
...Happy Reading...
...................
Pintu terbuka, Gio cukup terkejut melihat Diandra yang sudah berada di meja rias, dengan masih mengenakan jubah mandinya.
"Sayang, udah selesai mandinya?" tanya Gio sambil membuka salah satu lemari, dia tahu kalau Diandra mungkin merasa canggung untuk membuka lemari miliknya.
"Aku udah nyiapin baju buat kamu, sayang. Semuanya ada di lemari yang ini," ujar Gio setelah pintu salah satu lemari terbuka.
Diandra menoleh, dia melihat lemari itu sudah penuh dengan baju perempuan.
"Aku gak tau ini, cocok tau enggak sama, kamu. tapi, kalau masalah ukuran, aku yakin semua ini muat di kamu," sambung Gio lagi.
Diandra yang mendengar itu langsung melebarkan matanya , sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Apa maksud, kamu?!" Diandra menatap Gio penuh curiga.
"Eh, jangan salah paham dulu, aku tau ukuran kamu dari baju yang dulu kamu tingalkan waktu aku menolong kamu ari preman," sangkal Gio seakan tau apa yang ada di dalam pikiran istrinya.
Diandra pun menghembuskan napasnya kasar, mendengar penjelasan Gio.
"Ya udah, aku mandi dulu ... kamu ganti baju aja di sini, selagi aku sedang mandi," ujar Gio yang langsung diangguki oleh Diandra.
Begitu melihat pintu kamar mandi tertutup, Diandra langsung beranjak menuju ke lemari.
Kapan, dia membeli semu ini? batin Diandra, sambil memilih baju yang sekiranya cocok untuknya.
Diandra bisa melihat merek yang masih tergantung di baju. Semuanya adalah brand ternama yang memiliki harga sangat mahal.
Ya ampun, kenapa semuanya mahal-mahal banget sih! Emang gak bisa ya, dia belanja yang biasa-biasa aja? decak Diandra.
"Tapi, gak aneh juga sih. Kalau di lihat dari baju yang dipakai oleh keluarganya, semua ini pasti sudah biasa untuknya," tebak Diandra, bergumam sendiri.
Diandra pun mengambil baju, lalu memakainya, sebelum Gio ke luar dari kamar mandi.
Setelah Diandra siap dengan dirinya sendiri, perempuan itu menatap lemari yang berisi baju-baju milik Gio.
Apa aku siapin aja, baju buat dia ya? batin Diandra, sambil memperhatikan almari itu.
Tapi, nanti kalau sampai dia duluan ke luar sebelum aku selesai menyiapkannya bagaimana? Kan malu.
__ADS_1
Diandra menatap pintu kamar mandi, dia merasa ragu untuk menyiapkan baju Gio. Akan tetapi, rasa di hati pun semakin dalam, untuk mencoba layani Gio sebagai seorang istri.
Ya udah lah, coba aja dulu. Urusan dengan dia, biar aku pikirin nanti aja!
Diandra langsung membuka lemari ganti Gio. Ternyata di sana tertata rapih, banyak baju yang biasa dipakai oleh Gio.
Diandra mencoba mengambil kemeja dan celana, juga baju untuk pelapis sebelum memakai stelan itu, lalu menaruhnya di atas tempat tidur.
Setelah itu, Diandra langsung pergi ke luar dari kamar, untuk menghindari suaminya.
Untung saja Gio belum ke luar dari kamar mandi, jadi aku bisa langsung kabur dan menghindar darinya.
Diandra segera menutup pintu lalu, bersandar di depannya, sambil menghembuskan napas kasar. Tangannya dia letakkan di depan dada, untuk meredam detak jantungnya yang serasa terus bertalu.
"Pasti malu banget kalau tadi sampai aku ketemu sama dia," desah Diandra, sambil menutup matanya.
Ish, kenapa rasanya aku seperti penencuri yang takut ketahuan pemiliknya?! Diandra memgumpat di dalam hati.
"Dian, kamu ada di sini?"
Pertanyaan dari seseorang yang melewati kamarnya, tentu saja membuat Diandra terkejut bukan main.
"Aku datang tadi malam," sambungnya lagi.
"Oh, maaf-maaf. Aku gak sengaja buat kamu kaget," ujar Randi.
Lagian ngapain juga dia pake diem di depan pintu kayak gitu? Mana sambil merem lagi. Randi meneruskan perkataannya di Dalam hati.
Ya, mana mungkin dia berani mengumpat istri dari yang sangat dicintai oleh bosnya itu. Bisa-bisa dirinya langsung dipindahkan ke tempat yang tidak bisa dia bayangkan sebelumnya, atau mungkin mendapatkan hukuman berat dari bos gila cinta itu.
Diandra mengangguk, lalu berjalan mendahului Randi, untuk menuju meja makan. Dirinya sudah pasti tahu kegiatan seorang ibu seperti Hana di pagi hari.
"Ck, suami sama istri sama aja. Maen pergi aja, gak ada nanyain aku sama sekali gitu?" decak Randi, menatap Diandra yang mulai jauh darinya.
"Randi, aku mendengar apa yang kamu katakan barusan!" ujar Diandra tiba-tiba, membuat Randi gelagapan sendiri.
"A–aku gak ngomong apa-apa kok," bantah Randi langsung, sambil mengibaskan kedua tanganya di depan dada.
Diandra menoleh dengan sorot mata tajam, seakan memberikan ancaman atau peringatan pada asisten pribadi suaminya itu, lalu kembali berbalik dan meneruskan langkahnya.
Astaga, terbuat apa telinganya? Dia bisa mendengar perkataannya dari jarak yang lumayan jauh?
__ADS_1
Randi mengacak rambut di bagian belakang kepalanya, merasa bingung sendiri dengan Diandra.
Pasti itu hanya akal-akalannya aja, untuk membuat aku takut. Ya, pasti begitu ... lagipula mana ada orang yang bisa mendengar dengan tajam seperti itu.
Randi terus bergumam di dalam hati, sambil memperhatikan Diandra yang sudah menghilang di ujung ruangan.
"Sial! Pagi-pagi udah dibikin jantungan aja sama sikap perempuan itu!" gerutunya.
"Perempuan siapa?" Gio yang baru saja ke luar dari kamar bisa mendengar bagian belakang kata yang diucapkan Randi.
"Hah?!" Randi yang terkejut akan kehadiran Gio, langsung berbalik untuk melihat bosnya itu.
"I–itu, tadi aku mimpi ketemu perempuan yang nyebelin banget," ujar Randi, memberikan alasan.
"Oh." Gio mengangguk samar, sambil melihat wajah Randi yang tampak sedikit berantakan.
Cuman, oh doang? batin Randi.
"Kamu, ke mana tadi malam? Kenapa aku pulang kamu belum ada di rumah?" tanya Gio.
"Aku lembur di hotel. Baru pulang tengah malam," jawab Randi malas.
Gara-gara mengerjakan kesepakatan dengan Sujino yang mendadak sendirian, dirinya harus lembur sampai tengah malam, demi memastikan tidak ada yang salah dalam kontrak kerja mereka.
"Oh, baguslah. Nanti siang, kita harus langsung melakukan rencana penangkapan Jonas," jawab Gio, sambil berjalan menyusul ke ruang makan.
Ck, dasar bos tega! Setelah mengerjai aku hampir semalaman, sekarang aku juga harus mengatur rencana penangkapan laki-laki gila itu.
Randi memgumpat dalam hati, walaupun kakinya pun terus melangkah di belakang Gio.
Ya, setelah dia pulang dari hotel, dia masih harus mengejakan berkas yang belum sempat dia kerjakan di hotel, sampai hampir pagi. Hingga akhirnya tadi malam dia hanya bisa tidur beberapa jam saja.
Sampai di ruang makan, ternyata Hana, Gita, dan Diandra sudah berada di sana. Ketiganya sedang berbincang sambil menunggu Gio datang.
"Eh, Gio, ayo sarapan bareng. Tuh, Dian, gak mau makan sebelum kamu datang," ujar Hana, sambil berdiri.
.................
Memulai hal baru mungkin memang terasa sulit. Akan tetapi, itu akan semakin mudah jika kita sudah mulai terbiasa.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1