
...Happy Reading...
....................
"Dua anak itu bernama Gandi dan Rani," sambung Randi, yang langsung membuat tiga orang di depannya mengangkat kepala, menatap asisten dari Gio itu.
Diandra dan Gio masih diam, mereka melihat setiap perubahan ekspresi dari ketiga orang itu.
"Kalau emang Rani sudah meninggal di dalam kebakaran itu, lalu siapa perempuan yang ada di samping kalian?" tanya Randi.
Diandra mengepalkan tangannya, menahan perasaan yang kini bergejolak di dalam dirinya. Melihat perempuan yang kini hanya menunduk dalam kembali, menyembunyikan rasa takut dan gugup.
"Aku butuh penjelasan kalian saat ini," ujar Diandra dengan nada dingin.
"A–apa m–maksud semua ini? Den, saya tidak mengerti, kenapa Aden mencari tau tentang kakak saya?" tanya Mang Aan, masih mencoba mengelak.
"Karena kalian terus mengelak dari pertanyaan kami, tentang Rani. Jadi selama ini kami terpaksa mencari taunya sendiri. Maaf, jika kalian merasa tidak nyaman, hanya saja ini menyangkut seseorang yang sangat penting bagi istri saya," jelas Gio panjang lebar.
Walaupun dia merasa kesal pada kedua pekerjanya itu karena membuat dia harus mengerahkan hampir seluruh anak buahnya, hanya untuk mencari tau kebenaran tentang Rani.
Namun, dia juga tidak bisa menghardik dua orang tua itu, mereka tetaplah pekerja setia keluarga Purnomo. Selama ini mereka juga tidak pernah mneghianati keluarganya.
Gio masih bisa menahan amarahnya, dibandingkan dengan Diandra yang mungkin bisa saja meledak, jika perempuan itu lebih banyak mengeluarkan kata-katanya.
"T–tapi, apa hubungannya dengan kami dan Rani?" Mang Aan menatap bingung, walau di dalam matanya tersirat rasa takut.
"Karena aku yakin kalau dia adalah Ana, adik kembarku!" ujar Diandra dengan menekan setiap kata yang terucap.
"Kembar?" tanya Bi Minah, sambil menyipitkan matanya mencoba memperjelas penglihatannya.
Gio mengusap tangan Diandra yang sudah mengepal begitu erat, dia tahu kalau ini begitu sulit untuk Diandra.
Wanita itu harus menahan rasa rindu, marah, dan segala rasa yang bercampur aduk di hatinya, di saat perempuan yang dicurigai sebagai adiknya sendiri ada di depannya.
Apalagi dengan sikap Rani yang seakan tidak mengenalnya, Diandra pasti merasa sangat tersiksa.
"Sabar, sayang," bisik Gio.
Diandra menoleh pada Gio, matanya yang tampak memerah terlihat jelas, membuat hati Gio juga merasa sakit karenanya.
__ADS_1
"Rani ini benar-benar keponakan saya, dia selamat karena dia sedang berada di luar saat kebakaran itu terjadi," jawab Mang Aan dengan suara yang bergetar dan tersendat di beberapa bagian.
Bi Minah tampak mengangguk menyetujui perkataan suaminya. Akan tetapi, Rani hanya diam tanpa memberikan pernyataan lainnya.
"Saya mengakui kalau Rani memang sangat mirip dengan Neng Dian, saya dan istri juga sempat terkejut saat melihat Neng Dian untuk pertama kalianya," sambung Mang Aan lagi.
"Tapi, saya bisa menjamin kalau Rani bukanlah adik kembar dari Neng Dian." Mang Aan kembali berujar.
"Lalu, kenapa di dalam laporan kepolisian dan rumah sakit yang menangani kejadian kebakaran itu, tertulis kalau Rani sudah meninggal? Apa mungkin ada dua Rani di sini?" Kini giliran Randi yang kembali berbicara.
"Kami tidak tau masalah itu, Pak. Mungkin saja mereka salah memasukkan nama korban, atau mengenali korban," jawab Mang Aan.
"Bagaimana kalau kita melakukan tes DNA?" Diandra kembali berbicara.
Rasanya dia gemas melihat Rani yang hanya membisu dengan kepala tertunduk, tanpa mau ikut bersuara. Ingin rasanya dia hampiri dan mengangkat kepala perempuan itu.
Rani tampak mengangkat kepalanya, untuk pertama kalinya dia berani menatap mata Diandra hingga kini mata keduanya tampak terpaut.
Ya, dia adalah Ana. Aku bisa merasakannya, pandangan matanya masih sama dengan tiga tahun lalu, batin Diandra.
Diandra hampir beranjak dari duduknya jika saja Gio tidak menahan tubuhnya. Dia ingin sekali memeluk tubuh adik yang sangat dirindukannya.
Gio menggeleng samar, saat Diandra menatapnya dengan sorot mata tajam. Ini belum saatnya mereka bertindak sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apalagi saat ini dia melihat Mang Aan dan Bi Minah masih mempertahankan keyakinan mereka.
"Kenapa harus sejauh itu? Den, kami tidak berbohong, Rani memang keponakan kami," jawab Mang Aan.
"Kalau memang begitu, kenapa kalian haru takut untuk melakukan tes DNA?" Diandra berucap sinis.
Dia sudah cukup muak dengan semua pembicaraan yang menurutnya hanya membuang waktu. Mang Aan tetap saja tidak mau membantu mereka.
Mang Aan dan Bi Minah tampak saling pandang lalu melihat Rani. Entah apa yang sedang mereka bicarakan menggunakan bahasa batin itu.
Beberapa saat kemudian Rani akhirnya menegakkan tubuhnya lalu menatap ketiga orang di depannya. Dia menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan.
"Baiklah, ayo kita tes DNA," jawab Rani dengan nada yakin.
Diandra, Gio, dan Randi tersenyum saat mendapatkan persetujuan dari Rani, walau di dalam hati Diandra malah meragu saat Rani malah mengajaknya untuk melakukan tes DNA, padahal dia tinggal mengatakan 'iya' maka dirinya akan langsung mempercayainya.
.
__ADS_1
.
"Sayang, apa kamu yakin akan melakukan tes DNA?" tanya Gio.
Kini mereka tengah duduk bersandar pada kepala ranjang, bersiap untuk tidur, setelah melalui hari yang cukup melelahkan.
"Entah," jawab Diandra sambil mengangkat kedua bahunya.
Dia masih belum bisa mengerti, kenapa Rani memailih untuk melakukan tes DNA, dibandingkan dengan langsung mengakui saja.
Apa mungkin Rani memang bukan Ana? Pikiran itu terus mengganggu Diandra sejak tadi.
Gio menghembuskan napasnya, dia tahu saat ini istrinya pasti sedang berada dalam dilema. Mengingat semua kejadian yang terjadi hari ini.
"Kita lakukan saja dulu, sayang. Masalah benar atau tidaknya, kita lihat saja nanti," ujar Gio, mencoba memberikan saran.
Diandra tidak menjawab, dia malah merebahkan kepalanya di pundak Gio, rasanya masalah ini hampir merenggut semua kekuatannya, membuatnya merasa lelah hati maupun pikirannya.
Gio menyambut tubuh Diandra, dia memeluknya mencoba memberikan rasa nyaman bagi istrinya.
"Semua pasti akan baik-baik saja," ujar Gio lagi sambil memberikan kecupan hangat di kening istrinya.
Diandra tidak menjawab, dia malah menutup matanya begitu rapat. Tubuhnya lelah, hatinya pun lemah, kini dia hanya bisa bersandar pada laki-laki di sampingny, untuk memulihkan semua tenaganya.
"Kita istirahat yuk, kamu pasti lelah," ujar Gio sambil mulai menurunkan tubuh mereka, hingga akhirnya berbaring dengan tubuh Diandra berada di dalam pelukannya.
Sepasang suami istri yang mulai menerima satu sama lain itu pun terlelap, tenggelam dalam gelapnya malam dengan kehangatan kasih sayang.
.
.
Sedangkan di rumah yang lain, tampak tiga orang masih terjaga, mereka duduk di atas bangku kayu sederhana.
"Rani, kenapa kamu menyetujui tes DNA itu?" tanya laki-laki paruh baya.
"Aku tidak mempunyai pilihan lain, Mang," jawab Rani.
"Sudahlah, Pak. Mungkin ini memang sudah saatnya kita harus mengungkapkan semuanya." Bi Minah ikut bersuara.
__ADS_1
"Tapi, Bu, bagaimana kalau kabar ini sampai kepada mereka? Rani bisa kembali berada di dalam bahaya," sergah Mang Aan, dia masih ragu dengan keputusan Rani.
Kira-kira ada apa ya sama Rani? Dan siapa sebenarnya Rani? .... Yuk komen😊