
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
...Happy Reading...
...💖...
"Yuk, kita sarapan bersama," ajak Gio, dengan menggerakkan kepalanya sedikit.
"Tak usah, aku harus segera ke rumah sakit dan mengurus kepulangan adikku," tolak Dian.
"Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan adikmu, ya? Sampai kamu lupa memperhatikan dirimu sendiri," ujar Gio yang langsung mendapat tatapan tak terbaca dari Dian.
"Tentu saja, dia adikku," jawab Dian.
'Dan aku tidak mau lagi kehilangan adikku' lanjutnya dalam hati.
"Aku tak melarang, kamu begitu memperhatikan adikmu itu. Tapi setidaknya jangan abaikan kesehatanmu juga, dia di sana sudah ada orang tuamu yang mengurus, mereka pasti menjaganya dengan baik. Sedangkan kamu?" Gio menjeda perkataannya, dia melihat Dian dengan rasa iba di dalam hatinya.
Dian menatap tajam Gio, dia tidak suka ada yang berkata seperti itu, apa lagi Gio bukanlah orang yang dekat dengannya. Walau dia memilih diam, karena apa yang dikatakan lelaki di depannya itu ada benarnya.
"Aku yakin, kamu bahkan belum makan sejak malam kemarin, atau bahkan sedari siang," sambung Gio.
"Kamu memang tidak punya hak atas diriku, dan jangan terlalu peduli padaku, aku bisa menjaga diriku sendiri," ujar Dian dingin.
Gio menghembuskan napas kasar, kata sarkas yang nyatanya adalah kebenaran itu, lumayan menampar hatinya.
'Ternyata seperti ini, rasanya di tolak bahkan sebelum mengungkapkan?' gumamnya dalam hati.
"Ya, aku mengakui kalau aku memang tidak mempunyai hak atas dirimu, tapi, untuk peduli dengan sesama manusia, apa aku tidak boleh?" Gio masih berdiri di depan Dian, dia memperhatikan setiap perubahan di wajah perempuan itu.
"Silakan kamu peduli pada siapa pun, asal jangan padaku!" tajam Dian. Dia berdiri di depan Gio.
"Terserah kamu saja lah, yang penting sekarang kamu temani dulu aku sarapan, baru kamu bisa keluar dari rumah ini," ujar Gio, dia mengambil tangan Dian dan membawanya masuk kembali ke dalam rumah.
"Lepas!" Dian berusaha melepaskan genggaman tangan Gio.
__ADS_1
"Dian dan menurut, bila kamu ingin keluar dari rumah ini," tegas Gio, dia mendudukan Gian di kursi, begitu sampai di meja makan.
Dian tak menjawab lagi, dia hanya melirik Gio tajam, tanpa membuka suara.
Beberapa saat kemudian mereka berdua kini sedang menikmati sarapannya dengan suasana hening, tanpa ada yang berniat untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Hingga Dian terlihat lebih dulu mengakhirinya.
Dian tampak terdiam menunggu Gio selesai dengan aktivitas sarapannya, dia hanya duduk menunggu tanpa mau memulai pembicaraan, wajah dinginnya mulai kembali lagi, walau tak sedingin biasanya.
"Aku sudah selesai, terima kasih," ujar Dian, begitu melihat Gio selesai meminum air untuk mengakhiri sarapannya.
Gio melihat Dian sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu, terlihat sangat berkelas. Cara lelaki itu makan walau hanya sebuah sarapan di rumah, tampak berbeda, dan itu dapat terlihat dengan sangat jelas oleh Dian.
Dian baru berdiri, setelah Gio menaruh kembali tisu di tangannya.
"Di mana tasku? Aku harus ke rumah sakit," ujar Dian.
Gio melihat Dian sekilas, sudah dapat dia tebak sejak tadi. Perempuan di depannya itu pasti akan langsung pergi setelah makan selesai.
"Sekarang kamu ingat dengan tasmu? Ah, andaikan dulu kamu juga mengingat tas dan mobil yang kamu tinggalkan," ujar Gio, dia masih bersikap santai, duduk dengan menyandarkan tubuhnya, melihat Dian dengan seringai di wajahnya.
"Tidak usah banyak bicara, aku butuh tasku sekarang!" ujar Dian menahan geram, dia seperti sedang di permainankan oleh lelaki di depannya sekarang ini.
"Tunggu aku ganti baju dulu, kalau kamu mau tas kamu kembali ... aku tidak akan berbaik hati mengembalikan milikmu lagi seperti waktu itu," ujar Gio sedikit mengancam, lalu berjalan menuju kamar, dengan seringai yang semakin lebar.
Dian mengepalkan tangannya, melihat punggung berbalut kaos rumahan itu semakin menjauh. Dia memilih keluar dari rumah itu dan menunggu Gio di luar.
"Dasar pemaksa! Kalau saja aku tidak membutuhkan kartu dan ponselku, aku tidak akan mau berada di sini dan menunggunya seperti orang bodoh!" gumam Dian.
Duduk dengan gerakan kasar, menahan kesal dan marah pada lelaki yang selalu saja bisa memenangkan perdebatan dengannya itu.
Berbanding terbalik dengan Gio yang sekarang seakan tak bisa menahan senyum, karena sudah berhasil menahan Dian di rumahnya juga membuat perempuan itu menurut, walau dengan terpaksa.
Dia bergegas mengganti bajunya dengan stelan kerja, lalu berjalan kembali menuju ke luar dari kamarnya.
Gio mengernyit saat tak melihat Dian di meja makan ataupun di ruang tengah.
__ADS_1
"Apa dia pergi tanpa pamit lagi?" Gio bergumam sendiri.
Langkah lebarnya bertambah cepat, hingga suara spatu yang berada dengan lantai granit rumah itu terdengar nyaring.
Senyumnya melebar saat melihat orang yang dia cari masih berada di tempat mereka tadi bersama. Duduk sendiri dengan pandangan jauh ke depan.
Gio menghela napas panjang, ternyata pemikirannya beberapa saat yang lalu sama sekali tak beralasan. Buktinya sampai saat ini Dian masih nunggunya.
Melangkah pelan menghampiri Dian yang sepertinya sedang melamun atau mungkin memikirkan sesuatu.
"Yuk, kita berangkat sekarang?" ujarnya pelan, takut mengejutkan perempuan di depannya.
Dian terperanjat, saat mendengar suara suara Gio, dia menatap lelaki yang kini sudah tampak berbeda dengan beberapa saat yang lalu.
Baju kemeja putih polos tanpa dasi, dengan dua kancing bagian atas terbuka yang dipadukan celana berwarna navi, senada dengan jas yang tersampir di lengannya.
Tidak terlalu formal, walau masih terlihat sopan dan tentunya tampan. Wajar saja di luar sana banyak yang mengantre hanya untuk mendapatkan satu malam bersama dengan lelaki ini.
Tubuh proporsional dengan gaya yang modis dipadukan wajah dia atas rata-rata orang Indonesia itu dan masih lajang, sudah cukup untuk menarik perhatian lawan jenisnya.
Dian menggelangkan kepala pelan, saat tanpa sadar dia sedang memuji rupa lelaki di depannya itu.
"Kenapa, aku tau ... aku memang tampan," ujar Gio begitu percaya diri.
Dian tersenyum miring, dia beranjak berdiri di depan Gio.
"Heuh! Percanya diri sekali, Anda," sinis Dian, lalu berjalan lebih dulu menuju mobil Gio yang terparkir tidak jauh dari tempatnya.
Gio menekan tombol di remot control mobil miliknya, hingga pintu itu tak lagi terkunci. Dian masuk lebih dulu, duduk di kursi samping pengemudi.
Gio tak sanggup lagi menahan senyum lebarnya, Dian memang begitu berbeda dengan perempuan lainnya yang sering dia temui.
Dia saat perempuan di luar sana, akan menunggu untuk dibukakan pintu dan meminta untuk diperlakukan bagaikan putri di negri dongeng, Dian malah bersikap angkuh dan tak mau dilayani.
"Kamu selalu bisa membuatku tertarik dan jatuh semakin dalam, pada setiap keangkuhan yang kamu miliki."
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung ...