Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.21 Risih


__ADS_3

...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Duduk dengan gerakan kasar, Dian bersidekap dada dengan wajah yang ditekuk.


Tak lama kemudian Gio ikut masuk dan duduk di kursi kemudi, dia melirik sekilas wajah perempuan di sampingnya dengan senyum yang terus mengembang.


"Mana tas aku?" tanya Dian, tanpa basa basi terlebih dahulu.


"Sepertinya kamu sangat tidak sabaran, ya?" bukannya menjawab pertanyaan Dian, Gio malah bertanya dengan nada candaan.


Mobil mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah yang terlihat sederhana itu. Gio terkekeh, merasa lucu dengan sikap Dian yang selalu saja galak padanya.


"Kamu lihat saja ke belakang," jawab Gio kemudian, memberikan isyarat lewat gerakan kepala yang menoleh sekilas.


Dian melihat pada kursi belakang, ternyata benar saja, tasnya berada di atas kursi belakang. Dian membuka sabuk pengaman dan mengambil tasnya, dia kemudian membuka dan mengecek kelengkapan semua isi di dalam tasnya tersebut.


"Kamu meragukanku? Aku bahkan bisa memberikanmu tas dari merek yang sama sebanyak yang kamu minta," ujar Gio, saat melihat Dian memeriksa isi tasnya.


"Bukan tasnya yang aku khawatirkan, tapi, isinya," jawab Dian, begitu terang-terangan.


Dian bahkan tak sungkan untuk mencurigai Gio, akan mengambil barang di dalam tasnya. Padahal dia sendiri tahu kalau Gio bukanlah lelaki sembarangan, apa lagi kekurangan.


Gio tersenyum miris, dia menggeleng kepala, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh perempuan di sampingnya itu.


"Astaga, aku tidak kekurangan uang, hingga mencuri darimu! Kamu tau itu 'kan?" ujar Gio, menatap wajah tak bersalah Dian.


"Kapan aku bilang kamu mencuri dariku?" tanya Dian, membalikan keadaan.


"Kamu memang tidak bilang begitu, tapi, perkataan dan sikapmu itu seperti sedang menuduhku sebagai pencuri," debat Gio.


"Kalau kamu memang tidak melakukannya, kenapa harus tersinggung?" ujar Dian dengan begitu santai.


"Astaga, perempuan ini!" geram Gio.


'Kalau tidak cinta, sudah ku buang kamu ke laut sana!' imbuhnya di dalam hati.


Emosi juga ternyata, menghadapi perempuan yang pandai dalam berkata-kata dan membalikkan fakta. Akan tetapi, anehnya, dia tidak merasakan kebencian atau dendam, walaupun Dian selalu menolak dan berbicara tidak sopan padanya.


Gio malah merasa semakin terjerat dan dibuat penasaran dengan sosok perempuan tak tersentuh seperti Dian ini. Dia yang biasanya dengan mudah mendapatkan perempuan yang dia mau, kini harus berjuang dan bersabar untuk menghadapi setiap sikap angkuh dan dingin Dian.

__ADS_1


Dian tak menjawab lagi, dia lebih memilih untuk diam dan mengacuhkan Gio.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai oleh Gio, sudah terparkir di rumah sakit.


"Terima kasih," ujar Dian sebelum keluar dari mobil.


"Eh, tunggu dulu, aku ikut!" ujar Gio, dia langsung keluar dengan tergesa-gesa dan mengejar langkah Dian yang sudah berjarak lumayan jauh darinya.


"Kok kamu ninggalin aku sih?" tanya Gio, setelah menyamai langkah Dian.


Dian menoleh kilas pada lelaki yang kini berjalan beriringan dengannya, berdecak malas sambil memutar bola matanya, jengah.


"Bukannya kamu mau pergi ke kantor? Ngapain juga pake ikut turun?" tanya Dian, di sela langkahnya.


"Siapa juga yang bilang aku mau pergi ke kantor?" ujar Gio, balik bertanya kepada perempuan di sampingnya.


"Bukannya tadi kamu bilang mau nganterin aku? Sekarang aku sudah sampai di rumah sakit, lalu untuk apa lagi kamu ikut turun?" tanya Dian. Saat ini keduanya sedang berdiri di depan pintu lift.


"Ya, memang aku mau mengantarkan kamu. Tapi, bukan hanya ke rumah sakit ... aku mau mengantarkan kamu ke mana pun kamu pergi hari ini," ujar Gio dengan penuh percaya diri.


Dian menatap Gio dari ujung kaki sampai ujung rambut, dengan kening bertaut dalam. Dia merasa risih dengan lelaki yang kini tengah tersenyum kepadanya.


"Aku tidak butuh kamu antarkan, jadi lebih baik kamu urus saja keperluanmu sendiri dan tidak usah mengurusiku," ujar Dian.


Ting!


Pintu lift terbuka, keduanya masuk bersamaan, berdiri berdampingan dengan beberapa penumpang lift yang lain.


Dian maupun Gio tak melanjutkan perbincangan, keduanya tampak terdiam tanpa ada yang berniat membuka suara selama berada di dalam lift.


Dian berdiri di sisi dengan bersidekap dada, sedangkan GIo berdiri di sampingnya dengan tangan berpegang pada besi stainlees yang berada di belakang pinggang Dian, sehingga sekilas terlihat seperti sedang memegang pinggang atau punggung perempuan di sampingnya itu.


Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah sampai di lantai yang mereka tuju, sama seperti semalam, raut wajah Dian kembali berubah, dengan helaan napas kasar berulang kali di setiap langkahnya.


Gio memutuskan tak lagi membuka suara, dia hanya terus memperhatikan tingkah perempuan di sampingnya, berusaha mendalami perasaan yang kini sedang dirasakan Dian.


Tok ... tok ... tok ....


Ketukan pintu berirama khas itu, menjadi awal sebelum Dian membuka pintu ruangan adiknya dirawat.

__ADS_1


Masuk dengan perlahan, senyum di wajah cantik itu langsung mengembang saat melihat ibu dan adiknya tengah berada di dalam sana.


Gio mengedarkan pandangannya, dia tak lagi melihat lelaki paruh baya yang merupakan ayah dari Dian. Kini dia mulai mengerti kalau keresahan yang di alami olah perempuan itu adalah karena keberadaan ayahnya.


"Selamat pagi, Bunda, Ares," sapa Dian, mencium tangan wanita paruh baya itu, disusul mengacak rambut lelaki muda yang kini sedang duduk bersandar di atas brankar.


"Pagi, Dian."


"Pagi, Kak."


Lisna dan Ares menjawab secara bersamaan. Ibu dan adik dari Dian itu pun tersenyum, melihat kedatangan Dian dan Gio.


Gio menyusul Dian di belakang, kemudian melakukan hal yang sama. Dia memilih duduk di atas sofa saat Dian sedang berbincang dengan Lisna dan Ares.


"Gimana kabar kamu, Res? Maaf, tadi malam Kakak gak bisa menenin kamu," ujar riska, menjadi awal perbincangan mereka.


"Aku baik, Kak. Kakak tenang saja, aku tidak apa-apa ... ini hanya luka kecil. Lagi pula, terkena api dan luka bakar, memang menjadi resiko pekerjaan aku sebagai koki, Kak," jawab Ares dengan begitu santainya.


"Ya, aku tau. Kalau ini hanya terciprat minyak panas atau air mendidih mungkin aku juga gak akan khawatir. Tapi, ini kan luka bakar yang cukup serius," debat Dian.


"Iya ... iya," pasrah Ares, tak mau lagi berdebat dengan kakaknya itu.


Lisna tersenyum melihat perbincangan dua anaknya, walau di salah satu sudut hatinya, dia merasakan sakit saat mengingat satu anak yang lainnya.


"Dokter sudah datang belum?" tanya Dian lagi.


"Sudah, Ares juga sudag diizinkan untuk pulang hari ini. Makanya Ayah sedang mengurus administrasi di bawah, apa kamu tidak bertemu dengannya, tadi?" ujar Lisna, dia menjawab sekaligus memberikan pertanyaan kembali.


Tubuh Dian menegang saat mendengar kata Ayah, walau sesaat kemudian perempuan itu sudah bisa menguasai tubuh dan perasaannya kembali.


"Tidak, Bun. Aku tadi lewat lift yang ada di parkiran," jawab Dian.


Perbincangan itu terus berlanjut, hingga beberapa saat kemudian Dian memberanikan diri untuk menyampaikan usulnya pada Lisna.


"Bu, bagaimana jika Ares pulang ke rumah Dian saja dulu, agar lebih mudah dan dekat untuk kontrol lagi ke sini?" tanya Dian.


"Tidak usah!"


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2