Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Pagi Bersama


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Siang itu, terlihat seorang anak perempuan duduk berdua dengan laki-laki paruh baya di sebuah restoran ternama.


Mereka tampak sedang berbicara cukup serius, hingga tidak ada yang bisa mengganggu keduanya.


"Ayah, kalau memang aku yang menjadi penghalang restu, untuk Diana dan Hary. Maka dengan aku mengenalkan seorang laki-laki yang mau menikah dengan aku. Apa, Ayah, mau menikahkan Diana dan Hary?" tanya Diandra.


"Diandra, kamu tahu dengan jelas, kalau alasan Ayah bukan hanya itu. Lagipula, bagaimana dengan perjodohan kamu dengan cucu temannya kakek? Apa yang harus Ayah katakan pada nenek kamu nanti," ujar Eros.


"Tapi, Yah. Sebenarnya–" Diandra tampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Ada apa, Dian? Apa kamu juga mau ikut menentang Ayah karena adik kembar kamu itu?" Eros sudah mengepalkan tangannya, menahan emosi.


Diandra meremas tangannya, mencoba menguatkan diri untuk mengatakan apa yang ada harus dia ucapkan.


"Ayah, aku mencintai laki-laki itu," lirih Diandra dengan wajah tertunduk dalam.


"Apa?! Kamu juga membantah perintah Ayah! Kalian berdua–" Eros menunjuk wajah Diandra dengan penuh amarah.


Diandra sedikit mengangkat kepalanya, dia merasa takut akan kemarahan Eros. Akan tetapi, dirinya sudah memutuskan untuk membantu saudaranya.


"Ayah, perjodohan ini bukankah sudah sangat lama, lagipula orang yang mau dijodohkan denganku juga belum tentu mau menikah dengan aku," ujar Diandra.


"Aku yakin kalau, Ayah, tau orangnya pasti, Ayah, juga akan setuju," sambung Diandra lagi.


"Tapi, Dian. Perjodohan ini bahkan sudah terjadi sebelum kamu lahir. Ini melibatkan seseorang yang sudah meninggal," ujar Eros.


Laki-laki paruh baya itu tampak terdiam sebentar, lalu kembali menatap wajah anak sulungnya itu.


"Siapa laki-laki itu?" tanya Eros kemudian.


Diandra kembali meremas tangannya lebih kencang lagi. Berusaha meredakan rasa gugup yang semakin mengganggu dirinya.


"D–dia ... Eric, Ayah," lirih Diandra, sambil kembali menundukkan kepalanya.


"Eric? Apa benar apa yang Ayah dengar ini? Sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Eros.


Dia tentu saja sangat tahu siapa itu Eric, dia adalah anak tunggal dari mending temannya.

__ADS_1


Diandra dan Diana bahkan tumbuh bersama dengan Eric. Mana mungkin dia bisa melarang hubungan yang bisa semakin mempererat kembali, pertemanan yang sudah sedikit renggang sejak meninggalnya Ayah dari Eric.


"I–itu, Ayah. Aku dan Eric sudah cukup lama saling menyukai. Tapi, kita baru mengungkapkannya baru-baru ini," jawab Diandra gugup.


Eros terlihat bingung mendengar pernyataan Diandra, di satu sisi dia tidak tau bagaimana menghadapi ibunya sendiri, sedangkan di sisi yang lain, dia juga tidak bisa kembali menambahkan kerenggangan hubungan pertemanan antara dirinya dan keluarga Eric.


"Beri Ayah waktu, Ayah akan mencoba membicarakan ini dengan nenek kamu dulu," ujar Eros kemudian.


Senyum sumringah di wajah Diandra pun akhirnya terlihat, mendengar keputusan yang diberikan oleh sang ayah.


"Tapi, ini semua tidak bisa merubah keputusan tentang Diana, Ayah tetap tidak merestui hubungan mereka," sambung Eros.


Diandra menatap terkejut wajah sang Ayah. Dia mengatakan semua ini karena ingin membantu adiknya untuk mendapatkan restu. Akan tetapi, sekarang semua itu kembali tidak bisa tercapai.


"Tapi, Yah–" Diandra hendak kembali membujuk ayahnya.


"Tidak ada tapi, Diandra. Masalah hubungan kamu dan Diana itu berbeda. Jadi jangan mencoba untuk menyamakannya!" tajam Eros, lalu beranjak berdiri dan melangkah meninggalkan Diandra kemudian.


Diandra menarik napas lelah, lalu membuangnya kasar. Matanya mengikuti langkah kaki sang ayah yang terus menjauh darinya, hingga perlahan menghilang dari penglihatannya.


"Bagaimana ini? Ayah masih saja menolak untuk merestui Diana," gumam Diandra frustrasi.


Tidur Diandra terusik, saat kilau cahaya matahari menembus gorden dan menerpa wajahnya. Perlahan dia mengerjap berusaha membuka matanya.


Diandra memalingkan wajahnya, mencari suasana yang lebih terasa teduh, sebelum membuka matanya. Hatinya merasa sedikit janggal, saat aroma maskulin khas tubuh Gio masih tercium begitu kuat.


Pemandangan rahang tegas Gio langsung terlihat, begitu Diandra membuka mata. Refleks perempuan itu langsung menjauhkan wajahnya yang berada tepat di bawah dagu Gio.


Namun, tangan Gio lebih cepat dan kembali menangkap pinggang istrinya. Laki-laki itu tidak bisa lagi menahan seringai di bibirnya, saat melihat wajah kesal Diandra.


"Kenapa? Malu karena aku masih ada di sini, dan kita berada di dalam posisi seperti ini?" tanya Gio.


Diandra menatap tajam wajah suaminya itu, tangannya dia gunakan untuk menekan dada Gio, agar tidak terlalu menempel padanya.


Namun, sial untuk Diandra yang malah bisa merasakan setiap detak jantung suaminya melalui telapak tangannya.


Kerutan halus di kening Diandra terlihat saat dia merasakan detak jantung Gio seirama dengan debar jantungnya.


Ada rasa berbeda di dalam dirinya ketika dia menyadari sesuatu yang membuatnya bingung.


Ada apa ini? Kenapa detak jantung kita terasa memiliki kesamaan? Atau semua manusia memiliki detak jantung yang sama? batin Diandra penuh tanya.

__ADS_1


Tanpa sadar, Diandra pun langsung melepaskan tangannya, hingga akhirnya tubuhnya tersentak menabrak dada Gio.


Wajah Diandra menampilkan semburat merah, kesadarannya yang masih belum pulih, kini terasa langsung kembali ke dalam mode seratus persen.


Matanya melebar dengan degup jantung yang semakin tidak bisa terkontrol.


Astaga, apa-apaan ini? geram batin Diandra.


Kamu keliatan menggemaskan kalau lagi malu dan gugup gini, Dian. Akh, andai aku bisa menikmati wajah kamu yang seperti ini setiap waktu, batin Gio.


Laki-laki itu tersenyum menatap wajah Diandra yang tampak memarah, dia tahu kalau istrinya memang masih polos bila mengenai berhubungan dengan lawan jenisnya.


"S–siapa bilang aku malu!" ujar Diandra dengan raut wajah berganti judes.


Sial! Kenapa harus gugup sih? gerutu Diandra di dalam hati.


"Lepas, dasar laki-laki mesum!" Diandra kembali mendorong dada Gio dengan cukup keras.


"Tidak, aku nyaman seperti ini," jawab Gio, malah mengeratkan pelukannya.


Diandra semakin kesal saat mendengar jawaban dari suaminya. Dia langsung berpikir cepat, mencari cara agar terlepas dari jebakan suaminya itu.


Dia pun tersenyum di dalam hati ketika mendapatkan cara yang mungkin akan berhasil membuat Gio melepaskannya. Walaupun dia harus menahan malu nantinya.


Tangan yang ada di dada Gio, kini mulai mengambil sedikit daging yang berada di sana. Diandra lalu, memutarnya dengan sedikit bertenaga.


"Arrgh!" Gio menggeram merasakan sakit di dadanya.


Dia pun refleks melepaskan tangannya yang berada di pinggang istrinya.


Diandra pun memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari Gio. Dia langsung bangun dan turun dari ranjang, berusaha menjauh dari jangkauan suaminya.


"Rasain!" ujar puas Diandra sedikit meledek Gio.


Perempuan itu langsung beranjak ke kamar mandi, sebelum Gio berhasil menangkapnya kembali.


Gio memegang bagian dada yang dipastikan sudah berwarna merah sekarang, akibat cubitan Diandra yang lumayan menyakitkan.


Laki-laki itu menatap Diandra yang akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Senyumnya terbit saat membayangkan wajah bahagia Diandra, ketika meledeknya.


Aku rela terus menjadi badut penghiburmu, sayang. Asalkan kamu terus tersenyum seperti itu.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...


__ADS_2