Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Gagal


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Namun, tiba-tiba ada aroma yang mengganggu indra penciuman Diandra, hingga perempuan itu tersadar akan posisinya. Diandra langsung mendorong dada Gio saat bibir keduanya hampir saja menyatu.


"Ada apa?" tanya Gio dengan hati yang terasa kecewa.


Usahanya untuk mendapatkan ciuman dari Diandra pupus sudah, saat perempuan itu sudah tersadar dari keterkejutannya.


"Seperti ada bau gosong," jawab Diandra, dia fokus pada aroma hingga menghiraukan wajah kesal Gio di atasnya.


Gio menautkan kedua alisnya, sambil menajamkan indra penciumannya. Benar saja dia juga mencium bau gosong samar.


Keduanya kembali bertatapan, hingga sedetik kemudian mereka melebarkan mata secara bersamaan.


"Ayam!" ujar keduanya bersamaan.


Gio langsung bangun, disusul dengan Diandra, kemudian mereka berlari ke dapur, saat mengingat kalau keduanya sudah meninggalkan wajan yang sedang menggoreng ayam.


Gio langsung mematikan kompor, keduanya berdiri mematung melihat ayam di dalam wajan yang sudah berganti warna menjadi hitam, dengan asap yang mengepul.


Mereka mendesah bersamaan dengan wajah meringis, melihat masakan yang sudah tidak bisa dimakan lagi. Diandra mengaduk sayur sup yang belum sempat diberi bumbu dengan keadaan kentang dan wortel yang sudah terlalu matang, hingga menjadi lembek.


Diandra meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap Gio dengan wajah bersalah.


"Yah, gagal deh kita makan siang," desah Gio, menatap melas ayam dan sayur di atas kompor. Padahal pikirannya berada pada momen di atas sofa.


"I–itu kan karena kamu ngejar-ngejar aku terus," bantah Diandra langsung mengalihkan kasalahannya pada Gio.


"Eh, mana ada kaya gitu. Kalau kamu gak jahilin aku, aku juga gak bakalan ngejar kamu," debat Gio tidak terima.


"Pokoknya ini semua salah kamu!" ujar Diandra, tidak mau kalah.


Ya, walaupun dia perempuan yang terkenal dingin dengan segala luka di hatinya. Diandra tetap saja seorang perempuan biasa yang selalu ingin menang sendiri dan tidak mau disalahkan.


"Ya sudahlah, aku yang yang salah," pasrah Gio. Cari aman saja, daripada masalahnya akan menjadi panjang melebihi rel kereta api.


Dalam hati dia juga merasa kecewa karena tidak bisa mendapatkan ciuman dari istrinya yang hampir saja terjadi. Akan tetapi, dia juga merasa senang, saat mengingat tawa lepas Diandra yang selama ini hampir tidak pernah dia lihat sebelumnya.

__ADS_1


Gak apa aku mengalah, kalau imbalannya adalah tawa bahagia kamu, sayang, batin Gio.


"Ya sudahlah, karena makanannya udah gak bisa dimakan, lebih baik kita makan di luar saja," ujar Gio.


Diandra mengangguk menyetujui ucapan suaminya. Lagipula sejak awal, dia juga tidak yakin dengan makanan hasil memasak mereka berdua.


Walaupun Diandra tahu kalau Gio lumayan bisa memasak. Akan tetapi, laki-laki itu lebih sering memasak makanan luar, daripada masakan khas Indonesia.


Sudah gagal dapat jatah. Gagal juga makan hasil masakan berdua, batin Gio, sambil berjalan ke dalam kamar untuk mengganti baju, setelah keduanya membereskan dapur terlebih dahulu.


Hah, sepertinya kita harus puasa lebih lama lagi. Sarangmu masih jual mahal. Gio mendesah dalam hati merasa prihatin dengan burungnya yang sudah lama tidak masuk sarang.


Menemukan sarang tetap memang lebih susah, bila dibandingkan dengan tempat singgah.


Beberapa saat kemudian keduanya sudah berganti pakaian dan siap untuk mencari makan siang.


"Makan di mana nih kita?" tanya Gio saat mereka baru saja ke luar dari rumah.


"Di mana aja, yang penting kita makan," jawab Diandra.


Gio tersenyum, selama dirinya sakit Diandra juga selalu makan tepat waktu bersamanya, hingga akhirnya terbiasa seperti sekarang.


"Kamu punya rekomendasi gak? Biasanya Randi yang cari tempat makan, jadi aku gak tau di mana yang enak," ujar Gio.


Gio menggeleng. "Emang kita mau makan seafood?"  Gio menautkan alisnya.


"Kita kan ada di pantai, ya tempat makan banyaknya nyediain seafood," jawab Diandra, sambil mulai berjalan, melewati mobil Gio.


"Kita gak naik mobil?" tanya Gio, dia sudah memegang kunci mobil, bersiap untuk membuka pintu. Akan tetapi, Diandra malah melewatinya.


"Kita naik sepeda aja di depan," jawab Diandra.


Gio langsung menyusul istrinya. "Kok pake sepeda sih?


"Mataharinya gak terlalu terik, enak kalau jalan-jalan pake sepeda," ujar Diandra.


Hari ini cuaca memang tampak berawan dengan angin yang bergembira pelan. Membuat udara terasa lebih sejuk dibandingkan biasanya.


Sampai di tempat penyewaan sepeda, Gio memilih sepeda tandem yang bisa dikendarai berdua langsung. Awalnya Diandra tidak setuju, menurutnya bersepeda sendiri-sendiri lebih mudah.

__ADS_1


Namun, setelah terus mendapat ramuan dari Gio, akhirnya Diandra menyetujuinya, dia mau menggunakan sepeda bersama dengan gio.Gio


"Ribet tau pake sepeda gitu," protes Diandra lagi.


"Enggak kok, nanti aku yang di depan, biar kamu tinggal goes aja," jawab Gio.


Diandra berdecak kesal, dia akhirnya dia tidak menolak juga. Memilih menurut, daripada harus terus berdebat di tempat orang. Rasanya memalukan, dilihat para pengunjung pantai.


Mereka menyusuri jalanan pantai dengan menggunakan sepeda tandem, Daindra yang duduk di belakang tampak asik melihat indahnya pemandangan laut di sampingnya.


Ternyata ide Gio tidak buruk juga, setidaknya dengan begini, dia tidak repot melihat jalan dan lebih fokus menikmati suasana keramaian pantai.


Pengunjung pun masih banyak yang hilir mudik di sekitar pantai, menambah indahnya pemandangan pantai siang itu. Anak-anak tampak masih asik mandi di bibir pantai, ada juga yang sedang berfoto bersama pasangan atau teman-teman, bahkan keluarga.


Melihat tawa bahagia dari wajah yang penuh bahagia, membuat suasana hati Diandra seakan itu merasakan kebahagiaan mereka.


Perempuan itu tersenyum, menikmati setiap momen yang tertangkap oleh mata indahnya.


"Kamu seneng naik sepeda gini ya?" tanya Gio, sambil terus fokus mengendarai sepedanya.


"Enggak juga, paling sesekali kalau sedang merasa bosan," jawab Diandra.


"Ternyata asik juga ya, mengendarai sepeda di sepanjang pantai begini," ujar Gio lagi, sesekali dia tampak mengedarkan pandangannya, menikmati suasana.


"Heem, apalagi kalau menjelang sunset," imbuh Diandra. Dia sering bersepeda di saat menjelang malam.


Udaranya yang sudah terasa sejuk, ditambah pemandangan sunset yang memanjakan mata. Itu semua bagaikan paket lengkap untuk mendapatkan suasana liburan yang sesungguhnya.


Kalau kata anak sekarang. 'Healing, walau dengan bujdet yang minim.'


"Wah, berarti nanti kita harus bersepeda lagi menjelang sunset, ya," pinta Gio.


"Boleh," jawab Diandra.


Pasangan suami istri tanpa cinta itu, terlihat begitu bahagia. Menikmati waktu siang hari dengan senyum yang terus mengembang di bibir keduanya.


Tanpa mereka tahu, kalau berita miring tentang hubungan keduanya terus beredar, berguling bagaikan sebuah bola salju yang semakin lama semakin membesar, tanpa terkendali.


Banyak yang tidak suka melihat kedekatan Gio dan Diandra yang menunjukkan semua itu secara terang-terangan, tanpa adanya pengumuman sebuah ikatan.

__ADS_1


......................


Ish, ish, ish ... kalian pinter banget sih, tebakannya bener semua. Acara ayang-ayangan terlambat sama bau gosong goreng ayam😂


__ADS_2