
...Happy Reading...
...................
Lima belas menit berlalu, Gio dan Randi pun akhirnya masuk ke dalam mobil, membuat Diandra dan Ana mengalihkan perhatiannya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Gio, melirik ke belakang untuk melihat wajah cantik istrinya.
Diandra mengangguk sambil melirik membalas tatapan suaminya. Akan tetapi, sedetik kemudian dia melebarkan matanya, saat baru menyadari kalau wajah suaminya penuh dengan luka.
"Wajah kalian?" Diandra menoleh pada Randi yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan Gio.
"Ck, kamu harus tanggung jawab karena udah bikin muka aku kayak gini, sayang," ujar Gio manja, dia bahkan meringis seperti sedang menahan sakit.
Randi melirik Gio yang selalu berubah menjadi seekor kucing persia yang manja dan lucu, saat bertemu dengan Diandra. Asisten Gio itu kemudian memutar bola matanya, sambil mulai mengemudiakan mobil.
Padahal dari tadi dia tidak ada mengeluh dengan luka di wajahnya. Dasar tukang cari perhatian! batin Randi mencebik kesal.
Selama ini Gio adalah laki-laki yang selalu terlihat tangguh, hanya lebam dan pecah di bibir akibat pertarungan singkat seperti tadi, tidak akan membuatnya mengeluh seperti sekarang ini.
Sungguh, Randi tidak habis pikir, kenapa Gio bisa berubah menjadi seekor kucing persia yang hanya minta dimanja oleh Diandra, setiap kali berada di dekat istrinya.
"Iya, nanti sampai vila aku obatin luka kamu," jawab Diandra yang langsung mendapatkan senyum cerah Gio.
Sedangkan Rani hanya tersenyum, melihat Gio yang terlihat berbeda saat berbicara dengan Diandra. Laki-laki yang tadi sempat dia ragukan kebaikannya itu, kini terlihat sangat menyayangi saudara kembarnya.
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Randi, sudah sampai di vila. Di sana juga sudah tampak beberapa mobil anak buah Gio yang sudah kembali terlebih dahulu, setelah menyelesaikan misi mereka.
Gio turun terlebih dahulu, lalu membuka pintu mobil untukistrinya, sedangkan Diandra lebih memilih untuk memapah Rani yang tampak masih lemah, akibat efek obat perangsang yang ada di dalam tubuhnya. Untung saja, Gio sudah menyiapkan obat penawarnya yang dia titipkan di pengawalnya.
Bi Minah yang mendengar suara mobil Gio, langsung berjalan ke depan untuk menyambut kedatangan tuannya itu. Mang Aan yang sedang menemani Andra bermain pun, ikut mengajak anak laki-laki itu menuju ke teras depan.
__ADS_1
"Ante!" panggil Andra sambil berlari menghampiri Diandra.
"Ante, napa lama pulangnya? Aku nungguin," ujar anak laki-laki itu yang sudah berdiri di depan Diandra dan Ana.
Diandra tersenyum kemudian berjongkok di depan Andra, dia menjawil pipi anak itu gemas.
"Andra, nungguin Tante?" tanya Diandra.
Ana ikut berjongkok di samping Diandra, matanya tampak berkaca-kaca, melihat anak yang selama dua tahun ini terpisah darinya.
Andra mengangguk lucu, hingga membuat Diandra terkekeh kecil. Wanita itu kemudian melihat pada adik kembarnya, yang terlihat sedang menahan tangisnya.
"Andra, ini adik Tante, namanya Ana." Diandra mencoba mengenalkan Ana pada Andra.
Andra tersenyum sambil mengalihkan pandangannya pada Ana, kedua matanya berkedip lucu seakan tengah memperhatikan wajah kedua wanita di hadapannya yang ternyata serupa.
"Uka, Ante, sama?" ujar Andra sambil menunjuk wajah Diandra dan Ana.
Diandra terkekeh, begitu juga dengan Ana, walaupun air mata tampak menetes membasahi pipinya.
Ana tampak tersenyum, kemudian menggeleng samar. "Engga. Mata Tante, cuman kelilipan," jawab Ana, menutupi rasa harunya.
Mang Aan dan Bi Minah yang melihat itu semua tampak ikut meneteskan air matanya, mengingat betapa kerasnya perjuangan Ana untuk bisa menemui anaknya.
Awalnya Ana bahkan tidak berani berharap mereka mau memberikan nama yang dipilih oleh dirinya untuk anaknya. Akan tetapi, mendengar Diandra memanggil anak laki-laki itu dengan nama Andra, membuatnya merasa sangat bersyukur.
Nama anaknya masih menggunakan nama yang dia berikan sewaktu dia baru saja melahirkan. Dulu dia bingung saat mencari nama, karena dirinya memang belum memikirkannya, hingga akhirnya terpisah dengan Hary.
Namun, di saat itu dia juga teringat dengan saudara kembarnya, hingga akhirnya dia memberi nama anak laki-lakinya Andra, yang berasal dari potongan nama Diandra.
Gio yang melihat semua itu, menghampiri istrinya, dan ikut berjongkok di depan Andra.
__ADS_1
"Hai, ganteng. Perkenalkan, aku suaminya Tente Diandra, panggil aja aku Uncle Gio," ujar Gio sambil mengulurkan tangannya.
Andra tampak teridam seolah sedang mengamati wajah laki-laki dewasa di depannya. Anak berusia dua tahun lebih itu tampak melihat Diandra terlebih dahulu sebelum menerima uluran tangan Gio.
"Halo, Uncle Gio. Aku Andla," jawab Andra, sambil tersenyum ceria.
Gio tersenyum kemudian menggendong Andra dengan mudahnya.
"Ayo kita masuk dulu, nanti kita bicara lagi di dalam," ujar Gio, kemudian mulai melangkah lebih dulu di depan Diandra dan Ana.
Randi pun mengikuti dari belakang, dia cukup terkejut saat Gio mau mendekatkan diri pada anak kecil. Padahal biasanya di sangat malas berhubungan dengan anak kecil, kecuali keponakannya sendiri.
Sampai di dalam Andra kembali diambil alih oleh Mang Aan, sedangkan Ana diantar Bi Minah untuk membersihkan diri di kamar tamu. Diandra, Gio, dan Randi pun masuk ke kamar mereka masing-masing.
Beberapa saat kemudian Diandra tampak sedang sibuk mengobati luka-luka di tubuh Gio. Dengan semua drama manja yang dibuat suaminya.
"Ssh, pelan-pelan, sayang," rintih Gio saat Diandra mengobati ujung bibirnya yang pecah.
"Ini sudah pelan. Kamu tahan dulu sedikit," jawab Diandra, kembali membungkukkan tubuhnya, untuk melihat lebih jelas wajah suaminya yang sedang berbaring di pangkuannya.
Namun, bukan Gio namanya jika tidak bisa membuat Diandra terus menghembuskan napas kasar, dan berusaha menahan emosi, karena tingkah jahil dan manjanya.
Sabar Diandra, memang begini kalau kamu punya suami yang kelakuannya kayak anak kecil, batin Diandra.
Setelah selesai diobati, kini Gio malah menutup matanya, seakan bersiap untuk tidur, di tempat ternyamannya. Apa lagi kalau bukan paha Diandra sebagai bantalnya.
Diandra mengusap lembut rambut Gio yang tampak lurus dengan kondisi masih sedikit lembab. Dia tidak menolak sedikit pun tingkah Gio. Dirinya tahu, kalau saat ini Gio pasti merasa sangat lelah, setelah beberapa hari ini berjuang untuk menyelesaikan masalah Ana.
Untuk saat ini Diandra membiarkan Gio untuk beristirahat. Walaupun sebenarnya sejak tadi dia sudah menahan lapar, mengingat dirinya yang belum makan sejak pagi, akibat terlalu cemas pada suaminya.
Beberapa saat kemudian, sepasang suami istri itu malah benar-benar tertidur slama posisi yang masih sama. Diandra tampak duduk sambil merebahkan kepalanya di sandaran sofa, sedangkan Gio berbaring dengan paha Diandra sebagia bantal, wajahnya menghadap pada perut Diandra, tangannya pun terus memeluk pinggang istrinya.
__ADS_1
Sepertinya aksi mereka hari ini cukup melelahkan, hingga baik Gio maupun Diandra sama-sama, membutuhkan istirahat daripada mengisi perut yang sudah keroncongan sejak tadi.
..................