
...Happy Reading...
......................
Gio mengendarai mobilnya menuju kerumah persnggahannya selama berada di daerah itu.
Dia tampak tersenyum sendiri, mengingat kejadian tadi malam, juga pagi ini yang terasa begitu manis untuknya.
Diandra itu memang terlihat kuat dan keras bila kita lihat dari luar. Tapi, ingat kalau dia masih seorang perempuan biasa yang mempunyai hati lembut.
Pesan yang diberikan oleh Romi, sewaktu dia bertanya tentang Diandra pun ikut terngiang kembali.
Ya, sebenarnya tadi malam adalah rencana dirinya untuk membuat Diandra iba padanya. Ternyat rencana itu cukup berhasil, mengingat respon perempuan itu semalam.
Tadi pagi Gio juga sengaja tidak bangun lebih dulu seperti biasanya, dia memilih cara berbeda untuk mencari perhatian istrinya.
Semua itu ternyata juga cukup berhasil, walaupun perempuan itu masih saja bersikap ketus dan tidak mau disentuh olehnya.
Namun, bila mengingat semburat merah di pipi Diandra, itu sudah cukup memperlihatkan suatu kemajuan.
"Semoga saja, nanti kamu bisa membuka hatinya untukku, Diandra," gumam Gio penuh harap.
.
.
Gio baru saja sampai di pelataran rumahnya, terlihat mobil Randi sudah terparkir di sana.
Para anak buah yang tau tentang kedatangan Gio, langsung menghampiri laki-laki itu.
"Selamat pagi, Pak," ujar salah satu dari mereka.
"Di mana adik dan ibuku?" tanya Gio, sambil membenarkan bajunya.
"Nona Gita dan Bu Hana, masih berada di kamarnya, Pak."
"Randi?" tanya Gio lagi.
"Pak Randi juga masih berada di kamarnya, Pak."
Gio mengangguk sambil menatap semua anak buahnya yang berada di sana, dia pun mengambil ponsel milik Diandra,, lalu menyerahkannya pada anak buahnya itu.
"Buka kunci ponsel ini, bagaimana pun caranya. Lalu berikan lagi padaku," perintah Gio.
"Baik, Pak."
Gio pun melanjutkan langkahnya menuju ke dalam rumah, dia langsung menuju ke kamar milik Randi.
"Gio, dari mana kamu, pai-pagi begini baru pulang?"
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang langsung menghentikan langkah Gio.
__ADS_1
Laki-laki itu memejamkan mata erat sambil merutuki dirinya sendiri, sebelum berbalik.
Astaga, kenapa pake ketahuan sih? rutuk Gio.
Gio langsung merubah raut wajahnya menjadi biasa saja, ditambah dengan senyum cerah seperti sedang menyambut tamu yang sangat dia ridukan.
"Eh, Bu Ratu. Kapan sampai? Aku kangen banget," ujar Gio sambil berjalan menghampiri Hana.
Laki-laki itu merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk wanita paruh baya di depannya.
"Ternyata begini yah, kelakuan kamu kalau gak ada mamah," ujar Hana.
"Pulang pagi, udah kayak kelewar aja kamu!" omel Hana sambil bersidekap dada.
Mata wanita paruh baya itu tampak menatap tajam anak laki-lakinya itu.
"Eh, bukan gitu, Bu Ratu. Aku tadi malam nginep di hotel," alasan Gio.
Hana tampak masih memicingkan matanya, menatap curiga Gio.
"Benenran, Bu Ratu. Masa gak percaya sama aku sih?" Gio memasang wajah kecewanya.
Hana berdecak kesal melihat tingkah anak laki-lakinya itu. DIa melirik wajah Gio dari ujung matanya.
"Beneran kamu tidur di hotel?" tanya Hana kemudian yang langsung mendapat anggukkan kepala Gio.
"Tapi gak sama wanita kan?" tanya Hana lagi, memastikan.
"Dasar anak nakal!" Hana memukul pundak Gio sambil berdecak kesal.
Dia mengira kalau Gio sedang bercanda padanya. Mereka berdua pun akhirnya berpelukan, menyalurkan rasa rindu setelah lama tidak bertemu.
"Mamah, juga kangen banget sama kamu. Kenapa kemarin kamu gak mampir dulu ke rumah, hem?" tanya Hana sambil mengurai pelukannya.
"Gak apa-apa, Mah. Aku gak mampir ke rumah, karena di sini memang ada pekerjaan yang mendesak," jawab Gio, kembali memberikan alasan.
"Bagaimana perkembangan hotel apa sudah menunjukkan kenaikan," tanya Hana, mengingat tugas Gio di tempat itu.
"Lumayan, Mah. Walaupun belum terlalu meningkat signifikan, aku juga baru merenofasi beberapa desain yang menurutku perlu diubah," jelas Gio.
"Lagi pula, ini kan bukan musim liburan, paling kita ramai pada saat akhir pekan saja. Kalau hari kerja seperti ini, hanya sedikit orang yang datang," sambung Gio lagi.
"Gimana kalau, Mamah dan Gita, mampir ke hotel, sekalian liburan ke pantai?" usul Gio.
"Boleh, nanti mamah bilang sama Gita dulu," jawab Hana.
"Permisi A' Gio." Bi Jui menunduk samar, pada dua orang majikannya itu.
Gio mengalihkan pandangannya, pada wanita paruh baya yang bertugas untuk menjaga rumah itu.
"Ada apa, Bi?" tanya Gio.
__ADS_1
"Itu, A' Gio, sarapan sudah siap," jawab Bi Jui.
"Oh iya, Bi. Terima kasih, nanti kita ke sana," ujar Gio.
Bi Jui pun pamit kembali ke dapur, setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
"Gita mana, Mah?" tanya GIo, menoleh ke belakang Hana.
"Dia masih tidur. kita semua baru saja sampai jam tiga pagi. Ya ampun rasanya mamah udah lama banget gak duduk di mobil selama ini, jadi badan pada pegel," keluh Hana.
"Ya udah, Mamah, istirahat dulu saja. Aku mau ke kamar Randi, ada yang perlu kami bicarakan," ujar Gio.
"Heem, kamu juga jangan lupa istirahat ya. Jangan sampai kamu sakit karena terlalu capek bekerja," pesan Hana pada anak laki-lakinya itu.
Hana pun kembali masuk ke dalam kamar, sedangkan Gio memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar milik sang asisten.
Sampai di kamar Randi, Gio melihat asistennya itu msih bergelung dengan selimut. Berdecak kesal sambil terus melangkahkan kaki.
"Bangun!" ujarnya berdiri di samping ranjang Randi.
Namun, sepertinya asistennya itu sama sekali tidak mendengar perintahnya kali ini.
"Ck, Bangun!" GIo mencoba menggoyankan tubuh Randi menggunakan jari telunjuknya.
Randi masih saja terlihat tidak terganggu dengan tidurnya. Dia hanya menepuk bekas telunjuk Gio, seakan ada serangga di sana.
Gio membuang muka melihat Randi dengan sangat pulas, sampai dia tidak bisa membuatnya terbangun.
"Astaga, dia tidur atau mati sih?" gerutu Gio.
"Heh, Randi, bangun!" Gio menggoyangkan tubuh Randi lebih keras.
"Heuh, apa sih. Aku masih ngantuk." Randi malah bergumam sambil menutup kepalanya menggunakan bantal.
"Astaga, ini orang bener-bener kebo!" ujar Gio, akhirnya mengambil ancang-ancang untuk menendang tubuh asistennya itu.
"Bangun, Woi! Banjir!" teriak Gio sambil menendang bagian bok*ng asistennya itu.
Sontak Randi langsung terbangun dengan wajah terkejut.
"Banjir! Banjir! Mana Banjir?" ujarnya sambil berlari ke luar kamar.
Gio hanya bersidekap dada melihat Randi yang bersikap bagaikan orang bodoh. Apa lagi dia hanya menggunakan celana pendek sebatas lutut, tanpa menggunakan atasan.
"Aaa! Bang Randi, ngapain?" Gita yang baru saja ke luar dari kamarnya berteriak histeris saat melihat penampakan asisten dari kakaknya itu.
......................
Nah loh, gimana nih nasibnya Randi๐คญ
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...
__ADS_1
...Bersambung...