Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Kabar


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Ran, bisa lebih cepat lagi gak sih?!" tanya Gio untuk yang ke sekian kalinya.


Sungguh, laki-laki itu kini sedang sangat gelisah, mengingat ponsel Diandra sama-sekali tidak bisa dihubungi, dan kini bahkan dirinya tidak tahu kabar dari sang istri.


"Bagaimana kita bisa lebih cepat, jika lalu lintas sedang padat, Gio. Kamu mau aku menabrak mobil orang, hah?" jawab Randi dengan nada sarkas, dia bahkan memanggil Gio dengan namanya, menandakan jika Randi dalam mode sebagai sahabat, bukan lagi seorang asisten.


Bosan rasanya dia mendengar pertanyaan Gio yang terus berulang kali terdengar dan mengganggu di telinganya.


"Sabar dan berdoa saja, mungkin Diandra sudah sampai di bandara, tapi dia lupa untuk mengurus ponselnya. Berpikir baik, bisa kan? Gak usah mikir buruk dulu ... kamu ini sudah kayak perempuan aja," cerocos Randi yang akhirnya tidak tahan untuk membuka suara.


Randi sudah benar-benar lelah dan jengah melihat Gio yang sejak tadi terus gelisah seolah seolah kini Diandra telah meninggalkannya.


Gio tampak melihat Randi dengan tatapan tidak terbaca, untuk beberapa detik dia masih diam dengan posisi yang sama, hingga membuat Randi mulia salah tingkah.


Namun, tidak lama kemudian Gio menghembuskan napasnya kasar, sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil.


"Iya, kamu benar. Seharusnya aku tidak berpikir buruk tentang istriku sendiri. Tapi, kamu juga tidak merasakan bagaimana aku akan merasa bersalah jika sampai terjadi apa-apa pada istriku," ujar Gio dengan suara lirih dan pandangan sayu.


"Dia melakukan penerbangan sore ini karena aku yang memintanya," sambungnya lagi. Tangannya mengusap wajah dengan gerakan kasar, diiringi hembusan napas yang tidak beraturan.


Randi menatap kilas sahabat sekaligus bosnya itu, dia baru sadar kalau mungkin dirinya salah dalam berucap. Sungguh dia hanya ingin Gio tidak memikirkan hal buruk lebih dulu, sebelum mereka mendapat kabar yang jelas tentang Diandra.


"Maaf, jika aku keterlaluan. Aku tau, kamu sangat mencintainya, makanya aku mau kamu berfikir positif," ujar Randi merasa bersalah.


"Iya, aku tahu. Kamu berbicara begitu untuk menyadarkan aku," angguk Gio dengan tatapan yang masih terlihat gusar.


Randi menghembuskan napas kasar, kemudian fokus kembali mengemudi mobil agar lebih cepat sampai di Bandara. Dia tahu bagaimana cinta Gio pada Diandra, bahkan dirinyalah yang menjadi saksi perjalanan cinta keduanya.


Namun, mungkin karena dirinya belum memiliki istri, jadi Randi belum bisa mengerti rasa cinta Gio pada Diandra.


Diandra, aku mohon untuk tetap dalam keadaan baik-baik saja. Aku tidak tau bagaimana hancurnya suamimu jika kamu sampai kenapa-napa, batin Randi, merasa kasihan pada Gio.


"Sayang, kamu di mana? Kenapa ponsel kamu tidak bisa dihubungi?" gumam Gio, masih berusaha untuk menghubungi Diandra.


Sungguh, jantungnya bahkan tidak bisa berhenti berdetak dengan sangat cepat, hingga dia bisa merasakan sesak di dalam dada. Entahlah ada apa, akan tetapi, saat ini perasaannya terasa tidak enak, dirinya takut terjadi sesuatu pada Diandra.

__ADS_1


Pikirannya terasa kalut, dengan berbagai prasangka yang mengiringinya. Dirinya tidak bisa lagi berpikir jernih, hingga segala ucapan yang menenangkan dari Randi hanya bisa berlalu begitu saja.


"Sayang, kamu harus baik-baik saja, atau aku akan menyalahkan diriku dengan apa pun yang terjadi padamu," gumam Gio lagi. Kakinya tampak bergerak turun naik secara cepat, seolah dia sedang tidak sabar menunggu untuk sampai di Bandara.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai Randi sudah sampai di area bandara, Gio langsung ke luar dengan cepat, dia berlari menuju ke dalam Bandara, tanpa perduli teriakan Randi.


Pusat informasi, itulah yang pertama kali Gio tuju, untuk mengetahui apakah pesawat yang Diandra tumpangi sudah mendarat atau belum.


Randi tampak menyusul ke dalam Bandara, setelah dirinya memarkir mobil. Kedua laki-laki itu sama-sama terlihat panik, walau Randi masih terlihat lebih tenang, dari pada Gio.


"Bagaimana?" tanya Randi begitu dia bisa menyusul Gio yang baru saja beranjak dari pusat informasi.


Gio tampak terdiam dengan hembusan napas kasar, wajahnya tampak masih kalut dengan pundak yang turun, menandakan tidak ada lagi semangat di dalam dirinya.


"Ada apa, Gio? Bilang padaku?" tanya Randi menyadarkan Gio dari lamunanya.


"Dian, dia–" Gio tampak mengangkat kepala kemudian menatap wajah Randi dengan tatapan sendu, membuat Randi mulai berpasangan buruk.


Tidak, jangan sampai terjadi apa-apa padamu, Dian. Aku tidak akan sanggup menghadapi Gio kalau sampai kamu tidak ada, batin Randi meracau.


"Dian kenapa, Gio? Akh, sial!" Randi malah emosi, dia hendak berjalan menuju pusat informasi, karena sudah tidak sabar menunggu jawab Gio.


"Pesawat yang Diandra tumpangi mengalami turbulensi yang cukup hebat karena badai–" Gio kembali menjeda perkataannya.


"Lalu, bagaimana?" tanya Randi tidak sabar, kini sepertinya bukan lagi emosi Gio yang tidak stabil, melainkan Randi.


Bukan karena dirinya takut kehilangan Diandra Randi begitu, walau bagaimana pun dia tidak memiliki perasaan apa pun kepada Diandra, dan dia sadar posisinya.


Namun, dia hanya takut semua itu berdampak pada kondisi sikologis Gio, yang pasti akan terguncang jika sampai Diandra mengalami sesuatu yang buruk.


"Pesawatnya bisa selamat, walaupun ada sedikit kendala di mesin, hingga harus mendarat darurat di Jambi," jawab Gio dengan kerutan dalam di keningnya.


"Syukurlah!" Randi langsung menghembuskan napas lega mendengar perkataan Gio. Setidaknya kini mereka tahu kalau Diandra pasti dalam keadaan baik-baik saja.


"Diandra tertahan di Jambi, karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk terbang," ujar Gio lagi dengan suara lemas dan raut wajah khawatir.


"Tenanglah Gio, aku yakin tidak terjadi apa-apa pada Diandra, dia adalah perempuan yang kuat, lebih baik kamu duduk dulu," ujar Randi sambil berjalan menuju kursi tunggu.


"Tapi, dia sendiri di sana, Ran. Bagaimana jika dia kebingungan? Ini juga pertama kalinya dia terbang ke luar negeri sendiri," jawab Gio dengan wajah yang semakin bertambah kalut.

__ADS_1


"Yang penting sekarang kita tahu di mana dia sekarang, aku juga yakin kalau Diandra dalam keadaan baik-baik saja sekarang," ujar Randi berusaha menenangkan Gio.


"Sebentar aku mau cari minum dulu," sambung Randi lagi sebelum akhirnya meninggalkan Gio sendiri di ruang tunggu.


.


.


Sementara itu di Jakarta Mama Hana dan Gita yang mendapat kabar keberadaan Diandra dari Randi langsung merasa lega, walau masih tersedia rasa khawatir di dalam hatinya.


"Kabari kami terus kalau ada kabar terbaru dari Diandra ya, Ran," ujar Mama Hana dengan suara parau.


"Iya, Mah. Sekarang Mama lebih baik istirahat, ini sudah malam," ujar Randi berusaha menenangkan wanita paruh baya yang sudah dia anggap sebagai ibu sendiri.


"Iya, tolong jaga Gio ya, Ran. Mama tau pasti sekarang dia sedang kalut karena Diandra tidak ada kabar." Suara Mama Hana terdengar khawatir.


"Iya, Mah," jawab Randi.


"Kamu juga jaga kesehatan, sepertinya sudah mulai perubahan cuaca, jangan lupa minum vitamin." Mama Hana menambahkan.


"Iya, Mah. Sudah dulu, ya. Aku sedang membeli minum, agar Gio bisa lebih tenang," ujar Randi.


Sambungan telepon pun terputus, begitu saja. Gita, dan Erika yang sejak tadi mendengarkan percakapan Mama Hana dan Randi, menghembuskan napas lega, saat mendengar kabar tentang Diandra.


"Bagaimana dengan kehamilannya? Apa akan baik-baik saja? Bukannya tadi Randi bilang pesawatnya mengalami turbulensi yang cukup hebat, karena terkena badai?" tanya Mama Hana dengan wajah yang malah semakin khawatir.


"Aku yakin semuanya baik-baik saja, Mah. Diandra adalah wanita yang kuat, begitu juga dengan kehamilannya. Mama, lihat sendiri kan selama ini Diandra masih tetap bekerja ke sana ke mari, walau ternyata dalam keadaan hamil," jawab Erika, berusaha menenangkan ibunya, walau sebenarnya dirinya juga mempunyai kekhawatiran yang sama.


"Ya sudah, sekarang Mama istirahat saja, biar kami yang menunggu kabar dari Diandra," sambung Erika lagi, saat melihat waktu yang terus bergulir menjadi malam.


"Iya, Mah. Ayo aku antar ke kamar." Gita ikut menimpali, sambil beranjak hendak mengantar Mama Hana.


"Mama di sini saja, lagian gak ada gunanya Mama ke kamar, Mama juga gak bakalan bisa tidur," jawab Mama Hana tidak mau menurut pada anak-anaknya.


Erika dan Gita hanya bisa menghembuskan napas kasar, saat Mama Hana tidak mau beristirahat dan lebih memilih untuk tetap berada di ruang keluarga bersama mereka.


......................


Bab terus tertahan, aku up ini dari sore, kita lihat lolos jam berapa ya?

__ADS_1


__ADS_2