Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Canda di pagi hari


__ADS_3

...Happy Reading...


.....................


"Sayang, kamu mau ke sana?" tanya Gio, melihat Diandra yang terus menatap rumah ibadah itu.


Diandra yang tengah fokus pada pandangannya, kini beralih pada Gio, kemudian menggeleng.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk menemuinya," jawab Diandra, walau di dalam hati dia sangat ingin berlari menghampiri adik kembarnya itu.


"Ya, sudah kalau gitu, lebih baik kita pulang sekarang." Gio merangkul pundak Diandra yang tampak turun, menandakan suasana hatinya yang tidak baik-baik saja.


Diandra mengangguk, dia kemudian melangkah meninggalkan masjid itu. Berjalan kembali menyusuri jalan menuju ke gerbang utama vila.


Sedangkan di masjid, Rani yang baru saja ke luar dari tempat mengambil air wudhu, berhenti di teras, lalu menoleh pada tempat di mana Diandra berdiri tadi.


Ya, sebenarnya sejak tadi dia sudah tau kalau dirinya diperhatikan oleh seseorang. Akan tetapi, dia berpura-pura tidak mengetahuinya, dan lebih memilih bersikap biasa saja pada anak-anak.


Tatapannya tampak tak bisa terbaca, seakan penuh dengan berbagai rasa yang tidak dapat dimengerti.


"Teh Rani, kok masih di luar? Ayo masuk bersama," ujar salah satu remaja kampung yang baru saja sampai.


Rani tampak terkejut dengan suara yang tiba-tiba saja masuk ke dalam indra pendengarannya.


"Ah iya, ayo kita masuk bersama," jawab Rani sambil tersenyum canggung menutupi sebagian perasaan yang terasa mengganjal di dalam hatinya.


.


.


Malam berlalu begitu saja, kini matahari tampak mulai menyinari pohon yang menjulang tinggi, menembus dedaunan hingga kini terlihat mengusik tidur sepasang manusia yang masih terlelap


Ya, entah mengapa semenjak Diandra memutuskan untuk menerima Gio, dia selalu tidak tau waktu dan tertidur pulas di malam hari, hingga terbangun lebih siang dari biasanya.


Begitu juga dengan Gio, perasaannya selalu lebih tenang bila sedang berada dekat dengan Diandra, hingga dia bisa dengan mudah untuk tertidur dan sulit terbangun di esok harinya.


Diandra mengerjapkan matanya, rasanya kepalanya sedikit pening, setelah tadi malam dirinya baru tertidur menjelang dini hari, karena merencanakan penyelidikan Rani, agar berjalan lebih cepat.


Baik Gio maupun Diandra bukanlah orang yang bisa bersantai sesuka hati. Ada banyak orang yang bergantung hidup pada kedua orang itu, juga kantor dan segala bisnis yang menanti untuk diurus.

__ADS_1


Belum lagi, banyak janji dan agenda yang terpaksa harus diundur karena masalah ini. Bahkan di saat mereka sedang berada jauh dari kantor, email pekerjaan selalu datang dan akhirnya menumpuk meminta untuk segera diselesakan.


Diandra menoleh sedikit ke belakang, di mana Gio masih tampak terlelap dengan posisi memeluk tubuhnya begitu erat.


Tangannya masih melingkar di perut bagian depan, membuat dia merasakan kehangatan di dalam suasana dingin pagi hari. Dia kemudian menatap ke luar jendela kaca besar yang sejak tadi malam dibiarkan terbuka setengahnya.


Tampak pagi ini sangat cerah, hingga matahari yang bersinar terasa hangat menerpa tubuhnya, ditambah langit yang tampak berwarna biru cerah berhias awan putih tipis membentuk garis-garis halus yang biasa disebut dengan awan cirrus.


Diandra sedikit menggeliatkan tubuhnya, merasakan suasana pagi di perkampungan yang sangat menyegarkan. Perlahan dia mengangkat tangan Gio yang masih saja berada di tempat ternyamannya.


Namun, Gio malah mengeratkan pelukannya, hingga Diandra tidak melanjutkan niatnya untuk memindahkan tangan Gio. Dia menoleh ke bekang, memastikan kalau suaminya itu belum terbangun.


Mata Gio memang masih tampak terpejam dengan napas yang terasa tenang. Akan tetapi, senyum tipis di bibir, membuat Diandra tahu kalau suaminya itu sudah terbangun.


"Gak usah pura-pura, aku tau kamu udah bangun," ujar Diandra sambil mengalihkan pandangannya lagi ke depan.


Senyum di bibir Gio semakin melebar, istrinya ini memang terlalu pintar untuk dia bohongi dengan trik receh seperti ini.


"Selamat pagi, sayang," Gio membuka matanya sambil menaruh dagunya di ceruk leher istrinya.


Dia memberikan ciuman bertubi-tubi pada pipi Diandra, merasa gemas pada sikap Diandra yang selalu bisa membuatnya bahagia.


"Engak tuh, kan aku udah gosok gigi sebelum tidur," sangkal Gio, tidak terima.


"Emang mulut kamu bau, coba aja rasain sendiri kalau gak percaya." Diandra menantang Gio.


Tanpa sadar Gio melepaskan tangannya dari pinggang Diandra lalu mencoba menghembuskan napas pada telapak tangan.


Diandra tersenyum kemudian dengan gerakan cepat turun dari ranjang hingga akhirnya terbebas dari pelukan Gio.


Diandra berdiri sedikit lebih jauh dari sisi ranjang, menatap Gio yang tampak menatapnya terkejut.


"Kamu, bohongin aku?" tanya Gio.


"Enggak, emang mulut kamu bau kok," jawab Diandra sambil mengulum senyumnya.


"Awas kamu ya, berani ngerjain aku, heh?" Gio langsung melempar selimut yang menutupi tubuhnya, lalu beranjak cepat turun dari ranjang, untuk menangkap istrinya.


"Aaah!" Diandra menjerit saat dia melihat Gio mau menangkapnya, sebisanya dia menghindar dari suaminya itu.

__ADS_1


Diandra berlari menuju ke sisi lain ranjang.


"Awas kamu, ya. Pagi-pagi gini udah berani mengerjain aku," ancam Gio dengan wajah menahan gemas.


Diandra saat dalam mode anak kecil seperti ini terlihat lebih menyenangkan dan menggemaskan. Itu semua sangat berbeda bila Diandra sedang berada di dalam mode serius dan dinginnya.


"Coba aja kalau bisa," ujar Diandra, kembali menantang Gio.


"Baiklah, aku gak akan main-main lagi, siap-siap saja ... aku pasti akan menangkap kamu," jawab Gio.


Mereka berdua asik bercanda di pagi hari, hingga akhirnya Gio bisa menangkap Diandra dan menjatuhkannya pada ranjang, dengan posisi Gio yang menindih tubuh Diandra.


Mata keduanya tampak saling bertaut dalam, baik Gio maupun Diandra sama-sama tenggelam dalam suasana yang mereka ciptakan.


Semoga kali ini usahaku akan membuahkan hasil, batin Gio.


Perlahan dia mulai menurunkan wajahnya hingga bibir mereka semakin bertambah dekat.


Apa ini saatnya aku menyerahkan diriku padanya? batin Diandra.


Dia bingung mau melakukan apa, saat melihat sorot mata mendamba dari suaminya.


Perlahan Diandra mulai menutup matanya, berusaha pasrah dan menerima apa yang akan terjadi selanjutanya.


Jika memang ini yang terbaik untuk hubungan kita, dan dia memang yang terbaik untukku, maka aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan, batin Diandra.


Gio mulai menempelkan bibir mereka, dia terdiam terlebih dahulu, menunggu reaksi Diandra, takut istrinya akan menolak.


Namun, setelah beberapa saat menunggu dia tidak menerima reaksi apa pun dari Diandra, hingga perlahan Gio mulai menggerakkan mulutnya, melu mat bibir Diandra yang sudah begitu lama dia inginkan.


Gio tersenyum saat merasakan tidak ada perlawanan dari istrinya.


Masa sih dia belum pernah berciuman dengan tunangannya? Kenapa dia hanya diam saja? batin Gio.


Diandra hanya terdiam, menerima apa yang Gio lakukan padanya, dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara melakukan hal itu, mengingat ini adalah ciuman pertamanya.


Tangannya meremas kuat baju tidur di bagian punggung Gio, ada rasa hangat dan sensasi berbeda saat Gio mulai menggerakkan bibirnya.


......................

__ADS_1


Gimana nih, lanjutin gak? Komen😂


__ADS_2