
...Happy Reading...
...💖...
Dian menggeliatkan tubuhnya, saat sinar mata hari mengganggu tidur nyamannya. Sesuatu yang cukup berat terasa menindih pinggangnya, melingkar hingga ke perut bagian depan. Punggungnya pun terasa hangat, seperti ada sesuatu yang menempel.
Alis Dian bertaut, saat merasakan sesuatu yang terasa aneh dan berbeda dari biasanya, ketika dia terbangun di pagi hari. Aroma ruangan itu juga terasa asing, ia tak menegenal suasana ini.
Mengerjap, untuk menyesuaikan cahaya yang masuk pada matanya. Perlahan mulai terasa sakit di sekujur tubuhnya, bahkan bibirnya terasa perih ketika dia mereingis menahan nyeri.
Mata berwarna hitam itu terbuka perlahan, mengedar menatap setiap sudut ruangan yang terlihat berwarna dominan putih. Rasa pening di kepala membuat otaknya asedikit lambat dalam berpikir, mengingat kejadian semalam, hingga sekarang dia berada di tempat asing ini.
Ingatannya mulai kembali mengingat kejadian tadi malam, dia baru menyadari kalau tadi malam dirinya baru saja hampir dilecehkan olah sekelompok pria brengsek, hingga tiba-tiba ada seorang lelaki datang dan menolongnya. Akan tetapi, dia belum sempat melihat semuanya, karena kegelapan merenggut semuanya.
Tangannya terangkat ingin merabarasa ngilu di tengkuknya bekas pukulan semalam. Melihat ke bawah ketika ternyata tangannya tersangkut sesuatu.
Matanya melebar saat melihat sebuah tangan kekar melingkar di perutnya, dengan gerak cepat Dian melempar tangan itu, berbalik dan menendang tubuh di belakangnya sekuat tenaga.
"Akh!" Gio yang masih terlelap mendadak terkejut oleh rasa sakit yang tiba-tiba ia terima, akibat tendangan dari Dian. Tubuhnya teguling sampai jatuh dengan bokong mendarat cantik di atas lantai.
Dian langsung terbangun, berdiri dengan mata menatap tajam lelaki tak dikenal yang kini tengah meringis menahan sakit di samping ranjang.
Beralih melihat seluruh tubuhnya yang ternyata masih mengenakan pakaian, mengehembuskan napas lega, walau akhirnya tertahan karena pikirannya sendiri.
'Siapa yang mengganti pakaianku, apa jangan-jangan dia?' tanyannya dalam hati.
"Siapa kamu? Kenapa kita bisa ada di tempat yang sama?!" tanya Dian dengan telunjuk mengarah tepat pada wajah Gio.
Gio mendengus kesal, dia berdiri dengan santai sambil mengusap bagian belakang tubuhnya yang terasa berdenyut. Melirik sekilas wajah penuh waspada Dian, kemudian berdecak malas.
"Coba kamu liat baik-baik wajahku ini, apa kamu tidak mengingat kalau tadi malam aku yang telah menolongmu dari para pria bajingan itu," jawab Gio sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Dian memicingkan matanya, menatap wajah Gio dengan teliti, sambil mengingat kembali kejadian malam tadi.
"Ish, bukannya mendapatkan terima kasih, ini malah dapet hadiah tendangan," gerutu Gio, dia beranjak duduk di ujung ranjang, tangannya bersidekap dada sambil menatap wajah kikuk Dian.
"Terima kasih untuk semalam," ujar Dian dengan tatapan tak suka.
"Tapi, apa bedanya kamu dengan mereka? Aku rasa sama saja ... sama-sama bajingan!" hardik Dian.
Gio melebarkan matanya, melihat Dian tak percaya. bagaimana mungkin perempuan yang ditolongnya semalam bisa berkata begitu tajam seperti yang baru saja ia dengar? Menggeleng lemah dengan cebikan di bibirnya. Sangat mengejutkan sekali.
"A–apa kamu bilang? Aku ... bajingan?" tayanya menunjuk dirinya sendiri.
"Yaiyalah, mana mungkin ada lelaki baik yang mau tidur seranjang dengan seorang perempuan yang baru saja ditolongnya?! Pake peluk-peluk segala!" Dian masih tidak mau kalah dengan Gio.
"Hah?! Enak saja kamu bilang! Aku meluk kamu karena tadi malam tudurmu gelisah, badan kamu juga panas," jelas Gio, malas.
__ADS_1
Tadi malam, tidurnya terusik saat mendengar suara rintihan lirih dari Dian. Gio beranjak untuk melihat kondisi Dian, dia terkejut saat melihat Dian dalam keadaan gelisah, dengan bulir keringat kecil di dahinya. Badannya pun terasa hangat, mungkin karena luka di tubuhnya.
Beberapa saat dia terjaga untuk memberikan kompres pada Dian, hingga dirasa suhunya kembali normal, dia hendak beranjak, saat tangannya dipegang dengan begitu erat oleh Dian.
"Jangan tinggalkan aku," lirih wanita itu, keningnya berkerut dalam, mungkin dia tengah mimpi buruk.
Gio akhirnya menurut, dia berbaring di samping Dian sambil menenangkannya, hingga akhirnya tertidur dengan posisi memeluk perempuan itu.
"Halah, alasan. Memang dasar semua lelaki itu sma saja, gak bisa lihat wanita lengah sedikit, pasti langsung cari kesempatan!" Dian membelakangi Gio, menatap pintu kamar dan melangkah mendekatinya.
Gio turun dari ranjang, menyusul Dian yang sudah sampai di depan pintu. "Eh! Mau ke mana kamu?"
"Bukan urusanmu!" jawab Dian, melangkah ke luar tanpa mau mendengar panggilan dari Gio.
"Neng, sudah bangun?" Bibi Jui yang merupakan asisten rumah tangga Gio, berpapasan dengan Dian.
Dian menghentikan lagkahnya, menatap Bi Jui dengan alis bertaut lalu kemudian tersenyum tipis.
"Iya, Ibu. Saya pamit pulang dulu, terima kasih sudah mengizinkan aku untuk menginap di sini," ujar Dian, lalu kembali melangkahkan kaki ke arah pintu depan yang terlihat dari sana.
Bi Jui menatap Gio sebentar, lalu kembali mengejar langkah Dian, setelah mendapat kode dari Gio. "Tunggu, Neng! Bibi sudah menyiapkan sarapan, lagi pula tubuh Neng juga masih lemah, bagaimana kalau Neng sarapan dulu saja?"
" Terima kasih, Bu. Tapi, aku harus segera pergi, permisi." Dian langsung pergi dari kediaman milik Gio.
Namun, sebelum dia benar-benar keluar, Dian berbalik sebentar, menatap Gio dengan wajah tegas dan angkuh, seperti yang selama ini di kenal banyak orang.
Gio menatap punggung Dian dengan sorot mata yang tak bisa diartikan sampai akhirnya menghilang saat Dian sudah masuk ke dalam sebuah mobil angkutan umum.
Ya, di daerah ini tak ada taksi, di sini hanya ada kendaraan umum, seperti angkot, bis, dan amavam-macam angkutan tradisional, seperti ojek, becak dan Delman. Selain itu, tak ada lagi yang dapat memudahkan transportasi di sana.
Daerah kecil yang berada di perbatasan antara jawa barat dan jawa tengah, dengan berbagai keindahan pantai, sungai dan pegunungannya. Suatu daerah yang sedang mengembangkan diri selama beberapa tahun belakangan.
Di dalam angkot, Dian bersungut-sungut mengumpat lelaki yang menurutnya tetap tidak sopan, karena sudah dengan lancang menyentuh tubuhnya.
Pikiran yang sudah menganggap seorang lelaki itu tidak baik, kini semakin besar di dalam hatinya, akibat kejadian tadi malam dan pagi ini.
"Astaga, tasku?!" Dian menegakkan tubuhnya saat menyadari kalau sekarang dirinya tak membawa apa pun untuk membayar ongkos.
"Akh, sial!" umpatnya lagi.
Melihat lelaki paruh baya, yang serdang menyetir angkot dengan tatapan bingung.
"Pak, tiasa anteur abi dugi ka rompok? Abi hilap teu nyandak artos," jujur Dian, dengan suara lirih dan perasaan malu tak tertahan.
[Pak, bisa antar aku sampai do rumah? aku lupa membawa uang?]
"Kitu, rompok, Neng, di mana?" tanya sopir angkot itu.
[Memang, rumah, Neng, di mana?]
__ADS_1
"Di pengker hotel lemayung, Pak," jawab Dian.
[Di dekat hotel lembayung, Pak]
Sopir angkot itu terlihat termenung sebentar, sebelum memberikan jawaban.
"Kumaha, Pak?" tanya Dian lagi tidak sabar.
[Gimana, Pak?]
"Tiasa, Neng. Tapi, ongkosna di langkungannya," pinta sopir angkot tadi.
[Bisa, Neng. Tapi, ongkosnya ditambahinnya]
"Siap, Pak!" ujar Dian dengan helaan napas lega.
Beberapa saat kemudian, Dian sudah sampai di depan rumahnya, di sana sudah ada seorang wanita yang biasa bekerja membersihkan rumah setiap hari.
"Teh Dian, saya kira ada di dalam makanya saya langsung masuk, tadi," ujar seorang perempuan muda setelah melihat kedatangan Dian.
" Iya, gak apa-apa kok, Ya. Santai aja," ujar Dian, sambil beranjak menuju ke kamarnya untuk mengambil uang.
"Nuhun, Pak," ujar Dian sambil memberikan satu lembar uang seratus ribu.
[Terima kasih, Pak]
"Teh Dian, kenapa ini pada luka?" tanya Yaya–perempuan muda tadi.
"Gak apa-apa, ini hanya luka kecil, istirahat sebentar juga sembuh lagi. Aku ke kamar dulu, kamu terusin aja kerjanya, sama tolong nanti siapkan sarapan untuk aku," ujar Dian sebelum kembali berjalan masuk ke rumah.
"Baik, Teh," angguk Yaya.
Tubuh Dian merosot di belakang pintu kamarnya, tubuh dan hatinya lelah menahan rasa sakit badan dan jiwanya.
Dia bukanlah perempuan super yang tidak akan tergantung setelah mengalami sesuatu yang mengerikan seperti semalam. Dia hanyalah seorang manusia biasa yang berusaha terlihat kuat, agar orang diluar sana tak bisa mlihat kelemahannya.
Menghirup napas panjang kemudian menghembuskannya secara kasar, Dian berharap dengan begitu bisa sedikit mengurangi rasa takut yang kini terasa begitu mengikat di dalam dirinya.
Untung saja Ares sedang tidak ada di rumah, hingga tak bisa melihat dirinya dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Kalau tidak, bisa-bisa adiknya itu akan melapor pada sang bunda.
Dengan susah payah, dia berusaha bangun dan berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Bayangan perlakuan menjijikan yang dilakukan oleh para bajingan itu kembali berputar, membuat dia semakin terpuruk.
Duduk dengan memeluk lututnya di bawah guyuran air dingin dari shower, Dian membiarkan air matanya keluar, bercampur dengan air yang menerpa melewati tubuh bergetarnya..
'Semua sudah berakhir, itu hanya mimpi buruk ... itu hanya mimpi buruk!'
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung ...
__ADS_1