
...Happy Reading ...
......................
Setelah sarapan bersama, kini Gio bersiap untuk mengantarkan Hana dan Gita ke bandara. Membutuhkan waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit, untuk sampai ke bandara dari rumah Gio.
Gio membuka pintu mobil bagian belakang untuk, Diandra, Hana, dan Gita. Sedangkan Gio duduk di depan bersama dengan Randi yang mengemudiakan mobilnya.
Setelah semuanya siap mobil yang dikendarai oleh Randi, perlahan mulai meninggalkan pelataran rumah Gio.
Dua mobil lainnya yang di tumpangi oleh para anak buah Gio, tampak mengikuti di belakang.
Jam sembilan Hana, Gita, Gio, dan Diandra, sudah berada di bandara kecil yang ada di daerah itu. Sebuah pesawat jet pribadi yang Hana sewa sudah menunggu kedatangan dua orang itu.
Ya, sejak dulu keluarga Purnomo memang tidak pernah berniat untuk membeli sebuah jet pribadi. Mereka lebih suka menaiki pesawat komersial, dan menyewa bila memang sangat mendesak dan dibutuhkan.
Begitu pun saat ini, ketika kepemimpinan sudah beralih pada Gio, sebagai keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Purnomo.
Gio yang lebih suka berada di keramaian dengan pemandangan para wanita cantik, tentu saja memilih bepergian menggunakan pesawat komersial dari pada sebuah jet pribadi.
Gio yang berjalan di belakang ketiga wanita yang disayanginya itu, tiba-tiba menarik tangan Diandra agar bisa memisahkan diri dari Hana dan Gita.
"Apaan sih?!" tanya Diandra kesal, saat dirinya sudah berada di samping Gio.
Gio tersenyum, menatap wajah kesal istrinya.
"Terima kasih ya, udah mau siapain baju buat aku," ujar Gio, tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
Diandra menatap seluruh penampilan Gio lalu berdecak malas.
"S–siapa bilang aku milihin baju buat kamu? Gak ada tuh!" jawab Diandra sambil membuang muka.
"Gak usah malu, aku tau kok kamu yang pilihin baju ini buat aku." Gio sedikit membungkuk untuk menyamakan posisi wajah mereka.
Diandra yang kesal pada perkataan Gio langsung menolehkan wajahnya ke arah suaminya, hingga wajah keduanya hampir saja bersentuhan.
Diandra yang terkejut dengan keberadaan wajah Gio, refleks langsung memundurkan tubuhnya. Akan tetapi, karena gerakannya yang teralu cepat, Diandra kehilangan keseimbangan hingga hampir saja terjatuh.
Gio yang melihat semua itu, langsung menahan tubuh istrinya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Diandra.
"Hati-hati dong, sayang," ujar Gio dengan seringai jahilnya.
Untuk beberapa saat keduanya sempat terdiam dengan mata yang bertaut dalam.
Kamu lucu banget sih, sayang, batin Gio, menatap penuh kasih sayang Diandra.
__ADS_1
Diandra yang baru tersadar akan keterkejutannya, langsung melihat sekelilingnya, dia bahkan tidak menyadari kalau tangannya memegang pundak Gio.
Hampir semua orang yang ada di sekitarnya berdua kini, sedang menatap keduanya, dengan reaksi yang berbeda-beda.
Begitu juga dengan Hana, Gita, Randi, dan para anak buah Gio yang berada di belakang mereka.
"Lepasin, dasar playboy cap kodok!" Diandra langsung memukul pundak Gio, melampisakan rasa kesal juga malunya.
Gio kembali berdiri tegak, sambil menuntun tubuh Diandra untuk berdiri dengan benar, lalu melepaskannya perlahan.
"Kok, playboy sih? Tega banget sih ngatain suami sendiri palyboy," ujar Gio, sambil memastikan tidak ada yang salah dengan istrinya, lalu kembali memegang tangan Diandra.
Diandra yang tau masih menjadi perhatian orang banyak, termasuk keluarga suaminya tidak bisa melawan Gio.
Dia hanya terus berusaha melepaskan tangannya yang bertaut dengan tangan Gio.
"Emang, kamu, playboy kan," jawab Diandra, sambil mulai melangkah berjalan kembali.
Dia berusaha untuk bersikap biasa saja, saat hatinya sendiri ketar-ketir, menahan segala rasa yang bergejolak di dalam dada.
Dasar nyebelin! Kenapa sih, dia selalu bikin aku malu?! batin Diandra.
"Aku bukan playboy, sayang," ujar Gio dengan suara yang lembut.
"Gak usah ngeles. Kamu sengaja kan, pake baju kayak gitu buat nyari perhatian cewek-cewek di sini?"
Gio menatap penampilannya yang dirasa biasa saja.
Ini kan baju yang dia pilihkan. Tapi, kok dia malah marah sih? batin Gio bingung.
"Memang ada yang salah sama penampilan aku? Ini kan baju yang kamu pilihkan buat aku, jadi aku pakai. Tapi, kenapa sekarang kamu marah?" tanya Gio
Diandra menatap Gio dengan mata yang memicing tajam, dia kemudian mengedarkan pandangannya pada sekitarnya, di mana banyak perempuan muda yang terdengar memuji ketampanan suaminya.
"Gak tau ... pikir aja sendiri!" jawab Diandra, merasa kesal entah kepada siapa.
Kenapa aku harus marah gini sih, padahal kan kita sudah janji untuk menganggap hanya teman? batin Diandra.
Dia merasakan panas di dalam hatinya, saat melihat para perempuan muda itu mencuri pandang pada suaminya. Bahkan ada yang terlihat merapihkan tampilannya, agar menarik perhatian Gio.
Ck, dasar perempuan gak tau malu! Bisa-bisanya, mereka menggoda suami orang di depan istrinya sendiri! batin Diandra, menatap tajam setiap perempuan yang tampak melihat Gio penuh minat.
.
.
__ADS_1
"Gio, Dian, Mamah pergi dulu, ya. Kalian baik-baik di sini," pamit Hana pada sepasang suami istri di depannya.
"Iya, Mah. Mamah, gak usah khawatir, kita pasti akan baik-baik aja kok di sini," jawab Gio, sambil merangkul pinggang Diandra, hingga posisi keduanya kini semakin merapat.
"Iya, Mah. Mamah, juga jaga diri baik-baik di sana ya. Jangan sampai banyak pikiran," sambung Diandra lagi.
"Iya, sayang," angguk Hana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Awas!" Hana menyingkirkan tubuh Gio dari samping menantunya, kemudian memeluk Diandra penuh kasih sayang.
Entah mengapa, sejak dirinya mengetahui kisah hidup menantunya, Hana selalu merasa iba dan kasihan pada Diandra. Seorang gadis yang memutuskan untuk hidup sendiri untuk menyembuhkan hati dan tanggung jawab dari mendiang neneknya.
Gio yang terdorong oleh tangan Hana, hanya bisa melihat kedua perempuan yang sedang berpelukan di depannya itu, dengan wajah terkejutnya.
Sedangkan Randi dan Gita yang ada di sampingnya, terkekeh pelan, melihat wajah tidak rela Gio, melihat Diandra berada di pelukan Hana.
"Kak, jagain Kak Dian baik-baik, awas aja kalau nanti Kak Dian sampai lecet!" Gita menunjuk Gio sebagai sebuah ancaman.
"Iya, aku tau!" jawab Gio, sambil memutar boleh matanya.
"Jangan lupa juga, bawa Kak Dian ke Jakarta, jangan diumpetin di sini terus," sambung Gita lagi.
Gio mengangguk.
"Suatu hari nanti aku pasti akan membawa kakak ipar kesayangan kamu itu ke rumah kita," janji Gio, lebih pada dirinya sendiri.
"Kapan-kapan ikut Gio ke Jakarta ya, Dian. Mamah tunggu, kamu, di sana," bisik Hana di telinga Diandra.
Diandra sempat menegang saat mendengar permintaan Hana. Setelah beberapa detik terdiam akhirnya Diandra pun menganggukkan kepalanya.
Hana tersenyum, sambil mengurai pelukannya dengan Diandra, lalu beralih pada Gio.
"Hati-hati di jalan ya, Mah. Kabarin kita kalau sudah sampai di sana." Gio berujar lembut.
Hana mengangguk. "Iya, nanti pasti mamah kabarin kalian."
"Kamu di sini, jaga diri baik-baik, dan jagain istrimu ... jangan sampai dia terluka lagi," ujar Hana, sambil berpelukan kilas dengan Gio.
"Pasti, Mah." Gio berujar mantap.
Setelah berpamitan, Hana dan Gita pun berjalan menuju pesawat pribadi yang mereka sewa, bersama beberapa pengawal yang Gio tugaskan untuk menjaga ibu dan adiknya
......................
Mungkinkah Diandra cemburu?🤔
__ADS_1