
...Happy Reading...
..................
Sudah tiga hari Gio dan Diandra berasa di kampung. Kini mereka sedang bersiap untuk kembali ke pantai, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
Namun, mereka dikagetkan oleh beberapa pekerja Ayah yang mebawakan mereka hasil panen dari kebun sendiri. Mulai dari pisang, singkok, talas, dan lain sebagainya.
Ternyata oleh-oleh yang kemarin sempat Diandra dan Gio bawakan, Bunda bagi-bagikan kepada para pekerja. Kini mereka ingin mengucapkan terima kasih pada Gio dan Diandra, melalui apa yang mereka punya.
"Bawa saja, kasihan mereka kalau kalian gak mau bawa pemperiannya," ujar Bunda saat Diandra merasa enggan membawa berbagai hasil panen pemberian warga.
"Aku jadi gak enak sama mereka, Yah. Padahal kami ke sini, gak bawa apa-apa," ujar Gio, sambil melihat berbagai hasil kebun para pekerja Ayah mertuanya.
"Gak apa-apa, itu tandanya mereka senang dan mau berterima kasih. Terima saja, lumayan sampai sana bisa kamu bagikan sebagai oleh-oleh dari sini, atau buat teman ngopi para anak buahmu," jawab Ayah Eros.
Akhirnya, baik Diandra maupun Gio, tidak ada yang berani membantah lagi. Hasil kebun pemperian para warga pun dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
"Hati-hati di jalan, ya. Kabari, Bunda, kalau kalian sudah sampai," ujar Bunda saat Diandra berpamitan.
"Iya, Bunda," jawab Diandra.
"Titip anak sulungku, Nak Gio," ujar Ayah pada menantunya itu.
"Pasti, Ayah. Aku akan selalu melindungi Dian," janji Gio.
Mobil yang ditumpangi Diandra pun mulai melaju meninggalkan halaman rumah Eros dan Lisna. Ares yang kebetulan ikut, duduk di samping Randi yang bertugas sebagai sopir.
Ya, setelah kemarin asistennya itu sempat pulang lebih dulu, tadi pagi Randi sudah datang untuk menjemputnya kembali. Sedangkan Gio dan Diandra berada di bangku tengah, sambil menikmati kebersamaan.
Beberapa jam kemudian Gio dan Diandra sudah sampai di rumah Diandra, mereka memutuskan untuk menginap di sini selama berada di pantai. Alasannya, tentu saja karena jarak rumah ini lebih dekat dengan hotel dan Diandra juga merasa di sini dia lebih bebas dibandingkan dengan di rumah singgah milik Gio.
"Terima kasih, Ran, Res," ujar Diandra sebelum dia ke luar dari dalam mobil.
Ares sengaja lebih memilih menginap di rumah singgah Gio, karena takut mengganggu pasangan yang terlihat sedang mulai saling menerima satu sama lain.
"Sayang." Gio langsung menutup pintu begitu mereka masuk ke dalam rumah, lalu mendesak Diandra di balik pintu.
"Apa?" tanya Diandra, sambil merapatkan tubuhnya pada pintu. Melihat sorot mata panas milik Gio, membuat dia sudah tahu apa yang ingin Gio minta darinya.
"Aku kangen, sayang," ujar Gio, sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Diandra.
__ADS_1
Tubuh Diandra semakin tegang, walaupun ini bukan lagi pertama kalinya Gio meminta itu darinya. Akan tetapi, entah mengapa dia selalu saja merasa gugup jika Gio sudah mulai merayunya seperti ini.
Diandra tidak menolak, saat Gio sudah mulai menyatukan bibir keduanya. Hingga berakhir dengan kegiatan panas di siang hari itu. Untung saja Yaya, sedang tidak datang ke rumah, hingga aktivitas percintaan mereka bisa berjalan lancar, tanpa ada gangguan.
Hari itu, Gio dan Diandra hanya menghabiskan waktu berdua. Mereka sama sekali belum menyentuh pekerjaannya. Gio yang sudah berpuasa beberapa hari, karena kamar Diandra di kampung tidak kedap suara, malah menagih semua itu sebagai hutang yang harus dibayar Diandra.
Sore harinya mereka memilih menikmati matahari tenggelam, sesuatu yang sudah sangat Diandra rindukan. Sepasang suami istri itu duduk di atas hamparan pasir pantai, menikmati hangatnya sinar matahari sore itu.
Bias cahaya jingga yang memantul di lautan, membuat keindahan itu begitu nyata, bak sebuah lukisan alam yang tak ternilai harganya. Tiada yang bisa meragukan indahnya semua yang Tuhan ciptakan, semuanya tampak sempurna sesuai dengan porsi, tanpa ada titik cela.
Gio memeluk istrinya dari belakang, dengan tangan mengelus perut datar sang istri. Dalam hati dia selalu berharap, suatu hari nanti benih yang sudah dia tabur, akan berkembang dan menghasilkan buah cinta dirinya dan Diandra.
Diandra bersandar pada dada bidang sang suami, tangannya menangkup punggung tangan Gio, yang terus saja mengelus perutnya. Dia tidak menolak, walau sebenarnya ada rasa menggelitik yang mengusiknya.
Keduanya terlarut dalam keindahan alam, hingga tak terasa matahari sudah tenggelam sepenuhnya, berganti dengan gelapnya malam, bersama gembusan angin dingin yang menerpa badan.
"Kita pulang? Di sini sudah terlalu dingin," ajak Gio, dia sedikit menunduk demi melihat wajah cantik istrinya.
Diandra mendongak, senyum tipis terlihat semakin membuat wajah cantik itu bersinar. Ah, Gio selalu terpesona saat istrinya seperti itu.
"Aku lapar," ujar Diandra, meringis menahan malu. Akan tetapi, perutnya sudah perih menahan ingin diisi sejak tadi.
"Aku tidak mau melewatkan pemandangan indah di depan mata," jawab Diandra sambil tersenyum. Dia memang menunggu sampai matahari tenggelamnya selesai.
"Maaf ya, sayang. Aku tidak tahu kalau kamu kelaparan," ujar Gio penuh sesal. Terlihat sekali wajah bersalah Gio di mata Diandra.
"Kamu tidak salah, ini memang aku saja yang mau," bantah Diandra, sambil beranjak berdiri. Dia menepuk baju bagian belakangnya yang sudah terkena pasir.
Gio mengikuti, dia kemudian mengambil tangan Diandra dan menggandengnya untuk berjalan menuju jalanan.
"Mau makan apa, sayang?" tanya Gio kemudian.
"Apa, ya?" Diandra tampak berpikir, sambil mengedarkan pandangannya.
"Jangan bilang terserah," peringat Gio.
Diandra terkekeh, ternyata kara terserah dari seorang perempuan cukup menakutkan juga bagi para laki-laki.
"Terserah." Diandra malah sengaja menggoda suaminya.
"Ah, gak bisa gitu dong, sayang," desah Gio.
__ADS_1
"Gimana kalau kita keliling, nanti kalau ada yang kamu mau langsung berhenti," ujar Gio memberikan saran.
Diandra akhirnya mengangguk, sebenarnya kata 'terserah' itu hanya sebagai candaannya saja, bukan dia benar-benar ingin membuat suaminya pusing.
Setelah beberapa menit berjalan, Gio dan Diandra masuk ke dalam sebuah restoran seafood, setelah sebulan lebih tidak makan hidangan laut yang masih segar, ternyata Diandra merindukannya.
Mereka memesan berbagai menu, untuk dimakan berdua.
"Ah, rasanya memang beda kalau kita makan yang kita sedang inginkan," ujar Diandra setelah dia menyelesaikan makan malamnya.
"Sepertinya kamu sudah terbiasa hidup di pantai, sayang." Gio mengelap mulutnyadengan tisu.
"Ya, tidak aneh sih. Aku sudah tiga tahun terjebak di sini," jawab Diandra santai.
Gio terkekeh mendengar jawaban istrinya. "Kok, terjebak sih?"
"Hem, aku di sini hanya untuk melakukan keinginan mendiang nenek," jawab Diandra, kini wanita itu beralih pada es buah.
"Hotel?" tanya Gio, dia tahu kalau hotel itu adalah milik kakek dan neneknya Diandra.
Diandra mengangguk, sambil mengunyah isian dari es buah.
"Bukannya hotel itu sekarang milik kamu?" tanya Gio.
Diandra tersenyum. "Aku memang memegang peranan penting dan saham paling besar di sana. Tapi, itu adalah milik kami bertiga. Aku, Ana, dan Ares," jawab Diandra santai.
Gio melebarkan matanya, dia tidak pernah tahu masalah ini.
"Hotel itu sebenarnya warisan untuk Ayah. Tapi karena satu hal Ayah tidak mau menerimanya. Jadi Nenek menyuruhku menerima dan mengelolanya sebelum suatu saat nanti pasti aku serahkan pada Ana dan Ares," jelas Diandra.
"Kamu gak takut nanti Ayah marah?" tanya Gio.
"Aku tau Ayah gak akan marah sama aku."
"Kenapa?"
"Karena sebenarnya hotel ini hotel ini sudah menjadi milik Ayah, sebelum kakek meninggal. Jadi, aku hanya mengelola, bukan memiliki."
"Lagian aku yakin Ayah sudah tau semua ini, aku sempat melihat beberapa kali anak buah Ayah, sedang mengawasi aku."
....................
__ADS_1