Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Curiga


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Mama Hana akhirnya pulang lebih dulu, setelah dia membicarakan tentang perusahaan bersama Gio. Sedangkan Diandra ditahan oleh Gio, dia meminta istrinya untuk tetap tinggal dan pulang bersama, setelah urusannya di kantor selesai.


"Kenapa kami nanyain Sintia dan Mely, sama Mama?" tanya Gio.


Dia tahu kalau istrinya itu adalah wanita yang acuh dan tidak ingin tahu tentang masalah orang lain. Makanya Gio penasaran saat Diandra menanyakan orang lain pada Mama Hana.


"Enggak, aku cuman penasaran aja. Kan tadi aku udah bilang," jawab Diandra.


"Beneran? Gak ada yang lain?" tanya Gio.


"Emang kenapa sih, kamu kok kayaknya penasaran banget pendapatku tentang mereka?" Diandra malah balik bertanya pada suaminya.


"Yaa, gak apa-apa sih, cuman gak biasa aja, lihat kamu penasaran sama orang lain," ujar Gio, santai.


"Owh ...." Diandra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, sebagai tanggapan.


Saat keduanya sedang bersama tiba-tiba terdengar ketukkan pintu, kemudian terbuka dengan menampilkan Randi di sana. Gio dan Diandra pun mengalihkan perhatiannya pada kedatangan wanita itu.


Randi yang tidak tahu kedatangan Diandra di kantor, tampak terkejut. Dia menggaruk belakang kepalanya sambil meminta maaf, takut mengganggu sepasang suami istri itu.


"Ada apa, Ran?" tanya Gio.


"Begini, ini tentang tugas yang tadi Pak Gio berikan padaku," jawab Randi, sambil melirik Diandra, seolah memberi kode kepada Gio untuk meminta izin mengatakan semua itu di depan Diandra.


"Oh iya, terus bagaimana?" tanya Gio, sambil menatap Randi mantap, seolah tidak apa-apa jika Randi mengatakan hasil pencariannya di depan Diandra.


"Sepertinya aku sudah menemukan orang yang menyebarkan rumor itu di kantor," ujar Randi, dia menaruh flash disk di depan Gio, sebagai bukti perkataan yang akan dia ucapkan.


Gio pun langsung mengambil laptop lalu menghubungkan flash disk itu. Perlahan Gio mulai membuka file di dalamnya. Akan tetapi, dia belum menekan tombol play, sebelum Randi menjelaskan apa yang akan dia lihat di salam sana.


"Itu adalah bukti perbuatan seseorang yang aku curigai memiliki andil besar dalam penyebaran rumor di kantor ini," ujar Randi, seakan tahu apa yang dibutuhkan oleh Gio saat ini.


"Jadi, ini adalah video pelaku? Dari mana kamu mendapatkannya, dan yakin kalau orang di dalam video ini pelakunya?" tanya Diandra.


"Itu adalah CCTV kantor, ada beberapa video yang menampilkan kalau dia adalah orang yang menyebarkan rumor itu pada para karyawan lainnya," jawab Randi.

__ADS_1


Gio dan Diandra mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian mulai menonton video yang Randi berikan.


Keduanya tampak memperhatikan dengan seksama, setiap gerakan orang yang ada di dalam video itu, hingga terlihat beberapa orang karyawan terlihat sedang berkumpul bersama, kemudian mereka mulai mengobrol hal-hal biasa.


Namun, beberapa saat kemudian, ada seseorang yang tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka.


"Siapa itu?" tanya Diandra, melihat sekilas pada Randi.


"Entahlah, aku juga tidak tau," geleng Gio.


"Dia adalah salah satu staf sekretaris. Dia memang termasuk karyawan baru, jadi wajar bila Pak Gio tidak mengetahuinya," ujar Randi.


Diandra mengernyit, dia tampak tidak asing dengan wajahnya, sepertinya dia merasa pernah bertemu dengan perempuan itu.


"Sepertinya wajahnya tidak asing," ujar Diandra lirih, yang langsung membuat Gio dan Randi melihatnya bersamaan.


"Apa kamu mengenalnya, sayang?" tanya Gio.


Diandra mencoba memutar kembali video berulang kali sambil mengingat di mana kira-kira dia melihat wanita itu.


"Ohiya, itu adalah perempuan yang satu lift bersamaku saat pertama kali datang ke sini. Kalau aku gak salah mengingat, dia pernah berbicara kalau dirinya baru dua bulan bekerja di sini," ujar Diandra, mengungkapkan apa yang dia ingat tentang perempuan itu.


"Aku ragu kalau dia yang menjadi pelaku utama penyebaran rumor ini. Dia memang terlihat seperti orang yang mudah bergaul dan senang mengobrol. Tapi, dia terlihat polos," ujar Diandra mengungkapkan penilaiannya.


Gio dan Randii tampak terdiam, mungkin memikirkan pendapat Diandra.


"Lalu, menurut kamu, siapa yang menyebarkan rumor ini?" tanya Gio.


"Mana mungkin kan kamu memiliki musuh di kantor ini, apa lagi kamu baru dua kali datang ke sini," tebak Gio.


"Kalau bukan musuh Bu Dian, apa mungkin musuh Pak Gio?" gumam Randi.


"Atau mungkin orang yang menyukai dia?" sambung Diandra menimpali ucapan Randi, keduanya kini tampak menatap Gio bersamaan.


"Eh, kenapa jadi aku?" bingung Gio, sampai memundurkan tubuhnya.


"Karena orang itu mau membuat aku terlihat buruk di kantor ini, mungkin juga nanti di mata kamu. Jadi, sudah pasti itu pasti ulah orang yang suka padamu, Gio," jelas Diandra yang diangguki oleh Randi.


"Tunggu-tunggu ... tapi, kalau memang semua itu benar, lalu siapa yang membuat semua itu?" tanya Gio.

__ADS_1


"Kamu pikir siapa? Coba pikir, selama ini ada yang mendekati kamu tidak?" tanya Diandra dengan wajah berubah dingin.


"Hah?" Gio tampak mengernyit, mencoba mengingat apa yang selama beberapa hari ini terjadi.


"Sepertinya tidak ada wanita yang mencoba mendekatiku," jawab Gio.


"Coba ingat-ingat yang benar, jangan sampai kamu salah mengingat, karena itu akan berpengaruh pada penilaianku." Diandra mencoba menekan suaminya.


"Aku–" Gio tampak ragu untuk mengucapkannya.


"Wanita bikini itu? Iya kan?" tebak Diandra dengan tatapan tajamnya.


Randi yang melihat kondisi antara sepasang suami istri itu semakin memanas, berencana untuk melarikan diri, dari pada harus terbawa dengan urusan rumah tangga bosnya.


"Astaga, sayang?" Gio terkejut dengan ucapan istrinya.


"Kalau begitu, aku per–" Randi langsung menghentikan ucapannya saat Diandra dan Gio kompak menatapnya tajam.


'Astaga, situasi macam apa ini? batinnya, memelas.


Gio dan Diandra kembali saling menatap, mereka seperti sedang beradu kekuatan mata. Walau akhirnya Gio menalah, dia menurunkan bahunya, sorot matanya pun terlihat melemah.


"Cepat jawab! Wanita bikini itu kan yang selama ini mendekati kamu, padahal dia sudah tahu kalau aku adalah istri kamu, dan itu artinya kamu sudah menikah!" geram Diandra.


"Hah, aku sudah tau dari awal kalau dia menyukai kamu, Gio. Tatapan matanya saat dia menatap kamu itu berbeda,"sambung Diandra lagi, dengan menahan rasa panas di dalam dada.


"Dia hanya sering menawarkan makan siang untukku atau menawarkan diri untuk membuatkan kopi. Aku rasa itu biasa bagi seorang sekretaris pada bosnya, kan?" ujar Gio menjelaskan tentang sikap Mely padanya selama ini.


"Tuh kan, itu sudah membuktikan kalau dia itu suka sama kamu. Harusnya sebagai sekretaris, dia sudah tau kalau segala keperluan pribadi kamu itu, Randi yang mengurusnya. Untuk apa lagi dia menawarkan diri? Dasar wanita bikini itu!" kesal Diandra.


Gio menatap Randi yang menunduk dalam dengan tubuh berdiri kaku di depannya, meminta pertolongan untuk menjelaskan pada istrinya.


Namun, sepertinya itu tidak berhasil, karena kini Randi bahkan sudah hampir menyerah berada di tengah-tengah situasi panas suami istri di depannya. Dia ingin melarikan diri dan pergi secepatnya. Akan tetapi, dia juga takut jika nanti pelariannya malah memancing emosi dari perempuan yang sedang terbakar cemburu di depannya itu.


'Hah, ternyata menghadapi wanita yang sedang cemburu lebih sulit, daripada menghadapi apa pun, batin Gio.


'Ya Tuhan, tolong bantu aku ke luar dari situasi menyesakkan ini ... aku tidak bisa bernapas, keluh Randi di dalam hati.


......................

__ADS_1


__ADS_2