
...Happy Reading...
......................
Gio dan Hana pun berbincang tentang masalah perjodohan antara Gio dan Diandra.
"Maafkan saya karena sudah mengambil keputusan sepihak, atas rencana perjodohan ini," ujar Eros penuh rasa bersalah.
Hana tersenyum, melihat rasa bersalah yang ditunjukkan oleh Eros. Sebenarnya dia memang merasakan kecewa, dengan apa yang dilakukan oleh oleh Eros dan anak laki-lakinya.
Namun, semua itu terhapus oleh rasa bahagia, karena sudah melaksanakan keinginan dari mendiang ayah mertua dan suaminya.
Walaupun perjalanan sebuah janji yang dikatakan oleh ayah mertuanya beberapa puluh tahun yang lalu itu, membutuhkan jalan yang sangat berliku.
Hana cukup senang, karena setelah semua cobaan dan perjalanan hidup anak laki-lakinya. Gio akhirnya setuju untuk dijodohkan dengan Diandra.
"Itu tidak masalah, walaupun saya sempat cukup terkejut saat Gio menceritakan semuanya," jawab Hana yang diiringi dengan kekehan kecil dari mulutnya.
Eros pun ikut tersenyum mendengar perkataan dari besannya itu. Walaupun sebenarnya dirinya masih merasa tidak enak dalam hati.
Lama berbicang tentang perjodohan, kini Gio dan Eros memisahkan diri, mereka memilih berbincang sambil berjalan-jalan di sekitar kebun.
Sedangkan Hana dan Lisna memilih untuk menyiapkan makan siang bersama, tentu diiringi dengan perbincangan tentang anak-anaknya.
"Bagaimana hubungan kamu dan Dian? Apa sudah ada kemajuan?" tanya Eros.
Gio tersenyum miris, mengingat wajah Diandra membuatnya merasakan rasa sakit, walau ada harapan yang terus mendorongnya.
"Baik, Yah. Walaupun Dian masih belum bisa menerima pernikahan kami, tapi, aku bisa merasakan kalau dia perlahan mulai menerima aku di dalam kehidupannya," jawab Gio, ingatannya menerawang pada setiap kenangan antara dirinya dan sang istri.
Eros mengangguk-anggukkan kepalanya samar, dengan senyum tipis di wajahnya.
"Syukurlah kalau begitu. Maaf, karena dahulu aku mendesak kamu untuk menikahi Diandra," ujar Eros, menatap Gio.
Gio tersenyum, dia membalas tatapan mata sang ayah mertua. "Seharusnya aku yang berterima kasih, karena, Ayah, sudah mempersatukan kami berdua."
Ingatan keduanya kembali pada masa, di mana mereka pertama kali bertemu di rumah sakit.
__ADS_1
Flash back
Langkah Gio yang hendak mengantarkan baju ganti dan makanan untuk Diandra, saat melihat seorang laki-laki paruh baya yang duduk di selasar rumah sakit.
Dia tahu kalau itu adalah ayah Diandra, Gio masih ingat saat dirinya menerima hasil penyelidikan anak buahnya tentang Diandra beberapa hari yang lalu.
Gio perlahan menghampiri Eros, dia duduk di samping laki-laki paruh baya itu.
"Selamat malam, Pak," sapa Gio yang langsung engalihkann perhatian dari Eros.
Eros yang terkejut dengan seseorang yang sedang duduk di sampingnya itu, menatap wajah Gio tajam dan waspada.
"Siapa ya?" tanya Eros.
"Saya Giovano Ardi Purnomo," jawab Gio.
Mendengar nama Purnomo, Eros menjadi mengingat seseorang dengan nama yang sama.
"Purnomo?" gumam Eros pelan, dengan kerutan di kening semakin dalam.
"Iya, saya adalah anak dari Yoga Haris Purnomo," jawab Gio.
"Apa maksud kamu? Kenapa kamu tau tentang Yoga?" tanya Eros, masih belum percaya dengan Gio.
Gio tersenyum, dia kemudian menceritakan asal usulnya dan tujuannya datang ke daerah itu.
"Jadi kamu memang ke mari untuk mencari anakku yang mau dijodohkan dengan kamu?" tanya Eros yang masih belum bisa percaya.
"Iya, saya ke mari untuk meneruskan perjodohan yang dulu pernah dijanjikan antara kakek Pornomo," ujar Gio.
Eros tersenyum mendengar perkataan Gio, dia pun menemukan sebuah rencana agar Diandra bisa ada yang mengawasi dan melindungi selain dirinya.
Pada malam itu, Eros meminta Gio untuk secepatnya menikahi Diandra, agar dia tidak lagi merasa khawatir akan keadaan anak perempuannya yang sangat keras kepala itu.
Gio yang awalnya merasa keberatan, mengingat Diandra yang masih terus menghidarinya, bahkan cenderung membencinya. Akhirnya menyetujui rencana Eros, setelah laki-laki paruh baya itu menjelaskan semuanya.
Malam itu juga mereka berdua membuat suatu rencana untuk membuat alasan pernikahan bagi Diandra, agar perempuan itu tidak bisa menolak ataupun kabur kembali seperti beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
Setelah semuanya tersusun rapih dan sempurna, Eros dan Gio pun masuk ke dalam kamar rawat Ares bersama-sama.
Flash back off.
"Heuh, aku tidak percaya, bisa melakukan semua rencana itu dengan seorang laki-laki yang baru saja aku kenal, dan dengan mudahnya mempercayai keselamatan anak perempuanku padamu," ujar Eros, mengingat malam itu.
"Mungkin itu semua sudah takdir, makanya aku bisa dengan mudah menemukan Diandra dan meyakinkan, Ayah, sampai pernikahan itu akhirnya terlaksana dengan lancar." Gio pun terkekeh mengingat pernikahannya dan Diandra.
"Ya, mungkin kalian memang sudah ditakdirkan untuk bersatu. Makanya, rencana kita pun berjalan dengan lancar," jawab Eros.
Keduanya terkekeh bersama mengingat masa pertama kali mereka bertemu dalam keadaan asing, lalu dalam waktu satu hari satu malam sudah berubah menjadi suatu ikatan menantu dan mertua.
"Yah, sebenarnya apa penyebab Diandra masih tidak mau pulang ke sini? Kalau aku lihat, waktu Ayah dan Bunda menginap di pantai, Diandra tidak merasa keberatan," tanya Gio, sambil melangkah pelan di samping Eros.
Eros tampak melihat kebun di sekitarnya, dia menarik napas dalan, kemudian membuangnya pelan sebelum menjawab pertanyaan dari menantunya itu.
"Dulu sebenarnya aku juga sudah hampir menyerah dengan perjodohan ini, karena sudah beberapa tahun kalian tidak ada kabar. Ditambah kedua anak perempuanku juga mempunyai pilihannya masing-masing." Eros berbicara sambil engedarkan pandnagannya.
Gio menatap wajah Eros dalam, dia bisa melihat sorot mata sendu dan penuh penyesalan.
"Tapi ternyata, keputusanku salah. Aku malah membuat kedua putriku terluka. Ana yang sudah memiliki pilihan hidup lain, berusaha aku kekang, hingga akhirnya aku kehilangannya sampai sekarang."
Eros mengingat saat dimana dirinya menolak mentah-mentah permohonan Ana dan Hery, saat mereka datang ke hadapannya untuk meminta restu.
Ya, walaupun keluarganya bukan termasuk keluarga yang taat beragama. Akan tetapi, untuk melepaskan anaknya dengan pilihannya sendiri yang ternyata berbeda, itu terasa sangat berat bagi Eros.
Ada rasa sakit juga kegagalan, untuk menjadi seorang ayah bagi kedua putrinya, terutama Dianda. Hingga anak perempuannya itu memilih laki-laki lain, dibandingkan keluarganya sendiri.
Dari semenjak Eros mendengar tentang kehamilan Diana, itu adalah hari patah hati terbesarnya. Eros juga baru mengetahui, rasa sakit akibat patah hari kepada ank perempuannya, ternyata lebih menyakitkan dibandingkan dengan rasa sakit yang pernah dia rasakan sebelumnya.
Pikiriannnya sudah kacau, dengan emosi yang terus naik turun bagaikan sebuah roller coaster. Di balik rasa hancur yang dia rasakan, Eros juga harus selalu berusaha terlihat tegar di depan seluruh keluarganya.
Itu semua adalah cobaan yang begitu berat, di dalam kehidupan keluarganya. Kini dia baru merasakan kegagalan yang nyata dalam kehidupan menjadi seorang ayah, dari dua orang anak perempuannya.
"Diandra, yang aku restui dengan pilihannya, ternyata hanya mengorbankan diri untuk kebahagiaan adiknya. Sampai pada waktu pernikahannya, kembali kami dihancurkan oleh kenyataan, terutama gadis malang itu."
......................
__ADS_1
Ada yang nyangka gak, kalau pernikahan Gio dan Diandra adalah rencana Gik dan Eros? Yuk komen๐
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...