Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Akrab


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Flash back ketika Gio mencicipi makanan yang dibawa Diandra.


Diandra masuk ke dalam ruangan milik suaminya dengan nampan berisi makanan yang sudah dia siapkan di tangan. Dia melihat Gio sudah duduk kembali di meja kerjanya dengan komputer dan laptop yang menyala.


"Ck! Baru aja ditinggal sebentar, udah kerja lagi aja," decak Diandra, sambil berjalan menuju meja dan meletakkan makanan itu di sana.


"Aku cuman melihat beberapa berkas, sayang," jawab Gio, sambil berdiri kemudian menghampiri istrinya.


"Hem, ya sudah, sekarang kamu makan dulu," ujar Diandra, sambil mengambil piring berisi makanan untuk Gio.


"Aaaa ...." Bukannya mengambil piringnya, Gio malah membuka mulutnya, bersiap untuk menerima suapan dari istrinya.


"Ck!" decak Diandra, walau tangannya tetap saja bergerak untuk mengambil sendok kemudian bersiap untuk menyuapi suaminya makan siang.


"Gimana, enak gak?" tanya Diandra, saat suapan pertama berhasil masuk ke mulut Gio.


"Hem ...." Gio menghentikan gerakan mulutnya, sambil mengernyitkan kening, seolah sedang berpikir.


"Kenapa, gak enak ya?" tanya Diandra lagi, tidak sabar.


"Eum, gimana ya?" Gio malah suka dengan ekspresi wajah penasaran istrinya.


"Ish, tinggal jawab enak atau enggak aja, lama banget sih!" gerutu Diandra, menatap kesal suaminya.


Gio tergelak, dia senang melihat wajah kesal istrinya. Ah, sepertinya menggoda Diandra memang sudah menjadi kebiasaan menyenangkan bagi Gio.


Diandra yang melihat Gio tertawa semakin merasa kesal, dia kemudian meletakkan piring di meja kembali lalu hendak berdiri dari sofa.


"Ya udah, makan aja sendiri! Dasar suami nyebelin!" ujar Diandra.


"Eh, kok malah ngambek sih?" Gio langsung mencekal tangan Diandra, dia menariknya hingga Diandra tersentak dan jatuh duduk di pangkuannya.


"Gio!" Diandra menatap kesal suaminya.


"Enak, sayang. Makanan ini enaak banget," ujar Gio sambil memberikan kecupan ringan di pipi istrinya.


Diandra menoleh melihat wajah suaminya yang hanya berjarak beberapa sentimeter di depannya, berniat untuk protes pada suaminya. Akan tetapi, dengan sigap Gio mencuri ciuman di bibir manis istrinya itu.


Bukan sekilas, karena tangan Gio yang awalnya melingkar di pinggang ramping Diandra, bergerak ke atas dan menahan tengkuk Diandra, agar Gio bisa leluasa memperdalam ciumannya.


"Hem, apa lagi kalau ditambah ini, pasti lebih enak lagi," ujar Gio setelah melepaskan pangutan bibir keduanya.


Dia tersenyum melihat lipstik di bibir istrinya tampak berantakan akibat ulahnya, tangan salah satu ibu jarinya bergerak mengelap bibir manis yang selalu membuatnya tergiur untuk merasakannya itu.


"Ck!" Diandra hendak beranjak dari pangkuan suaminya.

__ADS_1


"Makan dulu! Susah banget sih disuruh makan aja, udah kayak anak kecil," tekan Diandra, menatap wajah suaminya dengan tatapan tajam.


"Iya, ini aku makan ... asal kamu yang suapin, aku pasti makan." Gio meraih piring di atas meja dan memberikannya ke tangan sang istri, kemudian kembali merangkul Diandra yang masih berada di pangkuannya.


"Ya udah, kalau gitu biarin aku turun," ujar Diandra kesal, karena pinggangnya terus dipeluk erat oleh Gio.


"Tidak!" geleng Gio, menolak untuk melepaskan istrinya.


"Gio, aku susah kalau kamu kayak gini," protes Diandra.


"Yang aku peluk itu pinggang kamu, sayang. Bukan tangan kamu," jawab Gio santai.


Diandra menghembuskan napas panjang, lebih memilih pasrah dan menuruti keinginan bayi besarnya itu.


Nasi di piring sudah hampir habis saat Diandra, kembali bertanya.


"Seneng, ya, kerja di kantor?" tanya Diandra.


"Lumayan lah, walaupun lebih senang di rumah, bersama kamu," jawab Gio santai.


"Pasti senang lah, kalau setiap hari liat pemandangan indah di depan mata," ujar Diandra lagi, sambil menoleh mengalihkan perhatian dari suaminya.


"Pemandangan apa? Maksud kamu pemandangan dari gedung ini?" tanya Gio, belum mengerti apa yang sedang dibahas oleh istrinya.


"Iya, lebih tepatnya pemandangan di depan ruangan," angguk Diandra.


"Ck! Dia mengira ini tempat kerja atau pantai, sampai ke kantor menggunakan bikini begitu," decak Diandra kesal.


"Ya ampun, sayang. Kamu cemburu?!" tanya Gio berseru senang.


Diandra melebarkan matanya, melihat reaksi Gio yang malah senang, saat dia merasa kesal. Hatinya bahkan sudah panas sejak tadi.


"Tidak ada perempuan yang lebih indah dan pantas aku pandang, selain kamu, sayang. Aku tidak pernah mempermaslahkan pakaian karyawan, karena aku memang tidak perduli pada mereka," jelas Gio.


"Ah, aku senang sekali, kamu cemburu sama aku," ujarnya lagi, sambil memeluk erat tubuh istrinya.


Flash back off.


Gio menghela napas, saat mengingat kecemburuan istrinya, padahal hanya dengan melihat penampilan sekretarisnya. Lalu bagaimana reaksi perempuan itu nanti, kalau sampai tau rumor yang kini beredar di kantornya?


.


.


Mama Hana dan Diandra turun bergantian dari mobil milik Mama Hana. Keduanya berdiri di samping mobil berdampingan, merapikan baju yang terlihat sedikit kusut.


Kedatangan keduanya, terlihat memancing banyak perhatian para karyawan yang kebetulan berada di area lobi, hampir semua karyawan tahu siapa itu Mama Hana, mengingat sejak Papa Gio masih hidup, Mama Hana sering datang ke kantor, atau ikut acara para karyawan.


Sikapnya yang ramah dan mau bergaul dengan para karyawan lainnya, membuat pamor Mama Hana terbilang bagus di kantor pusat itu.

__ADS_1


Apa lagi kini kedatangannya bersama dengan Diandra, yang belum banyak orang tahu tentang statusnya seagai istri Gio, mengingat pesta kemarin, Gio hanya mengundang para teman dan relasi bisnisnya saja.


Keduanya tampak berjalan beriringan, dengan aura yang terpancar dari masing-masing wanita itu. Diandra yang terlihat dingin dan tegas, sedangkan Mama Hana yang lembut, walau masih menampilkan aura yang bisa membuat orang-orang segan.


Diandra memang terlihat acuh, dia seolah tidak memperhatikan reaksi orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi, sebenarnya telinga maupun matanya selalu awas, melihat apa yang ada di sekitarnya.


"Bukannya itu wanita yang digosipkan menjadi salah satu teman ranjang Pak Gio?"


"Kok wanita itu bisa datang bersama dengan Bu Hana?


"Dia wanitanya Pak Gio, kan?"


"Ish, mau apa lagi di ke sini? Dasar wanita murahan?"


Itu hanya sedikit suara sumbang yang bisa terdengar oleh Diandra, saat mereka melewati para karyawan. Diandra mengepalkan tangannya, mencoba menahan amarah yang terus bergejolak di dalam dada.


"Dian, kamu gak apa-apa?" Mama Hana yang melihat perubahan dari raut wajah menantunya langsung bertanya saat pintu lift tertutup.


"Hah?" Diandra terkejut dengan pertanyaan Mama Hana.


"Enggak kok, Mah. Aku gak apa-apa," geleng Diandra.


"Sudah ... omongan sampah seperti itu gak usah kamu pikirin, biar nanti Mama suruh Gio menyelesaikannya," ujar Mama Hana, yang langsung membuat Diandra menatapnya terkejut.


Aku kira sejak tadi Mama Hana diam saja karena di tidak mendengar perkataan busuk mereka, ternyata dia juga memendam keksalannya, sama seperti aku, gumam hati Diandra.


"Iya, Mah. Aku gak mikirin itu kok," jawab Diandra.


"Hem, bagus!" angguk Mama Hana penuh semangat.


"Lagian Gio gimana sih, masa masalah kayak gini aja gak bisa menyelesaikannya? Apa lagi ini sudah menyangkut istrinya sendiri, seharusnya anak nakal itu sudah bertindak sejak awal!" sambung Hana lagi, menggerutu tentang anaknya sendiri.


"Mungkin belum, Mah," jawab Diandra, membela suaminya.


Mama Hana menghembuskan napas kasar, dia senang melihat menantunya membela Gio, walau dalam kasus ini Diandra yang dirugikan.


Jujur saja, Mama Hana merasa malu dan tidak enak kepada menantunya, karena masalah yang terjadi di kantor.


Lift berhenti di salah satu lantai, kemudian beberapa karyawan masuk, di sana ada juga kepala sekretaris dan Sintia. Diandra yang melihat itu, mengernyitkan keningnya.


Apa hubungan mereka berdua? Sepertinya mereka akrab sekali, batin Diandra.


"Selamat siang Bu Hana," sapa mereka semua pada Mama Hana, sebelum bergabung dan masuk ke dalam lift.


"Siang." Mama Hana membalas,sambil tersenyum tipis.


Berbeda dengan sikap mereka pada Mama Hana, tatapan kedua orang itu pada Diandra malah berbanding terbalik. Diandra bisa merasakan tatapan hina dan senyum sinis yang mereka berikan padanya.


Diandra tidak menanggapi, dia lebih memilih mengacuhkan kedua perempuan aneh itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2