
...Happy Reading ...
......................
Perasaan Diandra semakin tidak karuan saat Ayahnya terus mendorong kursi rodanya menuju ruang perawatan intensif care unit atau biasa disebut ICU, ditambah di sana dia bisa melihat Randi yang sedang duduk dengan kepala tertunduk dalam.
"Yah, kenapa ke sini?" tanya Diandra dengan suara bergetar masih menyangkal sesuatu yang terus berbisik di dalam hatinya.
"Nanti juga kamu akan tau, Nak," jawab Ayah Eros sambil terus mendorong kursi roda Diandra.
Saat jarak mereka sudah cukup dekat, Diandra melihat Randi berdiri seolah sedang menunggu kedatangan Diandra.
"Dian, kamu sudah sadar? Syukurlah," ujar Randi sambil berdiri di depan Diandra, punggungnya sedikit membungkuk untuk menyamai tinggi Diandra yang duduk di kursi roda.
"Ran, Gio mana? Kenapa kita ada di sini?" tanya Diandra sambil mengedarkan pandangannya, dia seolah tidak mendengar pertanyaan Randi, yang dia pikirkan hanya tentang kondisi Gio saat ini.
"Gio, dia–" Randi tampak ragu untuk mengatakan apa yang terjadi pada Gio.
"Ran, mana Gio? Kenapa dari tadi tidak ada yang mau memberitahuku apa yang terjadi padanya?" tanya Diandra lagi, mendesak Randi untuk menjawab pertanyaannya.
"Dian, kamu tenang dulu." Bunda tampak mencoba menenangkan anak sulungnya, dia mengusap lembut pundak Diandra.
"Bagaimana aku bisa tenang, Bunda, kalau kalian enggak kasih aku jawaban pasti tentang kondisi suamiku! Aku mau ketemu sama Gio, Bunda." Air mata Diandra sudah terlanjur jatuh membasahi pipinya, dia sudah tidak bisa lagi menahan sesak di dalam dada, hingga suara yang keluar pun terdengar lirih dan parau.
"Dian, tenang dulu, ini adalah ruang ICU, kamu bisa dikeluarkan jika membuat keributan." Ayah Eros memegang pundak Diandra berusaha berbicara dengan anak sulungnya yang sudah terlanjur terisak.
Diandra terdiam dia mencoba mengatur napasnya agar tidak terlalu sesak di dalam dada, matanya langsung menatap wajah Randi lagi dengan penuh permohonan.
"Ran, aku mohon bawa aku bertemu dengan Gio," ujar Diandra lirih, tenaganya terasa sudah habis dengan semua pertanyaan dan prasangka yang saling bertentangan di dalam hatinya.
Pada saat bersamaan Gita dan Mama Hana tampak ke luar dari salah satu ruangan di sana, hingga membuat Diandra mengalihkan perhatiannya.
"Mama, Gita," gumam Diandra, perasaannya semakin tidak karuan saat melihat wajah sembap kedua perempuan itu.
__ADS_1
"Dian, kamu sudah sadar, sayang," tanya Mama Hana, sambil berjalan menghampiri manantunya.
"Mama, kenapa Mama ke luar dari sana? Mana Gio, Mah?" tanya Diandra, dia benar-benar tidak perduli pada pertanyaan orang mengenai dirinya sendiri, yang dia pedulilan kali ini hanya kondisi Gio.
"Gio ada di dalam, Nak. Ayo, biar Mama temani kamu ke dalam," ujar Mama Hana mengambil alih kursi roda menantunya.
"Biar aku saja yang dorong, Mah." Randi dengan sigap mencegah Mama Hana kemudian mengambil kursi roda Diandra.
"Kamu gak apa-apa, ke dalam bareng aku?" tanya Randi pada Diandra, sebelum dia mendorong kursi roda istri dari sahabat sekaligus saudaranya itu.
"Iya, aku gak apa-apa," angguk Diandra.
"Baiklah, kalau begitu aku saja yang membawa Dian masuk ke dalam," ujar Randi, kemudian mendorong kursi roda Diandra menuju ke ruangan.
Masuk ke dalam, terlihat beberapa pasien yang berada dalam keadaan cukup parah dan tidak sadarkan diri, melihat itu jantung Diandra seolah terpacu semakin cepat, hingga ujung tangannya terasa dingin, merasa ini bukan sesuatu yang dapat dia hadapi.
Matanya melebar begitu dia sampai di depan sebuah bangsal pasien tempat Gio berada dengan alat bantu pernapasan dan keadaan tidak sadarkan diri, tangan bergetarnya menutup mulutnya meredam isak tangis yang hampir saja pecah.
"Gio," lirih Diandra, menatap sekujur tubuh suaminya yang masih tidak sadarkan diri.
"Ada apa? Kenapa dia jadi begini?" tanya Diandra lirih, sejenak dia menolehkan kepala memandang Randi yang ada di sampingnya, meminta penjelasan.
"Gio mengalami cedera kepala yang cukup parah, dan mengakibatkan ada pendarahan di dalam otaknya, itu semua dikarenakan adanya trauma kepala yang sudah lama terjadi, tapi terlambat untuk diobati," jelas Randi, mencoba menjelaskan dengan perlahan.
Diandra mengernyitkan keningnya, dengan tatapan masih melihat wajah pucat suaminya, perban pun tampak menutupi hampir sebagian besar kepala suaminya. Sepertinya oprasi yang dijalani sang suami cukup besar.
"Trauma kepala? Apa itu, ketika dia jatuh saat menangkap Jonas?" tebak Diandra, dia ingat waktu itu Gio datang ke rumah dengan kepala yang terluka. Akan tetapi, Gio menolak untuk diperiksa lebih jauh.
"Tapi, kenapa selama ini dia tidak pernah menunjukan gejala apa pun?" sambung Diandra lagi.
Randi tampak menunduk sambil mengusap tengkuknya, merasa bingung untuk menjawab pertanyaan Diandra.
"Ran?" Diandra kembali berbicara.
__ADS_1
"Iya benar, trauma kepala Gio dialami ketika dia menangkap Jonas. Kita terlambat menangani itu, karena Gio tidak pernah mau melakukan pemeriksaan, hingga sebenarnya beberapa minggu belakangan dia selalu mengeluhkan sakit kepala bila terlalu lelah bekerja–" Randi terdiam saat Diandra menyela.
"Iya, aku ingat. Dia selalu mengeluh merasa pening ketika pekerjaannya banyak," angguk Diandra mengingat semua itu.
"Sebenarnya sewaktu kita ke negara S, kami melakukan pemeriksaan di sana, dan dia sudah mulai meminum obat, juga tau kondisinya. Akan tetapi, karena kecelakaan itu, kepalanya kembali mengalami benturan yang sangat kencang, hingga membuat adanya pendarahan," jelas Randi lagi.
Bayangan waktu Gio menahan tubuhnya agar tidak terlalu terguncang, hingga membuat dirinya sendiri kehilangan kesadaran kembali melintas di ingatan Diandra, membuatnya semakin merasa bersalah dengan keadaan Gio saat ini.
"Jadi ini semua salahku? Gio seperti ini karena ingin menolongku?" Diandra semakin terisak dia menggenggam tangan Gio dengan gusar.
"Tidak ada yang bersalah di sini, Dian. Semua ini memang sudah keputusan Gio. Bila memang ada yang pantas disalahkan maka itu adalah aku, karena sebagai asisten aku telah gagal menjaganya." Randi menunduk dalam merasa bersalah dengan semua ini.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Ran? Kapan dia akan sadar?" tanya Diandra mengelus pipi Gio lembut.
"Dia baru saja selesai dioprasi, Dian. Kita harus terus berharap agar dalam waktu dekat ini Gio bisa sadar dan dapat melewati masa kritisnya," jawab Randi.
"Ran, boleh tinggalkan aku sendiri? Aku mau bicara berdua dengan suamiku," tanya Diandra, dia mengalihkan pandangannya pada Randi.
Randi sempat terdiam, dia tampak ragu untuk meninggalkan Diandra sendiri.
"Lima menit saja, beri aku waktu lima menit untuk berdua dengannya," ujar Diandra penuh permohonan.
Randi menghembuskan napas kasar, dia akhirnya mengangguk.
"Aku tunggu kamu di luar," ujarnya sebelum melangkah ke luar, yang langsung diangguki oleh Diandra.
Setelah melihat Randi ke liar dari ruangan, Diandra kembali mengalihkan pandangannya pada Gio, dia mencium tangan Gio berulang dengan isak tangis yang terdengar lirih.
"Gio, kenapa kamu harus selalu mengorbankan diri untuk aku?" ujar Diandra lirih sambil melihat wajah suaminya dengan tatapan sendu.
"Apa kamu tidak tau, kalau aku akan merasa sangat bersalah kalau sampai terjadi apa-apa padamu? Jadi, sekarang kamu harus berusaha untuk bangun, demi aku dan anak kita, hem," ujar Diandra mencoba untuk berbicara dengan sang suami walau setiap kata yang ke luar dari mulutnya akan menambah sakit di dalam dada.
"Kamu selalu mau aku panggil sayang, kan? Kamu juga selalu mau aku bilang cinta sama kamu, kan?" tanya Diandra denagn suara parau dan lemah.
__ADS_1
"Aku janji, kalau nanti kami sadar, aku akan mengatakan semuanya, aku akan panggil kamu sayang, dan aku akan bilang kalau aku sangat mencintai kamu, Gio. Tapi, untuk mendapatkan itu, kamu harus bangun dulu." Diandra menangis tersedu, dia menundukkan kepalanya hingga keningnya menyentuh tangan Gio.
......................