Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Baik-baik saja?


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Ares dan Eros sedang berbincang dengan salah satu orang yang mereka kenal, saat pengantin laki-laki menghampiri mereka.


"Apa Pak Jonas sudah kembali?" tanya Ares, sambil mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Jonas.


Begitu juga dengan Eros, yang merasa teralihkan dengan kedatangan pengantin laki-laki itu.


"Belum, aku hanya ingin menyapa Om Eros," jawab pengantin laki-laki itu.


"Terima kasih sudah menyempatkan hadir di hari pernikahan aku, Om." sambungnya beralih pada Eros, sambil mengulurkan tangannya.


"Ah, iya. Om juga senang bisa menghadiri pernikahan kamu. Selamat ya," jawab Eros, sambil menyambut uluran tangan pengantin laki-laki itu.


"Oh iya, tadi aku dengar dari orang, katanya ada yang melihat Om Jo pergi ke belakang. Kalau kamu mau ketemu, coba cari saja ke sana," ujar pengantin laki-laki itu lagi.


"Oh, begitu ya? Baiklah kalau begitu aku pamit sekarang, mau menyusul Pak Jonas dulu," jawab Ares, langsung berdiri dan bersalaman dengan pengantin itu.


"Sekali lagi selamat ya, atas pernikahan kamu, dan terima kasih infonya," ujar Jonas bersalaman sambil menepuk pundak teman sekolahnya itu.


Ares langsung ke luar dari dalam acara, tanpa menghiraukan ayahnya yang tertinggal. Dia mencari keberadaan Randi yang sedang berjaga di sekitarnya.


"Terima kasih," ujar Eros pada pengantin laki-laki itu, dia berusaha bersikap biasa saja, agar tidak ada yang curiga.


"Iya, Om, sama-sama. Ternyata Ares sangat mengagumi Om Jonas ya? Kalau tau begitu, aku bisa mempertemukannya sejak dulu," jawab pengantin laki-laki itu.


"Ah, dia hanya sedang kagum pada orang-orang yang bisa sukses. Kamu tahu kan, tangannya mengalami cedera saat kecelakaan kemarin, makanya dia mencari kesibukan untuk meredam kekosongannya, sebelum bisa kembali bekerja," ujar Eros memberi alasan.


"Ya sudah, kalau begitu Om pergi dulu," sambung Eros lagi, yang langsung diangguki oleh pengantin laki-laki itu.


Eros pun menyusul Ares ke luar, dengan langkah tergesa.


Sementara itu, Ares melihat keberadaan Randi, langsung menghampiri.


"Bagaimana? Kenapa kamu tidak ke luar dengan Jonas?" tanya Randi langsung, begitu melihat Ares yang malah menghampirinya.


"Aku tidak bertemu dengannya di dalam. Tapi, ada yang melihatnya menuju kebun belakang," jawab Ares.


"Apa?! Itu kan lokasi Gio berada ... kenapa kamu gak bilang dari tadi?" Randi menggeram merasakan khawatir dengan kondisi Gio yang hanya bersama dengan para polisi.


"Ayo, kita ke sana sekarang," sambung Randi lagi sambil bergegas menuju kebun di bagian belakang, untuk menemui Gio.


Sebelum pergi Randi juga memberi isyarat lebih dulu pada semua anak buahnya, agar langsung menyusul Gio.

__ADS_1


Eros yang melihat Ares dan Randi sudah berjalan menjauh, mengikuti dari belakang.


Randi dan Ares berjalan penuh waspada, saat mereka sudah dekat dengan lokasi penangkapan yang sudah direncanakan oleh Gio.


Namun, pemandangan yang mereka lihat berikutnya membuat kedua orang itu melebarkan matanya.


Mereka melihat jelas Jonas yang sudah berada di tangan polisi, dengan tangan diborgol dan bekas luka tembak di kakinya.


Sedangkan di belakangnya, Gio juga tampak berjalan tertatih dengan batuan salah satu polisi.


"Astaga, Gio?!"


"Kak Gio?!"


Randi dan Ares berucap bersamaan sambil berlari menghampiri Gio.


"Gio?" Eros yang batu melihat pun langsung menghampiri menantunya.


"Kamu kenapa? Bagaimana semua ini bisa terjadi hah?!" Randi bertanya sambil mengambil alih Gio dari tangan polisi.


"Kak?" Ares berucap sendu, saat melihat keadaan kakak iparnya itu.


"Aku gak apa-apa kok, ini hanya insiden kecil," ujar Gio sambil tersenyum.


"Nak Gio, apa yang terjadi? Kenapa keadaan kamu seperti ini?" tanya Eros yang baru saja datang menyusul.


"Lebih baik kita ke mobil sekarang, kamu harus istirahat," ujar Randi.


"Iya, ayo kita ke mobil dulu," Eros membenarkan perkataan Randy.


Randi dan Ares pun memapah Gio sampai ke mobil, sedangkan Jonas sudah dibawa  ke mobil polisi.


"Terima kasih atas kerjasamanya," ujar salah satu polisi yang mewakili.


Gio yang sudah berada di mobil kembali, mengangguk.


"Saya serahkan laki-laki itu kepada, Anda. Saya harap, Anda, tidak mnegecewakan saya," jawab Gio.


"Tentu, kami akan berusaha yang terbaik dan tidak mengecewakan, Anda," ujar polisi itu lagi.


Gio mengangguk. Setelah itu semua polisi yang ada di sana, pamit lebih dulu.


"Ran, perintahkan beberapa anak buah kita untuk mengawal mereka," perintah Gio.


Randi mengangguk, dia lebih dulu menuntun Gio untuk duduk di dalam mobil, lalu pamit untuk berbicara dengan anak buahnya.

__ADS_1


Gio menyandarkan tubuhnya yang terasa remuk redam, dengan mata yang tertutup.


"Kita ke rumah sakit, kamu harus diperiksa dulu," ujar Eros.


"Gak usah, Ayah. Aku baik-baik aja kok ... Ayah dan Ares pulang saja, nanti Bunda khawatir," tolak Gio.


"Tapi, Kak ... Kakak, harus diperiksa dulu." Ares mencoba membujuk Gio.


"Aku tau kondisi tubuhku. Ini hanya luka kecil, dibawa istirahat sebentar juga akan membaik," jawab Gio, masih tetap dengan pendiriannya.


"Ayah, Ares, kalau sampai aku pulang dengan kalian, Diandra akan lebih khawatir. Jadi lebih baik kalian pulang saja ya ... aku baik-baik saja kok," sambung Gio lagi, sedikit memaksa mertua dan adik iparnya.


Ares dan Eros menghembuskan napas kasar, ternyata Gio dan Diandra memiliki kesamaan dalam keras kepalanya, hingga keduanya tidak bisa lagi membantah perkataan Gio.


"Baiklah, terserah kamu saja.  Tapi, jangan lupa kabari kita ya." Eros akhirnya menyerah.


Ares menautkan alisnya, dia masih tidak bisa meninggalkan kakak iparnya dalam keadaan terluka seperti itu, apalagi semua itu terjadi karena Gio membela Diandra.


"Ares, aku akan baik-baik saja. Aku janji," ujar Gio.


Ares kembali menatap Gio, dia menghembuskan napas panjang, dengan anggukkan samar, menandakan kalau dirinya juga setuju untuk pulang.


"Aku pegang janji, Kakak. Kak Gio, harus tetap baik-baik saja, dan menjaga Kak Dian, selamanya," ujar Ares, dengan tatapan resah.


Gio tersenyum lalu mengangguk, matanya sudah terasa berat seakan tidak sanggup lagi untuk menahan rasa sakit di kepalanya yang semakin menjadi.


"Pasti. Aku akan selalu menjaga Diandra seumur hidupku," jawab Gio mantap.


Ares dan Eros tersenyum, mendengar janji Gio. Mereka kemudian berpamitan untuk berpisah di sana.


Randi yang mendengar semua perbincangan Gio, Ares, dan Eros, menghela napas panjang berkali-kali.


Aku gak nyangka kalau kehadiran Diandra telah mengubah kamu menjadi orang yang sangat berbeda, Gio. Semoga saja kamu dan Diandra akan selalu bersama dengan penuh kebahagiaan, sampai ajal yang memisahkan kalian, batin Randi.


Randi yang melihat bagaimana hancurnya hidup Gio beberapa tahun yang lalu, karena meninggalnya sang ayah, yang diakibatkan oleh kekasihnya sendiri, hingga mengakibatkan dia menyalahkan dirinya sendiri.


Kemarahan kepada dirinya sendiri Gio lampiaskan pada dirinya dan mantan kekasihnya membuat Gio memilih merusak hidupnya sendiri, dengan membalaskan dendam dan tenggelam dalam dunia malam.


Hingga setelah dia puas, akhirnya Gio kembali ke Indonesia dan berubah, setelah bertemu dengan Diandra di daerah kecil ini.


Memutuskan menikah dan menghabiskan sisa umurnya bersama dengan satu-satunya perempuan, dengan modal nekat dan harapan mendapatkan balasan dari rasa cintanya.


Ada rasa haru, saat Randi mengingat bagaimana perubahan Gio selama ini. Dia yang sudah menjadi saksi hidup perjalanan Gio, cukup untuk bisa merasakan apa yang Gio rasakan saat ini.


......................

__ADS_1


Berusaha terlihat baik adalah pilihanku, dan aku tidak akan pernah menyesal untuk semua itu. Gio


__ADS_2