang?" tanya Gio lagi.


Mereka berdua masih berada di parkiran, Gio belum menjalankan mobilnya sama sekali.


"Jalan aja dulu deh, nanti aku pikirin di sambil jalan aja," jawab Diandra setelah lama terdiam.

__ADS_1


"Baiklah, kita jalan ya?" tanya Gio yang langsung mendapat anggukkan dari istrinya.


Sekitar sepuluh menit Gio berkendara, tiba-tiba saja Diandra menyuruhnya berhenti di salah satu tempat makan dengan konsep perahu.


"Kamu mau makan di sini?" tanya Gio sebelum merek ke luar.


"Iya, kayaknya tempatnya enak deh," jawab Diandra, sambil mengedarkan pandanganya.


Gio mengangguk lalu melepas sabuk pengamannya. Dia ke luar terlebih dahulu lalu membuka pintu untuk istrinya.


Gio menggandeng tangan Diandra untuk masuk bersama ke restoran itu. Suasananya tidak terlalu ramai, mungkin karena ini sudah lewat waktu makan siang.


Keduanya duduk di salah satu saung yang menghadap langsung pada sebuah kolam buatan di tengah area restoran. Suasananya terasa sangat sejuk dengan tanaman rambat di belakangnya.


Seorang pelayan perempuan tampak menghampiri mereka dan menanyakan menu yang akan dipesan.


"Mau makan apa, sayang?" tanya Gio, sambil membiarkan Diandra membuka buku menunya.


"Kalau yang terkenal dari restoran ini apa?" tanya Gio, memberi jalan untuk Diandra memilih.


"Kalau menu yang banyak dipesan adalah, pake nasi liwetnya," jawab pelayan itu.


"Gimana? Kamu mau makan nasi iwet?" tanya Gio pada istrinya.


"Tadi kan aku udah bilang kalau lagi gak mau nasi," jawab Diandra.


"Ya udah, pilih aja menu yang kamu suka," jawab Gio, lebih memilih mengalah.


"Kamu mau apa?" tanyanya pada Gio.


"Aku nasi putih, gurame saus asam manis sama cah kangkung," jawab Gio.


Setelah memesan mereka berdua kembali menunggu di saung sampai makanan datang.


Beberapa saat kemudian, makanan yang mereka pesan sudah datang, Gio pun sudah bersiap untuk makan begitu pun dengan Diandra.


TIba-tiba Gio menyodorkan makanannya pada Diandra. Diandra melihat wajah Gio dengan kening berkerut.


"Kamu harus makan nasi, sayang," ujar Gio.


Diandra menerima suapan dari suaminya, sambil terus memakan makanan di depannya.


"Enak gak?" tanya Gio.


"Enak," jawab Diandra.


"Kamu mau gak?" Diandra pun menyodorkan sendok berisi sup kepada Gio.


Gio tersenyum lalu menerima suapan dari istrinya. "Hem, enak banget," jawabnya sambil memejamkan mata, seolah makanan itu sangat enak.

__ADS_1


"Ck, gak usah lebay deh," cebik Diandra.


"Aku gak lebay, sayang. Makanan apa pun kalau kamu yang mneyuapi, rasanya akan sangat enak," ujar Gio.


"Lagi makan gini, masih aja bisa ngebombal. Dasar playboy cap kodok!" ujar Diandra menyembunyikan rona di pipinya.


Gio terkekeh, dia selalu merasa bahagia saat bersama Diandra. Entah apa yang dimiliki oleh istri dinginnya itu, hingga bisa membuatnya tidak bisa berpaling pada perempuan lain.


"Aku ke toilet dulu," ujar Diandra setelah dia menyelesaikan makan siangnya.


Gio mengangguk, dia pun menunggu istrinya sambil menghisap rokok elektrik yang biasa dia bawa.


Beberapa saat kemudian Diandra ke luar dari toilet. Akan tetapi, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya hingga dia terhuyung dan terjatuh cukup kencang.


"Maaf-maaf, saya buru-buru tadi," ujar seorang laki-laki yang menabrak Diandra.


Dia tampak membantu Diandra berdiri dan mengambil tasnya.


"Tidak apa-apa, aku juga kurang hati-hati tadi," jawab Diandra, sambil membersihkan bajunya yang terlihat kotor.


"Sayang, kamu kenapa?" Gio yang menyusul Diandra setelah membayar bil makanannya terkejut saat melihat Diandra bersama seorang pria.


"Aku tadi gak hati-hati jadi jatuh deh," jawab Diandra. Dia baru sadar kalau laki-laki yang tadi menabraknya sudah tidak da di sana.


"Ada apa, kamu nyari siapa?" tanya Gio, melihat Diandra yang seperti sedang mencari seseorang.


"Tadi ada laki-laki yang nolongin aku di sini. Tapi, kok sekarang dia udah gak ada?" jawab Diandra bingung.


"Sudahlah biarkan saja, mungkin orangnya lagi buru-buru," ujar Gio.


Diandra mengangguk, mereka pun akhirnya ke luar dari restoran bersama-sama, dengan tangan saling bergandengan. Keduanya kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju vila.


"Coba kamu lihat, apa ada yang hilang di tas itu?" ujar Gio, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Diandra menatap Gio penuh tanya. Akan tetapi, dia juga tidak membantah dan langsung memeriksa tas miliknya.


"Hasil tesnya?!" Diandra melebarkan matanya saat mengetahui kalau hasil tes DNA dirinya dan Rani sudah hilang.


Gio tersenyum miring, ternyata semua sesuai dengan prediksinya. Mereka akan mencari saat dimana Diandra sedang sendiri untuk mengambil hasil tes itu.


Ya, sebenarnya dia sudah merasa kalau mereka diikuti sejak ke luar dari rumah sakit. Gio juga melihat saat Diandra ditabrak oleh laki-laki itu. Akan tetapi, dia sengaja tidak muncul lebih dulu, dan membiarkan laki-laki itu melaksanakan tujuannya.


Saat dia melihat amplop di tas Diandra sudah berpindah tangan, bau Gio memunculkan dirinya agar laki-laki itu segera pergi dan istrinya dalam keadaan aman kembali.


"Gio, hasil tesnya hilang! Gimana kalau hasil tes itu sampai ke tangan orang-orang yang berniat mencelakai Rani? Bagaimana kalau mereka sampai tau hasil tes yang asli?!" Diandra berucap dengan wajah paniknya.


Nah, gimana nih kalau sampai mereka tau hasil tesnya? Jangan lupa komen dan likenya ya🙏🥰


......................

__ADS_1


Ada karya bagus lagi nih, yuk mampir😊



__ADS_2