
...Happy Reading...
......................
Gio membuka pintu perlahan, dirinya melihat Diandra yang kini sudah terlelap kembali di atas ranjang. Mungkin karena efek obat yang dia minum, hingga tidak mudah bagi perempuan itu untuk tidur kembali.
Gio berjalan menghampiri Diandra, dia berdiri di samping ranjang, dengan tatapan tidak lepas dari wajah terlelap istrinya.
Senyum tipis pun tempat menghiasi wajah Gio, saat dirinya bisa leluasa memandang wajah cantik istrinya, tanpa rasa canggung ataupun takut terkena omelan dari perempuan di depannya.
Perlahan aku akan mencoba mengobati luka di dalam hatimu, hingga kamu sendiri yang akan memilih melupakannya dan mengubur rasa sakit yang selama ini menyiksa. batin Gio.
Gio sedikit menurunkan tubuhnya, dia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya, lalu memberikan kecupan kilas di kening Diandra.
"Istirahat yang tenang ya, sayang. Aku akan selalu berada di sini, bersamamu. Izinkan aku untuk menjadi pengobatan luka hatimu, hingga kamu bisa berdamai dengan masa lalu, dan meraih bahagia kembali," gumam Gio, tepat di atas kening istrinya.
Setelah itu Gio langsung menegakkan kembali tubuhnya, lalu berbalik dan melangkah menuju kamar mandi.
Diandra membuka mata begitu suara pintu kamar mandi terdengar tertutup, air matanya kembali mengalir begitu saja, saat mengingat ucapan yang Gio ucapkan di keningnya.
Kenapa kamu tidak menyerah dan pergi saja, tinggalkan dan biarkan aku terus terbelenggu dalam luka masa lalu yang masih terasa sakitnya hingga saat ini? batin Diandra tidak habis pikir dengan Gio.
Diandra susah berusaha membuat Gio untuk menyerah, dia tidak mau ada yang terluka lagi hanya karena dirinya.
"Rasa untukmu mungkin sudah mulai ada di hatiku. Tapi, rasa takut untuk memulai suatu hubungan baru lagi, masih membelenggu hatiku." Diandra menatap sendu pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.
"Maafkan aku," lirih Diandra lagi.
Perempuan itu memang sudah terbangun sejak Gio masuk ke dalam kamar, dia hanya berpura-pura masih tertidur, untuk menghindari berkomunikasi dengan laki-laki yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
Di kamar mandi, Gio tersenyum senang. Entah mengapa sakit yang diderita oleh Diandra seakan memberi sebuah kesempatan untuknya, bisa lebih dekat lagi dengan istrinya.
Selesai membersihkan diri, Gio ke luar dari kamar mandi, dia melihat ranjang tempat Diandra berbaring, kini sudah kosong.
"Ke mana dia?" tanya Gio lebih pada dirinya sendiri.
Gio langsung mencari Diandra, hingga lupa memakai pakaiannya dulu. Pikirannya terlalu fokus pada Diandra, hatinya juga terasa gelisah dan khawatir, mengingat kondisi kesehatan Diandra masih belum stabil.
"Sayang!" panggil Gio, sambil ke luar dari kamar.
Namun, Gio masih tidak bisa menemukan keberadaan istrinya di sana. Gio menajamkan pendengarannya, saat telinganya sayup mendengar ada yang berbicara dari ruang tamu.
__ADS_1
Perlahan Gio mulai melangkahkan kakinya. Akan tetapi, saat dirinya melewati uang keluarga, dia berpapasan dengan Yaya, asisten rumah tangga Diandra.
Yaya sedikit terkejut, melihat penampilan suami dari tuan rumahnya, yang berkeliaran hanya dengan menggunakan handuk sebatas pinggang saja.
"Astaga, Pak!" Yaya mundur beberapa langkah sambil menangkupkan nampan di dadanya.
"Ada tamu, Ya?" tanya Gio, sambil melirik pada ruang tamu.
"Iya, Pak," jawab Yaya, sedikit gugup.
Gio mengangguk, dia kemudian mulai melangkah menuju ruang tamu. Sedangkan Yaya, melihat Gio dengan perasaan bingung.
"Pak!" panggil Yaya dengan sedikit ragu.
"Sudah, gak apa-apa ... aku hanya ingin melihat siapa tamunya," jawab Gio yang menyangka kalau Yaya akan mencegahnya.
Yaya pun kembali menutup mulutnya, dia ingin membantah perkataan Gio. Akan tetapi, takut laki-laki itu salah paham padanya.
Pak Gio, tumben ke liar kamar gak pake baju? Biasanya juga ke luar kamar udah rapih dan wangi, batin Yaya, bingung dengan tingkah Gio.
"Sayang," panggil Gio, sambil melangkah masuk ke ruang tamu.
Sedangkan Diandra dan dua orang tamunya, langsung menoleh untuk melihat orang yang bersuara. Mereka semua tampak melebarkan matanya, melihat Gio yang ke luar dengan penampilan berbeda.
Sedangkan Gio juga terkejut melihat dua orang tamu, yang kini tengah duduk di depan istrinya.
Ngapain mereka datang ke sini? batin Gio.
"Gio!"
"Kakak!"
Hana dan Gita berujar bersamaa. Mereka berdua tampak melebarkan matanya, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki di depannya.
Dinadra menundukkan kepala sambil menutup mata erat, merasa malu bercampur takut, begitu Hana dan Gita melihat Gio di rumahhnya.
Ini orang, kenapa ke luar gak pake baju sih? Ya ampun ... mati aku! batin Diandra.
Gio tersenyum canggung, melihat keberadaan ibu dan adiknya yang berada di sana. Dia tidak menyangka kalau ternyata tamunya itu adalah Hana dan Gita.
"Kakak, ngapain ada di rumah Kak Diandra? Terus itu, kenapa gak pek baju?" Gita menunjuk wajah Gio tajam.
__ADS_1
Gio yang mendengar pertanyaan Gita, langsung melihat ke arah tubuhnya sendiri. Laki-laki itu langsung melebarkna matanya, melihat penampilannya saat ini.
Ya ampun, Gio. Kenapa aku bisa lupa pake baju begini sih? batin Gio, menyalahkan dirinya sendiri.
"Euh, ini–" Gio menggaruk kepala bagian belakangnya, merasa tidak tahu harus memberikan alasan apa.
"Sana, ganti baju dulu. Dasar anak ini, udah gede, tapi, kelakuan masih seperti anak-anak," ujar Hana, memotong perkataan Gio.
Gio terkekeh canggung, dia kemudian mengangguk menyetujui perkataan ibunya.
"Iya, aku pake baju dulu kalau begitu," ujar Gio langsung berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya.
Sedangkan Gita menatap bingung kakak laki-lakinya. Saat ini dia memang belum tahu kalau Gio dan Diandra sudah menikah.
"Kak Dian, udah kenal sama, Kak Gio?" Gita beralih pada Diandra.
Diandra perlahan mengangkat kepalanya sambil tersenyum canggung. Matanya menatap wajah Hana dan Gita bergantian, sambil mencari alasan yang tepat untuk kedua perempuan di depannya.
"Eum, itu ... Gio dan aku memang sudah saling mengenal," jawab jujur Diandra.
"Tapi, kemarin pas kita bertemu di hotel, kenapa Kak Dian kayak gak kenal sama Kak Gio?" tanya Gita.
Diandra meringis mendengar pertanyaan dari perempuan yang merupakan adik iparnya itu.
Kepalanya yang sebelumnya sudah terasa pusing, kini semakin bertambah pusing karena harus berpikir keras dan mencari alasan.
Hana yang ada di sana hanya diam, dia memperhatikan setiap reaksi Diandra saat Gita bertanya.
"Itu, biar nanti Gio saja yang menjelaskannya," ujar Diandra sambil kembali menutup mata, mencoba menahan pening yang tiba-tiba semakin terasa.
"Sayang, kamu pusing lagi, ya? Ayo, lebih baik kalu istirahat saja di kamar." Gio yang baru saja datang langsung merangkul tubuh istrinya yang terlihat goyah. Laki-laki itu tampak begitu khawatir, saat melihat wajah pucat istrinya.
Diandra mengangguk samar. Matanya sedikit memicing, melihat wajah Gio yang terasa samar.
"Sedikit, aku gak apa-apa kok," ujar Diandra, sambil mencoba untuk menengakan tubuhnya kembali.
Gita yang melihat interaksi itu semakin dibuat bingung, dengan hubungan Gio dan Diandra.
............................
Tuh kan, gimana nih reaksi Gio dan Diandra, menghadapi rasa ingin tahu Gita?
__ADS_1
Jangan lupa like dan komemnya ya. Terima kasih🙏🥰