
...Happy Reading...
..................
Dua hari sibuk dengan pekerjaan sudah cukup membuat sepasang suami istri itu kehilangan waktu bersama. Baik Diandra maupun Gio, sama-sama sibuk mengurus hotel mereka sendiri.
Hari ini keduanya serempak memutuskan untuk beristirahat sambil menikmati kebersamaan mereka. Seperti pagi ini, keduanya bahkan masih bergelung di bawah selimut, dan berkutat dengan mimpinya.
Padahal matahari sudah mulai meninggi, menandakan waktu sudah beranjak siang. Tubuh dan pikiran keduanya yang lelah, setelah dua hari terus dipaksa untuk bekerja, akhirnya menyerah dan menagih untuk beristirahat.
Siang harinya Randi dan beberapa anak buah Gio sudah berada di rumah Diandra. Mereka bersiap untuk mengantarkan sepasang suami istri itu ke Jakarta.
Namun, yang ditunggu masih malas-malasan di atas tempat tidur, keduanya hanya bangun untuk sarapan, dan kini menarik selimut dalam keadaan berpelukan. Tidak ada yang mereka lakukan, Gio tahu tubuh istrinya sudah sangat lelah, dia bisa menahan diri walau harus bersusah payah.
Berusaha memikirkan hal fositif lainnya, selain dengan merayu tubuh istrinya. Dia bisa saja meminta atau langsung memberikan rangsangan. Akan tetapi, kesehatan istrinya jauh lebih penting dibandingkan dengan hawa napsunya. Toh, jika istrinya sehat, dia akan bisa meminta lebih di lain waktu.
"Mereka pada ke mana sih, kok pintu masih di kunci?" gerutu Randi.
Dia sudah menunggu hampir setengah jam di teras bersama yang lainnya. Akan tetapi, Gio dan Diandra belum juga kelihatan batang hidungnya. Padahal kemarin Gio sendiri yang menyuruhnya datang sebelum makan siang, agar sampai Jakarta tidak terlalu larut malam.
"Gio, ponsel kamu berdering terus tuh," ujar Diandra sambil menepuk dada Gio yang berada di depannya.
Matanya masih terpejam, suaranya pun parau, khas orang baru terbangun tidur.
Gio sedikit menggeliat dia melepaskan tangannya dari tubuh sang istri, lalu beralih pada ponsel yang terus berdering di atas nakas.
"Hem?" ujar Gio malas, dia bahkan tidak melihat nama di layar benda pipih itu.
"Ke mana saja, hah? Aku sudah di depan rumah istrimu dari setengah jam yang lalu!" Itu adalah suara Randi, sekarang ini dia bukan lagi sedang berperan menjadi seorang asisten.
Randi sudah sangat kesal, karena dia sudah mencoba menghubungi Gio berulang kali. Akan tetapi, bos sekaligus temannya itu baru menjawabnya.
__ADS_1
Gio menjauhkan ponselnya dari telinga, matanya memicing malas mendengar suara Randi yang sudah seperti ibu tiri.
"Ada apa sih, ribut banget pagi-pagi gini?" ujar santai Gio, seakan dia tidak sadar kalau sudah membuat Randi kesal setengah mati karena menunggunya di teras.
"Pagi dari mana? Lihat jam ... ini sudah hampir tengah hari, Gio!" kesal Randi.
Dia sudah pasti tahu kalau Gio baru bangun tidur, itu terdengar jelas dari suara parau laki-laki itu.
Dasar bos gak berperasaan, dia enak-enak tidur di dalam, sedangkan aku dibiarkan menunggu mereka di teras rumah, kayak orang yang lagi minta sumbangan! batin Randi mengumpat bosnya.
"Ya udah sih, santai aja. Kita kan cuman mau pulang ke Jakarta, bukan mau bertemu tamu penting, telat dikit mah gak apa-apa kali," jawab Gio yang malah membuat Randi semakin kesal.
"Tunggu sebentar aku buka pintu dulu," sambung Gio lagi sambil beranjak dari tempat tidur, sedangkan Diandra baru saja menggeliat, saat mendengar suara marah-marah Randi dari ponsel Gio.
Diandra langsung masuk ke kamar mandi dengan langkah malasnya, sedangkan Gio berlalu menuju pintu depan, untuk membuka pintu, agar asisten sekaligus temannya itu berhenti mengomel.
"Masuk," ujar Gio, sambil membuka pintu, lalu berlalu kembali ke dalam.
Randi hanya berdecak sambil mengikuti Gio masuk, malu juga dari tadi dilihat orang-orang yang lewat, gara-gara dia diam di depan rumah Diandra.
Ternyata mereka baru datang setelah waktu sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Semua itu membuat Gio lebih memilih membawa Diandra menuju apartemen miliknya.
Dia beralasan kalau dirinya tidak mau mengganggu seluruh keluarganya saat dia datang malam-malam begini. Diandra yang memang baru pertama kalinya berkunjung pada keluarga Gio, hanya menuruti ke mana pun Gio membawanya.
Lagipula, dia juga sudah pegal karena hampir seharian ini hanya duduk di dalam mobil, sepertinya saat ini dia membutuhkan sebuah ranjang empuk untuknya meregangkan punggung yang terasa kaku.
Duduk di mobil seperti ini membuat Diandra lebih merasa lelah, dibandingkan dengan bekerja dari satu berkas ke berkas lainnya.
"Masuk, sayang," ujar Gio setelah dia membuka kunci pintu menggunakan sidik jarinya.
Diandra tertegun sejenak, melihat unit apartemen yang tampak mewah dan elegan. Desain minimalis yang dipadukan dengan warna-warna dasar, seperti putih, hitam, dan sedikit aksen warna emas di beberapa bagian.
__ADS_1
Bunga segar berwarna putih pun tampak menghiasi setiap sudut ruangan, membuat aromanya langsung menabrak indra penciuman, begitu dia masuk.
"Ini apartemen kamu?" tanya Diandra memastikan, menoleh sekilas pada Gio.
"Ya, apa kamu suka? Maaf kalau terlalu gelap," ujar Gio sambil melepas jaket dan menaruhnya di sandaran sofa.
"Enggak kok, ini bagus," jawab Diandra sambil terus mengedarkan pandangannya, menyusuri setiap sudut ruangan apartemen yang mampu membuatnya terpukau.
"Ini siapa yang menatanya?" tanya Diandra lagi.
"Entah, aku menyuruh Randi mencarinya. Tugasku hanya memberikan konsep yang aku mau," jawab Gio, kini dia sudah kembali ke samping istrinya.
"Kita lihat ke kamar," ajak Gio, sambil menggandeng tangan Diandra.
Apartemen itu memiliki dua lantai, di bagian atas adalah khusus kamar Gio dan juga ruang kerjanya. Diandra menaiki tangga, dengan senyum indah merekah di wajah cantik Diandra.
Gio perlahan membuka pintu kamarnya, kemudian menyalakan lampu yang ada di sana. Membuat mata indah Diandra kini semakin berbinar. Kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka saking terkejutnya.
Kamar yang telah didesain romantis dengan taburan kelopak bunga mawar putih dan lampu hias di sekitarnya. Benar-benar sangat mrmnjakan mata. Akan tetapi, kini bukan itu yang membuat perhatian Diandra teralihkan.
Sebuah kue tart berwarna putih dengan hiasan bunga mawar merah di atasnya, yang ada di atas meja.
"Selamat ulang tahun, sayang," bisik Gio sambil memeluk Diandra dari belakang.
"Kamu–" Diandra tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, air mata kebahagiaan pun menetes begitu saja.
"Ini adalah ulang tahun pertama kamu, sebagai istriku. Jadi aku mau kita merayakannya berdua," ujar Gio memberikan kecupan ringan di pipi istrinya.
"Terima kasih." Hanya itu yang bisa Diandra ucapkan pada saat ini.
Kebahagiaan di dalam hatinya sangat membuncah, dengan rasa syukur yang terus terucap di dalam hati. Gio benar-benar bisa membuatnya merasa sangat beruntung menjadi seorang istri.
__ADS_1
Memiliki seorang suami yang sangat mencintainya, menjadi sesuatu yang bahkan tidak pernah dia impikan sebelumnya. Akan tetapi, Tuhan begitu baik, telah mengirimkan Gio untuk memberikan berubi-tubi kebahagiaan padanya.
..................