
...Happy Reading ...
......................
"Sepertinya rumor itu sudah sampai pada Pak Bos, lalu kita harus bagaimana lagi?" tanya kepala sekretaris pada Sintia, saat mereka berjalan berdua.
"Biarkan saja, selama ini kita kan sudah bermain cantik. Lagian si Bos gak mungkin ngurusin rumor soal wanita murahan itu kan," jawab enteng Sintia.
"Sekarang bagimana rencana kamu untuk mendekati pak Bos, apa sudah ada kemajuan?" tanya Sintia lagi.
"Sulit. Pak bos, masih jual mahal," decak kepala sekretaris itu.
"Kamu kurang memberikan kode mungkin? Lebih berani lagi dong." Sintia memberi saran.
"Mungkin juga. Sepertinya Pak bos juga menjaga jarak dari wanita, makanya dia sekarang jarang meminta tolong padaku," keluh kepala sekretaris itu.
"Mana ada kucing garong nolak kalau kita kasih ikan asin. Tenang saja, lama-lama juga dia pasti akan berpaling padamu." Sintia mencoba memberi semangat pada kepala sekretaris itu.
Tidak tahu saja kalau sekarang Gio bukan lagi kucing garong, karena sekarang laki-laki itu sudah menjadi kucing persia, dengan Diandra sebagai pawangnya.
"Iya, sepertinya aku memang harus lebih panas lagi, kalau perlu aku akan menganjaknya secara terang-terangan. Mana ada laki-laki yang tahan kalau ada perempuan yang mengajaknya lebih dulu, kan," ujar kepala sekretaris itu, penuh percaya diri.
Siantia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui apa yang dikatakan oleh kepal sekretaris itu.
Tanpa terasa mereka sudah berada di depan pintu lift, keduanya tampak menunggu sambil terus berbincang dan merencanakan sesuatu untuk Gio dan Diandra.
Sintia memang belum mengetahui kalau Diandra itu adalah istri Gio, kepala sekretaris itu memberi tahunya kalau Diandra adalah wanita simpanan Gio, sama seperti tebakannya. Makanya Sintia masih percaya diri untuk melawan Diandra. Entah bagaimana reaksinya nanti, jika dia tahu siapa sebenarnya Diandra itu.
"Pokoknya kita harus berhasil menyingkirkan perempuan murahan itu dari samping Pak Bos," ujar Sintia yang langsung diangguki oleh ketua sekretaris itu.
Pintu lift pun akhirnya terbuka, keduanya sempat terdiam saat melihat orang yang sejak tadi mereka bicarakan ternyata sekarang berdiri di hadapan mereka, ditambah seseorang yang berada di samping Diandra, yang membuat kedua perempuan itu semakin terkejut.
Walau begitu kedua perempuan itu langsung berusaha untuk menetralkan lagi raut wajahnya, kemudian menyempatkan untuk menyapa Mama Hana dengan sopan dan ramah maksimal.
.
.
Lift terbuka di lantai tertinggi, Mama Hana, Diandra, Sintia, dan kepala sekretaris itu turun bersamaan, sepertinya Sintia juga ada keperluan di lantai itu, saat ini.
Mama Hana dan Diandra berdiri di depan ruang kerja Gio, tanpa aba-aba Mama Hana langsung menerobos masuk ke dalam, hingga membuat Diandra dan semua staf yang sedang berada di sana, melebarkan matanya.
"Anak nakal, ngapain aja kamu di kantor, hah?!" ujar Mama Hana begitu dia masuk ke dalam ruangan.
Diandra cepat menutup pintu, agar tidak ada yang mendengar omelan Mama Hana. Jangan dikira Mama Hana itu lembut, dia hanya terlihat lembut, padahal jika sudah marah, dia bahkan mungkin lebih seram dari Diandra.
Gio yang sedang duduk di sofa sambil memijat pangkal hidungnya, langsung mengangkat kepala dan melihat kedatangan kedua wanita kesayangannya.
__ADS_1
Ah, entah kenapa akhir-akhir ini kepalanya sering terasa berat, mungkin karena tubuhnya terlalu banyak bekerja, atau banyak pikiran, mengingat ternyata banyak masalah yang harus dia selesaikan di menejemen perusahaan.
"Mah, tenang dulu." Diandra mencoba melerai kekesalan ibu mertuanya.
"Mamah, sayang, kalian ke sini kok gak bilang dulu?" ujar Gio langsung beranjak dari tempatnya duduk.
"Memang kenapa, Mama dan dian harus bilang dulu kalau kita mau ke kantor, heh? Kamu takut kita berdua tau omongan para karyawan kamu di luar, hah?" sentak Mama Hana, sambil memukul bahu Gio berulang dengan tas mahalnya.
"Akh, sakit, Mah! Maksud, Mama, apa? Coba bilang baik-baik dulu?" ujar Gio sambil melindungi tubuhnya dari pukulan Mama Hana.
"Mah, udah, Mah. Kasihan Gio." Diandra ikut menahan tangan Mama Hana.
"Apa? Jangan bilang kalau kamu belum tau gosip di kantor ini tentang istri kamu sendiri, Gio? Dasar anak nakal ini ...." kesal Mama Hana, dia kemudian melepaskan tangannya, lalu duduk di sofa dengan kasar.
"Sabar dulu, Mah. Kita bicarakan ini semua baik-baik dulu," ujar Diandra sambil menyodorkan minum yang baru saja dia ambil dari kulkas kecil yang tersedia di ruangan Gio pada Mama Hana.
Mama Hana langsung menenggaknya kasar, napasnya memburu karena lelah setelah memukuli anak laki-lakinya.
Gio duduk di belakang Diandra, dia menghindari tatapan tajam ibu kandungnya itu.
"Sayang," manjanya pada Diandra.
"Ck! Diam dulu, ih," ujar Diandra malah fokus pada mertuanya, padahal yang tadi dipukuli adalah suaminya.
"Astaga, sayang? Aku sakit loh, dipukul Mama," adu Gio.
"Sabar, Mah. Nanti darah tingginya naik lagi. Sekarang tarik napas dalam, kemudian hembuskan pelan-pelan," ujar Diandra sambil mengusap tangan mertuanya dengan gerakan lembut.
Mama Hana pun mengikuti perkataan menantu perempuannya itu, walau kadang tatapan tajamnya masih menghunus pada Gio.
"Sayang," manja Gio lagi, seolah seorang anak yang sedang mengadu pada ibunya.
"Sudah, gak usah manja dan cari kesempatan sama menantuku! Sekarang jelaskan, kenapa ini semua bisa terjadi, padahal Dian bahkan baru sekali datang ke kantor ini?!" titah Mama Hana tegas.
"Ini kan istriku, Mah," gumam Gio pelan, walau masih dapat terdengar oleh Mama Hana dan Diandra.
"Gio!" tekan Mama Hana.
Gio langsung mengalihkan pandangannya pada Mama Hana dan bersiap untuk menjawab.
"Aku juga baru mengetahui semua itu hari ini, Mah. Aku sudah menyuru Randi untuk mencari tau dan menangkap penyebar rumor aneh itu," jawab Gio.
"Kenapa kamu gak umumkan saja pernikahan kalian sekarang? Itu bukannya akan menyelesaikan rumor ini dengan singkat?" tanya Mama Hana dengan nada judes.
"Kalau begitu, bisa saja pelakunya akan kabur atau merencanakan untuk melimpahkan kesalahannya pada orang lain. Makanya aku berencana untuk menangkap dulu pelakunya, baru mengumumkan pernikahan kami di kantor," jelas Gio, sambil merebahkan kepalanya di pundak Diandra.
"Sayang, sakit," sambungnya dengan wajah meringis, mencari perhatian pada
__ADS_1
istrinya.
"Gak usah manja di depan Mama, geli tau!" cebik Mama Hana.
Gio terkekeh, dia malah memeluk istrinya di depan Mama Hana dengan sengaja.
"Bilang aja, Mama iri sama kita berdua," ujar Gio, menggoda ibu kandungnya itu.
"Oh iya, Mah. Apa, Mama, kenal sama dua perempuan yang di lift bersama kita?" tanya Diandra, teringat pada Sintia dan kepala sekretaris.
Mama Hana mengernyit, dia tampak mengingat-ingat sesuatu.
"Enggak tuh. Tapi, Mama tau, kalau salah satunya adalah kepala sekretaris di sini. Dia sudah bekerja cukup lama, makanya Mama tau," jawab Mama Hana.
"Memang kenapa? Kok, tiba-tiba kamu nanyain mereka," tanya Mama Hana.
"Eum, enggak kok, Mah. Aku cuman penasaran aja," jawab Diandra.
"Dian itu cemburu sama Mely, Mah. Karena pakaian Mely kan memang selalu minim," ujar Gio, sambil terkekeh.
Diandra menyenggol perut Gio dengan sikutnya, karena Gio telah mengatakan semua itu di depan Mama.
"Akh, sayang," protes Gio.
Mama Hana terkekeh melihat Diandra yang tampak kesal pada Gio.
"Mama juga gak suka sama dia, pakaiannya bikin Mama sakit mata. Iya kan, Dian?" ujar Mama Hana, malah membela Diandra.
"Iya, Mah. Tapi, kayaknya Gio suka tuh, Mah, liatin yang kayak gitu," adu Diandra, membuat Gio melebarkan matanya.
Baru saja dia bernapas karena dipukuli oleh Mama Hana, sekarang Diandra malah berbicara sesuatu yang bisa membuat Mama Hana kembali marah.
"Awas saja kalau sampai begitu, biar nanti Mama sunat lagi dia!" tajam Mama Hana yang membuat Gio meringis seketika.
Sedangkan Diandra malah terkekeh, dia setuju dengan perkataan Mama Hana.
"Wah, aku setuju itu, Mah!" seru Diandra diiringi tawanya.
"Sayang, kamu tega banget sih sama aku," keluh Gio.
"Mah." Gio menatap Mama Hana melas.
"Biarin!" ujar keduanya bersamaan, membuat Gio menghela napas panjang.
Kompak banget sih mereka, batin Gio.
......................
__ADS_1