Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Sakit apa?


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Kapan terakhir kamu datang bulan?" tanya Mama Hana lagi, sambil menatap Diandra dengan tatapan intens.


"Kalau gak salah, waktu kami sedang di bandung," jawab Diandra dengan suara yang semakin pelan.


"Loh, berarti kamu udah gak dateng bulan sudah sekitar dua bulan dong, sayang. Kenapa kamu gak bilang, hem?" tanya Mama Hana dengan wajah sumringah, walau ada nada kecewa di dalam suaranya.


"Aku gak engeh, Mah, maaf," jawab Diandra sambil meringis merasa bersalah pada ibu mertuanya dan dirinya sendiri.


Padahal biasanya dia tidak pernah lupa dengan masa tamu bulanannya. Akan tetapi, entah kenapa setelah menikah dengan Gio dirinya malah tidak terlalu memikirkan hal itu.


"Ya ampun, kamu ini gimana sih, Dian? Masa udah telat lama gitu masih belum sadar?!" Mama Hana menepuk keningnya, merasa pusing dengan kelakuan menantu perempuannya.


Saat di luar sana banyak para pengantin baru yang terus berharap cemas menanti sebuah kehamilan, menantunya yang super dingin dan cuek ini malah lupa waktu dengan pekerjaan dan ikut bekerja di kantor, demi membantu suaminya memberantas para hama perusahaan.


Diandra hanya bisa meringis sambil sambil terkekeh pelan, mendengar keluhan mertuanya.


Sedangkan Mama Hana yang melihat sikap Diandra hanya bisa menggeleng kepala sambil menghembuskan napas berulang kali.


"Untung menantu perempuanku satu-satunya, kalau enggak udah aku tuker di pasar loak deh nih," gumam Mama Hana.


"Ih, Mama, emang aku baju dituker di pasar loak," jawab Diandra yang malah membuat keduanya saling menatap kemudian tertawa bersama.


Makanan yang mereka pesan pun datang, Mama Hana langsung menelepon Erika untuk cepat pulang, agar langsung bisa memeriksa Diandra begitu sampai di rumah.


"Ayo makan, pokoknya nanti setelah sampai di rumah, kamu harus langsung diperiksa sama Erika. Ah, jangan lupa kita juga harus kasih tau Gio," ujar Mama Hana.


"Eum, Mah, gimana kalau nanti aku aja yang kasih tau kalau aku nyusul dia ke negara S," jawab Diandra.


"Tapi, sayang, apa kamu masih harus menyusul? Mama kok khawatir kalau kamu naik pesawat sendirian," ujar Mama Hana.


"Ini kan hanya ke negara S, Mah, waktu terbang juga gak lama, terus di sana juga nanti aku akan langsung dijemput sama Gio atau Randi," jawab Diandra santai.


"Ya udah, nanti kita periksa dulu saja," putus Mama Hana.


Setelah makan malam selesai, Diandra kembali menyetir mobil menuju ke rumah. Kali ini Mama tidak lagi mau mampir ke mana pun, karena dia sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi Diandra.


"Mah, tapi, kalau nanti ternyata gak sesuai dengan apa yang Mama pikirkan, bagaimana?" ujar Diandra tiba-tiba.

__ADS_1


Sebenarnya sejak pembicaraannya di dalam restoran, Diandra meraskan kegelisahan di dalam hatinya, dia takut kalau nanti hasilnya akan mengecewakan hati ibu mertuanya. Melihat Mama Hana yang terlihat sangat berharap, membuatnya merasa takut.


"Gak apa, yang penting nanti kan kita bisa tau, kenapa kamu gak dapat tamu bulanan selama dua bulan ini. Kalau pun bukan calon cucu Mama penyebabnya, kita juga harus tau apa yang terjadi dengan tubuh kamu, sayang. Igat, kalau kita sebagai wanita itu memiliki lebih banyak resiko kesehatan dari pada laki-laki, apa lagi jika sudah berbicara masalah rahim," jelas Mama Hana, dengan suara lembut, sambil sesekali menatap wajah gusar menantunya.


Tangannya pun mengusap pelan belakang kepala Diandra, agar Diandra merasa lebih tenang.


"Terima kasih, Mah," ujar Diandra dengan suara lirih sedikit parau, karena menahan tangis. Dia merasa terharu karena sikap lemah lembut yang ditunjukkan Mama Hana padanya.


"Ini memang sudah tugas Mama sebagai mertua kamu, sayang. Bagi Mama, kamu sudah menjadi anak Mama sendiri, makanya jangan sungkan atau canggung untuk bercerita sama Mama," jawab Mama Hana.


Diandra tersenyum kemudian mengangguk haru, dia sama sekali tidak menyangka bisa mendapatkan mertua sebaik Mama Hana, yang bisa menggantikan sosok Bunda di saat dia berada jauh dari ibu kandungnya.


Jam sembilan malam akhirnya mobil yang Diandra kendarai memasuki gerbang rumah besar keluarga Purnomo.


"Mama, ngapain sih nyuruh kita buru-buru pulang, padahal Mama aja gak ada di rumah?!" protes Erika yang menghampiri Mama Hana begitu ke luar dari mobil.


"Gak apa, Mama cuman mau kamu memeriksa Diandra saja," jawab Mama Hana, sambil menoleh melihat Diandra yang sedang menurunkan belanjaan buahnya dari bagasi.


"Dian, itu biarkan saja nanti biar yang lain yang bawa. kamu sini, buruan masuk," ujar Mama Hana lagi beralih pada menantunya, sambil menggerakkan tangannya memanggil sang menantu.


"Memangnya kenapa sama Diandra, Ma? Dia sakit?" tanya Erika sambil melihat keadaan adik iparnya yang baru saja berdiri di sampingnya.


"Enggak, dia gak sakit kok. Tapi, Mama, cuman penasaran aja, sama kesehatannya," jawab Mama Hana.


"Eh, Mah, kok ngomong gitu sih? Diandra kan belum satu tahun menikah, jadi gak usah lah periksa begitu dulu, mereka masih bisa pakai cara alami saja dulu." Erika mencoba menasehati Mama Hana yang dianggap mempermasalahkan kondisi Diandra yang tidak kunjung hamil.


"Bukan begitu, Erika. Tapi, Mama menyuruh kamu untuk memeriksa Diandra, karena sudah hampir dua bulan Diandra gak kedatangan tamu bulanan," ujar Mama Hana menjelaskan.


"Hah? Sudah dua bulan?" Erika tampak terkejut dengan penjelasan Mama Hana.


"Dian, kamu? Ish, kenapa kamu gak bilang sama Kakak?" Erika beralih pada Diandra.


"Aku lupa, Kak, beneran," ujar Diandra sambil meringis, melihat raut wajah terkejut kakak iparnya.


"Ya udah, ayo kita masuk sekarang," ujar Erika sambil berjalan bersama-sama ke dalam rumah.


"Sudah sering kamu telat datang bulan begini, Dian?" tanya Erika di sela langkahnya.


"Seingat aku, enggak pernah sih, Kak. Paling telat beberapa hari saja, saat sedang banyak kerjaan atau banyak pikiran. Tapi, itu juga paling lama cuman telat satu minggu," ujar Diandra.


"Dua bulan ini kamu gak ngerasain apa-apa gitu, kayak mual di pagi hari, atau perasaan tidak nyaman di dalam perut?" tanya Erika.

__ADS_1


"Enggak sih, Kak. Aku rasa semuanya baik-baik aja," jawab Diandra menggeleng samar.


"Kalau napsu makan kamu gimana, apa bertambah atau ada makanan yang membuat kamu tidak berselera?" tanya Erika lagi.


"Kayakanya enggak deh kak, kecuali makanan mentah seperti sushi dan sashimi, aku baru gak mau." Diandra mencoba mengingat kebiasaannya selama ini.


"Ya udah, untuk malam ini biar aku yang periksa kamu dulu. Tapi, besok pagi kamu harus ikut sama aku ke rumah sakit," ujar Erika yang langsung diangguki oleh Mama Hana.


"Ih, yang ke rumah sakit, lama banget sih, jam segini baru pulang," ujar Gita yang sedang bersantai di ruang keluarga dengan tontonan pavoritenya.


"Ish, gak apa-apa dong, sekali-kali aku bajak Mama untuk nemenin aku makan Jajangmeyon," jawab Diandra dengan seringai jahilnya.


Sepertinya cukup lama berhubungan dengan Gio, membuat kejahilan suaminya sekarang menular pada Diandra.


"Eh, Kakak sama Mama, habis makan Jajangmeyon? Iih kok tega banget sih, gak ngajakin aku!" protes Gita.


"Dih, bukanya tadi kamu sendiri yang nolak buat nganterin Mama ke rumah sakit," ujar Mama Hana membela menantunya.


Diandra tersenyum sambil melirik Gita dia kemudian pamit untuk ke kamar lebih dahulu.


"Eh, Kak Dian, tadi Kak Gio bilang suruh telepon kalau udah pulang!" teriak Gita saat Diandra sudah berjalan menaiki tangga.


"Iya, nanti aku telepon," jawab Diandra, menoleh sekilas lalu meneruskan langkahnya.


"Cepetan, aku malas dapat spam chat terus sama Kak Gio!" balas Gita lagi.


"Heem." Diandra hanya bergumam sebagai jawaban hingga akhirnya dia masuk ke dalam kamar.


Mama Hana dan Erika yang melihat keakraban Diandra dan Gita hanya menggeleng kepala. Mereka tidak heran melihat itu, secara di rumah ini yang masih bisa bersantai, hanya Mama Hana, Gita, dan Ethan. Dari ketiga orang itu Gita lah yang usianya tidak terpaut jauh dengan Diandra, hingga dengan cepat keduanya bisa sangat akrab.


"Mah, kalau gitu aku juga pamit, mau ngambil alat medis di kamar," ujar Erika


"Eh, memangnya siapa yang sakit?" tanya Gita menatap bingung wajah Mama Hana dan Erika.


"Mama menyuruhku memeriksa Dian," jawab Erika acuh kemudian ikut pergi ke lantai dua, menuju ke kamarnya.


"Hah, Kak Dian? Sakit apa?!"


......................


Maaf ya, beberapa hari ini aku gak sempat balas komentar kalian satu-satu. Pokoknya terima kasih banyak buat kalian semua yang udah setia baca dan terus dukung aku melalui like dan komentarnya. Itu sangat berarti bagi aku, sebagai semangat untuk menulis. Lope-lope sekebon untuk semuanya😘😘❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2