
...Happy Reading...
......................
Hari berlalu begitu saja, kondisi Gio perlahan pulih. Selama Gio sakit, Diandra sama sekali tidak pergi ke hotel, dia memilih mengerjakan semuanya dari rumah, dan membiarkan Romi mengambil alih pekerjaannya di hotel.
Menahan rasa bosan demi merawat suaminya. Juga kesal karena selalu menjadi bahan kejahilan Gio.
Ya, itu memang sangat melelahkan saat tiga hari pertama. Akan tetapi, semakin lama dia merasa terbiasa dengan ulah Gio yang manja dan kekakanakan bila sedang berada dengannya.
Sudah sepuluh hari Diandra terkurung di rumah milik Gio, dia bahkan tidak diizinkan pulang ke rumahnya, dengan berbagai alasan yang dibuat oleh suaminya.
"Aku harus pulang ke rumah, untuk mengambil barang-barang yang akan di bawa ke Bandung," ujar Diandra, saat mereka baru saja menyelesaikan sarapan bersama.
Dia sudah meminta izin untuk dibolehkan pulang pada Gio sejak kemarin sore, saat Romi bilang kalau dia harus ke Bandung untuk meletakkan batu pertama, sebagai tanda pembangunan akan di mulai.
Awalnya memang Romi yang akan berangkat sendiri, mengingat kondisi Gio yang masih belum pulih. Akan tetapi, Diandra menolak, dia ingin melihat sendiri lahan pembangunan hotel barunya.
Itu juga disetujui oleh Gio. Gio bahkan sampai menawarkan diri untuk mendampinginya.
Awalnya Diandra menolak, dia masih sedikit khawatir dengan kondisi kepala Gio yang katanya masih sering sakit.
Namun, akhirnya Diandra memilih mengalah, saat Gio terus bersikeras ikut dengannya.
"Biarkan Randi saja yang mengambilnya, kamu, tinggal katakan apa yang kamu ingin bawa," jawab Gio, menatap Randi yang masih sibuk dengan sarapannya.
Diandra ikut menatap Randi, lalu berdecak pelan.
"Aku mau mengambilnya sendiri," desak Diandra, dengan wajah yang tidak suka.
"Memang apa yang ingin kamu ambil, hem?" tanya Gio, dia megalihkan pandangannya pada Diandra.
"Pokoknya aku mau mengambil sendiri, terserah kamu mau setuju atau tidak," ujar Diandra sambil berdiri lalu berjalan menuju kamar untuk mengambil tas miliknya.
Gio langsung menyusul istrinya dan mencekal tangannnya.
"Ya udah, aku antar," putus Gio.
Diandra tersenyum tipis.
"Nah, gitu dong," ujarnya puas.
Selama Gio sakit hubungan keduanya bertambah dekat, walau malah seperti dua orang sahabat. Diandra yang keras kepal dan cuek, sedangkan Gio selalu mencari perhatian dari sikap tengil dan godaannya, juga sabar dalam menghadapi istrinya.
Keduanya terlihat saling melengkapi, dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Belum ada hubungan suami istri, mereka hanya menikmati setiap kemajuan dalam hubungannya, tanpa mau memaksakan satu sama lain.
__ADS_1
Diandra melanjutkan langkahnya menuju ke kamar, diikuti oleh Gio di sampingnya. Laki-laki itu hanya menggeleng pelan, melihat tingkah istrinya yang selalu bisa membuatnya gemas dengan keras kepalanya.
Istriku memang beda, ada aja tingkahnya yang membuat aku gemas, batin Gio.
Beberapa saat kemudian keduanya sudah siap untuk mengambil beberapa keperluan Diandra di rumahnya.
Gio membuka pintu mobil untuk Diandra lebih dulu, kemudian berjalan memutar hingga duduk di kursi kemudi.
Sedangkan Randi terlihat lebih sibuk, mengingat besok dia harus ikut Gio ke Bandung. Untuk mendampingi bosnya itu, sekaligus mengurus pekerjaan di sana. Laki- laki itu sudah tidak ada saat Diandra dan Gio ke luar dari kamar.
"Setelah dari Bandung, gimana kalau kita lanjut ke Jakarta?" tanya Gio sambil menyetir mobil.
Diandra menoleh cepat, dia sama sekali belum siap untuk bertemu dengan semua keluarga besar Gio.
"Tapi–" Diandra menatap ragu wajah suaminya.
"Kenapa, hem? Mamah sama Gita pasti seneng banget kalau kamu mau diajak ke sana," ujar Gio menatap sekilas wajah istrinya yang tampak tidak terlalu senang seperti sebelumnya.
"Aku belum siap, kalau harus ketemu sama keluarga kamu yang lain," jawab Diandra jujur.
"Cuman ada kakak dan keponakan aku kok, gak ada yang lain yang harus kamu temui lagi selain mereka," ujar Gio, berusaha meluluhkan hati Diandra.
Diandra tampak menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, kerutan di keningnya tampak dalam, pertanda dia sedang berpikir keras.
Gio tersenyum. "Kakek dan nenekku dari Papah, udah meninggal. Kalau dari Mamah, mereka tinggal di luar kota," jawab Gio.
"Tenang aja, keluargaku gak galak kok." Gio menambahkan, sambil mengacak rambut istrinya.
Melihat Diandra yang semakin lembut dan mau mengalah padanya, membuat Gio selalu tidak bisa menahan gemas.
"Ck, gak usah pegang-pegang," ujar Diandra sambil membenarkan rambutnya yang sedikit kusut.
"Gimana? kamu, mau kan lanjut ke Jakarta?" tanya Gio lagi.
Diandra tampak berpikir, dia benar-benar belum siap dengan semua ini.
"Gimana nanti aja lah, aku masih bingung," jawab Diandra.
Gio mengangguk. "Oke, kalau gitu kita bicara nanti kalau urusan di Bandung selesai."
"Heem," angguk Diandra menyetujui usul dari suaminya.
Sampai di rumah Diandra, perempuan itu langsung ke luar dari mobil dan berjalan cepat ke dalam. Di depan rumah, tapak Yaya yang sedang membersihkan halaman.
"Pagi, Yaya," ujar Diandra, sambil berjalan menuju ke dalam.
__ADS_1
"Pagi, Teh Dian, Pak Gio," jawab Yaya.
Diandra langsung merebahkan dirinya di sofa ruang tengah, dia sangat merindukan rumah yang sudah tiga tahun ini dia tinggali sendiri.
"Home sweet home!" ujarnya sambil memejamkan mata, dia menghirup napas dalam lalu melepaskannya perlahan.
Bibirnya tampak melengkung ke atas, senyum yang sangat jarang terlihat dari wajah dingin Diandra.
Gio ikut tersenyum melihat Diandra yang tampak bahagia bisa kembali ke rumahnya.
"Kayaknya seneng banget, yang bisa pulang ke rumah," ujar Gio sambil duduk di samping Diandra.
"Senang lah, aku udah kangen banget sama rumah ini," jawab Diandra, masih nyaman berbaring di samping suaminya.
"Emang kenapa sama rumahku?" tanya Gio.
Diandra bangun dan duduk menyilangkan kaki, di samping Gio.
"Rumah kamu bagus, di sana juga ada Bi Jui yang melakukan semuanya, sekaligus menemani aku. Tapi, tetap saja aku lebih suka di rumah sendiri," jawab Diandra.
"Walaupun rumah ini sederana, tapi, di sini aku merasa lebih bebas dan nyaman," sambungnya lagi, mengedarkan pandangannya pada setiap sudut rumah yang tidak berubah sama sekali.
Berbeda dengan rumah Gio yang ramai oleh para anak buahnya. Rumah Diandra terasa sepi karena memang hanya mereka yang tinggal di sana.
Terbiasa dengan kesendirian, Diandra lebih nyaman seperti ini, daripada harus tinggal dengan banyak orang.
Gio mengangguk samar, dia pun ikut melihat seluruh ruangan rumah tempatnya tinggal setelah menikah dengan Diandra.
"Gimana kalau malam ini kita menginap di sini saja?!" ujar Diandra dengan penuh semangat.
Dia mengganti kata 'aku' menjadi 'kita' mengingat Gio pasti tidak akan setuju kalau dia tidak mengajaknya.
Gio menatap wajah penuh harap Diandra. "Memang kamu mau banget menginap di sini?"
Diandra langsung mengangguk mantap.
"Ya sudah, besok kita berangkat dari sini," putus Gio yang langsung membuat senyum di wajah Diandra merekah.
"Tapi, semua ini gak gratis ya," sambung Gio, membuat Diandra kembali menatap suaminya penuh tanya.
......................
Kebersamaan perlahan bisa menumbuhkan rasa sayang tanpa disadari.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1