
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pintu terbuka dengan sedikit kasar, mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan rawat inap itu.
"Tidak usah! Aku tidak mau membawa anakku untuk tinggal di rumah tampat kalian derdua tinggal tanpa adanya hubungan. Dasar anak tidak tau etika! Bisanya cuman membuat malu keluarga. Tinggal bersama seorang lelaki tanpa setatus, apa ini yang selama ini kamu lakukan setelah keluar dari rumah, hah?! Menjual tubuhmu pada laki-laki seperti dia!"
Eros yang baru saja datang langsung mencecar Diandra dengan berbagai tuduhan dan hinaan. Ujung jari telunjuknya terus menujuk wajah anak sulungnya itu dan diakhiri dengan menujuk wajah Gio.
Gio yang memang belum tahu keadaan keluarga Dian, sangat terkejut, karena sekarang dia juga ikut terbawa pada masalah yang dia sendiri tidak tau.
Dian tersneyim miris, kedua tangannya mengepal kuat menahan desakan berbagai emosi yang kini mendesak jiwanya memaksa untuk segera di keluarkan.
Matanya memerah, dengan tatapan nanar dan kecewa. Tak ada rasa takut untuk membalas tatapan penuh amarah dari ayahnya itu, dengan berani dia tetap berdiri tengak dan mengangkat kepala di depan lelaki paruh baya itu.
"Ayah," Lisna baru saja akan melangkah mendekati Eros, akan tetapi tangan yang terangkat dari suaminya, sudah cukup membuat dia mengerti kalau dia harus diam untuk saat ini.
Ares pun tak kalau terkejutnya dengan kedatangan sang Ayah yang begitu terlihat murka pada Diandra.
"Ayah menyuruh orang untuk mengikitiku? Padahal, Ayah, bisa bertanya padaku apa yang terjadi," ujar Dian, dengan senyum miris.
"Untuk apa aku bertanya padamu, jika semua itu tidak akan memberikan jawaban yang pasti!" debat Eros dengan nada suara tinggi.
"Lalu, dengan menyuruh orang mengikutiku dan mencintaiku seperti seorang buronan, itu bisa memberikan, Ayah, jawaban pasti?!" tanya Dian, tanpa memberi jeda pada perkataan ayahnya.
"Heh! Aku lupa, bahkan, Ayah, memang lebih percaya dengan orang lain dibandingkan anaknya sendiri," imbuh Dian lagi, dengan nada suara yang lebih pelan.
"Kak," Area mencoba memanggil sang Kakak, untuk meredam emosi Dian.
__ADS_1
"Aku akan percaya padamu jika kamu berkata jujur!" Kembali Eros mendebat ucapan anaknya.
"Tidak usah mengumbar kata sebagai alasan, jika memang, Ayah, memang tidak akan pernah bisa percaya padaku dan Ana! Jadi untuk apa aku harus menjelaskan, pada pernah yang bahkan tidak mau mendengar penjelasan dari anaknya sendiri!" ujar Dian, terus melawan perkataan ayahnya.
Plak!
Satu tamparan cukup keras mendarat tepat di pipi Dian yang sebelah kiri, wajahnya hingga menoleh dengan bibir yang pecah, akibat kerasnya tamparan itu.
Gio langsung berdiri dan melerai pertengkaran antara ayah dan anak itu, dia merangkul tubuh Dian yang terhuyung.
"Pak, sebenatanya ada apa ini? Dian dan saya tidak pernah tinggal satu rumah, bahkan saya tidak tau di mana rumah Dian," jelas Gio, berusaha meluruskan tuduhan yang dibuat oleh Eros.
"Halah, kamu gak usah ikut campur urusan aku dan anakku! Kamu hanya orang luar di sini!" tekan Eros, kini beralih pada Gio.
"Tapi, bapak sudah membawa nama saya di dalam masalah ini, jadi saya juga berhak untuk ikut angkat suara," debat Gio, masih mempertahankan nada suara sopan.
"Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini. Tidak ada gunanya menjelaskan pada orang yang tidak bisa mendengar dan melihat kebenaran!" ujar Dian dengan nada suara sedikit bergetar.
Berjalan cepat untuk segera keluar dari rumah sakit, tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Wajah yang tampak mengeras dengan tatapan penuh kekecewaan itu, membiat Gio merasa prihatin dengan perempuan di depannya.
Dia seperti sedang melihat dirinya yang dahulu, menantang dan melawan semua perkataan dan nasihat sang ayah, hanya demi sekrang perempuan yang bahkan menjadi alasan kematian ayah nya sendiri.
Sedangkan di dalam ruang rawat, Eros menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Dia baru saja menemui para anak buah yang ia tugaskan untuk mengikuti Diandra.
Mereka melaporkan kalau tadi malam, Dian masuk ke dalam rumah bersama lelaki yang ia lihat selalu mendampingi anaknya itu. Merka bahkan tidak keluar lagi sampai pagi.
Semua itu, membuat Eros membuat kesimpulan sendiri, kalau Diandra sudah tinggal bersma dengan Gio.
__ADS_1
Amarah yang memuncak, akibat informasi yang didapatkan, membuat Eros tak dapat mengontrol dirinya sendiri. Dia langsung melampiaskan semua itu, saat mendengar perbincangan Diandra dan Lisna sebelum masuk ke dalam ruangan.
Eros menatap tangan kanannya yang terlihat sedikit bergetar, rasa panas bekas tamparan yang ia layanvkan pada pipi anak sulungnya itu masih terasa.
Hatinya ikut sakit, dengan rasa bersalah yang teramat sangat kepada anak perempuannya. Terlebih, dirinya juga merasa gagal untuk menjadi seorang ayah yang baik.
"Ayah." Lisna mendekat, dia mengusap bahu suaminya yang terlihat turun.
"Aku melakukan kesalahan lagi, Lis. Aku membuat dia semakin menjauh dari kita," ujar Eros dengan nada penuh penyesalan.
Lisna mengusap pelan bahu kokoh yang sudah tiga puluh tahun ini, menjadi sandaran untuknya. Lelaki yang telah ia pilih untuk menjadi pendamping hidup juga ayah untuk anak-ananya.
Air mata pun gak dapat ia bendung lagi, rasa bahagia dan kedekatan yang baru saja tercipta beberapa saat, kini sudah hancur kembali, karena sang suami yang tidak bisa menahan emosi, hingga berakhir dengan penyesalan seperti sekarang ini.
Sikap kedua anak perempuannya yang begitu mirip dengan Eros, memang cukup membuatnya kewalahan, merka sama-sama keras, tak mau dibantah juga berpehang teguh dengan prinsipnya masing-masing.
Tak ada yang mau mengalah, hingga keluarganya pun saat ini terancam tak dapat di sleamtakan. Setelah keperhian Diana yang menghilang entah ke mana, nyatanya semua itu yidka membuat Eros luluh dan mau mengalah.
Suaminya itu, masih saja keras hingga kini berakhir dengan keperhian Diandra juga. Ares yang cenderung memiliki sifat yang lembut sepertinya, yang bisa bertahan dengan sifat keras ayahnya itu.
"Tenangkan diri, Ayah. Jangan sampai darah tinggi, Ayah, kambuh lagi," ujar Lisna, lembut. Dia lebih memilih tidak membahas tentang pertengkaran yang bagus aja terjadi dan mengalihkannya pada hal yang lain.
Ares yang menyaksikan semua itu, hanya duduk diam, tanpa berani ikut berkata. Kejadian seperti ini sudah sering ia lihat, bahkan sejak kedua kakaknya beranjak dewasa.
Sifat posesif sang Ayah yang ditanggapi dengan ke salah oahaman dari kedua kakaknya, selalu saja menjadi masalah di dalam keluarganya.
Bila keluarga di luar sana akan mengeluh dengan pertengkaran anatara kedua orang tua, itu sangat berbeda dengan keluarganya. Dia harus melihat pertengkaran anatara ayah dan kakaknya, dengan sang bunda yang terus terpojok dengan posisi yang membingungkan dan berakhir dengan tangis kesedihan, karena tidak bisa memilih dan membela salah satu di antara mereka.
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...