Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Teman baru


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Diandra berjalan cepat menuju ruang kesehatan yang tersedia di perusahaan, mendengar seorang perempuan yang mengandung tanpa ada suami, mengingatkannya pada Ana, hingga tanpa sadar Diandra langsung berjalan cepat menuju tempat perempuan itu dibawa.


Diandra mengepalkan tangannya saat mendengar banyak karyawan membicarakan dan menghujat perempuan itu.


"Gila ya tuh orang, masa ketahuan hamil di luar nikah di kantor, bikin malu nama perusahaan saja!"


"Jangan-jangan dia kalau malam terima BO makannya bisa hamil duluan."


"Wah, tau begitu aku mau tuh icip-icip, lumayan kan dia itu cantik banget!"


"Aku juga mau! Daun muda kayak dia pasti masih hot banget tuh."


"Eh, aku dengar dia itu simpanan om-om beristri, jadi baby gula gitu."


Itulah beberapa perkataan sumbang yang terdengar oleh Diandra di saat dia berjalan untuk menemui perempuan itu.


Dasar manusia tidak tau diri, bisanya hanya menilai orang lain tanpa mau berkaca untuk dirinya sendiri! batin Diandra, menghardik di dalam hati.


Sampai di depan ruang kesehatan, Diandra berpapasan dengan tenaga medis yang bertugas.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Diandra.


"Sepertinya dia terkejut dengan kabar ini, aku sengaja meninggalkanya agar dia bisa berisirahat," jawab petugas medis itu.


Diandra menganggukan kepalanya sambil melirik pada celah pintu, melihat perempuan yang tampak masih duduk diam di atas brankar.


Dia pasti sangat terguncang sekarang, batin Diandra merasa kasihan pada perempuan itu.


Dia seakan bisa merasakan penderitaan yang dirasakan oleh perempuan itu, mengingat dulu dirinya juga pernah dituduh telah hamil di luar nikah.


Diandra terdiam cukup lama di depan ruangan itu, hingga terdengar suara isak tangis dari dalam ruangan.


"Kenapa kamu harus hadir? Kenapa? Apa belum cukup semua penderitaan yang sudah aku lalui?" terdengar suara lirih dari dalam ruangan.


Diandra melihat peremuan itu tampak menangis semakin kencang hingga tanpa di sangka perempuan tu mencoba menyakiti dirinya sendiri dengan cara memukul perutnya dengan cukup kencang.


Astaga, apa yang mau dia lakukan?! batin Diandra melebarkan matanya.


Tanpa pikir panjang Diandra langsung menerobos masuk ke dalam rangan untuk menghentikan apa yang sedang perempuan itu lakukan.


"Hei, hentikan! Apa-apaan kamu, berbuat begitu, hah?!" sentak Diandra sambil memegang kedua tangan perempuan itu.


"Aku mau membunuhnya, dia tidak boleh hidup, aku tidak mau dia hidup!" teriak perempuan itu sambil memberontak berusaha melepaskan diri dari cekalan Diandra.


"Apa pun yang kamu lalui di dalam hidupmu, dia tidak bersalah! Dia hanya ingin hidup dan itu adalah haknya sebagai seorang anak, yang bahkan belum lahir ke dunia ini," debat Diandra yang membuat tangis perempuan itu semakin pecah.


"Justru karena dia belum lahir, jadi dia tidak boleh lahir!" debat perempuan itu, sambil terus mencoba melepaskan diri dari Diandra.

__ADS_1


Diandra memluk perempuan rapuh itu, dia berusaha memberikan kehangatan bagi hati yang sedang terluka. Dia membiarkan tangis perempuan itu pecah di dalam pelukannya.


"Aku memang tidak tahu apa yang mereka sedang rasakan saat ini. Tapi, jangan pernah melakukan sesuatu yang akan membuat kamu menyesal seumur hidup, hanya karena kamu gagal mengendalikan emosi," ujar Diandra sambil mengelus punggung perempuan itu lembut.


Beberap menit berjalan akhirnya perempuan itu terlihat lebih tenang, Diandra pun melepaskan pelukannya perlahan.


"Sudah lebih baik?" tanya Diandra dengan senyum lembutnya.


"Terima kasih," lirih perempuan itu setelah mengangguk.


"Apa pun yang kamu alami sebelum atau setelah hari ini, ingatlah kalau anak ini tidak pernah salah, dan tidak berhak untuk menerima kemarahan kamu atas apa yang kamu alami," ujar Diandra sambil mengusap lembut perut bagian bawah perempuan itu.


"Dia adalah anugrah, dan Tuhan pasti memiliki alasan memilih kamu untuk menerima semua ini," sambungnya lagi, menatap wajah sembab perempuan yang ada di depannya.


Mata keduanya sempat bertaut dalam, perempuan itu terlihat mencoba menyelami sorot mata Diandra.


"Ini kartu namaku, kalau kamu membutuhkan bantuan hubungi saja aku," ujar Diandra memberikan kartu namanya.


"Terima kasih," jawab perempuan itu sambil menerima kartu nama milik Diandra dengan tangan bergetar.


"Jaga kesehatanmu baik-baik, ingat kalau sekarang kamu sedang membawa nyawa lain di dalam tubuhmu," pesan Diandra yang diangguki samar oleh perempuan itu.


"Aku akan mengingat perkataan kamu, Mba," angguk perempuan itu.


"Kalau begitu lebih baik kamu pulang dulu saja, ayo biar aku antar, di sini bukan lagi tempat yang baik untuk seorang perempuan yang sedang hamil muda seperti kamu," ujar Diandra sambil mengulurkan tangannnya.


Perempuan muda itu menyambut uluran tangan Diandra, mereka berjalan bersama untuk ke luar dari area kantor, padahal itu baru setengah hari kerja.


Untung saja pagi itu Diandra memilih untuk bawa mobil sendiri ke kantor, tentu saja dengan memakai salah satu mobil Gio yang banyak terparkir di garasi. Diandra sengaja memilih mobil yang paling murah dari banyaknya jajaran mobil berharga fantastis di garasi.


"Ayo masuk," ujar Diandra begitu mereka sampai di parkiran.


"Ini mobil milik, Mba?" tanya perempuan itu.


"Bukan sih, ini milih keluarga aku, ayo masuk," ajak Diandra lagi, sambil bersiap membuka pintu.


Tidak aneh kalau perempuan itu merasa janggal saat melihat mobil yang dibawa oleh Diandra, karena saat ini Diandra menggunakan mobil dengan merek BMW dengan model yang tergolong baru, yang pasti hanya akan dimiliki oleh orang-orang dari kalangan petinggi perusahaan.


Beberapa saat berkendara Diandra sampai di sebuah rumah kontrakan sederhana yang ada di pinggiran kota.


"Ini rumah kamu?" tanya Diandra sambil mengedarkan pandangannya.


"Iya, Mba. Mau mampir dulu?" tanya perempuan muda itu.


"Boleh, kebetulan aku juga udah terlanjur izin pulang ke kantor, jadi hari ini aku free," ujar Diandra, sambil melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya.


Keduanya tampak ke luar dari mobil, terlihat banyak tetangga dan anak kecil yang menjadikan mobil Diandra sebagai bahan perhatian.


"Kamu, sudah lama tinggal di sini?" tanya Diandra lagi, melihat reaksi para tetangga perempuan itu yang terlihat ramah.


"Tidak, aku baru pindah satu bulan yang lalu," jawab perempuan itu.

__ADS_1


"Ternyata warga di sini terlihat termasuk ramah, ya sama orang baru," ujar Diandra sambil menunggu peremuan itu membuka kunci.


"Tapi, aku tidak janji sikap mereka akan sama, jika mereka tau kalau saat ini aku sedang hamil, tanpa adanya suami di sisiku," lirih gadis itu.


Diandra menatap wajah penuh kesedihan perempuan itu, dia sungguh tidak tega melihat wanita rapuh di depannya.


"Kamu adalah wanita kuat dan wanita terpilih, untuk Tuhan berikan cobaan yang berat. Tentu saja itu semua karena Tuhan yakin kamu bisa melakukannya," ujar Diandra, mencoba melapangkan hati perempuan itu.


Perempuan itu tampak tersenyum tipis, kemudian mengangguk samar sebagai jawaban.


"Masuk, Mba. Maaf rumahnya kecil," ujar perempuan itu lagi.


"Terima kasih, aku masuk, ya." Diandra masuk ke dalam kontrakan kecil itu.


"Rumah kamu rapi, sepertinya aku nyaman," ujar Diandra, sambil duduk di atas karpet plastik.


Entah kenapa melihat nasib perempuan itu yang hampir sama dengan Ana, membuat Diandra mempunyai keinginan untuk lebih dekat lagi, padahal biasanya dia akan sangat menghindari berbicara dengan orang baru.


"Oh iya, kita belum kenalan. Aku Dian, staf sekretaris di kantor. Kamu?" tanya Diandra.


"Aku Lintang, Mba. Salah satu pegawai cleaning servis di kantor itu. Aku baru bekerja beberapa minggu ini," ujar perempuan itu yang ternyata bernama Lintang.


"Loh, bukannya kamu adalah pegawai magang?" tanya Diandra, mengingat ucapan Tia saat membicarakan Lintang tadi.


"Bukan, Mba. Mungkin karena tubuhku yang kecil, ditambah waktu masuk kerjaku berbarengan dengan para pemagang, jadi karyawan yang lain pada mengira aku salah satu dari mereka," jelas Lintang.


"Oh gitu, ternyata mereka semua salah paham, ya." Diandra mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil terkekeh kecil.


"Oh iya, kamu udah makan siang belum?" tanya Diandra, saat merasakan perih di perutnya.


"Belum, Mba. Kan tadi aku pingsan pas waktu istirahat, jadi belum sempat makan," jawab Lintang sambil mengusap tengkuknya.


"Aku juga belum nih. Gimana kalau kita pesan makan aja, laper nih," ujar Diandra sambil mengambil ponsel di dalam tasnya.


"Gak usah, Mba. Aku bisa masak kok. Gimana kalau aku masakin aja, sebagai tanda terima kasih?" saran Lintang penuh semangat.


"Gak usah, kamu kan harus istirahat. Ingat sama bayi yang ada di dalam kandungan kamu," ujar Diandra mengingatkan, yang membuat Lintang kembali terlihat murung.


"Maaf, aku gak maksud," sambung Diandra lagi saat melihat perubahan wajah Lintang.


"Eh, gak apa-apa kok, Mba. Aku cuman belum siap aja untuk menerima anak ini," lirih Lintang, sambil memegang bagian bawah perutnya.


"Eum, memang kenapa?" tanya Diandra pelan.


"A–aku sedang ada masalah dengan ayahnya anak ini," jawab Lintang dengan suara pelan.


"Itu wajar kok, namanya di dalam rumah tangga, pasti akan ada aja rintangannya. Semoga saja masalah rumah tangga kamu cepat selesai, ya," ujar Diandra sambil mengusap pundak Lintang berulang.


Siang itu akhirnya Diandra menghabiskan waktunya bersama dengan Lintang, teman barunya yang ternyata cukup asik untuk bercerita bersama. Hingga akhirnya pukul lima sore, Diandra pamit untuk pulang, mengingat sekarang tidak ada Gio, jadi dia tidak boleh terlambat pulang ke rumah.


......................

__ADS_1


__ADS_2