Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Membayar hutang


__ADS_3

...Happy Reading...


...................


Dari semua yang ada di sini hanya kakak Gio dan keponakannya yang belum dia temui. Apa lagi sambutan dari wanita itu seperti tidak menyukainya.


Jangan sampai aku harus berhadapan dengan ipar lucnut, batin Diandra.


"Ish, sudah dramanya. Diandra, perkenalkan ini Kakaknya Gio, namanya Erika." Hana yang tidak sabar melihat anak pertamanya itu langsung memperkenalkan anak sulungnya pada Diandra.


Diandra tersenyum kemudian mengulurkan tangannya.


"Salam kenal, Kak. Aku Diandra," ujarnya.


"Ish, Mama, gangguin aja," decak Erika, dia kemudian melihat pada tangan Diandra.


Diandra terkejut waktu tiba-tiba kakak iparnya itu memeluknya.


"Mama dan Gita, sudah sering menceritakan kamu, Dian. Sekarang aku senang karena bisa bertemu dengan kamu langsung," ujarnya sambil mengurai pelukannya.


"Terima kasih, Kak," jawab Diandra.


Ternyata pemikirannya tadi salah, kakak Gio tidak termasuk dalam deretan jenis kakak ipar lucnut seperti yang sering dia dengar.


"Ah, gak usah formal gitu, kita kan keluarga jadi bicara santai saja," ujar Erika.


"Oh iya, ini suamiku, Mas Deri," sambungnya lagi memperkenalkan suaminya.


Diandra mengangguk samar sambil tersenyum tipis.


"Aku ... aku!" Anak kecil berusia lima tahun itu tampak melompat–lompat di depan Diandra.


Diandra mengalihkan pandangannya, dia kemudian berjongkok untuk menyetarakan tinggi mereka. Entah kapan anak laki-laki itu turun dari gendongan sang suami.


"Hai, ganteng, namanya siapa?" ujarnya sambil menoel pipi gembul anak laki-laki itu.


"Aku, Ethan," ujar anak laki-laki itu.


"Oh, hai, Ethan. Aku Diandra," ujar Diandra memperkenalkan diri.


"Panggil Aunty, Ethan," sambung Gio.

__ADS_1


"Hai, Aunty." Ethan menurut.


"Sudah-sudah, ayo kita ke dalam, kasihan mereka baru datang." Hana langsung memberikan instruksi pada semua anak dan menantunya.


"Ayo, kita masuk, kalian harus istirahat. Pasti capek kan habis melakukan perjalanan jauh," ujar Hana sambil berjalan menuju ke dalam.


"Enggak juga, Mah. Kita–"


"Kita kan berhenti dulu untuk istirahat, Mah," potong Gio langsung. Dia lupa memberitahu istrinya kalau jangan sampai Mama tahu mereka mampir di apartemen. Bisa-bisa dia yang kena omelan nanti.


Diandra menatap suaminya, membuat Gio mengedipkan mata memberi isyarat agar Diandra menyetujui perkataannya.


"Iya, Mah. Kita istirahat dulu tadi," angguk Diandra dengan senyum terpaksanya.


Mereka melanjutkan mengobrol di ruang keluarga, ternyata keluarga Gio tidak semenyeramkan yang dibayangkan oleh Diandra.


Sama seperti Hana dan Gita, kakak Gio pun tergolong orang kaya yang baik dan ramah. Walau terkadang Diandra tidak bisa masuk ke dalam obrolan mereka.


Menjelang siang Gio mengajak Diandra istirahat ke kamar pribadinya. Diandra kembali dibuat takjub saat melihat kamar pribadi milik Gio, warna-warna gelap dan maskulin tetap menjadi dominan, seperti rumah-rumah Gio sebelumnya.


"Hk!" Diandra terkejut saat Gio langsung memeluknya dari belakang, begitu mereka masuk ke dalam kamar.


"Gio," ujar Diandra dengan kerutan di keningnya tampak jelas.


"Ini masih siang, Gio. Lagian ini di rumah orang tua kamu," ujar Diandra merasa malu jika harus berhubungan di rumah ini.


"Memang kenapa kalau masih siang, sayang?" tanya Gio masih semakin mengeratkan pelukannya.


"Nanti kalau ada yang dengar kan malu," jawab Diandra.


Tadi dia juga dikenakan dengan para pekerja di rumah ini. Ternyata jumlahnya jauh lebih banyak dengan pekerja di rumah Gio yang lainnya. Jujur saja, semua itu membuat Diandra merasa risih.


"Gak akan ada yang dengar, sayang." Gio memutar tubuh Diandra agar menghadap kepadanya.


"Ta–" Diandra tidak sempat melayangkan protes lagi, saat bibirnya sudah dilahap oleh suami casanovanya itu.


Gio baru melepaskan Diandra saat istrinya itu terus memukul dadanya.


"Gio!" Diandra berdecak.


"Kamar ini kedap suara, sayang," jelas Gio langsung menggendong Diandra ala bridal style.

__ADS_1


"Kamu harus membayar beberapa hari ke belakang, dan melunasinya hari ini juga," ujar Gio dengan seringainya.


Deg!


Diandra melebarkan matanya mendengar suara berat dengan penuh nada ancaman dari suaminya.


Gio langsung merebahkan tubuh sempurna istrinya di atas ranjang, melahap kembali bibir Diandra dengan tubuh berada di atas istrinya.


Diandra dengan senang hati membalas pangutan bibir suaminya, bertukar saliva bersama dengan suara decakkan yang tak bisa terelakan. Sebisa mungkin Diandra berusaha mengimbangi permainan panas suaminya yang sudah ahli dalam bidang percintaan.


Tangan Diandra meremas rambut di belakang kepala Gio, saat bibir panas suaminya mulai menjalar turun melalui leher hingga ke tulang selangka. Diandra mengerang, dengan gigi menggigit bibir bawahnya.


"Keluarkan, sayang. Panggil namaku," ujar Gio di sela kegiatannya.


Bibirnya semakin turun, mulai mendaki bukit yang tampak mulus dan menggairahkan, membuat Gio semakin terbakar. Diandra menikmati sensasi rasa nikmat yang terus Gio berikan, di saat lidah tak bertulang itu, memainkan puncak bukit miliknya.


Gio tersenyum saat suara Diandra yang memanggil dirinya bercampur dengan napas yang memburu, terdengar se*si di telinga. Itu begitu indah hingga dirinya tak bisa mengendalikan dirinya.


Kini salah satu tangannya mulai mencari titik nikmat yang lainya, memberikan gerakan halis nan membuai, membuat Diandra menggeram menahan nikmat yang tiada terkira.


Mulut Diandra meracau memohon Gio agar menghentikannya, saat dia merasa sudah tak tahan. Seluruh tubuhnya bergetar menahan sensasi melayang hingga hampir kehilangan kesadaran.


Gio menyeringai menatap wajah Diandra yang sudah sangat berantakan karenanya, tubuh istrinya kini tergeletak lemas di depannya dengan napas memburu dan mata sayu. Dirinya selalu menang menghadapi istrinya, membuat kebanggaan sebagai seorang casanova semakin tinggi.


Tidak, Gio tidak boleh terus seperti ini. Semua ini terlalu nikmat hanya untuk sekedar pemanasan, Diandra bahkan sudah kalah sebelum berperang. Entah kapan seluruh kain yang menutupi tubuhnya sudah hilang. Gio begitu ulung dalam permainan hingga membuat dirinya tidak bisa melawan.


Diandra tidak terima, dia tidak bisa terus kalah dari suaminya, entah dorongan dari mana, Diandra membalik posisi dia bangkit dan menindih tubuh suaminya.


Gio melebarkan mata, melihat sikap Diandra yang lebih agresif dari biasanya. Akan tetapi, sedetik kemudian dia tersenyum senang, melihat Diandra yang tampak lebih menantang saat istrinya berada di atasnya.


Kini Gio pasrah, dia membiarkan istrinya menguasai tubuhnya, memberikan rasa nikmat kepadanya tanpa mau menghangi usaha istrinya.


Diandra mulai menguasi permainan, membuat Gio tidak bisa lagi bersantai saat tubuhnya mulai memanas, terangsang oleh parmainan halus dan tegas istrinya.


Setelah merasa sudah cukup, Gio kembali membalik keadaan, dia memulai merayu kembali tubuh istrinya hingga keduanya siap untuk memulai pertempuran yang sebenarnya di siang hari itu.


Membuat panas udara Jakarta semakin terasa membara, bercampur dengan gelora api percintaan dari sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta.


Suara khas percintaan pun saling bersahutan memenuhi kamar, menjadi simfoni indah ditengah keringat yang bercucuran, merasakan kenikmatan yang terus saja berulang.


.....................

__ADS_1


Di cuaca yang mendung gini, kita intipin sedikit kamar Gio dan Diandra😂


__ADS_2