
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Apa maksudmu?" tanya Gio.
Dian tersenyum dia berjalan menuju tempat tidur, lalu duduk di sisi ranjang.
"Aku mau kita berjalan seperti biasa, kamu dengan kehidupanmu dan aku dengan kehidupanku. Tidak ada yang berubah, kecuali status kita," ujar Diandra.
Gio mengikuti arah pergerakan istrinya, kini dia berdiri di depan Diandra. Mengangguk-anggukan kepala samar, saat dia mengerti apa yang dimaksudkan dengan perkataan Diandra sebelumnya.
"Baiklah, aku ikut saja," jawab Gio santai. Dia kemudian duduk di samping Diandra.
"Tapi aku mempunyai syarat," sambungnya lagi.
Diandra menatap wajah Gio dengan alis bertaut, lalu memalingkannya lagi, seakan tak mau lebih lama melihat wajah suaminya.
"Apa?" tanya Diandra.
"Aku mau kita bersikap layaknya suami istri. Seperti tidur bersama, lengkap dengan semua kewajiban suami istri lainnya."
Dian menegakkan tubuhnya dengan raut wajah tidak setuju.
"Aku tidak mau ada kontak fisik, apa lagi hubungan suami istri!" potong Diandra langsung.
"Tapi bila kita berdua menyetujuinya, bagaimana?" tanya Gio tak mau menyerah.
Diandra terdiam, dia berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban kepada Gio.
"Ya, itu bisa dipikirkan nanti," jawab Dian, tanpa memberikan kepastian sama sekali.
"Okey." Gio mengangguk pasrah, walau dalam hati masih memiliki ganjalan.
Setelah diskusi yang sebenarnya tidak diperlukan dalam hubungan suami istri, kini Gio sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Sedangkan Diandra memilih untuk membaca buku, ia duduk di kursi yang berada di salah satu sudut kamarnya.
Cklek.
Suara pintu kamar mandi terbuka, Gio terlihat keluar dengan hanya menggunakan handuk yang meililit di pinggangnya sebatas lutut.
Diandra yang mendengar suara pintu melirik sekilas pada Gio menggunakan ujung matanya. Akan tetapi, dia kembali memfokuskan perhatiannya pada buku, saat melihat penampilan suaminya itu.
"Kenapa gak pake baju di kamar mandi?" tanya Diandra dengan nada dingin.
"Randi belum membawa baju gantiku. Kamu punya kaos yang cukup besar untuk aku pakai sementara?" tanya Gio.
Lelaki itu tersenyum melihat Diandra yang tak mau menatapnya, berjalan menghampiri istrinya itu dengan seringai di wajahnya.
"Gak, sebentar aku tanya sama Ares dulu, siapa tau dia punya."
__ADS_1
Diandra menutup buku di tangannya, lalu berdiri dengan tergesa dan memutar badan, hendak berjalan menuju pintu tanpa melihat Gio.
Grep.
"Hk." Napas Diandra tercekat saat tiba-tiba Gio menarik tangannya hingga saat ini dia sedang berada di pelukan suaminya itu.
"Tatap mataku kalau sedang berbicara," ujar Gio dengan seringai yang semakin lebar.
Diandra berdecak, dia berusaha mengendalikan raut wajahnya dan bersikap dingin kembali, menyembunyikan gugup dan panik yang tersembunyi di dalam dirinya.
"Ekhm ... kalau aku tidak mau, apa urusanmu?" tanya Diandra, menatap wajah suaminya yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.
Di bawah sana, kedua tangan Diandra merem*s baju yang ia kenakan, agar masih bisa bersikap biasa saja di depan suaminya.
"Tentu itu akan menjadi urusanku, karena kamu sedang berbicara denganku. Dan aku tidak suka bila harus berbicara tanpa menatap wajah lawan bicaraku," jawab Gio
Lelaki itu semakin mempererat pelukannya, hingga kini tubuh keduanya merapat tanpa ada lagi jarak.
Lengan Diandra semakin mencengkram dengan kuat, hingga terlihat memutih di beberapa bagian jarinya.
Wajahnya semakin mengeras, melawan seringai Gio yang terlihat menyebalkan baginya.
"Aku tak peduli!"
Dukh!
"Arrghh!"
"Rasakan!" Diandra tersenyum miring sambil berjalan menuju pintu.
"Ssshh, Diandra ... Diandra," gumam Gio, menggelengkan kepalanya dengan kekehan kecil, sambil duduk di kursi yang dipakai Diandra beberapa saat yang lalu, dia melihat jari kakinya yang memerah dan terasa berdenyut.
Sedangkan di luar, Diandra mengetuk pintu kamar Ares untuk meminjam baju.
Setelah mendengar suara Ares di dalam, perlahan Diandra mendorong daun pintu kamar adiknya itu.
"Ada apa, Teh?" tanya Ares yang ternyata sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Kamu lagi istirahat ya? Maaf Teteh jadi ganggu kamu," ujar Diandra tanpa menjawab pertanyaan adiknya.
Ares memang masih membutuhkan banyak beristirahat, luka ditangannya masih basah dan memerlukan perawatan.
Namun, karena kejadian ini, dia harus ikut repot untuk menyiapkan pernikahan dadakan antara dirinya dan Gio.
Diandra merasa bersalah kepada adiknya untuk semua itu.
"Enggak kok, Teh. Aku cuman lagi berbaring aja sebentar. Teteh ada perlu apa cari aku?" tanya Ares lagi, sambil beranjak duduk.
"Kamu punya baju yang kebesaran gak? Gio belum ada baju ganti," ujar Diandra.
__ADS_1
"Kayaknya sih punya, tapi hoody apa gak apa-apa kak?" tanya Ares.
"Gak apa, sama celananya kalau ada," ujar Diandra.
Perempuan itu membantu adiknya untuk beranjak dari tempat tidur, dia kemudian duduk di sisi ranjang Ares dan melihat adiknya di depan almari.
Beberapa saat kemudian, Ares kembali dengan membawa satu stel pakaian untuk dipinjamkan kepada Gio.
"Celananya, cuma itu yang paling gede. Coba saja, siapa tau cukup," ujar Ares, memberikan bajunya pada Diandra.
Diandra melihat liputan baju yang diberikan oleh adiknya, sebuah hoody berwarna hitam dan celana berbahan strach ala korea dan anak muda masa kini.
"Dari mana kamu dapat baju-baju kayak gini? Kayaknya ini bukan gaya kamu deh," tanya Diandra.
Dia tahu kalau adiknya itu lebih suka memakai kaos lengan pendek dengan celana denim, jarang sekali dia melihat Ares memakai hoody atau celana bahan seperti itu.
"Aku beli dari temen yang jualan, waktu masih kuliah. Kasihan dia, usaha buat nambahin bayar kos setiap bulannya, karena orang tuanya bukan orang berada," jelas Ares.
"Ooh, ya udah aku pinjem dulu ya." Diandra mengangkat sedikit liputan baju di tangannya, sambil berdiri.
"Iya, Teh."
Diandra pamit untuk kembali ke kamar, dengan membawa baju ganti untuk Gio.
"Kamu bawa apa, Dian?" tanya Lisna, yang sedang duduk di ruang televisi bersama Eros.
'Sejak kapan mereka ada di sana? Perasaan tadi waktu aku ke kamar Ares, belum ada?' gumam hati Diandra.
"Baju ganti buat Gio," jawab Diandra, lalu berjalan kembali menuju kamar, tanpa mau memperpanjang percakapan dengan kedua orang tuanya.
Sampai di kamar Diandra melihat Gio sedang membaca buku yang tadi dia tinggalkan.
"Nih, baju ganti kamu," ujar Diandra, menaruh baju itu di atas meja.
Gio menurunkan buku di tangannya, lalu melihat baju di depannya kemudian beralih melihat sang istri.
"Oke, terima kasih," ujar Gio sambil berdiri dan hendak melepaskan handuk di pinggangnya.
"Eh, ngapain kamu? Ganti baju di kamar mandi sana, dasar gak tau malu!" cecar Diandra.
"Untuk apa malu di depan istri sendiri? Lambat laun kamu juga pasti melihatnya kan?" ujar Gio dengan seringai menggoda.
"Tapi, belum. Dan aku belum tertarik untuk itu. Jadi lebih baik kamu ganti baju di kamar mandi atau kaki yang akan bergerak lagi!" Diandra sedikit memberi ancaman pada Gio.
Lelaki itu refleks memegang inti tubuhnya dan meringis ngilu.
"Oke, oke. Aku ganti di kamar mandi," ujar Gio sambil mengambil baju gantinya dan beranjak ke kamar mandi.
Dian menghembuskan napas kasar, lalu beranjak duduk di atas ranjang.
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...