
...Happy Reading...
..................
Sampai di vila Gio bernapas lega saat dia bisa melihat istrinya masih terlelap di atas tempat tidur dengan posisi memunggunginya. Perlahan Gio masuk dengan langkah kaki sengaja dibuat senyap, agar dia tidak mengganggu tidur Diandra.
Namun, baru saja Gio menutup pintu kamar, tiba-tiba seluruh lampu di kamar menyala seempak, hingga kamar yang tadinya gelap kini menjadi terang benderang.
Gio memejamkan matanya, saat tahu kalau semua itu pasti ulah istrinya. Perlahan Gio mulai membuka mata, hingga kini dia bisa melihat istri dinginnya itu tengah duduk di tempat tidur dengan gayanya yang angkuh.
Tubuhnya tegap dengan mmbusungkan sedikit dadanya, kedua tangannya tampak menyilang di depan dada. Tatapannya dingin, menyorot Gio penuh curiga.
Gio menarik napas dalam, lalu perlahan menghembuskannya, dia berusaha tersenyum dengan wajah yang dibuat biasa saja.
"Sayang, maaf ya, aku ganggu kamu tidur ya?" ujar Gio sambil mulai melangkahkan kaki santai menghampiri istrinya.
Diandra masih diam, dia hanya terus menatap Gio tanpa bergerak sedikit pun. Ingin sekali Gio tertawa melihat ekspresi wajah istri dinginnya itu, yang menurutnya sangat lucu.
Namun, Gio harus menahannya untuk saat ini, dia tidak ingin membuat kemarahan istrinya itu semakin besar.
"Sayang, maafin aku ya," ujar Gio lagi sambil berlutut di depan istrinya, wajahnya pun dibuat memelas.
"Ke mana, malam-malam begini?" tanya Diandra dingin, dia membuang wajahnya menghindari beradu tatap dengan Gio.
"Aku ada urusan mendadak, jadi ke luar sebentar, sayang. Maaf, aku gak sempat bilang dulu sama kamu," jawab Gio memberi alasan.
"Urusan apa, sampai-sampai gak bisa ditunda sampai besok pagi?" tanya Diandra lagi.
"Sudahlah, gak usah dipikirin, itu hanyamasalh kecil saja," kilah Gio, sambil mengambil tangan istrinya.
Diandra yang masih merasa belum puas dengan alasan Gio hanya diam, tanpa mau menanggapi.
"Sayang, jangan marah lagi, ya. Aku beneran minta maaf, kalau kamu jadi terganggu sama aku." Gio kini beralih duduk di samping Diandra, dia ingin melihat wajah istrinya yang sejak tadi terus berpaling.
"Terserah kamu saja!" jawab Diandra lalu pergi ke lemari baju suaminya, dia mengambil baju ganti untuk Gio lalu menaruhnya di samping lai-laki itu.
"Ganti baju sana, lalu istirahat," sambung Diandra lagi.
Perempuan itu kembali ke tempat tidurnya lalu membaringkan tubuhnya kembali dengan selimut yang menenggelamkan hampir seluruh tubuhnya. Entah kenapa, hatinya sakit saat mendapati Gio ke luar vila tanpa berpamitan padanya, terlebih itu adalah malam hari.
__ADS_1
Mungkinkah rasa takut untuk kembali diselingkuhi oleh pasangannya masih tertanam, hingga Diandra masih sulit untuk mempercayai seseorang, terlebih suaminya sendiri?
Entahlah, Diandra sendiri tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu. Dia tidak menyangka rasa sakitnya kan seperti ini. padahal bila dipikir lagi itu hanyalah perbuatan sepele yang dilakukan oleh suaminya.
Gio menghela napas dalam, dia memilih untuk mengganti baju terlebih dahulu, sebelum acara merayu istrinya yang sedang merjauk. Bukan khawatir, Gio malah merasa senang melihat Diandra marah padanya.
Bukankah marahnya seorang istri itu adalah tanda dia mencintai suaminya? Itulah yang kini menjadi pedoman untuk Gio. Diandra marah hanya karena mengkhawatirkannya, entah itu keselamatannya karena ke luar malam, atau mungkin takut dia mempunyai wanita lain di luar vila.
Ah, sepertinya sekarang percaya diri Gio semakin besar, saat memikirkan Diandra yang berpikiran kalau dirinya mempunyai wanita lain. Mungkinkah semua itu terjadi? Diandra yang dingin akan cemburu pada sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Gio tersenyum saat membayangkan semua itu. Sepertinya semua itu akan menyenangkan jika memang bisa terjadi pada istri dinginnya.
Selesai dengan acara ganti baju dan membersihkan diri, kini Gio bersiap untuk naik ke atas ranjang. Dia memeluk istrinya dari belakang, sesekali dia mencium kepala Diandra.
"Aku tau, kamu belum tidur, kan?" ujar Gio, sambil mengeratkan pelukannya.
"Sayang, jangan lama-lama dong ngambeknya. Aku minta maaf, ya," ujar Gio lagi, tangannya bergerak meraba perut istrinya.
Diandra masih terdiam di posisinya yang berpura-pura tidur, padahal Gio sesudah merasakan tubuh Diandra yang refleks bereaksi saat menerima sentuhan darinya.
"Jangan suka berpikir macam-macam, aku tidak pernah kepikiran untuk berpaling dari kamu, sayang. Kamu saja berada di sisiku, itu sudah sangat cukup untuku," ujar Gio lagi, seakan tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya.
"Sayang."
Diandra semakin mengerutkan tubuhnya saat mendengar suara Gio semakin berat.
"Sudah selesai, kan?" tanya Gio lagi.
Ya, setelah betarung dengan egonya sendiri untuk mencari tahu apa arti dari tanggal merahnya seorang perempuan, akhirnya Gio memberanikan diri untuk bertanya pada Bi Minah, mengingat di vila itu hanya Bi Minah perempuan lainnya selain Diandra.
...***...
"Ohh, tanggal merah itu artinya Neng Dian sedang halangan atau bahasa lainnya menstruasi, Den." Itulah jawaban dari Bi Minah saat Gio bertanya.
Gio memejamkan matanya, menahan malu pada wanita paruh baya itu, apa lagi saat mendengar kekehan kecil dari mulut Bi Minah.
"Jadi itu alasan Diandra jadi galak kayak singa?" gumam Gio yang tanpa sadar juga masih bisa diidengar oleh Bi Minah.
"Iya, Den. Memang kalau perempuan sedang halangan bawaannya suka mau marah-marah, untuk melampiaskan rasa sakit dan tidak nyaman yang dideritanya," jelas Bi Minah.
__ADS_1
Gio melongo, selama ini dia tidak pernah peduli dengan urusan perempuan, walau para perempuan di rumahnya sering menyebut kata 'halangan' atau 'menstruasi' di rumahnya.
"Jadi rasanya sakit?" tanya Gio.
"Iya, Den. Kemarin, Neng Dian sempat nitip pembalut sama obat pereda nyeri khusus untuk masa menstruasi. Sepertinya sakitnya tidak main-main, sampai Neng Dian memesan obat pereda nyeri," jawab Bi Minah.
"Dian memesan obat pereda rasa sakit? Kenapa, Bibi, gak bilang sama aku?" tanya Gio berubah panik.
"Bibi kira, Den Gio, sudah tau," jawab Bi Minah.
"Astaga, Bibi!" kesal Gio, mengacak rambutnya.
Jadi selama ini Diandra terlihat malas untuk melayaninya dan terus uring-uringan itu karena menahan rasa sakit? Gio tidak habis pikir kalau dirinya bisa lengah seperti ini kepada istrinya.
...***...
"Apasih?!" desis Diandra dengan krutan harus di keningnya.
Gio tersenyum, akhirnya istri dinginnya itu mau bersuara juga.
"Tanggalnya udah berubah, kan? Gak merah lagi?" tanya Gio diiringi kekehan kecil di akhir katanya.
"Gak usah aneh-aneh, deh." Diandra berusaha menyingkirkan tangan Gio yang semakin naik ke atas.
"Ayolah, sayang. Udah seminggu lho ini," rayu Gio, dia beralih mencium pipi Diandra bertubi-tubi.
"Gak! Ngapain pergi pake gak bilang-bilang!" tolak Diandra langsung.
"Aku kan cuman gak mau ganggu tidur kamu, sayang," jawab Gio.
"Maafin, ya," sambungnya lagi, dengan suara yang dibuat manja.
"Gak mau, itu hukuman karena pergi gak bilang-bilang." Diandra masih menolak sambil kembali menutup matanya.
"Sayaang, ayolaah ...." Gio terus merayu Diandra dengan memberikan kecupan di pipi dan leher Diandra secara bertubi-tubi, bahkan kini tubuhnya sudah berada di atas tubuh istrinya.
Akhirnya malam itu Diandra kalah juga dengan segala buruk rayu suaminya, dia hanya bisa pasrah menjadi pelampiasan hasrat Gio yang sudah tertahan selama seminggu ini.
Malam menjelang pagi dengan udara yang dingin menusuk tulang, menjadi saksi pergulatan panas di kamar sepasang suami istri itu. Gio bahkan baru melepaskan Diandra setelah fajar mulai menampakkan sinarnya.
__ADS_1
...................