
...Happy Reading...
...................
Dari arah pintu terlihat Eros dan Lisna berjalan ke luar bersama.
"Ares, gak boleh teriak-teriak begitu, gak enak didengar tetangga," omel Lisna pada anak bungsunya.
"Ayo turun, Kak. Sini biar aku yang gendong si kecil," ajak Ares, tidak memedulikan omelan ibunya.
Ares membuka pintu lalu mengambil Andra dari pangkuan Ana. Awalnya Andra tampak ragu, akan tetapi, saat dia melihat anggukkan kepala dari Ana, dia akhirnya mau.
"Bun, lihat Ares gendong siapa?" dengan polosnya Ares langsung berbalik melihat kedua orang tuanya.
"Ya ampun, ganteng banget, anak siapa ini, Res?" tanya Lisna sambil menghampiri Ares.
Berbeda dengan Lisna yang terlihat teralihkan oleh kedatangan anak laki-laki di gendongan Ares, Eros malah terpaku saat melihat Ana turun dari mobil, dan kini berdiri canggung tidak jauh darinya.
"Ana?" lirih Eros, yang langsung mendapat reaksi dari istrinya.
Lisna langsung menatap Eros dengan penuh tanya, lalu mengikuti arah pandangan suaminya. Dia mematung melihat wajah anak ke duanya yang kini tampak sangat berbeda.
Mata Lisna memanas, dengan dada yang terasa sesak, dia bahagia, sungguh. Inilah momen yang selama ini dia tunggu-tunggu. Kehadiran anak-anak perempuannya.
"Ana, anakku," ujar Lisna sambil berjalan kemudian memeluk Ana dengan penuh kasih sayang. Mencurahkan segala kerinduan yang terlah lama terpendam.
"Bunda, maafin Ana," lirih Ana dengan air mata yang sudah tumpah membanjiri pipinya. Kedua tangan bergetar itu langsung membalas pelukan Lisna, wanita yang telah melahirkannya.
"Ke mana saja kamu selama ini, Ana? Kenapa gak pernah ngabarin Bunda? Bunda kangen sekali sama kamu, sayang." Lisna terus berucap di sela isak tangis bahagianya.
"Maaf, Bunda ... maafin Ana." Hanya kata itu yang bisa ke luar dari mulut bergetar Ana.
Sementara itu Gio ke luar dari pintu kemudi, dia memutar untuk membuka pintu di sebelahnya. Eros yang melihat itu semua hanya bisa mengikuti menantunya dengan pandangan mata.
__ADS_1
Dalam hati ada harapan jika anak sulungnya juga ikut pulang bersama menantu dan anak ke duanya.
Eros baru saja melangkahkan kakinya, hendak menyapa sang menantu, saat melihat sosok yang sedang dia pikirkan ke luar dari mobil dengan bantuan Gio.
Saat itu juga, air mata yang sejak tadi dia tahan tidak bisa lagi terbendung, satu tetes bulir bening itu lolos seiring kepalanya yang menoleh, untuk menyembunyikan rasa harunya.
Tidak ada seorang ayah pun yang ingin terlihat lemah, dan itu juga yang Eros rasakan. Dia tidak mau jika sampai air matanya terlihat oleh para anaknya, walau itu adalah air mata bentuk dari kebahagiaan yang membuncah di dalam dada.
Gio tersenyum sambil merangkul Diandra di sampingnya, membawanya mendekat pada Eros dan Lisna, yang kini juga sudah mengurai pelukannya, dan mengetahui kedatangan anak sulungnya itu.
"Dian, kamu pulang, Nak," ujar lirih Lisna, beralih memeluk Diandra.
"Bunda." Diandra langsung memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu, isak tangis itu kembali pecah, menghiasi pertemuan keluarga yang udah tiga tahun ini terpisah.
Gio menghampiri Ares dan Eros yang masih berdiri, di bagian belakang ke tiga wanita yang sedang menangis itu.
"Terima kasih, Gio. Kamu sudah mengembalikan anak-anak Ayah kembali pulang ke rumah," ujar Eros, setelah Gio menciun punggung tangannya.
Berbeda dengan Lisna yang bisa mengungkapkan rasa rindu dan kasih sayangnya pada setiap anak perempuannya, Eros tampak hanya tersenyum, tanpa berusaha untuk memeluk atau menyambut kedatangan dua anak kembarnya itu.
Eros memang termasuk sosok laki-laki yang dingin, dia tidak bisa menunjukkan kasih sayangnya secara terang-terangan. Akan tetapi, itu semua tidak berarti dia tidak menyayangi anak dan istrinya.
Eros mempunyai caranya sendiri untuk mencintai dan menyayangi, tanpa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Walau terkadang dia tidak menyadari, ada seseorang yang memang butuh mendengar ungkapan kasih sayang, dan berakhir salah paham karena semua itu.
Itu juga yang terjadi pada Diandra dan Diana. Mereka hanya salah paham dengan kasih sayang yang diberikan oleh Eros sebagai sosok Ayah. Kedua anak perempuan yang beberapa tahun lalu masih belum mengerti arti sebuah rasa, mengira kalau Eros tidak pernah menyayangi mereka, hanya karena tidak pernah mendengar kata itu terucap, atau bahkan sebuah perlakuan manis, seperti pada umumnya.
Padahal, di balik sikap dingin dan kaku Eros sebagai seorang Ayah, ada begitu besar kasih sayang di dalam hatiya, hingga dia berani melakukan apa pun untuk kebahagiaan anaknya, juga mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhnya.
Namun, ternyata kenyataan memang selalu lebih sulit dari perkiraan kita, seorang ayah yang masih terus belajar itu, melupakan sesuatu yang sangat penting di dalam mendidik seorang anak perempuan.
Dia lupa, jika hati seorang perempuan lebih lembut dari seorang laki-laki, mereka butuh sebuah ungkapan kasih sayang, walau itu hanya sebatas sebuah perhatian kecil, agar mereka tidak pernah ragu atas kasih sayang orang tuanya.
Begitu juga dengan Diandra dan Ana, mereka hanya butuh sebuah perhatian, hingga terus mencari perhatian, walau akhirnya mereka tersesat.
__ADS_1
"Ini semua karena Dian, Yah," jawab Gio.
Eros menatap menantunya dengan kening bertaut, begitu juga Ares. Mereka berdua sepertinya terkejut mendengar jawaban Gio.
"Awalnya Ana, tidak mau pulang, dia merasa takut dan malu untuk kembali, apa lagi kini sudah ada Andra di sampingnya." Gio melihat Andra yang berada di gendongan Ares.
"Tapi, Diandra meyakinkan Ana, agar dia mau pulang ke sini. Diandra juga yang berjanji akan mengantarkan Ana dan menemani Ana pulang," jelas Gio, mengingat peristiwa di vila beberapa hari yang lalu.
"Diandra sebenarnya sudah lama ingin pulang ke sini, Yah, Res. Tapi, dia hanya takut tidak bisa menahan rasa takutnya jika harus kembali menghadapi orang-orang yang sama, yang mengetahui masalahnya di masa lalu. Dia hanya butuh sadaran dan orang yang mampu memberikan kepercayaan untuk melindunginya, dari apa pun yang akan menimpanya di sini."
Sekuat apa pun Diandra di luar, dia hanyalah alah seorang perempuan yang berusaha menutup luka masa lalunya, imbuhnya di dalam hati.
Eros dan Ares tapak terpaku, menatap ketiga perempuan yang kini sedang berpelukan sambil menangis.
Eros berdehem, kemudian berujar. "Ayo masuk, tidak enak begini di luar, nanti dilihat tetangga."
Eros kemudian mengambil Andra dari tangan Ares lalu mengajaknya ke dalam lebih dulu.
Gio memberikan jalan untuk ketiga perempuan itu, kemudian mengikuti mereka dari belakang. Dia ikut senang melihat keluarga istrinya kembali bersama-sama.
Sementara Ares bertugas menyambut kedatangan para anak buah Gio yang dipimpin oleh Randi. Dia membawa mereka semua ke salah satu saung yang ada di samping rumah, untuk menikmati minum dan camilan di sana.
Randi yang sejak tadi hanya diam menonton drama pertemuan keluarga yang bisa membuat matanya berkaca-kaca itu, memilih ikut bersama Ares.
Dalam hati dia mengumpat kesal, karena ternyata dirinya juga tidak kuat melihat pertemuan keluarga Diandra. Untung saja, bukan hanya dirinya yang tampak berkaca-kaca, ternyata ada juga salah satu anak buahnya yang bahkan sampai ikut menangis melihat itu semua.
Ternyata tampang sangar dan badan tegap, tidak menjamin kalau laki-laki itu hatinya keras dan kuat. Buktinya, hampir semua anak buah Gio, ikut tersentuh dengan kejadian itu.
...................
Cinta seorang Ayah kadang tersembunyi dalam sifat tegas juga kerasnya. Bukan karena tidak menyayangi dia bersikap seperti itu ... semua itu karena seorang Ayah ingin melihat anak-anaknya kuat dan mandiri, walaupun dirinya sudah tidak bisa lagi bersama.
...Apa hari ini kalian udah bilang terima kasih sama Ayah? Atau malah terlambat menyadari, karena dia telah berpulang lebih dahulu?🥲...
__ADS_1