
...Happy Reading...
......................
Diandra baru saja duduk di kursi kerjanya, ketika dering ponselnya terdengar. Dia menatap layar ponsel dengan nomor tak di kenal terlihat di sana.
Perempuan itu, langsung memutuskan telepon itu, tanpa mau mengangkatnya. Akan tetapi, ternyata telepon itu terus berulang hingga membuatnya sedikit terganggu.
"Siapa, Dian? Kok gak do angkat," tanya Romi, yang batu saja datang.
Diandra hanya mengedikkan bahunya, sambil beranjak dari kursi, dan berjalan menuju pantry untuk membuatkan Romi dan dirinya minuman.
"Halo," ujarnya, sambil mulai mengambil cangkir gelas.
"Halo, Diandra. Hah, aku sangat rindu suaramu ini."
Diandra melebarkan matanya, begitu mengenali suara di seberang telpon itu. Gerakan tangannya yang hendak mengambil tempat kopi pun hanya menggantung di udara.
"Jonas?" lirihnya, dengan mata sedikit bergetar.
Diandra mengenakan tangannya, menahan gejolak kemarahan di dalam dirinya, begitu mendengar suara laki-laki yang telah mengabaikan restoran miliknya, dan melukai banyak orang.
"Hahaha! Ternyata kamu masih ingat denganku, aku kira kamu sudah melupakan aku setelah pernikahanmu."
"Apa maksudmu?" tanya Diandra, wajahnya berubah panik mendengar kata-kata pernikahan dari mulut laki-laki itu.
"Haah, ternyata kamu menolakku karena sudah ada laki-laki lain. Akh, sayang sekali, aku tidak tau dari awal."
"Apa? Kamu bilang aku sudah menikah?" tanya Diandra, seakan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jonas.
Padahal jantungnya sudah berdegup dengan bgitu cepat, saat kata-kata pernikahan itu terdengar, dia benar-benar belum siap bila harus mengumumkan tentang pernikahannya.
"Sepertinya dia bukanlah orang sembarangan. Bahkan dengan waktu yang cukup cepat, dia bisa menemukan bukti dan melaporkan aku ke polisi. Wah, benar-benar menantang ... aku tidak sabar ingin segera bermain dengannya. Hahaha!"
Diandra semakin mengepalkan tangannya mendengar perkataan meremehkan dari Jonas.
Ada juga rasa kesal pada Gio, saat dia tau kalau laki-laki yang merupakan suaminya itu telah ikut campur di dalam masalahnya.
"Apa maumu?" tanya Diandra, setelah meredakkan napas yang memburu menahan amarah.
"Ceraikan dia dan datanglah padaku, maka aku akan melepaskannya. Tapi, jika kamu memilih bersama dengannya, maka jangan salahkan aku kalau aku mungkin akan bermain dengannya!"
"Sialan kamu, Jonas! Dasar laki-laki brengsek! Berani kamu menyentuhnya, aku tidak bersumpah akan membuatmu menyesal!" sentak Diandra.
"Hahaha! Kamu masih saja terlihat menawan dengan gaya galakmu itu. Akh, aku jadi sangat merindukanmu." Jonas sekan-akan sengaja terus mempermainkan emosi Diandra.
__ADS_1
Diandra baru saja hendak menghardik Jonas lagi, saat tiba-tiba saja sambungan teleponnya terputus begitu saja.
"Akh, sialan! Dasar laki-laki bajingan! Pengecut!" teriak Diandra, menahan kesal.
Ponselnya bahkan hampir saja dia banting, untuk melampiaskan emosi yang sudah memuncak sampai di ubn-ubun.
Diandra langsung ke luar dari pantry dengan langkah cepat dan tangan yang mengepal kuat.
Diandra menerobos masuk ke dalam ruangan Romi lalu duduk dengan kasar di sofa yang ada di sana. Karyawan yang sedang melaporkan hasil kerjanya pada Romi pun tampak terkejut dengan sikap Diandra.
"Kita lanjutkan ini nanti. Kalian boleh ke luar sekarang," ujar Romi, saat melihat wajah kacau Diandra.
"Baik, Pak," jawab mereka serantak, lalu ke luar dari ruangan itu bersamaan.
Romi menghembuskan napas kasar, melihat penuh prihatin perempuan yang tidak lain adalah saudaranya.
Romi duduk di samping Diandra, dia menatap perempuan yang sedang menyandarkan tubuhnya itu.
Matanya terpejam rapat, dengan tangan dia taruh di atas kening, napasnya pun terdengar memburu, menandakan Diandra sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa, Dian? Tidak biasanya kamu berbuat ceroboh seperti ini," tanyRomi.
Ya, ini kali pertamanya Diandra langsung menerobos masuk ke dalam ruangan, padahal sedang banyak karyawan yang tidak tau, akan hubungan mereka berdua yang sebenarnya.
Diandra terdiam, dia masih berusaha meredam emosi yang masih tersisa, rasanya sekarang dia ingin sekali melampiaskannya entah pada siapa.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Diandara mengangkat tangannya dan menegakkan lagi duduknya.
Dia kemudian menatap Romi dengan seklera mata yang merah. Entah perasaan apa yang dia rasakan saat ini, dia juga tidak tau.
Marah, cemas, kesal, takut, semua itu bercampur menjadi satu di dalam hati dan pikirannya. Membuat dia merasakan buntu dan putus asa dalam satu waktu.
Romi hanya balik menatap manik mata Diandra, dia cukup terkejut begitu melihat wajah sendu saudaranya itu.
"Rom, apa yang harus aku lakukan?" tanya Diandra kemudian.
Diandra mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangannya menutupi semua wajahnya.
"Kenapa dia melakukan semua ini? Kenapa dia harus terlibat dengan masalahku?" lirihnya dengan suara yang menjadi parau, menahan desakan rasa perih yang sudah merambat ke dalam tenggorokannya.
Romi mengerutkan keningnya, mendengar perkataan Diandra, dia bingung siapa yang disebut dengan 'Dia' oleh perempuan di sampingnya.
"Dia? Siapa?" tanya Romi.
"Dasar laki-laki brengsek! Kenapa juga dia harus bertindak sok pahlawan, hah?!" teriak Diandra, sambil menyentak tubuhnya hingga tegak kembali dengan secapat kilat.
__ADS_1
Tentu saja semua itu membuat Romi terkejut dengan sikap Diandra, dia refleks menjauhkan tubuhnya dari jangkauan saudaranya itu.
"Apa sih maunya dia? Belum puas dia datang ke dalam kehidupanku hah? kenapa sekarang dia malah ikut masuk ke dalam masalahku?"
"Apa dia tidak bisa hanya diam saja, dan pura-pura tidak tau?!"
Diandra sepertinya sedang mengeluarkan kekesalannya pada seseorang yang pasti sudah membuatnya sangat kesal sekarang.
Jadi dia sedang kesal pada Gio? batin Romi penuh tanya.
Ya, pasti ini tentang suaminya! Tapi, kenapa dia sampai terlihat frustrasi seperti ini? monolog Romi, di dalam hatinya, sambil terus melihat perubahan sikap Diandra.
"Sebenarnya ada apa ini, Dian? Jangan membuatku bingung," ujar Romi setelah melihat Diandara lebih tenang.
Diandra menoleh melihat wajah bingung Romi.
"Jonas menghubungiku lagi," jawabnya sambil kembali menundukkan kepala.
"Apa? Dia sudah berani menghubungi kamu lagi? Kapan?" tanya Romi.
Tanpa sadar dia juga ikut panik saat mendengar perkataan saudaranya itu.
"Jangan bilang kalauโ" Romi melebarkan matanya saat mengingat dering ponsel Dianda, ketika dirinya baru datang ke kantor.
Diandra mengangguk, seakan tau lanjutan dari perkataan saudarnya.
"Ya, dia menghubungiku saat itu," jawab Diandra.
"Di mana dia sekarang? Apa dia memberitahumu? Biar aku beri pelajaran laki-laki pengecut itu!' tanya Romi dengan nada berapi-api.
Diandra menggeleng.
"Dia hanya menghubungiku karena dia sudah mengetahui pernikahanku dengan Gio," jelas Dian, sambil menutup wajahnya.
"Dia tau tentang pernikahanmu dengan Gio?" tanya Romi memastikan.
Diandra kembali mnegangguk.
"Sepertinya Gio mencoba melaporkannya ke polisi, dengan bukti yang cukup kuat, makanya dia menhubungiku," ujar Diandra.
"Lalu apa yang dia katakan?" tanya Romi.
Laki-laki itu tampak mengepalkan tangannya, merasa geram dengan Jonas.
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...
__ADS_1
...Bersambung...