
...Happy Reading...
....................
“Jangan panggil aku seperti itu lagi, dan jangan dekat-dekat denganku!” ujar Diandra, sambil bangun dan duduk di samping Gio, menatap wajah lelaki itu tajam dan napas yang memburu, entah karena marah, atau terlalu lelah menahan rasa tak nyaman di dalam dadanya.
Gio meringis, mendengar perkataan sarkas dari istrinya. Dia hanya tersenyum sambil mengambil piring berisi menu makan malam Diandra.
“Baiklah. Sekarang kamu makan dulu, ya. Atau mau aku panggil sayang lagi?” ujar Gio, sedikit menggoda istrinya.
Diandra melirik tajam Gio, sambil berdecih malas. Tangannya mengambil piring di tangan suaminya itu, dengan gerakan kasar, hingga makanan di dalamnya hampir saja tumpah, bila Gio tidak sigap, menahan tangan istrinya.
“Pelan-pelan, tidak ada yang akan merebut makanan kamu,” ujarnya sambil terkekeh kecil.
“Kamu pikir aku serakus itu?!” Diandra tidak terima dengan perkataan Gio.
“Tidak, aku tidak pernah berpikir begitu,” sangkal Gio, dengan bibir yang masih saja mengulum senyumnya.
“Sudah, ayo makan. Atau mau aku suapin?” tanya Gio, mengulurkan tangannya, hendak mengambil alih piring di tangan Diandra lagi.
“Gak usah. Aku masih bisa sendiri! Kamu pikir aku ini orang sakit, sampai tidak bisa makan sendiri!” Diandra menjauhkan piring di tangannya dari Gio.
Dia langsung menyuapkan makanan yang berada di sana ke dalam mulutnya.
Gio yang melihat itu, hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan. Hatinya menghangat, bahkan hanya dengan perdebatan kecil seperti ini. Entah kebahagiaan apa yang dia rasakan saat ini, mungkin hanya dialah yang bisa merasakannya.
“Anak pintar,” ujarnya lirih, sambil turun lagi dari ranjang dan beranjak ke kamar mandi.
Diandra melihat punggung tegap milik sang suami yang kini semakin menjauh, dari ujung matanya. Diam-diam dia memperhatikan setiap sikap yang ditunjukkan Gio padanya. Ada rasa perih yang terasa di sudut hatinya, setiap kali dia berbuat kasar atau menolak lelaki itu.
Namun, semua itu dia acuhkan begitu saja. Diandra lebih memilih tetap di jalan yang sudah dia pilih beberapa tahun yang lalu. Memilih tak menghiraukan laki-laki lagi, dan berjalan sendiri tanpa mengharapkan sebuah hubungan.
Menganggap status rumah tangganya, hanya sebagai tulisan di atas kertas, tanpa mau menganggap lebih, bahkan berharap sesuatu.
Setelah melihat pintu kamar mandi tertutup rapat, dia beralih pada makanan di atas piringnya. Mengerutkan kening, saat dia merasa itu bukanlah masakan buatan sang bunda ataupun Yaya.
“Apa dia membelinya di luar?” gumam Diandra, sambil kembali menyuapkan sedok berisi makanan pada mulutnya.
__ADS_1
Menggeleng kepala pelan, menghilangkan segala prasangka di dalam pikirannya dan memilih untuk memakan makannan itu, sebelum Gio kembali berulah padanya.
Bodo amat, dia mau beli dari mana, lagipula rasanya juga tidak buruk untuk dimakan, gumam Diandra di dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Gio ke luar dari kamar mandi, dia tersenyum cerah, saat melihat makanan di piring sudah habis tak bersisa.
“Bagaimana rasanya, enak tidak?” tanya Gio dengan wajah sumringah.
Mengambil piring di tangan Diandra lalu menyimpannya kembali di atas nakas. Beralih mengambil gelas dan menyodorkannya pada sang istri.
“Apa urusanmu, mau enak atau tidak. Yang penting kan aku sudah makan semuanya,” jawab Diandra, sambil menerima gelas dari tangan Gio dan meminumnya.
“Ada dong, kalau menurut kamu enak. Berarti kamu suka makanan yang aku buat,” ujar Gio, dengan gampangnya.
“Uhukh!” Diandra tersedak air minum, ketika mendengar perkataan Gio.
“Hei, minum pelan-pelan. Aku tidak akan meminta minuman kamu,” ujar Gio sambil menepuk pelan punggung Diandra.
Semua itu dia lakukan tanpa sadar, begitupun Diandra yang tanpa sadar telah membiarkan Gio melakukan semua itu padanya. Dia hanya sibuk meredam rasa perih di dalam tenggorokan karena tersedak.
“Kamu masak sendiri?” tanya Diandra, sambil melihat Gio dengan kening berkerut.
“Ya, walaupun aku tak sepintar Ares,” jawab Gio.
Tadi sore, dia sengaja membantu Lisna memasak di dapur, sekaligus banyak bertanya tentang berbagai kebiasaan dan makanan kesukaan Diandra, pada mertuanya itu.
Adai aku tau makanan itu dibuat oleh laki-laki ini, aku gak akan mau makan! decak geram Diandra di dalam hati.
Dia memilih untuk membaringkan kembali tubuhnya, lalu menarik selimut hingga hampir menenggelamkan tubuhnya, dan memejamkan mata dengan membelakangi Gio.
“Aku tau kamu suka, buktinya semuanya habis tak bersisa. Kalau gitu mulai sekarang aku akan masak buat kamu, bagaimana?” tanya Gio, sambil berusaha melihat wajah istrinya.
“Tidak perlu, kamu hanya akan melakukan hal yang sia-sia. Karena, sampai kapan pun, bagiku kamu bukanlah siapa-siapa!” tolak Diandra dengan ucapan yang kasar. Dia bahkan berbicara tanpa mengganti posisinya.
Gio tersenyum, dia berusaha menahan hantaman di dalam hati yang terasa menyesakkan dada. Dengan sekuat tenaga dia menahan diri untuk terus bersabar menghadapi istrinya itu.
Apakah ini adalah hukuman untuku, karena selama ini telah mempermainkan banyak wanita di luar sana? Bila memang benar adanya, maka aku akan menjalaninya dengan ketegaran hati. Aku yakin bisa menyentuh hatinya di kemudian hari. Gio bergumam dalam hati, mencoba memberi semangat kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Selama ini dirinya memang sudah terlalu banyak menyakiti hati wanita, bahkan mungkin dirinya sendiri sudah lupa dengan siapa saja dia pernah berhubungan. Semua itu membuat Gio sadar dan berusaha menerima semua yang sekarang sedang dijalanainya.
Dia beranggapan bahwa ini adalah hukuman atau mungkin sebuah karma yang harus dia tanggung karena masa lalunya. Walaupun begitu, dia tidak pernah menyesal berbuat semua itu. Karena, apa yang dia lakukan tak pernah merugikan wanita yang dikencaninya.
Setiap wanita yang sedang menjalin hubungan dengannya, akan dia manjakan menggunakan materi berlimpah dan berbagai keuntungan di berbagai tempat karena koneksi dan pengaruhnya yang lumayan besar.
“Benarkah? Aku hanya akan berusaha. Urusan hasilnya, kita bisa lihat di akhir nanti. Aku yang akan menyerah lebih dulu, atau kamu yang akan luluh dengan pesonaku.” Gio berbicara dengan penuh percaya diri.
“Baiklah, kita bertaruh ... siapa yang akan jatuh terlebih dahulu, aku atau kamu?”
Gio seakan tak melihat istrinya yang sudah memejamkan mata, dia terus saja berbicara.
Lama tidak mendapat jawaban dari perempuan di hadapannya, Gio akhirnya menyerah.
“Karena kamu diam, aku anggap kamu setuju. Dan aku pastikan aku akan menang dia akhir nanti,” ujarnya dengan nada yakin.
Dia memilih untuk turun kembali dari tempat tidur dan pergi untuk menaruh kembali piring dan gelas ke dapur.
Seiring suara pintu tertutup, Diandra membuka kembali selimut dan dengan tatapan kosong.
“Kenapa kamu tidak menyerah saja? Aku sudah terlanjur tidak percaya akan adanya cinta. Bagiku kamu hanyalah orang asing yang memaksakan diri untuk masuk ke dalam kehidupanku, tanpa tahu apa yang sudah aku alami,” gumam Diandra, membayangkan wajah suaminya.
“Semua usahamu hanyalah akan menambah rasa sakitmu. Karena, aku tidak akan pernah menganggapmu ada .... Sekali orang asing, maka akan tetap seperti itu sampai kapan pun,” sambungnya lagi.
Tanpa terasa ada satu tetes airmata jatuh membasahi pelipis, entah karena apa, Diandra sendiri tidak tahu.
Di luar, Gio berdiri sejenak di depan pintu. Menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, mencoba meyakinkan diri untuk terus berjuang demi rumahtangga yang bahkan baru saja terjalin.
“Aku akan terus berusaha membuatmu mengerti, apa itu rasa cinta dan kasih sayangku,” gumamnya dengan tatapan sendu.
Melirik sekilas pada pintu yang sudah tertutup rapat, seakan dia masih bisa melihat Diandra di dalam sana. Lalu berjalan kembali semakin menjauh.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung
...
__ADS_1