
...Happy Reading...
......................
"Aaa! Bang Randi, ngapain?" Gita yang baru saja ke luar dari kamarnya berteriak histeris saat melihat penampakan asisten dari kakaknya itu.
Randi yang belum sadar betul dari tidurnya, langsung membelalakan mata begitu mendengar suara teriakan Gita.
Bahkan Hana yang baru saja beranjak hendak ke kamar mandi, langsung kembali ke luar, demi melihat kejadian yang membuat anak bungsunya itu berteriak kencang.
Begitu juga dengan para anak buah Gio yang ditugaskan untuk berjaga di luar rumah.
"Astaga!" Randi yang baru menyadari kebodohannya langsung berusaha menutup tubuhnya.
"Maaf, Gita. Aku gak sengaja," ujar Randi pada Gita.
Laki-laki yang berprofesi sebagai asisten itu langsung berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar.
Randi menutup kembali pintu dengan gerakan cepat dan sedikit keras, hingga suaranya tampak mengejutkan orang-orang yang berada di sana.
"Astaga, mimpi apa aku semalam? Pagi-pagi begini udah dibikin malu," lirih Randi sambil mengatur napasnya yang masih memburu.
Sedangkan di luar, Hana terkekeh pelan melihat kejadian memalukan bagi Randi. Dia kemudian melihat Gita yang masih menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Orangnya udah gak ada, kamu bisa buka mata," ujarnya di sela kekehannya.
Hana semakin tidak bisa menahan tawanya, begitu melihat wajah Gita yang menampilkan semburat merah.
Gadis yang merupakan adik dari Gio itu, berdecak kesal melihat Hana yang malah menertawakannya.
"Apa sih, Mah, kok malah ngetawain aku?" uja Gita kesal.
"Kamu itu lucu banget sih, Gita. Masa liat begitu aja udah malu, sampe muka kamu merah," goda Hana.
"Enggak, siapa bilang aku malu?" kilah Gita.
"Ya ya, terserah kamu lah. Mama mau mandi," ujar acuh Hana, sambil kembali berjalan masuk ke dalam kamar.
Ya, tadi waktu Hana masuk ke kamar Gita sudah bangun dan mengeluh lapar. Makanya, Hana langsung menyuruh anak bungsunya itu ke luar terlebih dahulu.
Namun, ternyata Gita malah mengalami kejadian yang menghebohkan seluruh rumah.
.
.
Randi berdecak kesal saat melihat Gio tengah berdiri santai di dekat ranjangnya. Dia sudah tahu kalau ini semua gara-gara ulah bosnya itu.
"Ngapain sih, pagi-pagi udah gangguan orang tidur aja?" decak Randi dengan wajah kesal.
Berjalan menuju kursi lalu duduk di sana, dengan tubuh lemasnya. Dia baru saja tidur beberapa jam yang lalu, setelah menyetir lebih dari delapan jam, dari Jakarta ke tempat itu.
__ADS_1
"Siapa suruh, tidur udah kayak orang mati. Dibangunin dari tadi, gak di denger," jawab Gio santai.
Randi menatap tajam bosanya, dengan hati semakin kesal.
Astaga, benar-benar ini orang! batin Randi mengumpat Gio.
"Kan tadi aku bilang, kasih aku waktu tidur sebentar lagi. Aku baru datang jam tiga pagi." Randi merebahkan kembali tubuhnya di atas sofa.
Gio berdecak kesal melihat asistennya yang sudah memejamkan mata kembali.
"Oke, aku kasih kamu waktu tidur. Tapi, gaji kamu aku potong," ujar Gio sambil mulai melangkah, hendak meninggalkan kamar asisitennya.
Sontak saja perkataan Gio langsung membuat Randi membuka mata, dan duduk tegap kembali.
"Iya iya, ini aku bangun. Mentang-mentang jadi bos, ancamannya gaji terus," gerutu Randi.
Dia beranjak dari tempat tidur dengan gerakan malas. Gio menatap asistenya dengan seringai tipis di bibirnya.
"Suka-suka aku dong, kan aku bosya," jawab Gio, sambil meneruskan langkahnya.
"Iya, bos!" ujar Randi malas.
.
.
Gio berjalan menuju ruang makan, perutnya sudah mulai terasa perih, mengingat ini sudah mulai siang.
"Selamat pagi, Gita," ujarnya sambil terus melangkah memasuki ruang makan.
Gita yang sedang asik menikmati sarapannya langsung mengalihkan perhatiannya pada sumber suara.
Matanya melebar dengan senyum merekah di bibirnya, begitu melihat Gio berjalan ke arahnya.
"Kakak! Aaa ... aku kangen banget!" teriak Gita sambil beranjak berdiri dan merentangkan tangannya.
"Kakak juga kangen banget sama kamu, Git." Gio langsung memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Gimana kabar kamu, hem?" tanya Gio sambil mengurai pelukannya.
"Aku baik. Kakak, gimana di sini?" Gita menatap Gio dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kakak, udah mau ke hotel, kok rapih banget?" tanya Gita.
"Kakak, baru pulang dari hotel," jawab Gio.
Mata Gita memicing melihat penuh curiga wajah kakaknya.
"Masa sih, kok bajunya masih rapih begini?" tanya Gita, sambil mengendus tubuh kakaknya.
Gio sedikit menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Gita, dia baru sadar kalau tadi sempat berganti baju dengan yang baru di rumah Diandra.
__ADS_1
Astaga, kayaknya aku salah strategi ini? batin Gio.
"Masih wangi lagi," ujar Gita lagi.
"Kakak, tadi mandi dan ganti baju di hotel," alasan Gio..
Gita semakin menatap curiga kakaknya, matanya pun semakin tajam menatap Gio.
"Ngapain pake mandi dan ganti baju di hotel? Emang, Kakak, habis apa?" tanya Gita.
Gio cukup terkejut dengan pertanyaan adiknya, dia berusaha berpikir cepat untuk menyudahi kecurigaan gadis di depannya.
"Tadi malam kakak ketiduran di hotel, jadi lupa mandi. makanya pagi-pagi kakak mandi dulu sebelum pulang." Kembali Gio memberikan alasan.
Gita masih saja menatap kakaknya seakan tidak percaya. Akan tetapi, Gio tidak habis akal, dia kemudian merangkul pundak Gita dan mendudukannnya lagi di atas kursi.
"Udah, gak usah di bahas lagi. Mendingan kita makan aja, kakak udah laper banget nih," ujar Gio sambil ikut duduk di kursi.
Laki-laki itu pun langsung mengambil beberapa jenis makanan yang sudah di hidangkan oleh Bi Jui sebelumnya.
Gita pun akhirnya memilih untuk melanjutkan sarapannya yang tertunda.
Beberapa saat kemudian, Hana dan Randi pun bergabung bersama, hingga akhirnya mereka sarapan dengan penuh canda tawa.
"Pak," sapa salah satu anak buah Gio, saat dirinya baru saja beranjak dari meja makan.
Gio mengalihkan pandangannya pada salah satu anak buahnya itu. "Ada apa?"
"Ponselnya sudah bisa kita buka," lapor orang itu, sambil mengembalikan ponsel milik Diandra.
Gio mengangguk lalu mengambil ponsel itu, dia pun langsung berjalan menuju ruang kerjanya.
Belum sampai ke ruang kerja, ponsel di tangannya sudah berdering, menandakan ada sebuah telepon.
"Nomor yang sama," gumam Gio, saat kembali melihat nomor tidak dikenal.
Gio hanya membiarkannya sambil melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja, hingga akhirnya panggilan itu berakhir.
Namun, kemudian ponsel Diandra kembali berdering untuk yang kedua kalinya.
"Ck, dasar pengecut!" decak Gio, sambil duduk di atas kursi kerjanya.
Dia hanya menatap panggilan itu, hingga akhirnya kembali mati dengan ssendirinya.
Tidak lama kemudian, suara pesan masuk pun terdengar. Gio menyeringai melihat itu adalah pesan dari nomor yang sama.
......................
Nah, nomor siapa ya? komen๐๐ฅฐ
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...
__ADS_1
...Bersambung...