
...Happy Reading ...
......................
"Sayang, kamu gak apa-apa kan aku tinggal di rumah sama Mama?" tanya Gio saat Diandra membantunya menyiapkan diri.
"Gak apa-apa. Kenapa sekarang kamu jadi bawel banget sih?" jawab Diandra sambil mencebik kesal.
"Kalau nanti kamu merasa gak nyaman telepon aku, ya. Aku akan langsung pulang," ujar Gio lagi.
"Iya," jawab Diandra lagi singkat, sambil mengambil jas lalu bersiap untuk memakaikannya pada Gio.
"Sayang, kamu tau kan, kalau aku tidak suka memakai jas, itu terlihat sangat kaku," keluh Gio, menolak untuk memakai jas yang sudah disiapkan oleh istrinya.
"Kamu ke kantor mau kerja atau mau tebar pesona, heh?" tanya Diandra dengan wajah kesalnya.
"Ya, kerja lah, sayang. Tapi, aku memang tidak suka memakai jas," jawab Gio.
"Oh, jadi kamu memang lebih suka diperhatikan sama karyawan kamu, terus dipuji-puji gitu. Iya?" tuduh Diandra.
"Astaga, sayang, enggak gitu, aku cuman gak nyaman kalau pake jas," elak Gio.
"Mau pake, atau aku gak izinin kamu ke kantor?" ancam Diandra.
"Eh, kok gitu sih?" Gio mengerutkan kening, melihat sikap Diandra yang terlihat berbeda. Istrinya itu terlihat lebih berani mengaturnya dibandingkan sebelumnya.
"Oh, yaudah kalau gak mau, aku bilang aja sama Mama," ujar santai Diandra sambil berbalik hendak menaruh kembali jas di tangannya.
Gio menghembuskan napas panjang bersiap untuk memanggil istrinya.
"Sayang, jangan main bilangin ke Mamah dong. Sini, biar aku pakai jasnya." Gio langsung mengambil jas ditangan istrinya lalu memakainya.
Diandra tersenyum. "Nah, gitu dong, kan jadinya lebih dewasa. Eh, salah deh, maksudnya lebih rapih," ujar Diandra sambil membenarkan Jas Gio.
"Jadi judulnya, ada yang takut aku disangka belum punya istri sama karyawan, hem? Kamu cemburu?" tanya Gio, sambil sedikit mencondongkan tubuhnya mendekati wajah istrinya.
"E–enggak! Siapa bilang? Aku cuman gak mau orang-orang sampai nyangka kalau aku gak ngurusin suami, sampai suami ke kantor aja cuman pake kemeja aja," ujar Diandra mencari alasan yang sekiranya masuk akal.
Gio tersenyum melihat Diandra yang salah tingkah, seperti seorang pencuri kecil yang baru saja ketahuan.
"Baiklah mulai sekarang aku akan memakai jas setiap kali ke kantor. Asal kamu senang, apa sih yang enggak, sayang," ujar Gio sambil menarik pinggang ramping Diandra hingga merapat.
"Gio, jangan aneh-aneh deh." Kedua tangan Diandra menekan dada Gio, agar mereka masih memiliki jarak.
"Apa yang aneh, sayang? Aku cuma mau cium kening kamu, apa gak boleh?" tanya Gio dengan seringai jahilnya.
"Ck, dasar!" Diandra memukul pelan dada Gio, merasa kesal karena Gio telah mengerjainya.
__ADS_1
"Boleh, gak?" Gio bertanya lagi.
"Apa sih, pake tanya segala, biasanya juga gak pake minta izin," cebik Diandra dengan semburat merah di pipinya.
Gio tergelak melihat wajah malu istrinya, dia kemudian mencium kening Diandra lama.
Diandra langsung melepaskan pelukan Gio, begitu suaminya selesai mencium keningnya.
"Ayo, aku antar kamu ke depan," ujar Diandra, sambil mengambil tas kerja milik Gio.
Gio mengangguk, dia kemudian merangkul pinggang Diandra dan berjalan ke luar dari kamar bersama.
"Malu, ih, gak usah pegang-pegang." Diandra berusaha menyingkirkan tangan Gio dari pinggangnya saat melihat ada beberapa pekerja yang sedang bekerja di dekat mereka.
"Kenapa harus malu? Mereka kan sudah tau kalau kita suami istri," ujar Gio santai.
"Ish, Gio, lepasin. Nanti kalau Mama lihat gimana?" ujar Diandra sambil menuruni tangga.
Namun, belum sempat Gio melepaskan tangannya, mata Diandra sudah terlanjur melihat Mama Hana dan Randi di ruang keluarga sedang melihat ke arah mereka berdua.
Diandra tersenyum sambil berbisik pada Gio, dengan mengeratkan giginya. "Tuh kan, aku bilang juga apa, sekarang Mama malah melihat kita."
"Gak apa-apa, sayang, Mama juga pasti ngerti, dia kan juga pernah muda, sama kayak kita," jawab santai Gio.
"Tapi, aku malu, Gio! Ih, ngeselin banget sih jadi suami!" decak Diandra
Diandra menatap Gio kesal.
Sejak kapan aku bisa jatuh cinta sama laki-laki pecicilan dan tukang jahil begini, ditambah manja dan gak tau malu. Astaga, aku beneran gak percaya bisa nikah sama dia, gumam Diandra dalam hati.
"Mah," sapa Diandra saat keduanya sudah berada di depan Mama Hana dan Randi.
Mama Hana bisa melihat semburat merah di pipi Diandra, juga sikap Diandra yang salah tingkah dan tidak nyaman. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum sambil menggeleng pelan, melihat anak laki-lakinya yang seakan tidak mau melepaskan istrinya walau sedetik pun.
"Mah, aku pergi ke kantor dulu," ujar Gio sambil mencium punggung tangan Mama Hana, lalu memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri.
"Heem," jawab Mama Hana.
Gio kembali menggandeng Diandra lalu membawanya menjauh dari Mama Hana.
"Eh, mantu Mama, mau kamu bawa ke mana?" tanya Mama Hana, mencegah Gio membawa Diandra.
"Aku pinjam sampai ke depan, Mah," jawab Gio, kemudian melanjutkan langkahnya dengan Diandra.
"Dasar anak nakal itu!" Mama Hana terkekeh melihat sikap posesif anak laki-lakinya.
"Siap-siap buat lihat kebucinan Gio, Mah. Aku aja udah sampai mual, karena bosan melihat sikap manja dia ke istrinya," adu Randi, mengeluhkan sikap Gio.
__ADS_1
"Biarkan saja lah, yang penting dia begitu sama istrinya. Nah, kamu sendiri, kapan ngenalin perempuan ke Mama?" jawab Mama Hana santai, sekaligus bertanya tentang pasangan Randi.
Eh, kenapa malah aku yang kena? batin Randi.
Niat hati ingin mengadu tentang sikap berlebihan GIo terhadap Diandra, eh, malah dirinya sendiri yang ditagih pasangan sama Mama Hana.
"Aku belum mikir ke sana, Mah," jawab Randi.
"Jangan gitu, memangnya kamu gak mau punya perempuan yang ngurusin kamu, kayak Gio?" tanya Mama Hana.
"Nanti kalau udah ada pasti aku kenalin kok, Mah. Tenang aja, ya," ujar Randi, dengan senyum tertekan.
"Ya sudah, kalau gitu aku juga berangkat ke kantor ya, Mah," sambung Randi lagi sambil mencium punggung tangan Mama Hana lalu berjan cepat meninggalkan wanita paruh baya itu.
Ngadu ke Mama gak ada gunanya, dia malah nagih mantu sama aku. Hadeuh, gak beres ini! keluh Randi dalam hati.
Untuk saat ini menghindar adalah cara ninjanya, agar Mama tidak bertanya lebih lanjut mengenai perempuan kepadanya.
Sementara itu, Gio dan Diandra sudah berada di teras.
"Aku berangkat, kamu baik-baik di rumah, ya," ujar Gio, sambil mengusap puncak kepala istrinya.
"Heem," angguk Diandra.
"Hati-hati di jalan, kabari aku kalau udah sampai," sambung Diandra lagi.
"Iya, sayang," ujar Gio lembut.
"Awas, gak usah tebar pesona sama karyawan, atau aku akan bilang sama Mama," peringat Diandra, sambil menatap tajam suaminya.
"Iya, sayang," jawab Gio lagi, mengangguk patuh.
Diandra mengambil tangan Gio, kemudian mencium punggung tanganya, yang disambut dengan kecupan kilas di kening dan bibir Diandra oleh Gio.
Saat bersamaan, Randi baru saja sampai dan langsung disuguhi pemandangan mesra pasangan suami istri itu.
"Astaga! Pagi-pagi begini mataku udah kotor aja," decak Randi, sambil membalikan badannya, menghindari pemandangan mesra di depannya.
Diandra yang menyadari kedatangan Randi, langsung memukul dada Gio. "Ck!"
"Biarkan saja, dia kan sudah biasa liat kita," ujar Gio santai.
"Ran, ayo berangkat, kamu mau kita telat?!" teriak Gio beralih pada asistennya.
"Siap, Bos," jawab Randi sambil menggerakan dua jarinya di samping kepala, kemudian berjalan menuju ke mobil yang sengaja dia sudah siapkan di depan rumah.
Gio pun ikut masuk ke dalam mobil, meninggalkan Diandra yang melihatnya sampai mobil itu menghilang terhalang oleh pagar rumah yang tinggi menjulang.
__ADS_1
......................