Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.26 Menikah?


__ADS_3

...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


"Bisa, Bunda, jelaskan ... apa yang diinginkan oleh Ayah?" tanya Dian lagi.


"Ayah ... Ayah, ingin kamu menikah."


Deg!


Tubuh Diandra membeku, pikirnanya terasa kosong dengan kilasan rentetan kejadian di masa lalunya sanpai hari ini.


Bulir bening tak dapat lagi ia tahan, menetes begitu saja, membasahi pipinya.


Sesaat dia tak memberi respon apa pun, terpaku dengan keterkejutan kekecewaan yang membelenggu hatinya.


"Dian, maafkan Bunda, Nak." Lisna tak mampu lagi menahan perasaan bersalahnya, melihat reaksi yang kini terjadi pada anak sulungnya itu.


Diandra tersenyum kecut, pandangannya terjatuh dengan kepala tertunduk dalam. Bahunya tampak bergoyang, dengan tawa lirih bercampur tangis.


Kenapa selalu itu yang menjadi masalah di dlama keluarganya? Kenapa ayahnya selalu menuntut anaknya untuk menuruti semua keinginannya?


Setelah dia berhasil kabur dari rencana perjodohan dua tahun lalu, dengan cara kabur dari rumah. Kini semua itu kembali terulang, bahkan setelah satu hari mereka bertemu.


Ternyata lari dari maslah, tak menjadikan semua itu selesai. Diandra baru saja memahaminya dengan kejadian itu.


Dia memang bisa hidup tanpa tuntutan dari sang ayah, akan tetapi, setelah itu, dia akan kembali terjebak dalam masalah yang sama.


"Dian!"


"Teh Dian."


Dian mengerjapkan matanya saat dia merasakan sentuhan halus di pundaknya. Dia baru sadar kalau ternyata di sana sudah ada sang adik yang tengah berdiri di depannya.


"Ares." Dian memanggil adiknya itu lirih.


Ares tak kuasa melihat wajah berantakan kakak perempuannya, dia menghampirinya dan memberikan pelukan hangat untuk Diandra.


"Sabar ya, Teh. Aku yakin ini semua pasti sudah dipirkan matang-matang sama Ayah," ujar Ares sambil mengusap pelan punggung Diandra.

__ADS_1


Diandra tak menjawab, saat ini dia hanya butuh dukungan dan bahu untuk menopang, agar dirinya masih bisa menerima semua yang terjadi hati ini.


"Aku harus giman, Res? Aku capek harus lari terus," keluh Diandra lirih.


"Hadapi, Teh. Ares yakin, Teteh, pasti bisa melewati semua ini," ujar Ares, mencoba untuk memberi nasihat kepada kakaknya.


"Tapi, aku belum siap untuk menikah, Res. Bagaimana kalau ternyata nanti aku gagal?"


Akhirnya Diandra mengungkapkan ketakutan yang selama ini ia pendam. Dia yang sudah terlanjur kecewa kepada laki-laki, merasa takut akan kegagalan. Pengalamannya menjalin hubungan yang berakhir tidak menyenangkan membuat trauma sendiri untuknya.


"Huss! Gak boleh ngomong gitu. Kita berdoa saja kalau semuanya akan baik-baik saja." Lisna ikut menyambung perbincangan antara Diandra dan Ares.


Cukup lama Dinandra dan Ares dalam posisi yang sama, Lisna pun ikut hanyut dalam suasana kesedihan itu, hingga tanpa mereka sadari sejak kini ada orang lain yang sedang melihat dari depan pintu.


Khem!


Eros yang sejak tadi sudah melihat drama kesedihan di dalam kamar pribadi sang anak, kini mengeluarkan suaranya.


Ada rasa sakit saat telinganya mendengar sendiri tangis anak sulungnya itu. Anak yang tak pernah menunjukkan kesedihannya, anak yang selalu ia tuntut untuk menjadi kuat dan menjaga adik-adiknya, bahkan di saat masih kecil sekalipun.


Ketiga orang itu akhirnya mengurai pelukan mereka dan mengalihkan perhatiannya pada sosok lelaki paruh baya itu.


Tanpa menunggu jawaban, lelaki yang berstatus sebagai anak dari tidak anak itu berlalu begitu saja.


"Ayah! Tunggu, Ayah!" teriak Diandra, berlati mengejar Eros, berusaha mencegah langkah ayahnya.


Namun, itu semua hanyalah sia-sia, Eros seakan tak mendengar teriakan putrinya, dia terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun.


Diandra berbalik kembali, melihat ibu dan juga adiknya bergantian, meminta penjelasan.


"Bun? Apa maksud Ayah barusan? Kenapa dia menyuruhku bersiap-siap?"


Kini Diandra beralih melihat ibunya, menghampiri dan berlutut, mendesak untuk meminta penjelasan. Dia pun melihat sang adik yang pasti juga tahu tentang rencana ayahnya.


"Bunda, jawab aku? Kenapa Ayah menyuruhku bersiap-siap?" tanya ulang Diandra.


Lisna tak sanggup lagi berbicara, dia hanya menatap sang anak hang kini tengah berlutut dia depannya, memohon penjelasan. Tangannya mengusap pelan pundak yang terlihat bergetar.

__ADS_1


"Res, Ares, jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Aku berkata tau, Res! Aku mohon!" ujar Diandra kini beralih berlutut di depan adiknya.


"Teh, jangan begini. Teteh, tenang dulu ya ... aku akan jelaskan kalau, Teteh, sudah lebih tenang." Ares merangkul perempuan yang kini malah semakin histeris.


"Semua ini sudah disiapkan sejak tadi pagi, Teh. Setelah, Teteh, pergi dari rumah sakit, Ayah memerintahkan anak buahnya untuk mengatur semua ini. Maaf, Teh ... aku tidak bisa mencegah keinginan Ayah," jelas Ares.


Tubuh Diandra melemas, tatapannya kosong dengan air mata yang terus mengalir. Dia tidak pernah menyangka semua ini terjadi.


Karena pelariannya dua tahun lalu, kini dia bahkan harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah dia temui dan kenal.


Dian tersenyum miris mengingat semua itu. Untuk sekarang dia tidak bisa lagi lari dari kenyataan, dia sudah berjanji kepada ibunya. Dia tak mungkin mengingkari itu.


Lisna dan Ares sama-sama ikut sakit melihat keadaan Diandra saat ini. Perempuan yang selalu terlihat tegar dan kuat itu, kini tak bisa lagi menahan beban, hingga akhirnya menumpahkan air mata di depan keluarganya.


Airmata yang selama ini selalu ia haramkan untuk dilihat oleh orang-orang yang disayanginya, kini tak lagi bisa ia sembunyikan. Kerapuhan yang selama ini dia tutup dengan sikap keras kepalanya, kini terlihat jelas, tanpa penghalang sedikitpun.


Isak tangis lirih yang terdengar begitu menyayat hati itu, mungkin mampu membuat orang yang mendengarnya ikut terhanyut dan meneteskan airmata.


"Siapa, Res?" tanya Diandra, dengan suara parau.


Ares mengernyit mendengar pertanyaan sang kakak, dia terdiam sebentar untuk mengetahui maksud dari ucapan Diandra.


"Itu ... dโ€“dia laki-laki yang bersama kakak di rumah sakit," jawab Ares ragu.


"Apa?! Bagaimana bisa? Kita gak bisa menyeret orang lain alam masalah keluarga kita. Dia itu bukan siapa-siapa aku, Res. Dia hanya klien baru hotel yang kebetulan saat aku mendengar kebakaran sedang ada di sampingku," jelas Diandra.


"Bunda, ini salahpaham. Dia orang lain, aku mohon jangan libatkan dia, Bun. Tolong bilang sama Ayah untuk membatalkan pernikahan ini," mohon Diandra, kini beralih kepada sang ibu.


"Maaf, Dian ... maafkan, Bunda."


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Lisna tanpa memberikan kejelasan, atas permintaan Diandra.


"Bunda, bagaimana kalau dia sudah memiliki kekasih lain? Atau bahkan sudah menikah? Apa kalian mau aku menjadi orang ketiga?" ujar Dian, mencoba untuk merayu ibu dan adiknya.


"Permisi, saya orang yang akan merias pengantin perempua."


Ketukan pintu yang diiringi dengan munculnya seorang perempuan muda itu kini mengalihkan perhatian Dian, Ares dan Lisna, semuanya menoleh secara bersamaan ke arah suara.

__ADS_1


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


...Bersambung ...


__ADS_2