Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Diawasi


__ADS_3

...Happy Reading...


...................


"Ran, masalah Rani, apa kami sudah menemukan petunjuk lain?" tanya Gio. Mereka sedang dalam perjalanan pulang ke vila.


"Aku belum menerima informasi apa pun lagi," jawab Randi.


"Sepertinya masalah ini buka yang mudah untuk diatasi. Apalagi, Rani tidak mau membuka apa yang dia alami selama ini. Itu semua membuat kita kehilangan langkah," ujar Gio, memikirkan bagaimana dirinya akan bertindak selanjutnya.


"Benar, sekarang kita sedang berada di jalan buntu. Kita tidak tau harus mencari tau masalah ini ke mana," jawab Randi, menyetujui pemikiran bosnya.


"Kamu masih menyuruh orang untuk mencari tahu insiden kebakaran itu? Siapa tau kita bisa menemukan informasi dari sana." Gio menatap Randi serius.


"Masih, mereka sedang mencoba menggali kasus dari kenalan kita di kepolisian, semoga saja saat titik terang dari kejadian itu," jawab Randi yang langsung diangguki oleh Gio.


Mobil mulai memasuki jalanan perkampungan, Randi sengaja memelankan laju kendaraannya karena banyak anak-anak yang bermain. Mereka berdua pun masih berbincang tentang pekerjaan, hingga mata Gio melihat sesuatu yang terlihat janggal.


"Bukankah itu Rani?" tanya Gio, melihat seorang gadis yang tampak berjalan di pinggir jalan yang masih cukup jauh dari mereka, sepertinya dia hendak pergi ke suatu tempat.


Randi melihat ke pinggir jalan, kemudian mengangguk, karena itu memang Rani.


"Kamu mau memberinya tumpangan?" tanya Randi.


"Gak, aku gak mau ada perempuan lain di mobilku, ketika Diandra tidak bersamaku," jawab Gio cepat.


"Yah, baiklah! Dasar bucin!" Randi memutar bola matanya, jengah.


"Sekarang aku tanya, kamu pilih aku yang dulu atau yang sekarang?" tanya Gio. Kesal juga lama-lama di ejek oleh asistennya sendiri.


"Ya ... jelas aku memilih kamu yang sekarang lah. Seenggaknya aku gak perlu ngurusin para wanita yang mengantre untuk bermalam dengan kamu," jawab Randi yang langsung membuat senyum Gio terbit.


"Nah, makanya gak usah ngeluh. Aku juga lebih senang dengan istriku daripada sejuta wanita di luar sana," ujar Gio, dengan kekehan kecil mengiringinya.


"Iya, aku tau." Randi berujar pasrah.


"Sekarang, kenapa kamu bertanya tentang Rani?" tanya Randi lagi, mengingat kini jarak mereka sudah dekat.


"Oh iya, aku lupa. Kamu lihat di belakang, sepertinya ada seseorang yang mencurigakan," ujar Gio, dia tampak memperhatikan kaca spion.


Randi ikut memperhatikan kaca spion mobilnya, benar saja apa yang dikatakan oleh Gio. Dia juga melihat seorang laki-laki yang tampak memperhatikan Rani secara diam-diam. Sorot matanya pun tampak berbeda dari kebanyakan warga lainnya.


Ini adalah perkampungan kecil, hingga mudah untuk seseorang mengenali orang baru. Akan tetapi, karena kampung ini juga merupakan kampung wisata, membuat banyak orang yang ke luar masuk, untuk sekedar berwisata.


Bahkan kampung ini juga sering digunakan untuk anak-anak sekolah atau kuliah melakukan PKL atau KKN. Hingga orang baru terus berdatangan silih berganti.

__ADS_1


"Siapa dia?" gumam Gio.


"Sepertinya kita harus menyelidiki Rani," ujar Randi.


"Iya, perintahkan orang untuk menyelidiki Rani, siapa tau ada seseorang yang mengawasinya selama ini," jawab Gio.


Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di gerbang vila, Gio tersenyum saat melihat Diandra berjalan menuju mobilnya.


"Sayang." Gio langsung mengecup kening istrinya setelah Diandra mencium punggung tangannya.


Keduanya tampak berjalan bersama masuk ke rumah. Gio langsung masuk ke kamar mandi, sedangkan Diandra menunggu di balkon, setelah lebih dulu menyiapkan baju untuk suaminya.


Saat suara pintu kamar mandi tertutup, Diandra baru masuk lagi ke kamar dan menghampiri suaminya.


"Aku kangen banget sama kamu, sayang." Gio bergelayut manja pada istrinya.


"Pake baju dulu," jawab Diandra, sambil mengeringkan rambut Gio yang terlihat masih basah.


Gio duduk di kursi meja rias, menikmati Diandra yang sedang mengeringkan rambut, sedangkan dia asik memeluk pinggang istrinya.


Diandra membiarkan Gio dengan keinginannya, dia sudah cukup terbiasa dengan tingkah manja suaminya bila sedang bersamanya.


Setelah itu Diandra membantu Gio untuk memakai bajunya, hingga beberapa saat kemudian aktivitas rutin setelah mandi pun selesai dilakukan, kini Diandra tengah duduk di sofa, dengan kepala Gio berada di pangkunnya.


Diandra sedikit menunduk agar bisa melihat wajah suaminya. "Lalu?"


"Ada yang aneh saat aku melihatnya," jawab Gio. Dia merasakan gerakan tangan Diandra di kepalanya terhenti.


"Apanya yang aneh?" tanya Diandra dengan kerutan dalam di keningnya.


"Aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya." Gio menjawab sambil memperhatikan reaksi wajah istrinya.


Mendengar itu Diandra jadi mengingat tentang surat dari Rani yang belum sempat dia katakan kepada Gio.


"Emm, apa semua kerjaan kamu di kantor udah selsai?" tanya Diandra.


Dia takut kalau dirinya bercerita tentang surat Rani, itu akan menambah beban pikiran Gio, yang sebenarnya sedang memiliki masalah sendiri.


Gio tampak bingung, dia tidak menyangka kalau Diandra malah akan menanyakan tentang pekerjaannya.


"Sudah. Aku memiliki orang-orang yang cukup sigap untuk menangani sebuah masalah," jawab Gio.


"Syukurlah," jawab Diandra sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa kamu malah nanyain itu, sayang? Bukannya kita sedang membahas masalah Rani?" tanya Gio penasaran.

__ADS_1


"Sebenarnya tadi pagi aku mendapatkan surat dari Ana, yang dititipkan pada Bi Minah," ujar Diandra.


Gio langsung bangun dengan kening bertaut dalam. "Surat?"


"Iya." Diandra beranjak berdiri dan mengambil surat dari Ana yang dia simpan di laci nakas, lalu menyerahkannya pada Gio.


Gio menatap wajah Diandra sambil menerima surat yang istrinya ulurkan. laki-laki itu tampak mulai membacanya, dia tampak mengerutkan kening semakin dalam.


"Jadi dia sudah tau kalau sedang diawasi?" gumam Gio.


Diandra mengangguk.


"Tadi aku juga sempat bertanya pada Bi Minah," ujar Diandra lagi sambil menatap wajah bingung suaminya.


Gio langsung membalas tatapan Diandra, dengan sorot mata penasaran. "Bertanya apa?"


"Tentang kisah Ana yang sebenarnya."


"Lalu, apa Bi Minah mau mengatakan sesuatu?" tanya Gio cepat.


Diandra mengangguk. "Hanya sedikit."


"Apa, coba kamu katakan padaku," pinta Gio.


Diandra pun mulai mengatakan semua yang dia dengar dari Bi Minah tadi siang. Gio tampak mendengarkan dengan sekasama, seakan tidak ingin satu kata pun terlewat dari perhatiannya.


"Jadi, sebenarnya siapa mereka itu?" gumam Gio.


"Itu juga yang aku ingin tau," jawab Diandra.


Gio kembali melihat istrinya. "Jadi mereka menahan anaknya Rani sejak bayi?" tanya Gio lagi, yang langsung mendapatkan anggukkan kepala Diandra.


"Apa mungkin, Rani sudah bersama mereka sejak dia hamil? Sedangkan Hary dan keluarganya malah pindah ke luar negeri?" Gio bergumam sendiri, dia sedang mencoba menghubungkan informasi yang telah ditemukan.


"Lalu, kenapa Rani bisa ada bersama keluarga kakaknya Mang Aan? Sejak kapan Rani mengenal keluarga Mang Aan?"


Diandra mendesah, kepalanya semakin pusing saat mendengar semua pertanyaan Gio. Kenapa Rani tidak bilang saja, apa yang dialaminya, biar tidak menjadi kacau seperti ini?


Setidaknya suaminya bisa tau siapa yang menjadi lawannya saat ini, dan tau apa yang akan dia lakukan untuk mengatasi masalah ini.


Namun, sekarang masalahnya dia juga tidak bisa memaksa Rani untuk mengatakan smeuanya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Bi Minah, Diandra semakin ragu untuk bertanya langsung pada saudara kembarnya itu.


Diandra takut kalau semua itu akan meninggalkan trauma untuk Rani, yang malah akan semakin membuat saudaranya itu semakin terpuruk.


.....................

__ADS_1


__ADS_2