
... Happy Reading...
...................
Jam menunjukan pukul sebelas malam, saat Gio ke luar dari dalam kamarnya. Diandra sudah tertidur dari satu jam yang lalu, perempuan itu sama sekali rencana Gio malam ini.
"Ayo, kita berangkat sekarang," ujar Gio kepada beberapa orang anak buahnya.
Mereka sengaja menunggu Gio di luar gerbang vila, agar suara mobil tidak mengganggu tidur Diandra.
Gio langsung masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh salah satu anak buahnya. Entah mau ke mana, dia malam-malam begini, pergi tanpa sepengetahuan istrinya.
Mobil berjalan meninggalkan vila, melaju menyusuri jalan menuju ke dalam hutan, hingga terus masuk semakin dalam.
Setelah sekitar sepuluh menit berkendara Gio sampai di sebuah bangunan tua yang tampak terisolasi dari dunia luar. Walau begitu, bangunan itu masih terlihat cukup kokoh untuk menyekap seseorang di dalamnya.
Gio ke luar dari mobil, lalu berjalan menuju bangunan tua itu. Langkah tegas dengan aura mencekam yang menyelimutinya membuat para anak buahnya memilih diam dan sedikit memberi jarak dari bos besarnya itu.
Sosok Gio yang tidak banyak orang tahu, dia adalah laki-laki yang kejam di dalam dunia bisanis. Terlebih dia selalu memilih untuk turun sendiri dalam mengeksekusi para musuhnya, dibandingkan dengan menyewa jasa profesional.
Kehidupan kelamnya yang banyak bertemu dengan orang-orang bergelar kriminal, membuatnya memiliki banyak keahlian dalam bidang kejahatan. Hanya saja, kekayaan mampu menutupi semua kekejamannya.
Ya, di dalam dunia bisnis, jika bukan kamu yang mengalahkan maka kamu yang akan kalah. Itulah kejamnya dunia yang dipenuhi dengan obsesi orang-orang terhadap uang.
Persaingannya bukan melulu hanya satu kota, dia bahkan harus bersaing dengan satu negara bahkan sampai ke luar negeri sekalipun. Tentu saja semakin seseorang mendapatkan banyak uang, maka semakin banyak juga rintangan yang harus dia lewati.
Itulah yang Gio hadapi, bahkan sejak dirinya lahir sebagai seorang penerus perusahaan keluarga. Hidupnya terkekang dengan berbagai aturan hanya untuk keselamatan, kemudian beranjak ramaja, maka dia juga memikul nama baik keluarga dan perusahaan. Padahal, dirinya bahkan belum tahu apa itu perusahaan yang sebenarnya
Masuk ke dalam bangunan itu, Gio sudah disambut oleh dua orang anak buah yang ditugaskan untuk menjaga. Mereka tampak menyapa Gio sebelum akhirnya membuka pintu yang berada di belakang mereka.
Ruangan temaran, dengan kadar kelembapan tinggi, membuat bau tidak sedap pun mengganggu pernapasan.
__ADS_1
Gio menempelkan punggung jari telunjuknya di depan hidung selama beberapa detik, kemudian mulai melangkah masuk ke dalam.
Tidak ada lampu sama sekali di sini, semua cahaya hanya dari jendela dan pintu yang terbuka. Dari suasana temaram terlihat seseorang tampak sedang meringkuk di atas lantai.
Merasa ada yang datang, orang itu tampak bangun lalu berbalik, hingga kini wajah keduanya bertemu. Gio tersenyum miring melihat sorot mata takut dari orang di depannya.
"Sudah kalian cek, barang yang dia bawa?" tanya Gio, tanpa mengalihkan tatapan tajamnya.
"Sudah, Pak. Selama ini dia adalah mata-mata yang sengaja mengikuti Bu Diandra," jawab salah satu anak buahnya.
Seringai di wajah Gio semakin terlihat, dia mengambil ponsel milik orang di depannya yang diberikan oleh anak buahnya. Jari tangannya dengan cekatan memeriksa isi di dalam ponsel tersebut.
Ternyata di sana terdapat banyak foto Diandra yang diambil secara sembunyi-sembunyi, juga foto-foto Rani.
Gio juga mendapati banyak panggilan pada satu nomor yang sama yang dicurigai adalah bos mereka.
"Heh, berani sekali kamu, menjadikan istriku alat untuk menemukan kembarannya sendiri, terlebih kalian menipunya!" Gio berucap dingin.
Ya, dia adalah detektif swasta yang disewa oleh Diandra sejak lama, untuk mencari keberadaan Rani atau Ana. Mereka sengaja mengawasi Diandra, awalnya untuk menekan Rani, dan setelah Rani kabur, mereka menggunakan Diandra untuk memancing Rani agar ke luar, sekaligus berjaga siapa tahu Rani akan menghubungi saudara kembarnya itu.
Secara langsung mereka menjadi informan untuk dua orang yang bersebrangan, sekaligus mendapatkan uang dari kedua orang itu.
Sementara ini, hanya itu yang bisa Gio tahu dari orang itu dan perusahaan detektif ilegal itu. Selebihnya Gio dan para anak buahnya masih berusaha menggali lebih dalam lagi.
"T–tuan, s–saya hanya menjalankan perintah. Tolong ampuni saya, Tuan," mohon orang yang kini sudah terlihat babak belur itu.
Gio berjongkok di depan orang itu yang kini sudah dipegangi oleh dua orang anak buahnya, dengan menekuk salah satu lututnya, dan satu lutut lagi dibiarkan menyentuh lantai sebagai tumpuan. Tubuhnya sedikit condong ke depan, dengan tangan kanan mencengkram dagu korbannya.
Laki-laki itu tampak meringis, menahan rasa sakit dari jari-jari tangan Gio yang terasa menusuk tepat di bekas luka yang dibuat oleh para anak buah Gio sebelumnya.
"Lalu, siapa tuanmu itu, hah?" tanya Gio tajam.
__ADS_1
"A–aku tidak tahu, Tuan. Saya berhubungan dengannya melalui ponsel itu saja," jawab orang itu.
Entah itu benar adanya, atau hanya sekedar alasan. Gio sendiri belum tahu pasti, karena sejak siang tadi laki-laki itu terus saja berkata yang sama.
"Hem, baiklah–" Gio menjeda perkataannya, kepalanya mengangguk-angguk samar, tangannya pun melepaskan dagu laki-laki itu, dia seakan percaya dengan alasan orang itu.
Gio kembali berdiri sambil menepuk-nepuk kedua tangannya seakan sedang menyingkirkan debu dari telapak tangannya. Gio berbalik lalu maju dua langkah, dia menolehkan kepalanya ke belakang hingga laki-laki itu bisa melihat wajah Gio dari sisi sebelah kiri.
"Aku beri waktu satu malam ini untuk kamu berfikir, jika sampai besok siang kamu tidak juga berbicara jujur, jangan salahkan aku jika aku terpaksa berbuat kasar padamu," ancam Gio, kemudian melanjutkan langkahnya ke luar lagi dari ruangan yang terasa sangat pengap itu.
Orang yang menjadi sandra Gio hanya bisa menatap punggung bidang Gio yang perlahan mulai menjauh dari pandnagannya, matanya tampak bergetar dengan tubuh lemas.
Kedua anak buah Gio tampak melepaskan orang itu dengan kasar, hingga dia tersungkur ke lantai yang terasa sangat kasar.
"Bersiaplah, menghadapi bencana yang sesungguhnya!" ujar anak buah Gio, sebelum mereka pergi untuk mengikuti langkah Gio yang sudah ke luar dari ruangan itu.
"Cari tahu tentang kehidupannya, dan cari orang-orang yang dekat dengannnya, gunakan itu untuk semakin menekan mentalnya," perintah Gio, kemudian berlalu dari bangunan lama itu.
"Baiik, Pak!" angguk anak buah Gio, lalu membuka pintu mobil untuk bos besarnya itu.
"Ingat, jangan sampai istriku mengetahui semua ini," peringat Gio sebelum dia masuk ke mobil.
"Baik, Pak."
"Kita kembali ke vila," jawab Gio, setelah dia berada di dalam mobil kembali.
Gio melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya, kini waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Tak terasa dia sudah meninggalkan vila sampai dua jam.
Entah alasan apa yang akan Gio ucapkan jika Diandra mengetahui kalau Gio tidak ada di sisinya. Hah, biarkan sajalah itu menjadi urusannya jika sudah sampai ke vila nanti.
.....................
__ADS_1
Mampir di karya teman aku yuk😊