Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Belum sempat


__ADS_3

...Happy Reading...


................


Beberapa saat berlalu, Gio dan Diandra tampak ke luar dari kamar mandi, dengan wajah yang lebih segar.


Sesekali bahkan terdengar senandung dari mulut mantan casanova itu, menandakan betapa bahagianya Gio saat ini.


Tampaknya sore ini begitu spesial untuk laki-laki itu, hingga senyumnya tidak bisa lagi dia sembunyikan. Duduk di sisi ranjang dengan handuk yang melilit sebatas pinggang, sambil memperhatikan istrinya.


Diandra menyiapkan baju untuk Gio lalu membantu suaminya untuk memakai baju ganti. Dia melakukannya dengan sangat telaten, hingga akhirnya suaminya sudah terlihat rapih dengan baju rumahannya.


Setelah memastikan Gio sudah siap, kini Diandra mengambil baju miliknya lalu beranjak hendak pergi ke kamar mandi.


Sedangkan Gio kembali duduk di sisi ranjang, dengan ponsel di tangannya.


"Aku ganti baju dulu," ujar Diandra.


"Ehh, mau ke mana?" tanya Gio, sambil mencekal tangan istrinya.


"Ganti baju," jawab Diandra.


"Ganti baju ke mana?" tanya Gio lagi.


"Ke kamar mandi, ke mana lagi?" tekan Diandra, mulai merasa kesal pada suaminya.


"Ngapain ke kamar mandi? Lagian kan aku sudah melihat semuanya," cegah Gio, dia kembali menaruh ponselnya, lalu beralih pada sang istri. Gio menarik Diandra sehingga duduk di pangkuannya.


"Bahkan aku sudah meraskan semuanya," bisik Gio lagi di depan telinga Diandra.


"Ish, apaan sih? Mana bisa aku ganti baju di depan kamu?" decak Diandra.


"Makanya, mulai sekarang coba biasakan mengganti baju di depanku," jawab Gio.


"Gak ada, nanti kamu malah tergoda lagi! Aku mau ke kamar mandi saja." Diandra hendak berdiri saat dirasa tangan suaminya tidak terlalu kuat.


Namun, ternyata itu tidak bisa dianggap remeh, Gio bisa menangkapnya dengan sekejap kilat. Laki-laki itu tampak terkekeh mendengar ucapan Diandra.


"Jadi kamu takut aku akan tergoda?" tanya Gio, sambil mulai menelusupkan tangannya ke dalam jubah mandi Diandra.


"Gio, kita baru saja selesai," protes Diandra, dia masih merasa lelah setelah pertempuran tiba-tiba di kamar mandi.


"Memang kenapa?" tanya Gio, tanganya sudah mulai menuju area sensitif Diandra.


"Gio, tangannya," kesal Diandra, dia berusaha menarik tangan Gio dari tubuhnya.


"Mau ganti baju di sini, atau aku gak akan melepaskan kamu."

__ADS_1


Diandra mendesah, seperti biasa Gio akan menggunakan senjata paling ampuh untuk mengalahkannya, apa lagi kalau ancaman.


"Janji gak akan tergoda?" tanya Diandra.


"Gak janji juga sih, hehe."


"Aku masih lelah," keluh Diandra.


"Iya, aku tidak akan memaksa jika kamu tidak mau, sayang. Tapi, aku hanya ingin kamu lebih terbuka sama aku ... masa ganti baju di depan suami saja gak mau," ujar Gio.


"Iya-iya, baik. Aku ganti baju di sini. Tapi, kamu lepasin aku dulu dong." Diandra akhirnya menyerah, dia harus segera berbicara serius pada Gio, tentang permintaan Rani tadi.


"Janji?" pinta Gio yang langsung dianggukki oleh Diandra.


"Jani!" jawab Diandra langsung.


Gio pun akhirnya melepaskan Diandra, dia kemudian merebahkan diri di atas ranjang sambil menikmati Diandra yang hendak mengganti baju di depannya.


Sedangkan Diandra tampak ragu untuk mulai melakukan semua itu, saat Gio terus menatapnya.


Dasar playboy cap kadal, bisa-bisanya dia menyuruhku untuk ganti baju dindepannya. Ini kan sangat memalukan! batin Diandra.


"Ayo cepetan buka, sayang," pinta Gio.


"Tutup mata dulu," perintah Diandra, dia merasa sangat malu saat ini.


"Untuk apa?" tanya Gio.


"Aku malu, pokoknya tutup mata dulu," ujar Diandra.


Gio menatap Diandra lalu menghembuskan napas panjang.


Ternyata kamu memang masih sepolos itu, untuk apa kamu malu sedangkan aku sudah melihat semuanya, sayang. Gio mendesah, inilah susahnya menikah dengan perempuan polos dan masih perawan.


"Iya, ini aku tutup mata," jawab Gio sambil menutup matanya.


"Beneran? Kamu, gak bohong kan?" tanya Diandra sambil melambaikan tangannya di depan wajah Gio.


"Mana mungkin aku bohong. Ya udah cepetan ganti bajunya, gelap nih," keluh Gio.


"Ck!" Diandra kembali menegakkan tubunya lalu mulai mengambil baju untuk dia pakai.


"Namanya juga tutup mata, ya gelap lah," gerutu Diandra sambil mulai memakai satu per satu urutan bajunya, hingga selesai.


Diandra bahkan sampai tidak menyadari, kalau Gio sudah tertidur kembali di atas tempat tidur. Mungkin karena terlalu lelah, mencari keberadaan Diandra, lalu menghabiskan waktu untuk bermain sesuatu yang sangat menguras tenaga.


"Gimana, bagus gak?" tanya Diandra sambil berdiri di depan Gio, setelah dia sudah siap dengan bajunya.

__ADS_1


Namun, Gio tidak membuka matanya, dia bahkan tampak tenang dengan napas yang teratur.


"Dia tidur?" tanya Diandra, sambil kembali melambaikan tangannya di wajah Gio.


"Beneran tidur?" gumamnya lagi.


Diandra berjongkok di samping ranjang, pandangannya tertuju pada wajah tenang suaminya yang tampak terlelap.


Alis tebal, bulu mata yang tidak terlalu panjang, hidung mancung, rahang yang tampak tegas, dan bibir tebal dengan warna yang tampak gelap, mungkin karena efek merokok.


"Cukup tampan," gumam Diandra.


Semua itu dipadukan dengan bentuk tubuh sempurna dan kulit yang bersih terawat. Ditambah kekuasaan dan harta melimpah, itu semua sudah cukup untuk membuat para wanita berlomba mendapatkan perhatian suaminya.


Ah, dan satu lagi yang hampir saja lupa, kemampuan untuk merayu yang tidak banyak laki-laki bisa melakukannya.


Mengingat itu Diandra berdecak, hatinya tiba-tiba saja merasa panas, saat bayangan Gio yang berjalan dengan perempuan lain melintas di kepala.


"Tidak mungkin kan, aku sudah jatuh cinta padanya?" gumam Diandra, menjauhkan tubuhnya dari Gio.


"Ish, kenapa di sini panas sekali," decak Diandra, sambil kembali bangkit dan berjalan sambil mengibaskan baju bagian depannya.


Perempuan itu tampak menatap wajah Gio dengan kesal. Bayangan suaminya bersama perempuan lain di awal pertemuan mereka malah membuat suasana hatinya bertambah kesal.


"Dasar playboy cap kadal!" kesal Diandra lalu berjalan menuju meja riasanya.


.


.


Malam semakin larut, Diandra duduk di balkon kamarnya dengan pikiran yang berkelana entah ke mana. Secangkir teh hangat pun tampak menemani kesendiriannya.


Ya, setelah makan malam Gio harus segera pergi ke pusat kota, karena ada masalah di cabang perusahaan yang ada di sana.


Terjadi keracunan masal di kantor yang membuat banyak dari keryawannya harus di rawat di rumah sakit, hingga Gio harus turun tangan menanggapi kasus ini.


Sebenarnya itu berlangsung sejak makan siang, hanya saja baru ketahuan menjelang sore, hingga semakin malam semakin banyak korban berjatuhan.


Awalnya Diandra ingin ikut, setidaknya mungkin dia bisa membantu bila melihat situasi yang terjadi. Akan tetapi Gio tidak mengizinkannya.


"Tunggu di sini, aku tidak akan lama. Jangan pergi ke mana-mana, selama aku tidak ada."


Itulah, kata-kata Gio, sebelum dia berangkat meninggalkan Diandra di vila.


"Heuh!" Diandra mendesah kasar, dirinya belum sempat berbicara tentang keinginan Rani kepada Gio.


......................

__ADS_1


__ADS_2