Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Mengungkapkan luka


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


"Hei, kenapa ngomong gitu, hem? Pantas dan tidak pantasnya kamu untuk jadi istriku, hanya aku yang boleh menentukan. Dan, menurutku, kamu benar-benar pantas berada di posisi saat ini," ujar Gio.


Diandra membalas tatapan dalam Gio, ada rasa hangat bercampur perih, saat Gio masih saja bersikap lembut padanya, ketika dirinya masih tetap berdiri di atas kenangan masa lalunya.


"Kamu cukup melihatku, karena yang akan menjalani hidup bersamamu adalah aku. Hiraukan saja semua perkataan orang, karena aku tidak akan pernah perduli apa pun yang mereka katakan tentang kamu. Di hatiku hanya ada kamu, yang sekarang dan di masa depan ... sedangkan masa lalu, tetap akan menjadi masa lalu sampai kapan pun."


Gio terus meyakinkan istrinya kalau dirinya benar-benar tulus mencintai Diandra. Dia tidak sama dengan laki-laki dari masa lalu Dianda yang berpikiran pendek, hingga menjadikan perempuan di depannya sebagai alat untuk membalas dendam.


Mata Diandra memanas, mendengar perkataan Gio. Dia berusaha mencari kebohongan di dalam mata hitam milik Gio.


Namun, semakin dia mencari, dia malah semakin yakin kalau Gio jujur dan tulus padanya. Sorot mata tajam berselimut kelembutan itu, membuat Diandra merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Gio menangkup wajah Diandra, dua ibu jarinya bergerak halus, menghapus air mata yang perlahan menetes membasahi pipi.


"Sayang, kenapa kamu menangis, hem? Apa ada kata-kata aku yang menyakiti hatimu?" Gio terlihat sangat panik melihat Diandra meneteskan air matanya.


Selama dirinya menikah dengan Diandra, dia tidak pernah melihat istrinya itu meneteskan air mata di depan orang lain selain Romi.


Namun, kali ini Diandra terlihat berubah menjadi sosok perempuan yang rapuh. Itu semua terlihat jelas dari air mata yang tidak bisa dia bendung.


Diandra menggeleng, dia kemudian menunuduk, tidak sanggup lagi menatap wajah suaminya.


"Maaf," ujarnya lirih.


"Tidak ada yang harus dimaafkan, sayang. Kamu tidak perlu mengatakan itu." Gio langsung menyangkal, dia sama sekali tidak menyalahkan Diandra, pada keadaan rumah tangga yng mereka jalani saat ini.


"Menjadi suami kamu adalah sebuah keputusan yang sudah aku pilih. Sejak saat itu, aku sudah bertekad untuk menerima dirimu, apa pun yang terjadi. Jadi, jangan pernah salahkan dirimu atas apa yang terjadi." Gio kembali menjelaskan.


"Setiap hubungan membutuhkan sebuah proses untuk saling mendekatkan, apa lagi menimbukan kasih sayang. Kita adalah dua orang berbeda yang sama-sama tidak saling mengenal, lalu dipersatukan dengan sebuah ikatan suci pernikahan."


"Mungkin, inilah proses kita berdua. Kisah unik yang dipersatukan terlebih dahulu, sebelum mengenal, hingga kita tidak usah takut untuk memulai semua yang ingin kita lakukan, juga memberikan kemudahan untuk kita lebih dekat dan saling mengenal tanpa adanya sebuah penghalang."

__ADS_1


"Aku senang dipertemukan dengan kamu, entah itu di hari pertama kita bertemu, hari ini dan hari-hari berikutnya. Bila memang semua itu akan terulang kembali, maka aku akan tetap memilih untuk bertemu dengan kamu dan menjadi suami kamu, seperti sekarang."


Air mata yang mengalir di pipi Diandra semakin deras, saat Gio mengungkapkan isi hatinya. Dia tidak pernah membayangkan akan ada seseorang yang begitu tulus mencintainya seperti Gio.


"Asal kamu tau, sayang. Aku bahkan sudah jatuh cinta ketika aku pertamakali melihatmu, dan akhirnya kita dipertemukan. Sejak saat itu aku sudah bertekad, untuk menjadikan kamu sebagai istriku dan pemilik hatiku."


"Aku tidak pantas untuk mendapatkan semua itu dari kamu, Gio. Aku hanyalah perempuan kotor dengan semua gosip miring yang akan membuat kamu semakin terluka." Diandra berujar lirih.


"Aku tidak perduli dengan semua itu, sayang. Yang aku inginkan saat ini adalah dirimu."


"Tapi, aku hanya akan membuat nama baik kamu jelek di mata umum." Diandra masih saja menyangkal pernyataan cinta dari Gio.


"Itu tidak masalah. Orang lain hanya bisa melihat kita dan berbicara omong kosong, mereka akan lelah dan melupakan semua itu seiring berjalannya waktu."


"Biarkan saja mereka puas dengan mulut dan pikiran kotor mereka ... kita tidak perlu menjelaskan hanya untuk membungkam setiap suara sumbang di sekitar. Kita hanya perlu menutup mata dan telinga, lalu biarkan mereka berbicara."


"Kamu tau, sayang? Mereka yang hanya bisa membicarakan kita dibelakang, tidak akan pernah bisa berada di depan kita. Mereka hanya ditakdirkan, untuk terus berada di belakang kita hingga tanpa sadar akan tertinggal."


"Jangan pernah takut hanya karena perkataan orang, sayang. Mereka bukanlah orang yang pantas untuk kita pikirkan. Toh, kita juga gak minta makan pada mereka, ngapain juga pake dipikirin."


Diandra menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang semakin sulit dia tahan, saat mendengar perkataan Gio tentang omongan orang. Dia sadar dirinya memang terlalu takut untuk menghadapi setiap hinaan dari orang luar.


"Tapi, itu sangat sulit untuk dilakukan," ujar Diandra, sambil menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Gio.


Perlahan tangan Diandra terulur dan membalas pelukan Gio, dia menumpahkan semua rasa sakit yang selama ini selalu terpendam di dalam hati.


"Aku tau, sayang. Semua itu memang tidak mudah. Tapi, aku yakin, kamu, pasti bisa melewatinya ... karena kamu adalah seorang perempuan yang sudah dipilih, untuk menjalani semua ini." Gio berusaha menguatkan hati istrinya.


Diandra semakin terisak, entah mengapa malam ini dia merasa hatinya terusik oleh setiap kelembutan yang dilakukan oleh Gio untuknya.


"Aku takut, pada mereka yang selalu melihatku hina ... aku takut pada ucapan menyakitkan yang akan menambah luka," ujar Diandra di sela isak tangisnya.


Gio menepuk pelan punggung Diandra, dia berusaha menengkan istrinya, walaupun dirinya sendiri merasakan sakit saat Diandra mulai mengungkapkan isi hatinya.


"Aku takut mereka akan kembali membuat aku terpuruk ... aku takut semua itu terulang kembali ... aku takut–"

__ADS_1


Diandra sedikit mencengkram baju Gio, saat bayangan masa-masa menyakitkan yang harus dia lalui sendiri di masa lalu, kembali melintas di kepala.


"Sshhh, tidak ada yang perlu kamu takutkan, sayang. Ingat, aku akan selalu ada di sini. Cukup percaya padaku, maka aku akan berusaha selalu menjaga kamu." Gio berusaha membuat Diandra yakin, akan keberadaannya.


"Menangislah, keluarkan semua yang selama ini kamu sembunyikan dari orang lain, ungkapkan semua kekecewaan yang sudah lama terpendam," ujar Gio, membuat tangis Diandra pecah.


Hilang sudah pertahanan di hatinya yang selama ini dia bangun dengan sangat kuat. Semuanya hancur hanya dengan kehangatan dan kasih sayang yang dia dapatkan, dari Gio dan keluarganya.


Rasa bersalah yang dia miliki untuk Gio, ternyata menjadikan celah di hati Diandra untuk Gio masuk secara perlahan.


Gio tersenyum tipis, dia kini memilih diam dan membiarkan Diandra mulai mengungkapkan setiap rasa di dalam hatinya.


"Kenapa semua ini terjadi padaku dan keluargaku? Apa salahku, sampai mereka lebih mempercayai laki-laki brengsek itu dibandingkan aku?"


"Kenapa mereka tidak pernah bisa mendengar penjelasan aku? Kenapa ... kenapa mereka tega menghancurkan keluargaku?"


"Aku capek ... aku capek," lirih Diandra.


"Andaikan aku sudah tau di mana Ana, dan memastikan kehidupannya bahagia, ingin rasanya aku menghilang saja. Dia pergi karena salahku, karena aku yang tidak bisa menjaganya."


"Ya, aku adalah seorang kakak yang tidak bisa menjaga adik-adiknya. Ana pergi, dia lebih memilih orang lain dari pada kami ... Ares kecelakaan di restoran miliku sendiri, dan itu juga karena aku."


"Aku memang gak pantas jadi seorang kakak." Diandra terus meracau mengungkapkan isi hatinya.


Gio menggeleng pelan, matanya sudah memerah, menahan sakit di dalam hatinya, saat mengetahui kalau ternyata Diandra menyalahkan dirinya sendiri atas semua kejadian di masa lalunya.


"Aku bahkan gak pantas untuk hidup. Kamu, tau?" ujar Diandra, membuat Gio menggeleng.


"Nenekku meninggal karena aku, dia terpukul karena kegagalan penikahanku, dan keluargaku hancur, juga karena kebodohanku. Aku terlalu buruk untuk, kamu ... aku gak pantas."


....................


Terkadang kita lebih memilih untuk menutupi luka dan menguburnya di dalam hati, walaupun sebenarnya kita juga tidak bisa memaafkan dan melupakannya. Berharap cara itu adalah yang terbaik untuk menjalani hidup dengan baik kedepannya. Tanpa sadar, kita bahkan sudah berubah menjadi seseorang yang berbeda karena luka yang belum terselesaikan.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2