
...Happy Reading...
......................
Gio mengambil ponsel yang ada di atas meja lalu membuka pesan yang bagus aja masuk.
+628........: [Kenapa tidak menerima panggilan dariku, sayang? Apa kamu tau, aku sangat merindukanmu?]
Gio mengepalkan tangannya, melihat pesan yang dikirimkan oleh seseorang tanpa nama itu.
Namun, kini mata Gio terpaku pada pesan sebelumnya yang sepertinya dikirimkan kemarin pagi.
+628.......: [Pagi Diandra. Apa kami sudah memikirkan perkataanku kemarin? Cepat putuskan atau laki-laki itu tidak akan selamat. Aku beri waktu sampai sore nanti]
Wajah Gio tampak memerah menahan emosi, melihat pesan yang berisi kata ancaman itu.
"Sialan! Dasar pengecut! Beraninya dia mengancam seorang perempuan," ujar Gio dengan penuh amarah.
Gio memukul meja dengan cukup kencang, hingga suaranya terdengar sampai ke luar ruangan.
Randi yang batu saja hendak mengetuk pintu, terkejut dengan suara keras dari dalam ruangan kerja Gio.
"Astaga, ada apa di dalam?!" ujar Randi, sambil membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Kini giliran Gio yang terkejut mendengar suara pintu yang dibuka secara kasar, hingga daun pintu itu menabrak tembok.
Laki-laki itu mengalihkan pandangannya, melihat siapa yang datang. Dia hanya berdecak kesal saat melihat wajah khawatir asistennya.
Randi melihat Gio yang hanya sedang duduk santai, dia yang awalnya khawatir kini hanya berjalan menuju kursi sambil menatap penuh tanya.
"Ada apa sih, Gio?" tanya Randi, sambil duduk di depan bosnya itu.
"Tuh, kamu baca sendiri!" Gio menunjuk ponsel Diandra menggunakan dagunya.
Randi yang belum mengerti dengan apa yang terjadi pun, mengambil ponsel di atas meja, lalu mulai menyalakannya.
"Punya siapa ini?" tanya Randi, saat dia baru menyadari kalau itu bukan ponsel milik Gio.
"Punya Diandra," jawab Gio singkat.
"Hah?! Kamu, ngambil ponsel Diandra? Buat apaan?" tanya Randi, menatap Gio penuh tanya.
"Kamu gak usah banyak tanya, mending lihat sendiri aja!" jawab Gio, kesal.
Randi pun tidak bertanya lagi, dia kini mulai membuka pesan dari ponsel Diandra. Matanya melebar melihat ada pesan dari nomor tidak di kenal.
Sebelum dia membukanya, Randi terlebih dulu melihat Gio. Laki-laki itu baru mau melihat setelah mendapat anggukkan dari bosnya itu.
__ADS_1
Randi semakin dibuat terkejut saat melihat isi pesan yang ada di dalam ponsel milik Diandra, dia tidak pernah menyangka kalau selama ini perempuan itu mendapatkan ancaman dari Jonas.
"Wah, gila sih ini si Jonas. Bisa-bisanya dia main ngirim pesan ancaman gini sama Diandra!" ujar Randi, ikut merasa geram.
"Emang udah gila sih kayaknya. Laki-laki pengecut seperti dia harusnya dimusnahkan sekalian dari bumi," geram Gio.
"Gimana kalau kita lacak nomor ponselnya, siapa tau bisa menemukan keberadaannya?" saran Randi.
Gio menatap asistennya itu, dia memang ada rencana untuk melakukan hal itu. Akan tetapi, dia juga sedikit ragu dengan hasilnya mengingat saat ini Jonas sedang menjadi buronan polisi.
Mereka saling menatap sekilas, kemudian Gio mengangguk menyetujui. Dia juga penasaran dengan keberadaan orang itu. Kenapa sampai Jonas masih buron sampai sekarang?
"Oke, kita cari keberadaannya sekarang juga. Panggil Beni ke sini!" perintah Gio.
Randi menganguk sambil beranjak untuk memanggil salah satu anak buah mereka yang pintar dalam bidang itu.
Beberapa saat kemudian Randi sudah kembali bersama dengan Beni.
"Cari lokasi nomor ini," ujar Gio, sambil menyerahkan ponsel milik Diandra.
"Baik, Pak," angguk Beni.
Laki-laki yang hanya berbeda beberapa tahun lebih muda daripada Gio itu, mulai berselancar di dalam laptop dan komputer yang ada di ruangan kerja milik bosnya.
Ya, karena peralatan kerja di sini hanya sedikit. Jadi sekarang Gio harus bertukar posisi duduk dengan anak buahnya itu.
"Kak, ini Gita!" Terdengar teriakan dari luar.
"Masuk, Git," jawab Gio kemudian.
Gita pun masuk ke dalam, dia menghampiri kakaknya yang sedang duduk di atas sofa, dia juga melirik sekilas pada Randi yang duduk di depan Beni.
"Ada apa, Git?" tanya Gio.
"Kakak, kapan pergi ke hotel?" tanya Gita, sambil duduk di samping Gio.
"Ada apa? Kakak lagi ada kerjaan yang harus dikerjakan di sini dulu," jawab Gio.
"Aku sama mamah mau jalan-jalan ke pantai. Masa udah sampe sini, gak ke pantai sih," ujar Gita dengan gaya manjanya.
"Ya udah, kalian ke pantai aja duluan. Kakak suruh anak buah kakak antar, ya?" ujar Gio, sambil mengusap puncak kepala adiknya.
"Yah, emang, Kakak, gak bisa nganter kita?" cebik Gita.
"Kakak masih ada kerjaan, paling nanti sore, baru bisa ke hotel. Kamu sama mamah pergi aja dulu, nanti kakak nyusul," jawab Gio.
"Ya udah deh, aku bilang mamah dulu. Nanti kalau mamah mau aku langsung ke pantai aja," ujar Gita sambil kembali berdiri.
__ADS_1
"Heem, nanti kabarin kakak kalau kalian mau berangkat, biar kakak kasih tau karyawan kakak di hotel," angguk Gio.
"Siap, Bos!" ujar Gita penuh semangat.
Setelah Gita pergi, kini wajah Gio kembali berubah serius, dia melihat ke arah Randi dan Beni.
"Gimana, bisa gak?" tanya Gio.
"Hanya tinggal menunggu, Pak," jawab Beni.
Gio mengangguk, dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, sambil melihat ponsel milik Diandra.
Boleh gak ya, kalau aku lihat yang lainnya? batin Gio.
Dia melihat beranda ponsel Diandra yang hanya menampilkan aplikasi bawaan, juga beberapa media sosial.
Pandangan matanya terpaku pada galeri yang seakan membuatnya begitu penasaran.
Ada apa aja ya, di galerinya? Apa ada fotoku? batin Gio kembali bertanya.
Gio tersenyum sendiri saat dirinya membayangkan ada foto dirinya di galeri milik Diandra.
Akh, tidak. Itu namanya melanggar privasi! Gio kembali mengembalikan ponsel Diandra pada layar utama.
Dia terpaku dengan foto balita perempuan kembar yang sangat lucu.
Apa ini foto dia dan adik kembarnya? batin Gio.
Matanya terus melihat kedua anak yang tampak sedang menggunakan baju berwarna senada. Mereka terlihat begitu senang dengan tawanya yang ceria.
Kamu memang sudah cantik dari bayi, Diandra, batin Gio mengagumi kecantikan salah satu balita itu yang dia yakini adalah Diandra.
Gio terus terpaku pada ponsel milik istrinya. Menikmati kecantikan yang begitu indah untuk dipandang mata.
Kalau aku punya anak perempuan sama Diandra, pasti juga akan secantik ini.
Gio kembali tersenyum membayangkan dirinya yang bisa memiliki anak bersama Diandra di masa depan.
Walaupun Gio tau, kalau meluluhkan hati istrinya itu cukup sulit. Akan tetapi, dia juga yakin kalau suatu saat Diandra akan bisa menerimanya dengan baik.
"Bos, sudah ketemu!"
Perkataan tiba-tiba dan cukup kencang dari Randi, membuat Gio langsung tersadar dari lamunannya.
Dia pun langsung beranjak menghampiri asisten dan anak buahnya.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1
...Bersambung...