Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Kampung


__ADS_3

...Happy Reading...


....................


Diandra duduk di kursi tengah mobil, bersama dengan Ana dan Andra, sedangkan Randi selalu setia menjadi sopir untuk Gio dan keluarganya itu.


Perjalanan berajalan dengan lancar, beberapa kali mereka harus berhenti untuk beristirahat dan mengajak Andra untuk buang air kecil di toilet.


Selama seminggu ini Ana dan Diandra mulai mengajarkan Andra untuk buang air kecil di kamar mandi. Setelah sepertinya selama ini anak laki-laki itu terus memakai diapers.


Hingga siang menjelang sore, mobil yang dikendarai Randi mulai memasuki daerah kelahiran Diandra dan Ana. Gio melihat raut wajah istrinya dari kaca spion dalam.


Berbeda dari Ana tang tampak senang bisa kembali ke tempat kelahirannya, Diandra malah terlihat tegang dan sering melamun. Gio memperhatikan semua itu, dia tahu kalau rasa trauma di dalam hati istrinya masih belum terlupakan.


Ingin rasanya Gio menggenggam tangan istrinya agar bisa sedikit membuat perasaannya lebih tenang. Akan tetapi, rasanya sekarang rasanya belum bisa dia lakukan.


Mana mungkin dia harus membiarkan Ana dan Andra duduk di depan, sedangkan dirinya duduk bersama Diandra di kursi belakang, istrinya tidak akan setuju dengan semua itu.


Hingga akhirnya dirinya menemukan cara agar bisa membuat Diandra duduk bersamanya.


"Berhenti di depan," perintah Gio sebelum mereka mulai memasuki jalanan menuju ke desa tempat rumah kedua orang tua Diandra berada,


Tanpa bertanya Randi menghentikan laju mobilnya dan menepi di pinggir jalan.


"Ada apa?" tanya Diandra.


"Ran, kamu pindah ke mobil belakang, ini biar aku yang mneyetir," perintah Gio, tanpa menjawab pertanyaan istrinya.


Randi mengerutkan kening, menatap protes bosnya itu.


"Sudah sana!" usir Gio pada asistennya.


"Sayang, kamu pindah ke depan." Gio beralih pada Diandra.


"Memang kenapa, bukannya biasanya Randi yang selalu menyetir," tanya Diandra merasa bingung kepada suaminya, karena sejak tadi memang Randi yang menyetir mobilnya.

__ADS_1


"Gak apa, sayang. BIarkan Randi istirahat sebentar sebelum kita sampai ke rumah Ayah dan Bunda," jawab Gio dengan nada suara lembut.


Randi hanya melirik sekilas pada Gio, lalu ke luar dari mobil itu dan pindah ke mobil di belakang. Sedangkan Gio pindah pada kursi kemudi bersama Diandra yang berganti posisi juga.


"Kamu yakin akan melanjutkan perjalanan ini?" tanya Gio, saat mereka berada di luar mobil berdua.


Diandra sempat terdiam untuk beberapa detik, hingga akhirnya dia mengangguk pasti, sambil tersenyum pada suaminya.


Gio menghembuskan napas pelan, lalu membuka pintu mobil untuk Diandra, sebelum dirinya duduk di kursi kemudi.


Perjalanan pun dilajutkan, Gio mengambil tangan Diandra yang tampak meremas ujung bajunya.


Diandra menatap suaminya yang ternyata tengah tersenyum padanya.


"Semua akan baik-baik saja, ada aku di sini," ujar Gio lirih, sambil mengecup sekilas punggung tangan istrinya, di sela dirinya masih fokus mengemudi.


Diandra kembali tersenyum tipis, dia membiarkan tangannya Gio genggam di sepanjang perjalanan. Perlakuan Gio yang seperti ini selalu bisa membuatnya merasa aman dan disayangi oleh suaminya.


Perjalanan terus beralnjut, medan jalan yang menanjak dengan banyak pepohonan di sekitarnya membuat Diandra mengedarkan pandangannya melihat ke sekitarnya yang tampak sudah banyak berubah dibandingkan sebelumnya.


Kini di sepanjang jalan sudah lumayan banyak rumah warga yang tampak baru, kondisi jalan pun sudah mulus, tidak lagi seperti saat Diandra dan Ana meninggalkan kampung ini tiga tahun yang lalu.


Semakin dekat jarak antara mereka dan rumah kedua orang tua Diandra, semakin kencang pula genggaman tangan Diandra, seolah rasa gelisah di dalam hatinya semakin sulit dikendalikan.


Apalagi, sepanjang jalan Diandra melihat mobil mereka menjadi perhatian para warga yang melihatnya. Dia tidak suka semua itu, dirinya tidak mau menjadi perhatian banyak orang, itu sama sekali tidak menyenangkn.


Padahal bila dia mengingat lagi ke belakang, memang begitulah warga di kampungnya, mereka akan memperhatikan sesuatu yang berbeda, apalagi mobil yang dibawa oleh Gio bukanlah mobil biasa yang bisa dibeli kelangan menengah ke bawah.


Tentu semua itu akan menjadi bahan perhatian, karena mereka menganggap itu adalah sesuatu yang langka dan jarang terjadi di kampungnya.


Mobil berhenti di halaman rumah yang tampak sedikit berbeda dari sebelumya, ini terlihat lebih luas, juga ada tambahan di beberapa sisinya.


Diandra tampak terdiam, dia terlihat ragu untuk ke luar dari mobi, sedangkan Ares yang saat itu sedang ada di rumah terlihat berdiri di teras.


Adik Diandra itu sudah bekerja lagi di hotel Diandra. Akan tetapi, hari ini Gio menyuruhnya untuk pulang ke rumah, tanpa memberitahu alasannya.

__ADS_1


Ares pun menyetujui perkataan kakak iparnya itu, kemarin sore dia langsung pulang ke rumah, setelah siang harinya bekerja di hotel.


Ares langsung menghampiri mobil Gio, yang sudah dia tahu, kemudian mengetuk kaca jendela kemudi yang terlihat gelap bila dari luar.


Gio menurunkan kaca mobil di sampingnya lalu menyapa adik iparnya itu.


"Hai, Res, apa kabar?" tanya Gio sambil mengadukan kepalan tangan dengan Ares.


"Baik, dong A'. Ayo masuk, Ayah sana Bunda juga lagi ada di rumah," ajak Ares, belum sadar bahwa di mobil itu ada dua wanita dewasa yang sangat dinantikan kedatangannya di rumah ini.


Gio mengangguk. "Tolong kamu buka pintu belakang," ujar Gio, dia ingin memastikan kondisi istrinya lebih dulu.


Ares mengangguk kemudian membuka pintu belakang mobil, hingga matanya melihat seorang wanita berhijab dengan anak laki-laki kecil di sampingnya.


"Ares," lirih Diana dengan mata berkaca-kaca.


Ares terdiam dia melihat wajah Diandra yang selama tiga tahun lebih ini hanya bisa dia lihat dari dalam foto. Untuk beberapa saat Ares seperti sedang memastikan apa yang dilihatnya benar, atau hanya sebuah ilusi saja.


"Kak Ana?" gumaman lirih itu akhirnya ke luar dari mulut laki-laki itu.


"Ayah, Bunda, lihat siapa yang datang!" teriak Ares malah memanggil kedua orang tuanya.


Sedangkan, di kursi depan Gio mengalihkan pandangannya pada Diandra.


"Gio," lirih Diandra merasa enggan untuk turun dari mobil.


"Kamu sudah bisa sampai di sini, sayang. Aku yakin kamu juga bisa kembali masuk ke rumah itu," ujar Gio sambil mengusap lembut pipi istrinya.


Diandra terdiam, dia melihat pintu rumah yang terbuka lebar, hatinya menjerit merasakan rindu pada rumah tempatnya lahir dan tumbuh dengan semua keluarga yang menyayanginya.


Namun, rasa takut menghadapi semua omongan warga kembali membuatnya ragu untuk turun.


"Percayalah, semuanya tidak akan seperti yang kamu bayangkan. Mungkin mereka bahkan sudah melupakan apa yang terjadi padamu, sayang. Jadi kita lawan dan lalui ini bersama, ya?" Gio menatap mata bergetar istrinya, berusaha meyakinkan hati dan menguatkan mental sang istri.


Tidak mudah memang menghilangkan rasa trauma dari luka yang telah terlanjur ditorehkan oleh orang lain di dalam hati. Berbeda dengan mereka yang melakukannya, biasanya orang-orang seperti itu akan mudah melupakan apa yang mereka lakukan, atau bahkan menganggap itu tidak pernah ada.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, orang-orang sok tahu yang suka menghakimi akan melupakan dan kembali bersikap biasa, tanpa tahu luka yang mereka torehkan pada orang lain, sudah membuat hidup orang itu tersiksa demi bisa ke luar dari rasa trauma.


..................


__ADS_2