
...Happy Reading...
......................
Gio berdiri di samping pintu toilet, dia bersandar dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, sesekali dia tampak berjalan untuk menghilangkan rasa risaunya, walau kemudian ke posisi awal.
Banyak para pengunjung wanita yang tampak terpesona dengan ketampanan laki-laki mantan casanova itu, atau bahkan ada yang menatap penuh selidik dan menghardik, seolah Gio adalah laki-laki mesum yang sedang mencari mangsa.
Setiap suara pintu terbuka selalu mengalihkan perhatian Gio, berharap itu salah istrinya. Akan tetapi, semua itu selalu saja salah, Gio berulang kali kecewa saat melihat wanita yang ke luar dari toilet, bukanlah istri kesayangannya.
Hingga suara pintu terbuka kembali terdengar, membuat Gio menoleh cepat sambil berdiri tegak, menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan istrinya.
Diandra menatap Gio dengan raut wajah yang kelam, matanya merah dengan bulu mata yang basah, tanda bekas tangisan di sana, hidung pun sudah seperti buah tomat, dengan wajah sedikit pucat.
"Sayang, kamu gak apa-apa? Aku minta maaf soal tadi, aku gak bermaksud bikin kamu marah, sayang," ujar Gio menatap wajah Diandra panik.
Laki-laki itu hendak membantu Diandra berjalan, dia terlihat sedikit meringis melihat wajah istrinya yang sudah tampak kacau.
"Aku gak apa-apa," jawab Diandra menepis tangan Gio lalu berjalan mendahuli suaminya.
"Sayang, kamu beneran gak aapa-apa? Atau kita ke dokter saja ya." Gio masih mencoba membujuk istrinya.
"Aku mau ke hotel," ujar Diandra tidak mau dibantah.
"Tapi, sayang–"
"Aku mau ke hotel!" Diandra langsung memotong perkataan suaminya.
Pada saat mereka sudah sampai di meja yang mereka pesan tadi, bersamaan dengan kedatangan Randi.
"Ran, kebetulan kamu ke sini, sekarang tolong kamu habiskan semua ini, aku harus mengantarkan Diandra untuk kembali ke hotel, " perintah Gio pada asistennya yang barusan aja berdiri di depannya.
"Tapi, Gio–"
"Gak ada penolakan, ini penting, kamu harus tolongin aku ya!" Gio memotong perkataan Randi yang hendak protes pada bosnya itu.
Sedangkan Diandra sudah berjalan ke luar dari kedai es krim itu, tanpa menghiraukan pandangan panik dari sang suami.
"Jadi ini yang dia maksud penting?" gumam Randi melihat dua mangkuk es krim.
"Jangan lupa foto mangkuk kososngnya lalu kirimkan padaku!" sambung Gio lagi yang membuat Randi semakin melebarkan wajahnya.
"Dia kira aku ini tempat sampah, sampai harus menghabiskan bekas makan mereka? Astaga, kenapa setelah menikah dia semakin gila sih?!" kesal Randi, sambil duduk di di tempat Gio sebelumnya.
__ADS_1
"Ohya, mana kunci mobil kamu?" Gio tampak berlari kembali menghampiri Randi.
Randi tidak menjawab, dia hanya memberikan kunci mobilnya pada Gio.
"Makaih," ujar Gio setelah menyambar kunci di tangan Randi kemudian berlari kembali ke luar kedai.
Randi menggelengkan kepala samar sambil berdecak melihat drama rumah tangga yang baru saja terjadi.
.
.
"Sayang, kita jalan-jalan dulu yuk," ujar Gio langsung menarik tangan Diandra dan membawanya masuk ke dalam mobil Randi.
"Apa-apaan sih kamu, Gio?!" kesal Diandra saat dia sudah masuk duduk di dalam mobil bersama dengan Gio di sisinya.
"Oke, aku ngaku aku salah, maafin aku ya, sayang," ujar Gio sambil menggenggam kedua tangan Diandra.
"Sekarang kalau kamu mau sesuatu, aku janji aku gak akan pernah nolak lagi. Aku anak berusaha mengabulkan semua keinginan kamu dan anak kita," sambung Randi dengan suara lirih penuh penyesalan.
Diandra terdiam beberapa saat, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Janji?" tanyanya, memastikan.
Diandra menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kasar, sebelum akhirnya mengangguk.
"Kamu maafin aku?" tanya Gio dengan senyum cerahnya, seperti anak kecil yang baru saja membeli mainan kesukaannya.
Diandra mengangguk dengan senyum tipisanya, sungguh semua ini diluar dari bayangannya. Diandra tidak menyangka kalau Gio, seorang pengusaha sukses dan lulusan luar negeri, malah bodoh dalma mengerti wanita, bahkan tidaktahu yang namanya alat tes kehamilan. Benar-benar drama yang sangat melelahkan dan tidak terduga.
Gio langsung memeluk Diandra sambil mneghembuskan napas panjang, sungguh menghadapi wanita hamil itu memang sangat melelahkan.
Baru saja dia mengetahui aau Diandra hamil, dan langsung disuguhi drama merajuk yang sangat sulit untuk dia mengerti.
Untung sayang, kalau enggak, udah aku tinggal dari tadi, batin Gio mendesah lega, setelah bisa menenangkan emosi sang istri.
Gio yang terbiasa dipuja banyak wanita tanpa harus bersusah payah mendekati atau bahkan merayunya, kini merasa cukup kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan emosi Diandra yang naik turun.
"Oke, sekarang kita mau ke mana dulu?" tanya Gio, sambil mengurai pelukannya, saat ini keduanya masih berada di parkiran kedai es krim itu.
Diandra menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, rasanya sudah malas untuk pergi ke mana-mana, tubuhnya sudah lelah akibat muntah beberapa saat yang lalu.
"Kita pulang ke hotel aja deh," jawab Diandra.
__ADS_1
"Langsung pulang ke hotel?" tanya Gio tidak percaya dengan reaksi Diandra.
Biasanya jika wanita yang dia kencani sebelumnya mendapatkan penawaran yang sama, mereka akan dengan senang hati menyebutkan pusat perbelanjaan mewah. Akan tetapi, sepertinya itu tidak berlaku untuk seseorang seperti Diandra.
"Heem, aku lelah ... mau istirahat sebelum bersiap untuk menghadiri pesta nanti malam," ujar Diandra mengangguk samar.
"Hem, ya sudah, kita kembali ke hotel saja, kamu memang harus banyak beristirahat," jawab Gio engangguk setuju dengan keinginan sang istri.
Gio pun akhirnya mengemudikan mobil Randi ke hotel yang hanya berjarak kurang lebih tiga ratus meter saja.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Gio, saat keduanya berjalan masuk ke dalam hotel bersama.
Gio terus menautkan jari tangannya dengan Diandra, seolah dia takut kalau istrinya akan menghilang dari sisinya.
Sepertinya kejadian beberapa saat yang lalu sedikit membuat Gio lebih waspada pada suasana hati Diandra.
"Gak ada?" geleng Diandra.
Suasana sore hari yang terasa sejuk, membuat Diandra cukup nyaman berada di negara ini, walau tetap saja akan merindukan tempat di negaranya sendiri.
"Beneran? Kalau kamu mau sesuatu bilang saja sama aku, nanti pasti aku belikan," ujar Gio lagi dengan wajah yang terlihat bersemangat.
"Aku sedang tidak ingin sesuatu. Kamu ini kenapa sih?" Diandra mengerutkan keningnya menatap Gio bingung.
"Bukannya kata orang kalau wanita sedang hamil, dia akan mengidam dan mau yang aneh-aneh" tanya Gio, mengingat kejadian saat Erika hamil.
Saat itu dia tiba-tiba kedatangan Erika dan Mama ke apartemennya, hanya kerena Erika yang sedang hamil mengidam ingin mencukur rambut Gio.
Karena itu, Gio harus pasrah menjadi bahan percobaan Erika yang penasaran untuk mencukur rambutnya. Bahkan Gio harus rela memakai topi selama hampir satu bulan, karena Erika mencukur rambutnya dengan asal dan tidak rata.
Mengingat itu Gio masih merasa kesal pada kakaknya itu, walau akhirnya dia menjadi dekat dengan Ethan. Mungkin karena masalah itu juga.
"Tadi waktu aku mau sesuatu kamu ke mana?!" kesal Diandra.
"Eh?! Jadi tadi itu kami sedang mengidam?" tanya Gio terkejut bercampur bingung.
Diandra tidak menjawab, dia hanya memutar bola matanya. Malas rasanya menanggapi otak Gio yang terkadang sedikit loading.
Sudahlah, sepertinya untuk sekarang Diandra lebih memilih untuk diam, dari pada nanti emosinya kembali naik karena pertanyaan Gio yang sangat mengesalkan.
......................
Tepuk jidat deh untuk Gio😂
__ADS_1