
...Happy Reading...
......................
"Jangan bilang kalau kamu yang tidak mau menikahi perempuan itu?" tebak Hana.
Gio melihat Hana dengan wajah terkejutnya, dia benar-benar bingung mau menjawab apa.
"Bukan begitu, Mah. Tapi, sebenarnya aku sekarang sudah menikah," jawab Gio dengan suara yang sengaja dipelankan.
"Hah?! Apa kamu bilang ... menikah?!" Hana melebarkan matanya menatap wajah sang anak tajam.
Wanita paruh baya itu begitu terkejut dengan pengakuan dari anak laki-laki satu-satunya itu.
"Kamu pasti cuman bercanda kan, Gio? Mana mungkin kamu berani menikah dibelakang mama," sambung Hana lagi, dengan wajah terkejutnya.
"Mah, tenang dulu. Aku janji bakal jelasin semuanya sama, Mamah," ujar Gio yang langsung mendekati Hana.
Hana terdiam, dia menatap tajam wajah Gio, dengan hati yang terasa panas, mengingat anaknya itu menikah diam-diam.
"Mama itu nyuruh kamu ke sini, untuk mengelola hotel milik kakek, sekaligus mencari teman ayah kamu agar janji mereka bisa terlaksana secepat mungkin dan mereka akan tenang di alam sana. Tapi, kenapa sekarang kamu malah menjalin hubungan dengan perempuan lain, Gio?"
Hana terus berbicara dengan segala tuduhan dan tuduhan buruk pada anak laki-lakinya itu.
"Mah, tenang dulu ... biarkan aku jelaskan semua ini." Gio mengusap kedua pundak Hana, mencoba menenangkan emosi ibunya itu.
"Tarik napas panjang lalu hembuskan perlahan," ujar Gio lagi, setelah melihat Hana lebih tenang.
Hana pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Gio, hingga perlahan dia merasakan lebih tenang walau rasa kecewa di dalam hatinya masih sangat terasa.
Selama ini dia terus mengingatkan Gio agar tidak menjalin hubungan, dengan perempuan lain seperti beberapa tahun yang lalu, agar anak laki-lakinya itu bisa mengabulkan harapan mertuanya yang telah meningga.
Namun, setelah mendengar perkataan dari anaknya beberapa saat yang lalu, membuat Hana merasa semua harapannya telah gagal, juga dengan harapan mertua dan suaminya.
"Tega kamu, Gio. Kenapa kamu lakukan ini sama, Papah dan Kakek, heuh?" ujar Hana lagi, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Gio meringis melihat kesedihan di wajah ibunya itu, dia sama sekali tidak mau membuat ibunya semakin tersakiti.
Namun, dia sendiri bingung, harus menjelaskan dari mana terlebih dahulu. Pernikahannya dengan Diandra terlalu rumit, untuk dia jelaskan saat ini.
.
.
__ADS_1
Diandra bangun setelah kicau burung terdengar, menandakan pagi yang sudah datang. Perempuan itu meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.
Mengerjapkan mata, sambil duduk dan mengedarkan pandangannya, kepalanya terasa pening, mungkin karena tidur di atas lantai tanpa alas sama sekali.
Diandra baru tersadar kalau semalam dia tertidur di ruang tamu, dengan posisi kepala yang menyandar di sofa, hingga pagi ini dia bangun dengan kepala sudah merosot ke bawah.
Pandangannya kini mengarah pada pintu lalu pada rak sepatu, tempat Gio menaruh alas kakinya. Diandra menarik napas dalam kemudian membuangnya kasar, saat matanya melihat tidak ada sepatu Gio di sana.
Ternyata dia gak pulang, batin Diandra.
Diandra melihat ponsel milik Gio yang masih tegeletak di tempat yang sebelumnya, dia mengambilnya dan mencoba untuk menyalakannya.
Tanpa sadar, di dalam hati Diandra berharap suaminya itu memberinya kabar. Akan tetapi, sepertinya kali ini dia harus kecewa, saat melihat di ponsel Gio tidak ada sama sekali pesan untuknya.
Ngapain juga dia ngabarin aku, memang aku siapa? batin Diandra.
Walau dia sadar kalau ada yang salah di dalam hatinya, begitu melihat kenyataan itu. Akan tetapi, sekuat tenaga perempuan itu berusaha terus menyangkal.
Kamu tidak seharusnya seperti ini, Diandra. Dia hanyalah laki-laki biasa yang tidak akan tahan menghadapi godaan wanita lain, batin Diandra berusaha menguatkan hatinya sendiri dan mencoba mengeraskannya lagi.
Perlahan Diandra mencoba berdiri walau kepalanya masih terasa berat. Perempuan itu pun mengambil ponsel milik Gio lalu berjalan menuju ke kamar.
Diandra hampir saja terhuyung dan menabrak meja, bila tangannya tidak sigap bertumpu pada dinding.
Diandra mengerutkan keningnya, saat merasakan tubuhnya yang terasa menggigil dan dingin. Walau begitu dia meneruskan langkahnya.
Sampai di kamar, Diandra langsung merebahkan dirinya di ranjang dan menutup tubuhnya menggunakan selimut.
Matanya pun perlahan kembali tertutup dengan tubuh menggigil juga bibir yang mulai berubah pucat.
.
.
Sudah menjelang jam makan siang, waktu Romi sampai di hotel. Laki-laki itu ada pertemuan dengan beberapa orang klien di luar hotel.
Romi mengerutkan keningnya begitu melihat meja Diandra masih rapi, seperti kemarin sore waktu perempuan itu meninggalkannya.
Ke mana dia? batin Romi.
Laki-laki itu terlebih dulu mencari Diandra di ruangannya. Akan tetapi, saat dia membuka pintu, dia tidak menemukan keberadaan saudaranya itu.
Romi menaruh tas kerjanya di sofa, lalu kembali ke luar. Dia ingin melaporkan hasil rapatnya, sekaligus mendiskusikannya pada Diandra.
__ADS_1
Namun, kini dia tidak menemukan di mana bos berkedok asisten itu. Romi memanggil salah satu karyawan yang berada tidak jauh dari ruangannya dan Diandra berada.
"Dian ke mana ya?" tanya Romi.
"Bu Diandra, belum datang ke kantor, Pak," jawab karyawan itu.
Romi mengernyit mendengar jawaban dari karyawan itu.
"Baiklah, terima kasih," ujar Romi lagi.
Dia kembali berjalan menuju ke ruangannya sambil melihat jam di tangannya. Romi bahkan langsung memeriksa ponselnya, memastikan kalau tidak ada kabar dari perempuan itu.
Romi mencoba menghubungi nomor ponsel milik Diandra. Akan tetapi, berulang kali dia berusaha tetap saja tidak tersambung.
"Di mana dia? Kenapa gak ada kabar begini?" ujar Romi, kembali masuk ke dalam ruangannya.
Romi memilih duduk di sofa, dengan ponsel di tangan, terus mencoba menghubungi saudaranya itu.
Setelah hampir setengah jam mencoba menghubungi Diandra dan tidak terhubung, Romi pun mencoba menghubungi ponsel milik Gio.
Namun, ternyata ponsel milik Gio pun tidak ada yang mengangkatnya.
"Sebenarnya ada apa sih dengan mereka berdua, kenapa sama-sama tidak bisa dihubungi begini? Bikin orang khawatir aja," gerutu Romi, setelah beberapa kali menghubungi nomor ponsel milik Gio.
Kini dia beralih mencoba menghubungi nomor milik Randi. Untungnya hanya menunggu beberapa saat Randi sudah menerima panggilannya.
"Ada apa, Rom?" tanya Randi yang sedang berada di hotel.
"Gio ada bersama kamu gak?" tanya Romi langsung.
"Enggak tuh. Dari pagi buta dia sudah pergi sama ibunya, Memang ada apa?" jawab Randi santai.
"Kenapa ponselnya gak bisa dihubungi. Ponsel Diandra juga gak bisa dihubungi? Dia juga gak ke hotel hari ini," ujar Romi dengan nada khawatirnya.
"Ponsel Diandra memang tertukar dengan ponsel Gio. Tapi, sejak kapan Diandra gak bisa dihubungi?" tanya Randi yang juga mulai merasa khawatir, mengingat Jonas yang masih berkeliaran.
"Sejak satu jam yang lalu, aku baru datang ke kantor dan baru tau kalau dia tidak masuk. Ini di luar dari kebiasaannya, dia tidak pernah begini sebelumnya." ujar Romi.
"Ya sudahlah, kalau kamu gak tau, Biar aku langsung cari ke rumahnya saja," sambung Romi langsung mematikan sambungan teleponnya.
......................
Gio, ke mana kamu?😑
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹...