Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Jalan sore


__ADS_3

...Happy Reading...


.....................


Jam menunjukan pukul lima sore, Diandra dan Gio kini bersiap untu ke luar rumah.


"Udah siap?" tanya Gio sambil menghampiri Diandra yang sedang memakai cardigannya.


"Udah," jawab Diandra, sambil melihat pantulan tubuhnya di cermin full body.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Diandra.


"Heem, nanti keburu gelap," jawab Gio sambil menggenggam tangan Diandra.


Diandra tampak tersenyum tipis lalu mereka berjalan bersama ke luar dari kamar.


"Mau ke mana kalian?" tanya Randi yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Jalan-jalan sekitar sini. Diandra kan belum pernah melihat-lihat sekitar vila," jawab Gio.


Randi mengangguk, dia kemudian beralih melihat pada laptop di depannya.


"Kamu gak ikut?" tanya DIandra, biasanya Gio dan Randi tidak pernah terpisahkan.


"Gak! Ngapain juga aku jadi obat nyamuk kalian?" tolak Randi langsung.


Gio terkekeh mendengar nada kesal dari asistennya itu, sementara Diandra tersenyum sambil menggelengkan kepala samar.


"Siapa juga yang mau ngajak kamu, gangguin orang lagi pacaran aja," balas Gio.


"Woy, sadar kalian udah nikah! Pacaran ... pacaran," gerutu Randi.


"Eh, pacaran habis nikah malah lebih seru tau. Makanya cari cewek, biar bisa ngerasain," ejek Gio, dia merangkul bahu Diandra, memamerkan kemesraan di depan asisten jomlonya.


Diandra tidak menolak apa yang Gio lakukan, dia sudah bertekad untuk menerima Gio sebagai suaminya, walaupun lisannya masih enggan untuk mengungkapkannya.


Gio tampak terkejut melihat Diandra tidak menolak perlakuannya, walaupun di dalam hati dia bersorak, senang dengan kemajuan hubungan mereka.


Awalnya dia hanya mencoba untuk memanfaatkan keadaan, untuk menggoda Randi sekaligus berusaha lebih dekat dengan Diandra.


Tidak mungkin kan, kalau Diandra akan menolaknya di hadapan orang lain. Diandra bukanlah perempuan sejahat itu, yang akan mempermalukan suaminya di depan asistennya sendiri.


Namun, kini dia malah mendapati sikap Diandra yang menerimanya. bahkan dia bisa melihat senyum Diandra, saat melihat wajah kesal Randi karena ulahnya.


"Ck!" Randi berdecak malas, mendengar ejekan dari bos sekaligus temannya itu.

__ADS_1


"Yuk, sayang, kita tinggalkan jomlo ngenes ini. kasihan nanti id aileran lagi, lihat kemesraan kita," ujar Gio lagi, semakin membuat Randi kesal.


"Iya, sana cepetan pergi! Dasar bos gak ada ahlak, enak banget ngatain asistennya sendiri!" usir Randi, mengibaskan satu tangannya.


Tawa Gio pecah, karena sudah berhasil membuat Ranid kesal, hingga wajahnya memerah, entah karena marah atau cemburu melihat Gio yang sudah memiliki tambatan hati.


Diandra terkekh, dia memukul pelan perut Gio. "Kamu ini iseng banget sih sama Randi."


Keduanya berjalan ke luar dari rumah, meninggalkan Randi dengan kekesalannya.


"Mau jalan kaki atau naik motor?" tanya Gio setelah keduanya ke luar dari rumah.


"Jalan kaki aja deh kayaknya suasananya lebih enak kalau jalan," jawab Diandra.


"Ya udah, yuk kita jalan," jawab Gio.


Sore hari itu, Gio dan Diandra mulai berjalan ke luar dari gerbang vila. DIandra mengedarkan pandangannya, melihat sekitarnya yang terdapat banyak pohon besar.


Vila milik keluarga Gio ini, memang berada cukup jauh dari pemukiman, mereka harus berjalan sekitar lima sampai sepuluh menit, untuk mencapai perkampungan penduduk.


Itu semua karean mereka berad di tengah-tengah kawasan hutan buatan, milik keluarga Purnomo.


"Aku kagum deh sama kakek dan nenek kamu. Kok bisa sih mereka kepikiran bikin hutan buatan kayak gini, padahal udah lama tinggal di Jakarta," ujar Diandra.


Mereka berdua berjalan santai menyusuri jalanan hutan buatan itu, untuk menuju gerbang utama yang berada di dekat pemukiman penduduk.


Diandra mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Gio.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di gerbang utama, di sana Gio dan Diandra di sambut oleh dua anak buah Gio yang memang ditugaskan untuk menjaga gerbang.


Mereka adalah pemuda kampung yang ingin bekerja tanpa ada pendidikan yang memadai, hingga Gio memberikan mereka pelatihan dan menemptkna mereka untuk menjaga vila, bersama dengan Bi Minah dan Mang Aan.


Ya, beberapa pekerja pembantu adalah dari pemuda dan warga sekitar, sedangkan tenaga ahli, Gio datangkan langsung dari Jakarta.


"Selamat sore, Pak, Bu," sapa kedua pemuda yang mungkin seumuran dengan Ares.


Gio mengangguk dia berhenti di depan para anak buahnya itu.


"Saya ada beberapa pertanyaan untuk kalian. Tapi, ini bersifat rahasia, saya harap kalian bisa menjaganya dan tidak berbicara pada siapa pun masalah ini," ujar Gio.


Dia berbicara tegas pada kedua anak buahnya, tanpa melepaskan tangan Diandra.


Diandra cukup terkejut melihat sikap Gio yang berbeda sekali dengan sikapnya bila hanya sedang berdua dengannya.


"Baik, Pak," jawab mereka mngangguk patuh.

__ADS_1


"Kalian tau perempuan yang namanya Rani?" tanya Gio.


Kedua laki-laki itu tampak saling pandang sebelum menjawab.


"Dia adalah keponakan Bi Minah dan Mang Aan. Dia juga suka membantu Bi Minah dan Mang Aan bekerja di vila," jelas salah satu diantara mereka.


"Jadi dia suka membantu Bi Minah?" tanya ulang Diandra.


"Benar, Bu. Biasanya pada saat ada tamu vila, Rani suka membantu Bi Minah memasak dan bersih-bersih di vila," angguk mereka.


"Mulai kapan itu terjadi?" tanya Gio.


"Sejak dua tahun lalu, semenjak dia datang ke kampung ini."


"Jadi dia datang ke kampung ini dua tahun yang lalu?" tanya Gio, memastikan. Padahal dia sendiri sudah tahu semua itu.


"Benar, Pak."


"Apa dia sudah memiliki anak, atau adik yang jauh dibawah umurnya?" tanya Gio lagi.


"Setahu kami, Rani tidak memiliki anak atau adik. Dia adalah anak tunggal di keluarganya."


Gio dan Diandra mendengarkan dengan seksama, mereka tidak ingin melewatkan satu informasi pun tentang Rani.


"Apa ada lagi yang kalian tahu tentang dia, selain semua itu?" tanya Gio.


Tatapan tanjamnya membuat kedua anak buahnya itu terdiam membeku, aura yang dikeluarkan Gio juga sangat mengintimidasi, sampai Diandra saja tidak berani memberi intrupsi pada suaminya itu.


"Sepertinya tidak ada, Pak. Hanya saja, memang tidak ada yang tau, kapan pastinya Rani datang ke kampung, semua itu seperti ditutupi oleh Bi Minah dan Mang Aan."


"Baikah, kalau begitu. Terima kasih atas informasinya, ini buat kalian beli kopi," ujar Gio memberikan dua lembar uang pecahan seratusribuan.


Kedua laki-laki itu tampak tersenyum sumringah, mereka langsung menerimanya.


"Terima kasih, Pak, Bu," ujar keduanya sambil membungkukkan tubuhnya berulang kali.


Ya, itulah keuntungan lainnya jika bekerja di keluarga Purnomo. Mereka akan selalu diberikan uang lebih, untuk sesuatu yang diluar pekerjaan wajib mereka. Walaupun terkadang, mereka juga harus membantu satu sama lain, untuk mengerjakan pekerjaannya.


Gaji yang besar, ditambah dengan berbagai bonus yang menggiurkan, membuat hampir semua pekerja di kampung terdekat bekerja di perusahaan Purnomo.


Walaupun mereka harus dituntut setia dan tidak boleh melanggar perjanjian kerja sedikitpun. Bila sampai ada yang berani berkhianat dan melakukan pelanggaran fatal, maka berat mulai dari dipindahkan ke tempat yang sangat jauh dan terpencil, hingga dipecat secara tidak hormat dan mendapatkan black list dari seluruh perusahaan Purnomo.


"Yuk, jalan lagi," ujar Gio, dia kembali melembutkan suaranya, ketika berbicara dengan Diandra.


...................

__ADS_1


Singa di hadapan para bawahan, tapi kucing di depan Diandra. Akh, Gio bikin yang baca melehoy aja😂🙈


__ADS_2