
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Gak jadi, Bang. Maaf, istri saya sedang marah," ujar Gio, sebelum Dian menjawab pertanyaan dari tukang ojek itu.
"Iya kan, sayang?" ujar Gio sambil merangkul pinggang Dian dengan posesif.
Dian berusaha untuk melepaskan diri dari Gio yang malah mengeratkan pelukannya.
"Kalau kamu masih melawan, aku akan menciumu di sini," bisik Gio, sedikit memberi ancaman pada perempuan keras kepala di sampingnya itu.
Dian mengedarkan pandangannya pada sekitarnya, ternyata sejak tadi mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian bagi orang yang berada di sana.
Dengan terpaksa akhirnya Diam memilih diam dan menganggukkan kepala pada tukang ojek di depannya, membenarkan perkataan konyol dari Gio.
"Oh, ternyata lagi marahan. Udah, Neng, maafin aja suaminya, gak baik loh marah sama suami lama-lama," ujar tukang ojek itu, dengan sok tahunya.
Dian hanya tersenyum paksa, sebagai tanggapan dari perkataan tukang ojek tadi.
"Aaakh!" Gio berteriak tertahan, saat merasakan panas di pinggangnya, akibat dari cubitan tangan Dian.
"Rasain!" ujar Dian, berlalu meninggalkan Gio, dengan berjalan lebih dulu menuju mobil lelaki itu berada.
Gio tersenyum dengan ringisan di bibirnya, tangannya mengusap bagian pinggang yang masih terasa panas.
"Ternyata cubitannya sakit juga, ya?" gumamnya sambil melangkah cepat menyusul keberadaan Dian.
"Kamu seneng banget ya, dikejar sama aku?" tanya Gio dengan begitu percaya dirinya, setelah berada di samping Dian.
Dian melirik sekilas wajah Gio yang masih saja tersenyum padanya, setelah semua penolakan dan perlakuannya pada lelaki itu.
"Idih ... percaya diri sekali, Anda!" ujar Dian dengan tatapan tak uska cenderung jijik.
Gio tertawa, dia tak menyangkal semua itu.
"Buktinya kamu selalu lari dariku ... itu berarti kamu mau aku selalu mengejarmu kan?" tanya Gio.
"Ck." Dian hanya berdecak sambil melirik sekilas lelaki di sampingnya.
"Orang tampan sepertiku, bukannya pantas untuk percaya diri, hem?" imbuh Gio lagi, bertanya dengan gayanya yang semakin menjadi.
__ADS_1
Dian memutar bola matanya, melihat kelakuan Gio yang malah semakin menjadi. Tidak ada gunanya juga menghadapi laki-laki yang sudah terlanjur percaya diri itu.
Gio mendahului langkah Dian dan membukakan pintu mobilnya untuk perempuan itu, dengan senyum yang tak pernah luntur.
Dian tak kehilangan akal untuk mematahkan hati Gio, dia malah membuka pintu belakang dan duduk di kursi penumpang dengan wajah datarnya.
Gio mengernyitkan alisnya, dia kembali menutup pintu mobil bagian depan lalu membuka pintu belakang, yang sudah tertutup sebelumnya oleh Dian.
"Kok kamu duduk di sini sih?" tanya Gio, mencondongkan sedikit tubuhnya menatap Dian dengan raut wajah yidka suka.
"Bukanya kamu akan menjadi sopirku hari ini?" Dian malah bertanya ulang pada Gio, wajah datarnua malah membuat Gio gemas.
"Hah?!" tanya gio bingung.
"Bukannya tadi kamu bilang, akan mengantarkanku ke mana pun aku pergi?" tanya Dian lagi, dengan menaikkan salah satu alisnya.
Gio tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya, saat mendengar pertanyaan Dian. Dia tahu itu hanya alsan Dian untuk membuatnya kesal.
"Oke, khusus hari ini aku akan jadi sopir terbaikmu!" ujar penuh semangat Gio, menyetujui perkataan Dian.
"Tapi, tidak lama lagi aku akan menjadi sopir kesayangan kamu," sambungnya lagi dengan mengedipkan salah satu matanya, menggoda Dian, sebelum menutup pintu mobil.
Dian berdecak kesal, matanya menatap pergerakan Gio yang sedang memutari mobil, kemudian duduk di kursi kemudi.
Gio pun mulai mengendarai mobilnya, keluar dari area rumah sakit. Dian menyandarkan tubuhnya dengan pandangan melihat jauh ke luar jendela.
Hatinya masih sakit saat mengingat perkataan ayahnya, Pertemuan setelah dua tahun ini, sama sekali tidak memperbaiki masalah yang ada.
"Nona, mau ke mana kita sekarang?" tanya Gio, setelah cukup lama dia hanya berputar-putar di area yang sama, karena tidak tahu alamat rumah Dian.
Gio yang tadi melihat Dian termenung, memilih untuk menunda pertanyaannya. Memberi waktu untuk perempuan itu, agar tak bisa menata hatinya kembali.
Gio tahu, saat ini Dian pasti sedang merasakan sakit, akibat pertengkarannya dengan sang ayah beberapa saat lalu terjadi.
Dian melihat Gio sekilas dari ujung matanya, menghirup napas dalam lalu mengeluarkannya dengan kasar.
"Terserah," ujarnya sebagai jawaban.
.
__ADS_1
Di dalam rumah sakit, Ares memberanikan diri untuk turun dari brankar, menghampiri ayahnya yang terlihat sedang sangat menyesali, perbuatannya kepada Dian barusan.
"Ayah," panggilnya lirih. Dia menatap sekilas wajah sang ibu yang terlihat sendu.
Eros mengangkat kepalanya, menatap wajah anak bungsunya itu. Anak yang sampai saat ini masih bertahan hidup bersamanya, setelah kedua anak perempuannya pergi.
"Ada apa, Res?" tanya Eros.
"Kalau boleh Ares tau ... Ayah, tau dari mana, kalau Teh Dian sama lelaki itu tinggal bersama?" tanya Ares dengan begitu hati-hati.
Eros menatap Ares dengan kening berkerut, lalu kemudian menghembuskan napas kasar.
"Memangnya kenapa? Ayah tau dari anak buah Ayah yang mengikuti kakakmu tadi malam," jawab Eros.
"Ayah, sebenarnya selama ini aku tinggal sama kak Dian. Dan selama ini aku tidak pernah mendengar Kak Dian memiliki seorang pacar, atau membawa laki-laki ke rumah, kecuali A' Romi yang menjadi atasan Kak Dian selama ini. Itu saja, mereka akan bertemu di luar, kecuali kalau A' Romi sedang berkunjung bersama istri dan anaknya," jelas Ares.
"Apa? Jadi selama ini kamu tinggal dirumahnya? Kenapa kamu gak bilang sama Ayah?" tanya Eros.
Ares menundukkan kepalanya, dia sebenarnya berat untuk menceritakan ini semua pada sang Ayah. Akan tetapi, bila dia tidak menjelaskan kesalahpahaman ini, dia takut ini smua akan semakin melebar dan membuat masalah bertambah semakin besar.
"Kaโkarena itu adalah perintaan Kak Dian. Maaf, Ayah ... Ares hanya ingin melihat dan berada dekat dengan Kak Dian," jawab Ares dengan kepala menunduk dalam.
Eros menghembuskan napas kasar kembali, dia kemudian melihat wajah istrinya.
"Jangan bilang, kalau selama ini kamu juga tau, Ares tinggal bersama dengan Dian?" tanya Eros, beralih pada sang istri.
"Maaf ...." Perkatan lirih yang sudah dapat menjawab pertanyaanna itu cukup membuat eros terkejut.
"Jadi, selama ini hanya aku yang tidak tau semua ini?" tanya Eros dengan senyum miris di wajahnya.
"Tidak ada satu pun ibu yang mau tinggal berjauhan dengan anaknya, begitupun dengan aku. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya, walaupun itu hanya dari Ares. Setidaknya aku bisa tahu dia baik-baik saja, itu sudah membuatku tenang," ujar Lisna, dia akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya selama ini.
Sudah cukup selama ini dia diam dan mengalah dengan ego suami juga anaknya, kali ini dia juga ingin ikut berbicara.
Sakit rasanya harsu berpisah dengan dua anak perempuannya. Apa lagi dengan perkataan kasar suaminya barusan yang terasa menusuk hati.
Kenapa Eros bisa berkata seperti itu pada anaknya sendiri. Hati seorang ibu mana yang tak akan sakit bila mendengar anaknya sendiri di hina di depan matanya.
"Ayah, kalau aku boleh memberi pendapat, bagaimana jika, Ayah, cari tahu dulu lebih lanjut tentang lelaki itu. Mungkin saja mereka hanya seorang teman," ujar Ares kembali.
__ADS_1
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...
...Bersambung...